Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 98


__ADS_3

“Tuan Dean?”


William berhasil menyusul Dean didepannya. Mereka berdiri berhadapan. William menundukkan kepala, tangan dikedua sisinya tak berhenti bergerak-gerak. Menandakan jika pria itu tengah gelisah. Satu alis Dean terangkat keatas merasa heran dengan sikap William. Ia angkat bicara.


“Ada apa Will?”


“Be-begini Tuan, sa-saya ingin…” William menghela nafas frustasi. Bingung harus mulai dari mana.


“Will, aku sedang sibuk sekarang. Jika kau tidak cepat, Tuan Besar akan marah!” desak Dean.


“Tu-tuan! Saya ingin membuat pengakuan! Tolong dengarkan saya!” Willam langsung berlutut didepan Dean seraya menempelkan kedua tangan rapat. Tubuh pria itu gemetar. Dean terkesiap. Ia terkejut melihat William bertekuk lutut didepannya.


“A-ada apa? Kenapa denganmu?!”


^


“Kenapa kau diam! Jawab kakek Xavi!!” sentak Kakek kesal melihat Xavier hanya diam saja.


Ceklek!


Belum juga mendapat jawaban dari pria itu, mereka dikagetkan dengan pintu ruang UGD yang terbuka. Seorang Dokter keluar seraya melepas sarung tangan medis begitupun dengan masker mulutnya. Dokter berumur sekitar 50 tahun itu menatap Kakek dan Xavier bergantian.


“Apa kalian keluarga dari Nona Charlotte?” tanya Dokter itu.


“Ya! Saya Kakeknya dan dia suaminya! Bagaimana keadaan cucu saya Dok!” Kakek buru-buru mendekat. Ia tampak tak sabar mendengar penjelasan Dokter. Begitupun dengan Xavier. Pria itu tak kalah ingin tahu keadaan istrinya.


“Saya perlu bicara pribadi dengan kalian. Tolong ke ruangan saya. Nona Charlotte akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Lebih baik, ada yang menemani.” Ujar Dokter itu.


Xavier ingin kalau dialah yang akan menemui Dokter itu untuk mendengar penjelasannya. Tapi suara Kakek lebih dulu menginterupsi.


“Jelaskan padaku saja! Xavi, kau temani istrimu. Jangan biarkan dia sendirian!” tegas Kakek seraya menepuk pundak cucunya itu. Xavier mematung. Ia sebenarnya juga ingin menemani istrinya. Ia cukup lega saat Dokter berniat memindahkan Charlotte ke ruang inap. Biasanya kalau pasien sudah dipindahkan ke ruang itu pasti keadaannya sudah membaik bukan? Justru yang ia ingin lakukan saat ini adalah mengetahui hal apa yang akan Dokter itu sampaikan! Bagaimana dengan kondisi Charlotte dan keadaan anak yang ada dalam perutnya. Apakah…. Ia berhasil membuatnya-pergi?

__ADS_1


Mungkinkah Dokter itu berniat memberitahu Kakek tentang sebab Charlotte sakit? Ia sejenak ragu, antara harus menuruti perintah Kakek atau mendengar sendiri penjelasan Dokter itu. Ia takut, kakek mengetahui hal yang sebenarnya. Hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara.


“Biar aku saja yang mendengarkan penjelasan Dokter. Nanti akan kuberitahu semua pada Kakek.” Ujar Xavier membuat alasan.


“Tapi kakek juga mau tahu-“


“Penjelasanku juga sama saja kan kek! Charlotte istriku. Aku ingin tahu keadaannya langsung.” Sela Xavier terus berusaha membujuk Kakek.


“Hmm, ya sudah. Kakek yang akan menemani Charlotte. Cepat beritahu Kakek setelah kau selesai.” Ucap Kakek menyetujui. Tidak ada kecurigaan pun darinya.


“Baik.”


Xavier akhirnya mengikuti Dokter itu pergi. Mereka memasuki sebuah ruangan bernuansa putih. Xavier duduk didepan Dokter itu setelah dipersilahkan duduk.


“Selamat malam Tuan Xavier. Saya akan jelaskan bagaimana kondisi Nona Charlotte.”


“Iya Dok.”


Xavier tampak menahan nafas mendengarnya. Mungkinkah obat itu telah bereaksi diluar kendali? Apa anak diperut Charlotte telah tiada akibat pengaruh obat itu? Pikiran itu terus menerus menguasainya. Jantung Xavier berdegup kencang merasa gelisah. Entah kenapa, kehilangan anak itu seolah mampu menghentikan detak jantungnya. Ada perasaan tak rela. Perasaan kalut dan sedih. Xavier tidak tahu, kenapa ia bisa memiliki perasaan seperti itu. Apa mungkin ia menyesal?


