Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 103


__ADS_3

“Ada apa Kek? Tumben malem-malem telfon Charlotte?”


Charlotte tengah duduk diatas tempat tidur dengan setengah berbaring. Ia menerima panggilan Kakek ditengah malem saat dirinya ingin beranjak tidur. Namun ia urungkan niatnya tatkala Kakek menelponnya. Ia takut ada hal penting yang ingin Kakek sampaikan. Karena sejak sore tadi, ia merasa gelisah. Kepalanya terus memikirkan Xavier, suaminya.


“Tidak apa-apa Charlotte sayang, Kakek hanya ingin tahu keadaanmu dan cicit kakek. Bagaimana kabar kalian?” tanya Kakek diseberang sana.


“Baik Kek. Si kecil tidak rewel diperut Charlotte. Hehe. Mungkin dia tidak mau membuat Mommynya kesulitan.” Kekeh Charlotte.


“Haha, baguslah. Kuharap dia tidak nakal seperti Daddynya. Xavier dulu sangat menyusahkan ibunya saat masih dikandungan. Benar-benar ya anak itu!” Kakek tertawa diujung sana.


“Iya kek. Ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Kek?” Charlotte memberanikan diri bertanya tentang kabar Xavier. Sejak tadi ia ingin mengatakan hal itu. Berharap suaminya baik-baik saja.


“Xavi baik. Jangan khawatir.” Balas Kakek.


“Sampai kapan Charlotte disini Kek?”


“Apa kamu merindukan suamimu sayang?” tanya Kakek.


Charlotte menundukkan kepala, senyum kecil terukir diwajah cantiknya. “Iya kek. Charlotte merindukan Xavi.” Jawabnya dengan pipi merona.


“Haha… Kakek tahu kalian tidak akan betah dipisahkan. Jangan khawatir, Kakek akan segera pertemukan kalian. Sekarang istirahatlah. Tunggu kabar kakek ya.” Pinta Kakek.


“Baik Kek. Terima kasih sudah membantu Charlotte selama ini ya Kek.”


“Itu sudah tugas Kakek, Charlotte. Kamu adalah tanggungjawab Kakek. Kakek tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Kakek sayang sekali dengammu.”


Tanpa sadar, air mata Charlotte mengalir dipelupuk matanya. Kata-kata Kakek Abraham selalu mengingatkannya dengan mendiang Kakeknya. “Iya Kek. Charlotte juga sayang Kakek. Sehat-sehat terus ya Kek.” Lirihnya.


“Iya sayang. Sekarang tidurlah. Selamat malam.”


“Malam Kek.”


Tut.


Charlotte meletakkan kembali ponselnya dinakas. Lalu ia membaringkan tubuhnya di kasur. Mulai memejamkan mata dan tertidur. Berharap hari esok kembali datang agar ia segera bertemu Xavier kembali.


^


“Tuan?”


“Ah ya?” Kakek tersadar akan lamunannya setelah Dean memanggilnya. Ia kembali meletakkan ponselnya di meja.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Nona?” tanya Dean. Ia sejak tadi berdiri disamping Kakek. Melihat pria itu terdiam saat mengakhiri telepon dengan Nona Mudanya, membuat ia ikut cemas.


“Dia baik Dean.”


“Lalu kenapa Tuan Besar melamun?”


Kakek menghela nafas pelan. Pandangannya menerawang jauh kedepan. “Aku takut jika Xavi kalah dalam pertempuran. Malam ini adalah malam yang penting bagi kita untuk mengakhiri peperangan. Kamu tahu kan, Michael orang yang licik.” Keluhnya.


“Tuan Xavier sudah membuat banyak rencana untuk menyelesaikan itu Tuan. Kita percayakan saja kepadanya.”


