Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 75 (Part 2)


__ADS_3

“Tuan, kita jadi ke Mansion?”


“Hm.”


Dean menghela nafasnya mendengar jawaban Xavier yang masih kekeh tinggal di Mansion. Padahal bisa saja Tuan Mudanya itu tinggal di rumah keluarga Hasana. Tapi seolah tahu kebiasaan pria itu, Dean terpaksa mengikuti kemauannya.


Yang sekarang menjadi masalahnya adalah Tuan Besar Abraham. Kakek Xavier itu tidak pernah berhenti memperhatian Tuan Mudanya. Bagaimana jika beliau tahu Tuan Muda dan Nona Charlotte tengah bertengkar?  Dean  bingung, ujung-ujung dialah yang dijadikan amukan mereka. Tanpa sadar Dean menghela nafas dengan sedikit keras.


“Apa itu? Kau mengeluh?!” tanya Xavier bernada tak senang.


“Ti-tidak Tuan. Sa-saya hanya sedikit kelelahan. Semalam tidur nyenyak, eh maksudnya tidak nyenyak.” Jawab Dean asal.


“Apa hubungannya dengan tidurmu! Kau pasti mengeluh karena perintahku kan?!” tuduh Xavier tak terima. Walaupun suaranya keras dan menusuk gendang telinga, namun ia sama sekali tidak serius.Xavier sengaja membuat Dean kelabakan.


“Ti-tidak Tuan! Mana mungkin saya mengeluh.” Balas Dean cepat-cepat agar Tuan Mudanya tidak bertambah marah.


“Hatiku sakit ditambah celotehmu yang tidak berguna itu. Kau ingin aku cepat mati!” teriak Xavier seraya menendang kursi kemudi didepannya. Membuat tubuh Dean hampir terlonjak kedepan. Xavier dalam mode on firee!!


“Ti-tidak Tuan! Tolong maafkan saya!”


‘Salah lagi!’ Dean berguman dalam hati.


Tak berselang lama, mobil mewah itu memasuki halaman Mansion yang amat luas. Bangunan abu-abu menjulang ditengah tanah hampir 15 hektar itu. Dikelilingi oleh pohon dan pagar beton setinggi 7 meter. Xavier memang memiliki puluhan rumah mewah termasuk Mansion dibeberapa kota besar maupun Negara. Ia akan tinggal disana saat ia mengunjungi tempat itu. Baru kemarin saja, ia tinggal dirumah lain yang tak bukan rumah mertuanya. Xavier sangat berhati-hati dalam menjaga tempat tinggalnya. Selalu ada pengawal kemanapun ia berada.


Ada beberapa pengawal yang sudah ia siapkan untuk menjaga rumah keluarga Hasana ia pergi. Walaupun ia sedang marah, tapi insting logikanya masih bekerja. Ia tidak akan membiarkan siapapun memasuki kediaman dimana istrinya berada.

__ADS_1


“Halo, kau dimana?”


“Kesini sekarang. Cari penerbangan paling cepat. Aku mau kau sampai dalam waktu 2 jam!”


Tut!


Xavier kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jas dan turun dari mobil. Dean telah membukakan pintu Xavier sejak tadi, ia juga mendengar Xavier sedang menghubungi seseorang agar datang ketempat mereka.


“Anda menelpon siapa Tuan?” Tanya Dean sambil berjalan beriringan dengan Xavier menuju Mansion.


“William. Dia akan kusuruh menjaga Charlotte.”


Dean tidak bertanya lagi. Ia tahu hal seperti ini akan terjadi. Tuan Xavier masih mencemaskan Nona Charlotte meskipun mereka bertengkar tapi hati mereka tidak bisa membohongi diri sendiri. Perhatian kecil seperti itu sangat berpengaruh untuk kebaikan Tuan Mudanya. Dean tidak menyangka setelah menikah, Tuan Muda berubah menjadi lebih baik. Jika menikah bisa mengubah sifat seseorang, bolehkah ia mencobanya nanti? Dean tertawa dalam hati berpikir hal yang mustahil.


Ia masih harus melayani Tuan Muda Xavier dalam waktu yang lama. Pemikiran menikah belum terpikiran olehnya. Yang sekarang ia inginkan adalah kemajuan perusahaan keluarga Xavier. Ia akan menyerahkan apapun yang ia punya untuk keluarga itu. Begitu banyak hal yang ia dapat dari keluarga Xavier, bahkan melayaninya sampai matipun tidak akan cukup untuk melunasi hutang budinya pada keluarga itu. Apalagi kepada Tuan Besar Abraham, pria itu telah baik kepadanya yang bukan siapa-siapa. Dean telah dianggap sebagai cucunya sendiri. Mengingat hal itu, Dean tidak mungkin berpikiran untuk mementingkan dirinya sendiri.


Tok Tok!


“Masuk!”


Dean masuk kedalam ruang kerja milik Xavier. Ruangan yang bernuasa hitam serta kecoklatan itu tampak menyeramkan jika dipandang oleh orang biasa. Tapi memang seperti itu hal yang berbau misterius dan gelap yang disukai Xavier. Ia tidak suka tempat yang berwarna cerah karena bagi Xavier itu bisa merusak penglihatannya. Tempat yang kotorpun juga tak luput dari kritik pedasnya jika sampai ia temukan hal semacam itu. Xavier menyukai kebersihan tempat dan lebih senang menyendiri. Dengan cara itu, ia bisa berpikir dalam menangani bisnisnya.


“Tuan, William sudah datang.” Ujar Dean.


“Suruh dia masuk.”

__ADS_1


“Baik. Masuklah!”


Xavier menggeser proposal yang ia baru saja pelajari dan memusatkan padangannya pada pria muda yang kini berdiri tegak didepannya. Umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Xavier menaruh kenyakinan pengamanan istrinya pada pundak pria muda itu.


“Selamat sore Tuan Muda.” William membungkuk hormat pada Xavier.


“Hm. Aku ingin mengembalikan tugasmu seperti semula. Jangan tanya alasan apapun dariku. Cukup kerjakan yang kuperintahkan!” ujar Xavier tegas.


“Baik. Saya mengerti.”


“Kau hanya perlu mengawasinya. Dan laporkan semua tindakannya padaku. Aku tidak menerima kegagalan seperti dulu. Kau paham bukan?” Nada Xavier datar namun terkesan mengancam.


Disaat Xavier memberi perintah ini itu, ponsel Dean bordering. Pria itu memundurkan tubuhnya untuk mencari ruang agar dirinya tidak mengganggu percakapan Xavier.


“Ya. Ada apa?”


“APA??! Kau tidak bercanda kan?!” Dean berbicara cukup keras. Hingga Xavier maupun William ikut menoleh pada Dean.


“Ada apa?” tanya Xavier.


“Baiklah… Aku akan memberitahu Tuan Xavier. Oke. Baik. Segera kirimkan situasi disana. Kutunggu segera.” Dean menutup teleponnya, ia segera menghampiri Xavier. Wajah Dean sudah berubah, biasanya sikapnya yang datar dan tegas seperti Xavier kini menjadi cemas. Bahkan pandangannya tidak fokus.


“Dean, ada apa? Katakan!” desak Xavier.


“Tuan, a-ada masalah darurat.” Bibir Dean terlihat gemetar dengan peluh dikeningnya.

__ADS_1


“Masalah apa?”


“Ma-markas kita di pu-pusat. Diledakkan oleh Cossa…”


__ADS_2