“Lalu… Ba-bagaimana kondisi istri dan anak saya? Me-mereka baik-baik saja, kan?” suara Xavier terdengar gemetar. Ah, kenapa ia jadi orang yang plinplan! Bukankah beberapa menit yang lalu yang ada dipikirannya hanya istrinya saja, kenapa sekarang ia juga mencemaskan kondisi anak itu ??


“Saya tidak bisa berkata mereka baik.”


“Apa maksud Dokter?!” seru Xavier dengan wajah emosi.


“Tuan, tolong tenanglah.”


Xavier menghela nafas dan membuangnya perlahan. “Maaf.”


“Saya bisa memaklumi kekhawatiran Anda. Saya juga akan bersikap yang sama jika itu terjadi pada istri dan anak saya. Tapi syukurlah, nyawa istri dan anak Anda berhasil kami selamatkan.” Tutur Dokter itu seraya tersenyum.

__ADS_1


Xavier tertunduk, perasaan lega melingkupi ruang hatinya. Mendengar keadaan istri dan juga anak itu selamat, membuat Xavier seolah melepaskan beban berat yang menimpa tubuhnya. Ia sangat legaa. Tanpa sadar ia mengucapkan syukur dalam hati. Sekarang Xavier bisa bernafas lega, meskipun tujuannya tak tercapai, ia sama sekali tak peduli. Justru ia malah senang. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seharusnya ia tetap membenci anak itu, yang bukan darah dagingnya?


Xavier terdiam, ia merasa hampa sesaat. Hatinya terasa kosong ketika memikirkan anak itu. Ia menjadi lemah, dan tidak rela anak itu hilang? Kenapa? Kenapa ia berpikiran seperti itu?


Melihat wajah tenang Xavier, Dokter itu kembali bicara. “Sekarang bisa kita bicara sedikit serius Tuan?”


Xavier mendongak, ia lihat wajah Dokter itu. Ia singkirkan lamunannya dan kembali serius. “ Ya?”


“Saya perlu memberitahu Anda sesuatu hal yang penting. Penyebab istri Anda mengalami pendarahan hebat seperti itu.” Dokter itu mengambil selembar kertas hasil pemeriksaan. Lalu ia berikan pada Xavier. Xavier meliriknya sekilas. “Diperut istri Anda ditemukan obat penggugur kandungan. Oleh karena itu, istri Anda hampir kehilangan bayinya.”


Tangan Xavier gemetar saat memegang kertas itu. Ia merasa takut. Akhirnya Dokter itu tahu penyebab Charlotte sakit. Jika sampai Kakek tahu hal ini, keadaan akan semakin tambah kacau!


“Saya akan lebih menjaganya lagi. Tapi bisakah Anda tidak memberitahu siapapun tentang masalah ini?” pinta Xavier.


“Saya seorang Dokter, wajib bagi saya merahasiakan penyakit pasien. Jika Anda menghendaki seperti itu, saya akan tutup mulut. Saya berharap, apapun masalah yang sedang istri Anda hadapi,  Anda harus membantunya. Jalan seperti ini, bukan cara yang bijaksana. Anda sebagai suami harus memberi perhatian lebih kepada istri Anda, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.” Xavier terdiam, Dokter itu sepertinya salah paham. Dokter itu pikir Charlotte berencana membunuh bayinya sendiri?


“Baik. Saya mengerti.” Balas Xavier.


Xavier pergi dari ruangan itu. Di berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tubuhnya bergerak membawanya pergi, tapi pikirannya tampak kosong. Ia sejenak bersandar didinding lorong yang sepi. Ia kembali melihat hasil pemeriksaan itu. Hatinya mencelos, dadanya terasa sesak. Tanpa ia sadari, tubuhnya merosot kebawah. Tangan Xavier terangkat mengusap kasar rambutnya. Cairan bening tiba-tiba menggenangi ujung matanya.


Ia tiba-tiba merasa sedih. Merasa menjadi pria yang tidak berguna! Ia dengan kondisi sadar telah berniat membunuh anak yang dikandung istrinya sendiri! Akal sehatnya kalah oleh sebuah rasa cemburu yang berlebihan. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya jika sampai wanita itu tahu suaminya sendiri yang telah mencelakakan anaknya. Kenapa penyesalan itu datang setelah semua terjadi?


Xavier mengangkat wajah, ini belum berakhir, pikirnya. Charlotte dan Kakek tidak tahu masalah ini bukan? Anak itu juga masih hidup. Jika masalah ini dikunci rapat-rapat, mereka tidak akan mengetahuinya. Ya, ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


.


.


.


Jgn lupa VOTE yaa......

__ADS_1


Happy Reading ^-^


__ADS_2