“Aku ingin melakukan itu. Tapi jika teringat Charlotte yang sedang merindukannya, hati ini ikut sakit melihat peperangan malam ini. Xavi dan Charlotte harus kembali bersatu. Aku tidak akan membiarkan mereka berpisah Dean. Cukup sudah penderitaan yang mereka alami karena ditinggal orang-orang yang disayang.” Lirih Kakek seraya menyeka sudut matanya yang berair. Mengingat kematian anak dan menantunya. Meninggalkan anak kecil yang kini menjadi pria yang kuat.


“Saya berdoa agar Tuan Xavier memenangkan peperangan malam ini Tuan.”


“Ya. Aku berharap hal yang sama.” Menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


^


Sementara itu di pelabuhan, gerombolan orang yang dipimpin Michael sedang bergerak maju menuju pembongkaran kapal. Berjalan penuh kesombongan tanpa berpikir jika mereka sedang diintai oleh pasukan Xavier.


Michael menyesap nikmat rokok ditangannya, seraya memandangi kapal bermuatan 100 ton suku cadang mobil mewah yang dipesan Xavier untuk bisnis baru otomotifnya. Nilai barang-barang itu cukup besar kalau Michael berhasil menghancurkannya. Xavier sengaja memesannya dari Negara Eropa dengan kualitas tinggi. Tidak anyal, jika Michael tertarik dengan semua bisnis yang dilakukan Xavier. Sayangnya, ia bukan pria pintar yang bisa menghasilkan sebuah keuntungan dari bisnis seperti Xavier. Yang bisa ia lakukan hanya menghancurkan apapun yang dimiliki musuhnya dengan cara kotor, seperti membunuh, menculik dan menyerang anak buah Xavier demi menghancurkan pria itu.


“Siapkan semua. Bakar kapal itu!” seru Michael memberi perintah kepada anak buahnya.


“Selamat malam Michael?”


Xavier tiba-tiba muncul entah darimana beserta Hugo dan belasan anak buahnya. Berdiri dihadapan Michael dengan senyum smirknya. Tak melepaskan pandangannya sedikitpun pada musuh bebuyutannya yang kini terlihat terkejut atas kedatangannya.


“Kau?!”


“Ya. Ini aku. Ada keperluan apa kau sampai kau ingin membakar barang-barangku?” Xavier masih bersikap tenang.


“Cih! Rupanya ini jebakanmu?”


Xavier mengangkat satu alisnya. “Hmm. Apa itu menganggetkanmu? Aku bisa reka ulang dengan cara menembaki kepalamu sampai hancur! Tidak perlu kusapa baik seperti ini.”


“Bajing*n kau Xavier!! Aku dulu yang akan membunuhmu!”


“Lakukan sekarang!” teriak Xavier seraya melepas tembakan pistol ditangan ke atas, memberi perintah untuk menyerang kelompok Cossa.


“Serang!” teriak Hugo seraya berlari kedepan diikuti belasan pasukannya.

__ADS_1


Puluhan orang saling berjibaku menyerang dan memukul. Ada yang berlari menghindari pasukan Xavier ada juga yang langsung terkena pukulan telak dan jatuh ke tanah dengan bersimbah darah. Hugo yang berbadan tinggi besar tak merasa kesulitan saat menyerang anak buah Michael. Dia mampu merobohkan dua orang sekaligus dalam satu pukulan tangan. Memelanting tubuh mereka ke tanah dan menginjak mereka dengan wajah garang. Berdesis dan berteriak atas nama Xavier. Kemenangan yang mereka raih malam ini, semata-mata adalah kemenangan pemimpin mereka. Tak peduli nyawa taruhannya, mereka akan membantai habis anak buah Michael!


Xavier bersikap tenang melihat orang-orangnya membantai anak buah Michael. Ia merasa kagum dengan semangat yang dimiliki Hugo. Hugo memang pantas menjadi jenderal dipasukannya. Ia tidak sia-sia melatihnya keras selama ini. Saat Hugo mati-matian menyerang, Xavier kembali memusatkan pandangannya ke Michael yang kini sudah dilindungi dua anak buahnya. Pria itu seperti seekor tikus yang ketakutan sedang berlindung pada dua anjing bodohnya. Xavier tersenyum kecut, ia tidak menyangka Michael orang yang lemah!


