Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 50


__ADS_3

“Ternyata kau pintar dalam bersandiwara ya?” ujar Shinta, datang menghampiri. Charlotte dan kedua sahabatnya menoleh kearahnya. Shinta berniat menjelekkan Charlotte disana. Melampiaskan rasa kesalnya karena merasa telah dibohongi. “Wajahmu ini sampai kapanpun tidak akan bisa menutupi sikap burukmu itu!.”


“Apa maksudmu? Kalau cari masalah jangan disini.” Ucap Mona geram.


“Aku tidak cari masalah. Aku hanya menyadarkan dia, yang hanya seorang pembohong besar!”


“Jaga ucapanmu! Dia itu kakakmu.” Kini Lexy yang marah.


“Kakak darimana? Aku tidak pernah punya kakak seperti dia!” Shinta menunjuk Charlotte dengan tatapan hina.


“Shinta! Keterlaluan sekali kau ini.” Geram Lexy.


“Diamlah Lexy.” Bisik Charlotte. Tidak ingin membuat masalah semakin besar.


“Ingat ini baik-baik, kami tidak akan menganggapmu keluarga kami setelah apa yang sudah kau lakukan. Seharusnya kau minta maaf pada kami karena sudah berbohong.” Tuntut Shinta.


“Tidak ada yang perlu kukatakan. Aku tahu kalian semua membenciku.” balas Charlotte.


“Kau benar Char. Jangan sampai kau minta maaf pada mereka. Seharusnya mereka yang melakukan itu. Karena sudah memaksamu melakukan pernikahan ini.” bela Mona tak terima melihat temannya direndahkan.


Shinta tampak geram. Tangannya terkepal kuat, dengan bibir terkatup rapat. Kedua matanya melihat Charlotte dengan tatapan kebencian. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada Charlotte dan kedua sahabat sintingnya itu! Shinta melihat sekeliling, banyak orang dari keluarga Xavier disana. Jika dirinya terbawa emosi dan menyerang Charlotte, Xavier tentu akan mendepak dirinya dan keluarganya pergi dari sana.


“Aku akan membalasmu. Ingat itu!” ucap Shinta penuh kekesalan. Shinta berbalik dan pergi begitu saja. Meninggalkan mereka.


“Dasar nenek lampir! Gak punya malu sama sekali!” ucap Lexy kesal. Sejak tadi menahan diri untuk membalas Shinta.


“Biarin aja Lex, toh dia gak bakal berubah.” Ujar Charlotte menghela nafas.


“Lihat aja ntar, kalo tuh anak masih gangguin lu. Gue bakal bertindak!” geram Lexy.


“Udahlah ngapain juga mikirin Shinta. Gak akan ada abisnya. Mendingan habis acara ini, kita keluar. Gimana?” ajak Charlotte dengan matanya berbinar-binar penuh semangat. Tak ingin memikirkan sikap Shinta ataupun keluarganya. Ia seolah tak peduli jika hari ini adalah hari pernikahannya. Dan lupa siapa orang yang telah menjadi suaminya sekarang.


“Are you crazy???” seru mereka bersamaan. Melotot tak percaya.


“Kenapa?” tanya Charlotte bingung.

__ADS_1


“Lu pingin kita mati cepet?? Yang bener aja! Malam ini malam pertama lu sama Xavier. Kalau kita keluar yang ada Xavier bakal nyuruh orang buat habisi kita, gara-gara bawa istrinya. Gue gak mau mati sebelum nikah!” tolak Mona diiringi anggukan cepat Lexy.


“Gue setuju sama Mona. Gue berani gesrek sama siapapun yang berani nindas lu. Kecuali sama suami lu itu. Lihat aja noh, daritadi dia terus liatin lu. Serem gue.” Ucap Lexy bergidik ngeri seraya mengedikkan kepalanya kearah Xavier berada.


Charlotte menoleh dan melihat Xavier bersama Susanto, ayahnya. Benar saja, pandangan pria itu hanya tertuju padanya disaat ayahnya mengajaknya mengobrol. Charlotte berbalik dan meneguk ludahnya susah payah. Charlotte tak tahu apa yang kini sedang pria itu pikirkan tentangnya. Mengingat mulai hari ini dia akan menjadi mainan pria itu. Malam ini akan menjadi malam panjang untuknya.


Malam? Tunggu! Bukankah ini malam pertama mereka?!


Kedua mata Charlotte membulat penuh, hampir saja copot. Ia langsung teringat kejadian dimotel. Dimana dirinya sudah menghabiskan malam bersama Xavier tanpa sepengetahuan pria itu. Bisa dibilang malam itu adalah malam pertama mereka bukan?


Bagaimana jika setelah ini ia dijadikan boneka hidup hanya untuk memuaskan nafsunya? Xavier orang yang kejam dan melakukan apa saja yang dia mau. Tidak terkecuali dengan hidupnya sekarang. Ia sudah menjadi istrinya. Jika pria itu mengekang hidupnya dan membatasi ruang geraknya, apa mungkin dirinya bisa bebas? Tidak, ia akan hidup disangkar emas dan terkurung selamanya. Pikiran buruk berputar-putar diotaknya.


