
“Enak kan?”
Diam-diam Xavier tersenyum kecil melihat kelakuan Charlotte. Tak ayal pria itu memakan suapan makanan dari tangan wanita itu. Mereka masih diposisi yang sama. Dengan Xavier memangku Charlotte yang kini kembali mengambilkan makanan lagi untuknya. Charlotte memaksa Xavier untuk membuka mulutnya dan hal itu hanya dituruti Xavier tanpa membantah.
Pandangan Xavier tak lepas sedetikpun dari wajah Charlotte. Meskipun wanita itu berdandan sangat buruk, tapi menurutnya, Charlotte memiliki aura kecantikan tersendiri sebelum dirinya melihat wajah asli wanita itu. Senyum Charlotte begitu candu bagi Xavier. Pria itu mulai sedikit memperhatikannya.
“Ini juga enak. Buka mulutmu.” Ujar Charlotte, tangan kirinya menadah dibawah agar makanan yang akan disuapkan pada Xavier tidak jatuh mengotori pakaiannya. Xavier menelan sisa makanannya sekilas, lalu mengambil alih sendok yang dipegang Charlotte. Dikembalikannya sendok itu dimeja.
Dengan perlahan, tangan Xavier terangkat keatas. Menyentuh kacamata yang dipakai Charlotte dan melepaskannya begitu saja.
“Xavi!” Charlotte tersentak.
“Diam sebentar.” Titah Xavier.
Pria itu kini melepaskan pengikat rambut Charlotte hingga rambut panjang wanita itu tergerai indah. Lalu jemari Xavier menyugar lembut rambut cokelat milik Charlotte sampai tertata rapi. Xavier sejenak menikmati wajah ayu wanita itu yang masih terpoles makeup buatannya. Mata hitam pekat itu kini menatap seluruh wajah Charlotte dengan intens.
“Kenapa menyembunyikannya?” tanya Xavier sesaat setelah punggung tangannya mengusap pelan pipi Charlotte.
“Itu urusanku.” Charlotte menepis tangan Xavier dari wajahnya. Walaupun bersikap kesal, tapi tak ayal jantungnya ikut berdegup kencang. Entah apa yang tengah dialami tubuhnya itu. Charlotte tidak mungkin mulai menyukai pria jahat itu bukan?
“It’s Okay. Aku akan jadi suamimu. Untuk sekarang, kau bisa melakukan sesuka hatimu. Setelahnya, giliranku untuk mendapatkan yang kumau. Tak terkecuali dirimu.” Kata terakhir terdengar seperti gumaman kecil, dan tentu saja, Charlotte tak terlalu jelas mendengarnya.
“Kau bicara apa sih.” Charlotte turun dari pangkuan Xavier dan merebut pengikat rambut dan kaca matanya dari Xavier. Kembali duduk ditempatnya semula.
Setelah itu, acara makan malam berjalan dalam keheningan. Xavier dan Charlotte sama-sama terdiam. Xavier kembali teringat kejadian yang terjadi di Motel. Dia pikir saat meluruskan masalahnya dengan Shinta, semua akan berjalan seperti biasa. Tapi kenapa sampai sekarang dirinya kembali terbayang-bayang?
__ADS_1
Mata Xavier melirik Charlotte sesaat. Tatapan penuh makna tersirat didalamnya. Sedangkan wanita itu, kini tengah berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah pernikahannya nanti. Charlotte tidak ingin menikah sekarang, tapi lagi-lagi dirinya mengingat kejadian persidangan keluarganya tempo hari. Banyak mata menatapnya dengan penuh kekecewaan kepadanya. Dirinya tidak bisa begitu saja mengabaikan semua itu.
Disaat tengah kediaman mereka, dari pintu depan resto, masuklah seorang wanita anggun, Lyla Rosie, yang tak lain mantan kekasih Xavier. Wanita itu melihat sekeliling dengan terheran melihat tamu resto dihotelnya yang sepi. Pandangannya beralih kepada dua sosok yang sedang melakukan makan malam bersama di ujung sana. Rona bahagia kian terpancar ketika mendapati keberadaan pria yang amat dikenalnya ada disana. Tanpa babibu, Lyla menghampiri pasangan itu.
“Halo Xavi.” Sapa Lyla cepat, setelah berada disamping pria itu.
Charlotte mendongak dan melihat wanita itu lekat-lekat. Menerka-nerka apa hubungannya dengan Xavier. Sedangkan Xavier, pria itu tampak tak begitu bersemangat melihat Lyla disana.
“Apa yang kau lakukan disini?” Mata Lyla kini beralih melihat Charlotte yang duduk didepannya. Wanita yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Selama dirinya mengenal Xavier, semua yang dekat dengan pria itu pasti akan diketahuinya. Lyla begitu penasaran dengan Charlotte.