Xavier mulai berjalan maju. Suasana mulai tak terkendali dan diselingi oleh teriakan memekakkan telinga oleh orang-orang yang ketakutan. Xavier tidak peduli hal itu. Ia merangsek maju, menghabisi siapapun yang menghalanginya. Sampai pada saat ia berhadapan dengan dua orang pelindung Michael.


Bughh! Brak!


Dengan satu kali gerakan, Xavier membanting satu orang sampai terlempar ke tumpukan barang-barang pelabuhan hingga hancur. Langsung tak sadarkan diri. Satu orang lagi berlari maju seraya membawa sebuah besi pemukul. Xavier menghindari serangan orang itu yang membabi buta untuk membunuhnya. Saat ada kesempatan menyerang, Xavier langsung menendang tulang betis pria itu dan memukul wajahnya sangat keras. Bunyi dentuman saat tubuh itu ambruk begitu keras sampai mengalihkan beberapa pertarungan di sekitarnya. Hugo tersenyum puas, melihat kekuatan Xavier. Ia jadi semakin bersemangat menghancurkan orang-orang Michael.


Kedua mata kedua pemimpin organisasi hitam itu saling bertemu. Mata hitam dingin Xavier beradu dengan mata cokelat Michael yang bergerak kesana-kemari, melihat anak-anak buahnya yang mulai berkurang karena terbunuh. Mengharapkan sebuah perlindungan kuat pada mereka yang tersisa. Namun sayangnya, situasi mereka tak jauh berbeda dengan dirinya. Mulai terpojok oleh musuh.


“Kita selesaikan ini Michael.” Ujar Xavier berjalan mendekat. Menodongkan sebuah pistol tepat dikepala Michael. Wajah dingin nan mengerikan melekat kuat padanya.


“Xa-Xavi… A-aku minta ma-maaf. Lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.” Suara Michael bergetar dengan kedua tangan terangkat keatas.


“Sudah berapa kali kudengar janji manismu itu Mike. Kau selalu mengingkarinya!”


“Tidak! Kali ini aku bersumpah! Tolong… Tolong biarkan aku sekali ini saja!”


Xavier melihat kesungguhan Michae dan mula mempercayainya. Pria itu tampak sangat ketakutan. Mungkin ia akan mengakhir peperangan tanpa saling membunuh. Ia secara perlahan menurunkan pistolnya. Begitupun  dengan kedua tangan Michael yang turun ke sisi tubuhnya. Salah satu tangan itu merayap masuk kedalam jaket tebalnya. “Kau benar-benar mengakui kekalahanmu?”


“Ya! Aku kalah! Biarkan aku pergi!” balas Michael.


“Baiklah, kalau begitu ak-“


Bles!


Sebuah belati tiba-tiba menusuk perut Xavier. Kedua mata hitam itu terbuka lebar ketika melihat Michael berhasil menyerangnya tanpa peringatan. Xavier menunduk, cairan berwarna merah mengalir dari perutnya sebelah kiri. Ia tak menyangka, Michael berhasil mengelabuinya.


“Kau pikir, semudah itu aku kalah? Kau sendiri yang akan mati menyedihkan! Istrimu sedang hamil bukan? Kasihan sekali, setelah kematianmu, aku pasti akan menjaganya. Tapi tidak dengan anakmu! Dia akan mati seperti dirimu!!” Michael tertawa dengan puas.


“Kakak!!!” Hugo berteriak, ketika Michael berhasil mengalahkan sang Kakak.


.


.


UPDATE!


Maaf ya lama.....Kita lnjut besok lagi... See youu ^-^

__ADS_1


Jgn lupa Follow ig Nana @nanayu_95 (semua info update ada disana ya...)


__ADS_2