
Xavier tidak tenang jika harus berdiam diri dikamar sedangkan istrinya tengah berselingkuh, ah ralat bertemu dengan mantan kekasihnya yang brengs*k itu!
Ia mondar-mandir. Pikirannya selalu membayangkan hal yang bukan-bukan. Ah, seharusnya ia tidak perlu berpikiran dangkal. Ia seorang pimpinan mafia, menguasai banyak perusahaan dan tidak mudah tumbang oleh musuh manapun. Ia kuat dan tidak lemah. Menghadapi masalah besar sekalipun ia akan hadapi sendiri.
“Cih, jika si brengs*k itu macam-macam, aku akan habisi dia!” Xavier tak tahan dengan gejolak emosinya.
Ia merasakan amarah yang meletup-letup. Pendingin udara dikamarnya sama sekali tidak mengurangi hawa panas tubuhnya yang kian mendidih. Jika di kartun mungkin kepalanya sudah mengeluarkan asap tebal.
“Sial! Kenapa lama sekali? Dia menganggapku suami atau tidak Hah!!!” Xavier berteriak kesal.
^
Tap tap tap!
Derap langkah Xavier telah membawanya dilantai dasar. Ia turun dengan memakai jalur tangga. Berjalan perlahan seolah dirinya tak terlihat. Jika menggunakan lift, ia akan diketahui oleh Charlotte karena letaknya yang tepat menghadap ruang tamu.
Xavier tak peduli sikapnya yang terlalu absurd. Ia ingin melihat apa yang sedang dua orang itu lakukan. Xavier sangat berharap bisa mendepak pria bedeb*h itu dari Mansionnya. Tak akan lagi mengijinkan orang itu menginjakkan kakinya ditempat tinggalnya. Jika ia bisa, ia ingin menjadikan kepala pria itu pajangan di gerbang utama Mansionnya. Sebagai pengingat semua orang untuk tidak bermain-main dibelakangnya. Ah, atau lebih bagus lagi menjadi makanan Flufy, anjing kesayangannya. Memikirkannya, Xavier sangat senang.
Sayup-sayup ia bisa mendengar percakapan mereka. Xavier penasaran dan mulai mendekat. Seketika matanya melotot hampir keluar dari tempatnya ketika melihat istrinya duduk berdekatan dengan bedeb*h itu. Tangan Charlotte dengan santainya mengusap punggung pria itu diiringin senyuman memuakkan keduanya. Isi kepala Xavier mulai mendidih\, wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Tangan terkepal kuat. Siap melancarkan aksinya. Apapun yang dipikirannya tadi\, ia pastikan akan terjadi. Bedeb*ah itu harus menjadi makanan Flufy!!
“Ehem!!”
Charlotte dan Fredy sontak bersamaan berdiri. Mereka terlihat terkejut saat melihat dirinya. Terutama Fredy, pria itu malah berdiri didepan Charlotte seolah sedang melindunginya.
Hah! Siapa dia berani melindungi istriku!!
Xavier berjalan mendekati mereka. Sikapnya yang angkuh dan matanya yang setajam elang seolah sedang mengintimidasi mereka. Xavier tak peduli, kalau dirinya lebih terlihat konyol hanya karena memakai celana pendek mirip kolor. Ia berjalan penuh percaya diri seolah Fredy hanya debu tak terlihat.
“Xavi, kenapa kau….” Charlotte menatap heran penampilan Xavier. Melihatnya dari atas ke bawah lalu kebawah lagi. Xavier tidak pernah terlihat sesimple itu jika keluar dari kamar. Setelan formal atau casual selalu ia terapkan. Membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Baru kali ini, Charlotte melihatnya dengan penampilan berbeda. Terasa aneh baginya.
“Kau! Datang ke rumah orang seenak jidatmu hah?! Temui pemiliknya dulu baru orang lain. Dasar tidak punya aturan.” Xavier menunjuk tepat didepan muka Fredy. Ia sangat kesal dengan kelakuan pria itu. Mau-maunya mengambil kesempatan didalam kesempitan. Pura-pura sedih agar Charlotte mengasihaninya. Simpati padanya. Dasar pria licik! Xavier terus mengumpati Fredy seenak jidatnya.
“Xavi! Kenapa bicaramu kasar begitu. Fredy hanya mau-“
“Jangan berusaha membelanya.” Potong Xavier.
Salah lagi….
__ADS_1
Charlotte memijat pelipisnya. Xavier terlalu berlebihan saat berbicara. Sebenarnya ada apa dengan suaminya itu? Ia tidak mengerti.
“Jangan menyakiti Charlotte, aku akan pergi.” Ujar Fredy tampak mengalah.
