
Pintu terbuka lebar, Charlotte dan Susanto berjalan perlahan menuju altar. Semua mata tertuju padanya. Kecantikan sempurna terpancar diwajah wanita itu. Tidak ada bercak cokelat menjijikkan ataupun alis tebal buatan disana. Yang ada kini hanya wajah cantik bersinar dengan sejuta pesona. Mereka melihat tanpa mengedipkan mata. Memuji dan berdecak kagum. Charlotte sangat cantik dengan gaun pernikahannya.
Hal itu dirasakan oleh keluarga Charlotte yang lain. Keterkejutan mereka sangat dominan diantara para tamu. Sella, Shinta dan Nenek terperangah antara percaya atau tidak, melihat Charlotte si gadis buruk rupa yang kini berubah menjadi wanita sempurna. Shinta hampir saja mengumpat didepan orang-orang saking terkejutnya.
Charlotte menunduk, dia yakin semua keluarganya mengira jika dirinya wanita pembohong. Rasa kebencian mereka pasti semakin besar kepadanya. Charlotte terus berjalan, melewati mereka.
Disamping Shinta, Fredy duduk terdiam. Sama sekali tidak terkejut seperti orang-orang disekelilingnya. Sejak dulu dia sudah tahu jika Charlotte memiliki paras cantik. Dia juga tahu alasan mantan kekasihnya itu menutupi wajahnya. Charlotte selalu menceritakan apapun masalah yang menimpanya dari saudaranya maupun teman-temannya. Semua orang iri dengan kecantikan gadis itu, hingga membuat Charlotte harus menutupinya. Hanya Fredy, satu-satunya teman yang selalu disampingnya. Kini, kenangan itu seakan sirna seiring Charlotte akan menjadi istri pria lain.
Rasa cemburu Fredy sudah tak bisa dibendung lagi. Melihat Charlotte diatas altar bersama pria lain kian memantik api kemarahannya. Fredy memilih pergi dari tempat itu.
Xavier berdiri tegak diatas altar dengan Tuxedo pernikahan yang melekat pas di tubuhnya. Kedua matanya hanya tertuju pada Charlotte didepan sana. Bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman kecil. Wajahnya menampakkan kemenangan dan kepuasan. Tak ayal, jika Xavier tak sabar menunggu kedatangan wanita itu disampingnya.
Menunggu? Hah! Sikapnya itu sangat berlebihan. Mereka hanya menikah, bukan berperang. Kenapa jantungnya berdebar tak karuan. Melihat wanita itu dengan santai saja sangat sulit sekarang. Pandangannya seolah termagnet hanya untuknya. Fokus pada Charlotte yang tampak mempersona dimatanya.
Xavier mengambil Charlotte dari Susanto. Memegang tangannya dan menggenggamnya erat. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat. Xavier mengajak Charlotte mendekati pendeta untuk memulai janji suci pernikahan mereka. Semua tamu undangan terdiam menyaksikan prosesi sacral pernikahan suci mereka. Xavier dan Charlotte mendengarkan perkataan pendeta. Keduanya mulai saling mengucapkan apa yang Pendeta katakan, mereka berbicara dengan lancar hingga pada akhirnya Xavier dan Charlotte telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Suara tepukan riuh dibelakang menyadarkan kedua pengantin itu jika mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Seketika, air mata Charlotte luruh. Pernikahannya yang ditentangnya telah terjadi. Rasa sesak dalam dirinya semakin hebat. Menikahi pria kejam seperti Xavier adalah awal kehancurannya.
“Selamat.” Bisik Xavier.
“Apa maksudmu?” tanya Charlotte tidak mengerti.
“Gelar Nyonya Xavier kini milikmu. Kau senang kan?” ucap Xavier dengan menyematkan senyum smirk.
Charlotte tertawa kecut, “Kau meledekku? Sejak kapan aku senang bersamamu?”
“Jangan pura-pura. Katakan saja sejujurnya.”
“Pria gila,” umpat Charlotte seraya berbalik untuk turun dari altar.
“Cium! Cium!”
Sorakan para tamu menghentikan niat Charlotte. Wanita itu menatap bingung semua orang yang secara kompak menyuarakan keinginan mereka.
__ADS_1
“Cium? Apa mereka sama tak warasnya dengan Xavier?” gumam Charlotte kesal. Bibirnya tak henti berdecak. Acara pernikahan ini benar-benar membuatnya dalam masalah. Bagaimana mungkin dia dan Xavier berciuman disini, didepan semua orang? Mereka tidak saling cinta, yang benar saja harus melakukan hal memalukan itu?
Jika lama-lama disini, dia pasti akan kena masalah lain. Dia harus pergi. Ini kan acara pria kejam itu, biarkan dia yang urus para tamunya itu. Merepotkan saja, pikir Charlotte.