“Seharusnya aku yang tanya hal itu.” Xavier melirik tajam pada Lyla.
“Xavi, kamu lupa ya, ini hotelku. Tidak salah kan, jika aku ada disini.” Ujar Lyla. Tanpa menunggu persetujuan pria itu, Lyla duduk dikursi samping Xavier. Duduk dengan santai sesekali matanya melirik kearah Charlotte.
“It’s okay Xavi. Karena kau sudah disini, bagaimana jika aku menemanimu.”
Charlotte yang sejak tadi diam mendengarkan kini melihat Lyla. Kenapa wanita itu seenaknya bicara dan memutuskan hal secara sepihak. Apa mata wanita itu buka sampai tidak tahu jika dirinya ada disana. Batinnya kesal.
Ah, kenapa juga dirinya kesal? Bukankah itu lebih baik? Berdua dengan Xavier selalu membuatnya frustasi dan perasaannya naik turun. Ada untungnya juga malah. Dirinya tak mau peduli apa hubungan wanita bernama Lyla itu dengan Xavier. Karena memang dia tak ingin tahu apapun tentang kehidupan pria yang akan jadi suaminya itu.
“Ly, kenalkan, dia Charlotte.” Xavier memperkenalkan Charlotte kepada Lyla.
“Ah ya, hai... Aku Lyla Rosie.” Lyla mengulurkan tangannya pada Charlotte. Dari matanya bisa terlihat jika wanita itu terpaksa untuk berkenalan. Lebih terkesan tak tertarik pada Charlotte.
“Aku Charlotte Hasana.” Menyambut uluran tangan Lyla. Saling melemparkan senyum dalam arti masing-masing.
__ADS_1
Lyla lebih dulu melepaskan tangannya dan kembali berbicara dengan Xavier disampingnya. Charlotte bahkan sempat kaget ketika tanpa sungkan tangan wanita itu merangkul lengan Xavier. Mereka berdua kini asik dengan obrolan mereka hingga melupakan keberadaan Charlotte disana.
Cukup lama, Charlotte diacuhkan disana. Sampai wanita itu merasa bosan. Charlotte akhirnya berdiri dari tempatnya.
“Mau kemana?” tanya Xavier.
“Ke toilet.” Balas Charlotte acuh dan langsung pergi begitu saja.
Didalam toilet, Charlotte menatap pantulan dirinya di kaca, membandingkan dirinya yang berwajah jelek dengan wanita yang dekat dengan Xavier diluar. Charlotte mendesah kesal ketika membayangkan jika Xavier disukai wanita itu. Ada perasaan dalam dirinya yang ingin keluar, mengungkapkan jika dirinya merasa terganggu akan kehadiran wanita bernama Lyla itu. Jelas-jelas Lyla berusaha memamerkan kedekatannya dengan Xavier didepannya.
“Apa mereka pikir, tempat ini milik mereka? Tidak tahu malu sekali bermesraan di tempat umum!” gerutu Charlotte.
“Dan juga, dia itu, aku tahu dia tampan dan kaya. Apa perlu juga memperlihatkan semua yang dipunya? Sampai membuat wanita lain nempel kayak perangko?! Iiihh, aku penasaran, berapa banyak wanita yang sudah diberi harapan palsu olehnya.” Charlotte menggelengkan kepalanya geli. Terus membayangkan kalau Xavier pria playboy. Charlotte memutar kran dan membasuh kedua tangannya.
Setelah selesai, Charlotte memutuskan keluar untuk bergabung dengan mereka. Saat ingin kembali ke tempatnya, Charlotte tak sengaja melihat Lyla sedang menyentuh wajah Xavier dengan penuh cinta. Mereka berdua seperti sepasang kekasih. Entah mengapa, dirinya merasa seolah menjadi orang ketiga diantara mereka.
Charlotte berniat pergi dari sana. Dirinya tidak ingin melihat kemesraan mereka yang begitu menggelikan dimatanya. Pergi dari tempat itu adalah pilhan terbaik.
Langkah Charlotte terhenti ketika menyadari ponsel dan tasnya masih tertinggal dimeja, Charlotte berdecak kesal dan terpaksa menghampiri mereka.
“Maaf ganggu. Silahkan lanjutkan.” Setelah mengambil semua barangnya tanpa melihat kedua orang itu, Charlotte segera ngacir pergi keluar dari sana.
nb :Sorry... updatenya lama... bener2 ya, pngin bnget nulis, tp pas bukak laptop isinya cuma liatin, geser file nulis bentar, hbis itu lupa lg idenya... hadeh.....
smntara up 1 bab dlu ya.... jgn lupa follow Ig @nanayu_95 semua info novel ada disana... happy reading ^-^
__ADS_1