Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 78 (Part 2)


__ADS_3

Mobil Xavier berhenti di depan gerbang rumah berwarna putih milik keluarga Hasana. Xavier sengaja meminta Dean menghentikan mobil tepat didepan gerbang rumah itu. Dean didepannya baru selesai menghubungi orang yang ingin Tuan Mudanya temui.


Tak berselang lama, orang yang dimaksud keluar dari halaman rumah dan berjalan cepat menuju mobil Xavier terparkir. Dean menurunkan kaca mobil belakang, agar Tuan Mudanya leluasa untuk berbicara.


“Selamat datang Tuan Muda. Bagaimana kabar Anda?” William menundukkan kepala hormat pada Xavier. Pria itu berdiri disisi pintu mobil. Tepat disamping Xavier duduk.


“Hm, tidak perlu basa basi. Berikan laporanmu.” Ujar Xavier dingin, pandangannya lurus kedepan.


“Seperti laporan biasanya-“


“Ehem!” Xavier berdehem melirik William dengan tajam.  Lalu melirik Dean didepannya yang masih duduk tenang. William mengerti dan langsung meralat perkataannya.


“Maaf saya salah berbicara. Untuk sekarang keadaan Nona baik-baik saja. Selama 2 minggu ini Nona tidak keluar rumah ataupun melakukan hal-hal yang mencurigakan.” Ujar William.


“Bagus. Lanjutkan tugasmu dengan baik. Dean kita pergi.” Perintah Xavier.


Dean langsung menoleh ke arah Xavier dari spion. “Tuan, kita tidak masuk dulu?” tanyanya dengan heran.


“Tidak.”


“Tuan, setidaknya Anda harus melihat keadaan Nona lebih dulu. Sudah dua minggu Nona didalam rumah. Atau setidaknya biarkan Nona keluar. Tidak baik-“


“Jangan mengaturku Dean! Baik tidaknya, aku yang tahu. Jika saja dia tidak pergi bersama pria brengs*k itu, dia sendiri tidak perlu mengalami hukuman ini. Sudah jelas bukan, aku tidak suka seorang pengkhianat!” seru Xavier.


Dean menghela nafas, membujuk Tuan Mudanya memang sangat mustahil ketika dalam kondisi keras kepala. Daripada berbuntut masalah lagi, ia terpaksa menurut. “Baik Tuan.”


“Cepat pergi dari sini.”

__ADS_1


Dean kembali menghidupkan mesin mobil, namun tiba-tiba ia melihat seorang pelayan keluar dari halaman rumah dengan tergesa-gesa. Pelayan itu tampak ketakutan. Dan langsung berlari kearah mereka.


“Tuan Will, gawat Tuan!” seru pelayan itu setelah sampai disamping mobil mereka.


“Ada apa?” tanya William sekilas melirik Xavier yang juga dibuat penasaran oleh pelayan itu.


“Nona! Nona Charlotte pingsan didalam!”


Xavier maupun  Dean terkejut, “Bagaimana bisa?” tanya William ikut cemas.


“Tidak tahu Tuan. Saya melihat Nona sudah tergeletak di ruang tamu.”


Brak!


Entah sejak kapan Xavier turun dari mobil. Ia langsung membanting pintu dan berjalan cepat memasuki halaman rumah. Dean ikut turun dan mendekati William. “Cepat panggil Dokter.” Perintahnya lalu segera menyusul Tuan Mudanya masuk.


“Tadi dia bilang tidak ingin melihat Nona, lalu sekarang? Ckck.”gumam Dean sedikit menarik sudut bibirnya.


Xavier seperti orang yang sedang dikejar waktu. Ia bergegas masuk kedalam rumah. Dari pintu, ia melihat ibu dan saudara tiri istrinya serta beberapa pelayan tengah mengerumuni istrinya yang masih tergeletak di lantai. Sayup-sayup ia mendengar percakapan mereka.


“Dia pasti pura-pura. Sudah biarkan saja, nanti juga bangun sendiri!” Sella menghentikan pelayan yang ingin mengangkat tubuh Charlotte.


“Tapi Nona Charlotte harus segera dibawa ke rumah sakit Nyonya. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Nona.” Pelayan itu tampak cemas. Bagaimana tidak, selama ia bekerja disana, hanya Charlotte lah yang paling ramah dan baik pada para pelayan. Tentu saja mereka ingin membawa Nona Mudanya yang saat ini tidak sadarkan diri ke rumah sakit.


“Heh! Kalian ini dungu ya! Mamaku bilang biarkan saja dia! Atau kalian ingin dipecat!?”


Prok! Prok!

__ADS_1


Suara tepukan tangan mengalihkan pandangan mereka. Wajah mereka langsung berubah ketakutan tatkala melihat Xavier berjalan kearah mereka. Tampang bengis Xavier tampak diwajahnya. Dua wanita yang itu langsung mundur perlahan. Mata mereka tak berkedip dengan mulut menganga. Tubuh mereka ikut gemetar bersamaan semakin dekat langkah Xavier.


“Jadi seperti ini perlakuan kalian pada istriku?” suara dingin nan menusuk. Menciutkan nyali dua wanita itu.


“Xa-Xavier ini ti-tidak se-seperti yang ka-kau pikirkan.” Suara Sella tercekat. Benar-benar ketakutan.


Xavier tidak memperdulikan mereka, ia melirik Charlotte yang tak sadarkan diri. Wajah istrinya begitu pucat. Xavier langsung mendekat. Ia meletakkan kepala Charlotte di pahanya dan menepuk pipi wanita itu untuk membangunkannya. Tapi istrinya tetap tak bereaksi.


“Sejak kapan dia pingsan?”


“Kami menemukannya sekitar 5 menit yang lalu Tuan.”


“Dean.” Panggil Xavier. Asistennya itu mendekat. “Panggilkan Dokter.”


“Sudah Tuan. Dokter dalam perjalanan kemari.”


Lalu pandangan Xavier beralih kepada dua wanita yang saling menenangkan diri berharap tak mendapat amukan Xavier.


“Bawa mereka ke ruangan. Dan kunci mereka.” Perintah Xavier.


“Tidak! Xavier tolong dengarkan dulu. Istrimu pingsan bukan karena kami!” teriak mereka. Xavier tidak peduli dan membawa Charlotte pergi menuju kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


Double up ya.... Sesuai janji Nana... Happy Reading ^-^


__ADS_2