Dan malam ini malam yang tepat untuk Xavier bisa menundukkannya. Menuruti semua perintahnya dan dalam kendalinya penuh.


“Mati gue.” Charlotte menggigit jari seraya menatap kedua sahabatnya bergantian. “Mon, Lex… Tolongin gue dong. Cari alasan apa aja, biar gue bisa keluar dari sini.” Pinta Charlotte.


“Kenapa sih lu Char. Kayak ketakutan gitu.” Timpal Lexy.


“Dia udah jadi suami lu. Gak bakal dia nyakitin lu.” Ujar Mona yang seolah tahu alasan Charlotte ingin pergi.


“Pffffff.. Hahaha..” Mona dan Lexy tertawa bersamaan. Merasa geli dengan jawaban Charlotte yang langsung ke intinya. Sudah diduga, kata-kata itu pasti akan keluar dari mulut sahabatnya itu. Bagaimanapun, dari mereka bertiga hanya Charlotte yang sering bicara keceplosan. Tanpa dipikir lebih dulu.


“Astaga Char, gue pikir lu takut Xavier mukul lu. Eh ternyata…” ucap Lexy terkikik senang.


“Heh! Coba aja jadi gue. Gue yakin lu lu pada, gak bakal mau.” Ujar Charlotte berang. Katakutannya malah dijadikan lelucon.


“Char, gini ya.” Mona mulai berceramah. “Nikah tu banyak benget faedahnya, satu, lu bisa nglakuin apa aja ama pasangan lu. Susah seneng, kalian bisa berbagi. Dua, Awalnya lu sendiri ngadepin masalah hidup lu, tapi setelah lu nikah, lu jadi ada orang yang bisa lu ajak buat nyelesain masalah lu. Banyak hal yang bisa kalian lakuin bareng-bareng. Dan yang pasti lu bisa hidup lebih bahagia dari sebelumnya sebelum lu nikah. Apalagi lu nikah bukan sama sembarang orang. Xavier termasuk cowok sempurna. Liat aja bodynya….” Ketiganya menoleh pada Xavier. “Oh my gosh..” puji Mona dan Lexy bersamaan saling padang, menahan senyum jahil. Melirik Charlotte.


Plak Plak!


“Aduh!”


“Makan tu pikiran kotor kalian!” Charlotte mendengus kesal melihat kelakuan prik kedua sahabatnya.


“Emang bener kok. Apalagi kalo lu punya baby ama dia. Sempurna idup lu.” Timpal Lexy.

__ADS_1


“Baby? Mana mungkin gue mau baby ama dia. Gila ya, kalian!” bantah Charlotte menolak keras yang dipikirkan kedua sahabatnya.


“Ya kali aja lu pingin nanti kan. Semua bisa diatur. Ya, kan Mon?” Ujar Lexy masih menahan tawanya. Disambut anggukan semangat dari Mona. Charlotte geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd mereka. Kepalanya mendadak pusing mendengar celoteh keduanya.


“Char, lu tenang aja. Kami udah nyiapin hadiah istimewa kok buat lu. Lu pasti seneng.” Ujar Mona dengan wajah senang.


“Hadiah? Apa?”


“Nanti lu bakal tahu.” Saut keduanya dengan pandangan mencurigakan.


^


Seperti dugaannya, acara pernikahan itu tidak selesai sampai sore. Malam harinya, Pesta masih berlanjut dengan sangat meriah. Acara itu hanya dihadiri para teman dan sahabat kedua pengantin. Disini Teman-teman Xavier yang lebih mendominasi. Charlotte merasa ingin sekali menghilang dari sana dan istirahat dikamarnya. Dia tak mengira jika Xavier menyiapkan acara party tanpa merasa lelah sedikitpun. Semakin lama, acara itu semakin membosankan untuknya.


“Mau kemana?” Xavier menahan Charlotte saat wanita itu berniat pergi meninggalkannya.


“Aku mau istirahat. Capek.” Jawab Charlotte malas-malasan.


“Acara belum selesai.”


“Aku tahu, tapi aku lelah sekali Xavi. Kau mau aku pingsan disini?”


Xavier melirik jam ditangannya. Dan benar saja, sekarang sudah pukul 21.25. Mereka berdua belum istirahat dari pagi. Tentu saja wanita itu kelelahan.


“Oke. Kau istirahatlah di kamarku. Nanti aku menyusul.”


“Aku tidak mau ke kamarmu. Aku akan tidur dikamarku sendiri!” bantah Charlotte langsung melenggang pergi begitu saja. Xavier menghela nafas. Sikap ketus wanita itu masih saja melekat walaupun mereka sudah menikah.


.


.


.


Nana kembali! Mksih dkungan semua ya Zeyeng... Othor lope-lope kalian.. Semoga sehat selalu.. Jaga kesehatan ya.. Happy reading.. ^-^

__ADS_1


__ADS_2