“Ya. Pergi saja. Siapa juga yang mengundangmu. Kau tahu jelangk*ng kan, pergi tak perlu kuantar!”
“Xavi!” Charlotte kesal sendiri.
Fredy menghela nafas, kilatan kecewa menghiasai wajahnya. Fredy menepuk pelan pundak Charlotte seraya menepiskan senyum hangatnya. “Jaga diri, aku akan menemuimu lagi. Sampai jumpa.”
Setelah mengatakan itu, Fredy melirik sinis Xavier, sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana. Hal itu justru memancing emosi Xavier. Ia pikir Fredy sedang menantangnya.
‘Dia bilang apa tadi? Akan menemui istriku? Kurang ajar!!’ Xavier jengkel sekali.
“Dia tamuku, kenapa kau perlakukan seperti itu?” protes Charlotte.
“Yang penting, dia bukan tamuku! Kau sama saja dengannya.” Xavier menggerutu dan berjalan pergi. Charlotte awalnya diam, tapi ia baru tersadar saat Xavier mengatainya. Sama dia bilang!!??
“Hei, apa maksudmu perkataanmu itu?”
^
Charlotte mengekori Xavier sampai kekamar. Pria itu masih diam seolah tak menganggap Charlotte ada. Kemanapun Xavier bergerak, Charlotte mengintilinya. Wanita itu sangat gigih, namun berhenti ketika mereka masuk ke walk in closet dan melihat Xavier akan melepas celananya. Ia membalikkan badan seketika.
“Denganku berisik, tapi dengannya lembut sekali. Beginikah kau membedakan sikap? Dasar tak kompeten.”
“Sikapku mana yang beda? Aku perlakukan kalian sama. Ya walaupun awal-awal kau selalu membuatku kesal.” Sangkal Charlotte.
“Apa perlu kuberitahu?” Xavier mendekatkan diri, hingga Charlotte harus berbalik.
“Astaga!” Charlotte cepat-cepat menutup mata saat dilihatnya Xavier hanya memakai boxer. Ia sangat malu. Walaupun bukan sekali ini ia melihatnya tanpa baju.
“Bisa kau pakai sesuatu. Mataku ternoda.” Gerutu Charlotte. Kini memalingkan wajahnya kesamping.
“Jangan alihkan pembicaraan. Katakan apa kau benar-benar tidak tahu?” sela Xavier.
“Apanya? Tentang sikapku lagi? Xavi, sudah kukatakan semua kuperlakukan sama.” Kekeh Charlotte.
__ADS_1
“Tidak. Kau lebih lunak jika dengannya.”
“Hah?”
“Kau pilih kasih. Begitu saja apa perlu kujelaskan!” Xavier mendengus kesal dan pergi melewati Charlotte yang bergeming ditempatnya.
“Aku pilih kasih? Apa benar begitu?” Charlotte bertanya-tanya dalam hati. Mengetuk-ngetuk jarinya didagu.
^
“Tuan, saham kita semakin hari semakin merosot nilainya.”
“Apa? Bagaimana bisa?” Susanto, terkejut mendengar bawahannya menyampaikan laporan harga saham perusahaannya hari ini. Susanto tidak pernah mengecek fluktuasi peningkatan keuntungan yang dialami perusahaannya dalam sebulan ini. Ia selalu yakin, jika semakin hari perusahaannya akan menghasilkan banyak laba besar karena kini sudah bergabung dengan perusahaan besar milik Xavier Group.
“Ini laporan yang saya dapat.”
Susanto meneliti setiap angka yang tertulis disana. Semua yang dikatakan bawahannya ternyata benar, nilai sahamnya semakin hari semakin anjlok. Ia tidak mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Jika terus terjadi, kemungkina bangkrut lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
“Jadwalkan pertemuan dengan Tuan Abraham.” Perintah Susanto. Ia berdiri dan merapikan jasnya bersiap-siap untuk pergi. Ia harus bertemu dengan kakek Xavier untuk membahas masalah perusahaannya.
“Tuan Abraham sedang berada di Singapura Tuan. Saya belum bisa menghubunginya.”
“Apa? Kenapa tidak bisa? Hubungi lagi sampai bisa!”
“Tidak bisa Tuan. Tuan Abraham akan menonaktifkan semua pekerjaan ketika sedang berada disana.”
Susanto mendengus kesal. Disaat darurat begini, orang yang bisa diandalkan justru tidak bisa ditemui. Lalu apa yang harus ia lakukan?
“Pesankan aku tiket pesawat ke Kota S.”
“Untuk apa Anda kesana Tuan?”
“Aku akan menemui menantuku. Cepat pergilah!”
.
.
__ADS_1
.
Nah lhoh.... dikepet Xavier gmna nnti lo bpakkekk...