
“Kau sudah datang.”
Xavier melewati Dean begitu saja di depan pintu kerjaanya. Asistennya itu tampak berdiri dengan wajah khawatir. Xavier hanya menyapanya lalu pergi begitu saja. Tentu saja Dean mengikutinya dari belakang.
“Tuan Muda, lebih baik Anda tidak menemuinya lebih dulu. Serahkan semuanya pada saya.” Ujar Dean berusaha mengimbangi langkah lebar Xavier.
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Tapi Tuan Muda, mereka hanya tikus kecil. Anda tidak perlu sampai turun tangan. Saya akan lebih tegas kepada mereka-“
Langkah Xavier tiba-tiba terhenti. Dean menunduk saat pria itu membalikkan tubuhnya. Tangannya terulur menepuk pundak Dean. “Hari ini, kau cukup diam disampingku. Mengerti.” Titahnya.
“Tapi, apa yang akan Anda lakukan?” Dean bertanya dengan sanksi.
“Kau akan tahu nanti. Suruh Dona membawanya turun. Aku tunggu disana.” Ucap Xavier seraya berjalan pergi meninggalkan Dean yang masih merasa cemas. Namun setelah itu, Dean segera mencari Dona.
Xavier berjalan mendekati ruang tamu yang kini sudah duduk dua orang pria berbeda usia. Ketika melihat Xavier datang kedua orang itu berdiri bersama dan salah satunya menunduk hormat kepadanya. Xavier melihat dengan ekor matanya, Fredy berdiri masih dengan sikap angkuhnya. Cih, dalam hati Xavier berdecih melihat kesombongannya.
“Selamat pagi Tuan Muda Xavier. Saya Julius Nahendra dan ini putra saya Fredy. Kami datang karena-“
“Duduklah.” Potong Xavier yang sudah duduk dengan salah satu kaki terangkat. Menatap mereka dengan wajah datar.
“Baik. Terima kasih.”
Julius dan Fredy duduk. Julius lebih terlihat tegang daripada putranya. Ini pertama kali dirinya melihat langsung sosok Xavier, pengusaha kaya yang sangat ditakuti semua orang. Bermasalah dengan pria itu sama saja mencari mati.
“Begini Tuan Muda, saya datang kemari ingin meminta maaf atas kesalahan yang sudah putra saya lakukan kepada Anda. Saya sangat malu atas perilakunya yang sudah kelewat batas. Saya berharap Anda bermurah hati memaafkannya.” Pinta Julius kembali menunduk hormat.
“Maaf? Haruskah aku memaafkannya?” ujar Xavier seraya melirik Fredy yang masih diam ditempatnya.
Julius menoleh pada Fredy dan langsung menepuk pundaknya keras. Memberi perintah tanpa bersuara agar Fredy mengucapkan permintaan maaf yang ingin didengar Xavier. Sejak mereka memutuskan datang ke Mansion Xavier, Julius selalu menekankan jika Fredy harus mengucapkan permohonan maaf langsung pada Xavier.
Namun Fredy malah menatap dingin kearah Xavier. Tidak satu katapun terucap dibibir pria itu. Xavier mengangkat kepalanya seraya bersedekap. Menunggu Fredy bicara.
Tak berselang lama, Charlotte turun bersama Dona. Dari arah lain, Dean juga masuk dan berjalan mendekati Xavier. Berdiri disampingnya. Melihat Julius dan Fredy disana, Charlotte datang menghampiri.
“Paman, Fredy? Kenapa kalian bisa ada disini?” tanya Charlotte dengan wajah terkejut. Menatap mereka bergantian.
__ADS_1
Julius berdiri dan menunduk hormat pada Charlotte. “Bagaimana kabar Anda Nona Charlotte.”
“Astaga, kenapa paman seperti ini. Paman tidak perlu bersikap formal seperti ini.” Charlotte bingung, dia beralih melihat Xavier yang sedari tadi duduk diam. “Ada apa ini?” tanya Charlotte padanya.
“Duduk disini sayang.” Perintah Xavier seraya menepuk lembut tempat duduk disampingnya. Seulas senyum manis tersungging dibibirnya. Senyuman penuh maksud.
Dean dan Dona yang melihat itu terkejut sampai tak berkedip dibuatnya. Kejadian itu benar-benar langka. Tuan Mudanya tersenyum pada seorang wanita?
Tangan Fredy terkepal kuat. Rahangnya mengeras. Dia merasa kesal mendengar perkataan Xavier. Sejak kapan Charlotte menjadi kesayangannya? Kebenciannya semakin besar pada pria itu.
“Nona, Tuan Muda meminta Anda untuk duduk disampingnya.” Kini Dean yang bicara. Melihat Charlotte yang terdiam sejak tadi. Dia tahu, Tuan Mudanya bukan orang yang sesabar itu menunggu.
