Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 77 (Part 1)


__ADS_3

Tak terasa sudah 2 minggu berlalu sejak Xavier pergi. Charlotte semakin merana akan kerinduan yang menggeroti tubuhnya. Pola makan Charlotte tidak teratur, namun tubuhnya justru semakin berisi. Pipinya tambah cubi, tangan dan kakinya membengkak, dan juga nafsu makan saat malam hari semakin menggila. Ia juga suka membuat jus, khususnya yang berbau asam. Rambutnya yang bergelombang selalu dikuncir dengan wajah yang tak pernah tersentuh makeup. Charlotte tidak bersemangat berdandan. Kebiasaan lamanya muncul. Ia tidak akan memperdulikan wajahnya yang sudah muncul berbagai flek dan jerawat. Setiap kali mandi, ia tidak menyempatkan memberi wajahnya krim sehat. Ia acuh pada tubuhnya.


Setiap waktu dan setiap ada kesempatan, ia berusaha melarikan diri dari pengawasan William. Dari alasan keperluan mendesak, menghadiri pernikahan palsu, sampai  berpura-pura sakit. Namun semua itu terbongkar oleh ibu dan saudara tirinya. Mereka seolah tak rela jika dirinya berhasil pergi dari rumah itu.


Kebosanannya semakin menjadi kala Shinta sengaja mengundang teman-temannya berkunjung ke rumah. Mereka begitu rusuh dan senang berteriak. Suasana rumah menjadi hingar bingar karena mereka. Terkadang, Charlotte memilih berdiam diri dikamar untuk menghindari mereka. Namun ibu tirinya tidak memberinya kesempatan untuk bersantai. Ia diminta membantu pelayan menyiapkan makanan untuk teman-teman Shinta. Hal itu membuat Charlotte menahan diri sekuat tenaga.


Dan sekarang , Charlotte berniat melancarkan aksi melarikan dirinya lagi. Didalam kamar, ia baru selesai memakai pakaian. Kaos hitam lengan panjang, dengan celana panjang jeans. Rambutnya dikuncir kebelakang dan menyisakan poni depan. Ia merias wajahnya dengan bedak dan melapisi bibirnya dengan lipstick nude. Walaupun wajahnya ada sedikit jerawat, ia masih tetap terihat cantik.


Hari ini, Charlotte bertekad kabur . Sudah berhari-hari ini ia mengamati sikap William mencari kelemahan pria itu. Charlotte sama sekali tak menyangka jika William jarang sekali beristirahat. Pria itu selalu stanby di tempatnya sesekali memeriksa kedalam rumah untuk mengetahui kondisinya. Entah apa yang menjadi kelemahan pria itu, Charlotte heran bagaimana bisa Xavier menemukan orang seperti William.


“Mau kemana kau?!”


Shinta menghampiri Charlotte. Wanita itu heran melihat Charlotte berpakaian rapi seolah ingin pergi.


Charlotte menghadap Shinta dengan wajah malas. “Bukan urusanmu.”

__ADS_1


“Kau mau kabur lagi hmm? Gak takut dihukum? Kasihan sekali sih. Punya suami yang suka ngatur dan gak peduli sama istrinya.” Ledek Shinta tersenyum puas.


Charlotte tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya. Melihat itu Shinta kembali memojokkan Charlotte. “Jika aku jadi dia, aku pasti sudah menceraikanmu. Punya istri tidak berguna dan hanya menyusahkan. Berani menggoda pria milik wanita lain lagi. Tidak tahu malu!”


Charlotte menoleh cepat, “Jangan asal bicara! Jika tidak tahu apa-apa diam saja!”


“Tidak tahu kau bilang? Kau pikir aku tidak tahu jika kau berniat merebut Fredy dariku! Hey, ngaca dong. Kau ini sudah dibuang olehnya. Dia memilihku sebagai kekasihnya. Lebih baik kau pikirkan dirimu sekarang! Berharaplah kau tidak diceraikan oleh suami aroganmu itu!” seru Shinta seraya meninggalkan Charlotte penuh kebencian.


Charlotte menatap emosional kepergian Shinta. Kata-kata Shinta sungguh mengoyak pikirannya. Kata-kata ‘Cerai’ begitu menakutkan untuknya sekarang.


Benarkah ia istri yang tidak berguna dan menyusahkan? Apakah Xavier berniat menceraikannya setelah ia dibuang? Apa pria itu sungguh tak menginginkannya lagi?


Tangan Charlotte memukul dadanya yang semakin terasa sakit. Kepalanya terasa pusing, tubuh Charlotte mulai limbung. Sedetik kemudian tubuhnya terjatuh kebawah dengan pandangan mata menggelap.


^

__ADS_1


Sayup-sayup Charlotte mendengar percakapan dua orang didekatnya. Entah apa yang sedang terjadi, Charlotte merasakan pusing yang tiada tara. Untuk membuka mata saja sangat susah. Ia menggerakkan kepalanya mengusir rasa sakit itu.


Perlahan, ia membuka mata. Samar-samar ia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. Hanya melihat punggung pria itu ia merasa senang. Punggungnya yang lebar dengan tulang pundaknya yang kokoh berbalut kemeja abu-abu menegaskan kewibawaanya. Rambut hitam legam yang sedikit acak-acakan. Serta tubuh tingginya yang membuat leher Charlotte sakit saking susah melihatnya.


Charlotte menutup mata. Ia mencoba bangun dari alam bawah sadarnya. Ia seolah sedang berhalusinasi melihat pria yang selama berhari-hari menjadi pusat pikirannya. Ia ingin apa yang dilihatnya sekarang adalah kenyataan. Ia tak ingin bangun. Biarkan tetap seperti ini, jika hanya cara itu bisa membuatnya melihat suaminya.


“Char……Charlotte ……. Bangun.”


Suara barington yang ia rindukan. Terdengar jelas di telinganya. Ia semakin melebarkan senyum hanya mendengar suaranya.


“Bangun Char…” Usapan tangan kokoh menyentuh pipinya dengan lembut. Mau tidak mau, Charlotte menyerah pada mimpinya. Ia kembali membuka mata dan melihat seseorang yang kini menatap penuh arti kepadanya. Charlotte melihat helaan nafas lega darinya. “Akhirnya kau bangun.”


.


.

__ADS_1


.


Who?


__ADS_2