Greb!
Tiba-tiba saja, pinggang Charlotte ditarik dari arah belakang oleh Xavier. Hingga tubuhnya berbalik dan menabrak dada bidang pria itu. Belum juga rasa terkejutnya hilang, Xavier langsung menarik tengkuk lehernya dan memberikannya ciuman. Tanpa aba-aba lebih dulu. Charlotte mematung ditempatnya, mencerna apa yang sedang Xavier tengah lakukan. Pria itu terang-terangan menciumnya! Didepan semua orang!! Astaga!
Xavier melepaskan ciuman singkatnya. Menatap Charlotte dengan pandangan lain. Sorot mata yang sedingin es kini berubah sayu. Xavier melepaskan Charlotte saat keinginan semua orang terpenuhi. Pria itu dengan santainya kembali tersenyum kecil pada para tamu seolah tidak melakukan apa-apa.
^
Xavier kini bersama Kakek dan Dean di meja khusus. Sedangkan Charlotte bersama kedua sahabatnya Mona dan Lexy. Charlotte sengaja menjauh dari keluarganya. Hanya kedua sahabatnya itu yang bisa diirnya ajak bicara.
“Kenapa lu diem trus sih Char? Ngomong kek.” Celetuk Lexy.
“Bosen gue. Gak ada yang menarik disini.” Balas Charlotte malas.
“Lu tuh dah nikah, kenapa masih lesu gitu? Pengantin baru tuh ya harusnya seneng, bahagia.” Ujar Lexy.
Lexy hanya ketawa mendengar keluhan Charlotte. Lexy maupun Mona tahu bagaimana sahabatnya itu menentang pernikahan itu. Ketika melihat Charlotte membuka wajah aslinya didepan umum karena Xavier, keduanya merasa jika Xavier bukan pria yang kejam seperti orang lain kira. Mereka merasa Xavier sudah memperlakukan Charlotte dengan baik mengingat Charlotte sangat sulit membuka diri dengan penampilannya saat ini.
“Udah-udah. Kalian itu kenapa ribut sih..” Timpal Mona geleng-geleng kepala.
“Xavier tuh orangnya hebat lho. Lihat lu kayak gini, makin buat gue yakin tuh orang bakal ngebahagiain lu.” Ujar Lexy. Dengan seulas senyum menggoda.
“Halo Nona… Anda sehat? Itu tidak akan terjadi!” bantah Charlotte seketika. Memutar bola matanya dengan malas.
“Bisa aja lho. Ya, kan Mon?” ujar Lexy cari dukungan.
“Kayaknya sih gitu. Coba kamu baikin dia deh Char. Mungkin ada untungnya buat lu.” Balas Mona setuju.
“Kalian kenapa sih? Kenapa belain tuh orang??” ucap Charlotte bertambah kesal.
__ADS_1
“Enggak.” Jawab mereka bersamaan. Keduanya geleng-geleng kepala takut Charlotte salah paham.
“Awas kalo kalian dukung dia!” ancam Charlotte. Menunjuk wajah keduanya dengan tatapan mengerikan
“Iya.”
“Baik.” Keduanya diam daripada semakin membuat Charlotte bertambah marah.
Disisi lain, dimana Xavier tengah duduk bersama Kakek dan juga Dean. Dirinya tak sadar menjadi bahan pembicaraan ketiga gadis diujung sana, terus memperhatikan salah satu gadis itu yang tak lain istrinya. Tak peduli apa yang mereka bicarakan, pandangan Xavier hanya terpusat pada wajah Charlotte yang semakin memancarkan pesona cantiknya.
Hal itu tak luput dari perhatian Kakek disampingnya. Diam-diam kakek tersenyum.
“Kadang cinta tak mengenal pribadi seseorang ya.” Ucap Kakek seolah sedang bicara dengan Dean.
“Ya Tuan Besar?” tanya Dean tak mengerti.
“Seburuk apapun dirimu, jika sudah mengenal apa itu cinta, kau hanya disebut budak cinta bukan?” ujar Kakek tertawa seraya melirik Xavier yang kini sudah mengalihkan pandangannya.
Dean langsung mengerti arah pembicaraan Kakek. Dia hanya tersenyum simpul. “Benar Tuan Besar. Saya juga bisa melihatnya.”
“Hei, Jangan asal bicara!” ketus Xavier menatap tajam Dean yang dianggapnya sok tahu.
“Saya hanya menjawab pertanyaan Tuan Besar, Tuan Muda.” Ujar Dean dengan tenang.
“Cih, Kau pikir aku tidak dengar? Dasar muka tebal.” Xavier berdiri dan memilih pergi dari sana. Kakek dan Dean sama-sama tertawa melihat tingkah Xavier.
.
.
.
Bonus pict :
__ADS_1