Charlotte berdecak kesal, mau tidak mau dia duduk disamping Xavier.
“Tuan Muda, sekali lagi saya minta maaf. Semua-“
“Keluar.”
“M-maaf?” Julius bingung.
Dean segera maju dan mendekati Julius. “Pintu keluar disana. Cepatlah.” Berbicara dengan Julius dengan suara dingin.
“Baik Tuan.” Julius bangkit. Terpaksa mengikuti arah Dean pergi.
“Tuan Muda saya permisi.” Dona menundukkan kepala seraya pergi meninggalkan mereka. Dia cukup mengerti untuk tidak ikut campur urusan pribadi Tuan Mudanya.
“Xavi, kau ini kenapa hah? Kenapa membawa Fredy kemari?” tanya Charlotte tak sabar.
“Dia yang ingin bicara.”
“Apa?” Charlotte beralih pada Fredy. “Kau mau bicara apa Fred?” Bingung. Itulah yang dirasakan Charlotte sekarang.
“Char, ada yang ingin kukatakan padamu-“
“Kesempatanmu hanya 5 menit disini. Jangan membuang waktuku.” Tegur Xavier dingin. Tak ingin pria itu terlalu banyak bicara. Dia ingin Fredy meminta maaf padanya didepan Charlotte. Tidak akan dia biarkan pria brengs*k itu mencari kesempatan lain.
Tanpa ijin, Xavier dengan santainya melingkarkan tangan ke pinggang Charlotte. Mendekatkan tubuh wanita itu padanya. Charlotte tentu saja terjingkat dibuatnya. Kaget dengan tindakan tiba-tiba Xavier. Dia berusaha melepaskan diri. Hal itu tak lepas dari pandangan Fredy. Pupil matanya melebar. Sama terkejutnya.
__ADS_1
“Apa-apaan sih kau ini?” bisik Charlotte menahan kesal.
“Diam, atau mantan kekasihmu kubuat babak belur lagi?” ancam Xavier. Matanya melirik jahat pada Fredy. Charlotte terdiam. Menggigit bibirnya yang gemetar. Ucapan Xavier terdengar penuh ancaman menakutkan. Pria itu tidak sedang main-main.
Tak berselang lama, seorang pelayan mengantar minuman dan beberapa buah untuk mereka. Setelah meletakkan dimeja, pelayan itu pamit pergi. Xavier tersenyum smirk, dia punya rencana licik.
“Sayang, bisa kau ambilkan minumanku?” pintanya.
Charlotte menatap tak mengerti pada Xavier. Wajahnya seolah mengatakan ‘Kau sedang sakit hari ini?’. Charlotte tak habis pikir.
Dan kembali, Xavier memasang wajah tegas seolah tak ingin dibantah olehnya. Charlotte menghela nafas pelan lalu menuruti keinginan Xavier dengan terpaksa.
“Kupaskan juga apel itu untukku.” Kembali memerintah saat perintah pertamanya belum terlaksana.
Dalam hati, Charlotte mengumpat. Kesal dengan sikap Xavier yang seenaknya. Entah apa yang sedang pria itu rencanakan. Charlotte hanya bisa menurutinya.
Fredy melihat semua itu dengan wajah penuh amarah. Dia ingin menghajar habis Xavier. Dia ingin mencab*k-cab*k tubuhnya. Gejolak emosi menguasainya. Dia tidak suka melihat Charlotte dekat dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah orang yang sangat dia benci. Fredy berusaha keras menahan diri. Jika saja dirinya setara dengan Xavier\, tidak akan dibiarkannya begitu saja\, pria itu menguasai wanitanya. Charlotte masih wanitanya. Dan itu tidak akan berubah sampai sekarang.
“Kenapa kau diam? Bukankah ada hal yang ingin kau katakan padaku. Atau… Kau ingin melihat kedekatan kami lebih dari ini.” Pancing Xavier menepiskan senyum puas.
“Ouch!”
Tangan Charlotte tanpa sengaja teriris saat mendengar perkataan Xavier. Seketika, Kedua pria itu menoleh bersamaan. Charlotte terlihat menekan ibu jarinya yang mengeluarkan darah segar.
“Sayang, kau tidak apa-apa?”
Xavier maju mendekat, dan meraih cepat tangan Charlotte. Fredy berdiri, dirinya ikut khawatir ketika Charlotte terluka. Melihat darah terus keluar, Xavier tak pikir panjang, dimasukan langsung jari Charlotte yang terluka kedalam mulutnya. Menyesapnya kuat agar darahnya berhenti keluar. Hal itu membuat Charlotte terkesiap, membulatkan matanya dengan bibir terbuka lebar. Tak tahu lagi harus berkata apa saking terkejutnya.
.
.
.
Yuk ditunggu vote nya ya...jgn lupa follow Ig nana juga @nanayu_95
See you ^-^
__ADS_1