
Charlotte sudah berada di lantai atas kamarnya. Rasa lelah dan kantuk menguasainya. Ingin sekali wanita itu merebahkan diri didalam kamar dan tidur sampai besok. Acara pernikahan ini benar-benar menguras seluruh tenaganya.
“Eh, kenapa ini?”
Charlotte mencoba membuka pintu kamarnya beberapa kali. Namun terus gagal. Charlotte tak patah arang, ia menekan semua tombol kunci kamar seenaknya untuk membuka pintu.
“Astaga! Kenapa dengan pintu ini hah?!” Charlotte mulai frustasi.
“Ada yang bisa saya bantu Nona?”
Dona, kepala pelayan tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kebetulan kau ada disini. Bisa kau bukakan pintu ini? Sulit sekali membukanya.” Keluh Charlotte masih berusaha menekan tombol apapun.
“Sepertinya sudah diperbarui Nona. Mari ikut dengan saya.” Dona berjalan lebih dulu membuat Charlotte bertanya-tanya kemana wanita itu akan pergi.
Charlotte tak punya pilihan lain selain mengikuti Dona. Ia diajak ke lantai tiga. Mata Charlotte berkeliling mencari tahu alasan Dona mengajaknya kesana.
Tunggu! Bukankah ini kamar milik pria jahat itu?!
Mulut Charlotte ternganga melihat ruangan didepannya. Dona memasukkan kunci berbentuk kartu hingga membuat pintu kamar terbuka.
“Nona bisa istirahat disini. Tuan akan menemui Anda selesai semua selesai.” Ucap Dona sopan.
“T-tunggu. Ma-maksutmu aku akan tidur disini?” tanya Charlotte dengan tergagap. Masih kebingungan.
“Benar Nona. Tuan meminta saya datang untuk memberitahu Anda tentang ini. Silahkan Anda beristirahat dengan baik.”
“Tidak. Ini pasti salah. Aku tidak akan tidur satu kamar dengan pria itu! Katakan itu padanya. Minta dia kembalikan kamarku!” teriak Charlotte tak terima.
“Maaf Nona. Ini sudah menjadi perintah Tuan Muda. Lagipula, Anda sudah menjadi istri Tuan Muda, tidak baik tidur terpisah.” Ucap Dona tanpa merasa terganggu dengan penolakan Charlotte dan justru menyarankan hal yang tidak masuk akal untuk wanita itu.
“Aku tidak minta saranmu Dona. Kenapa dia melakukan hal seenaknya padaku.” Gerutu Charlotte. Gigit jari. Sejenak berpikir. “Disini banyak kamar, berikan satu untukku.”
“Hanya kamar ini yang tersedia Nona.” Jawab Dona tenang.
“Apa?? Mana mungkin! Mansion ini punya puluhan kamar.”
“Tidak ada kamar lain untuk Anda, Nona.”
“Kenapa? Kenapa bisa begitu?”
“Nona harus tinggal dimanapun Tuan Muda tinggal.”
Apa??? Peraturan macam apa itu. Semua orang bahkan tahu jika ia dan si Xavier tidak saling mencintai, bukankah sudah jelas? Walaupun mereka kini sudah menikah, bukan berarti ia harus mengikuti pria jahat itu!
__ADS_1
Charlotte mencoba meredam emosinya. Tidak ada gunanya berdebat dengan Dona. Ia harus bicara serius dengan Xavier setelah ini.
“Ya sudah, kau bisa pergi sekarang.”
“Baik Nona. Selamat beristirahat. Selamat malam.” Dona membungkuk sopan dan berlalu dari sana.
Charlotte segera masuk kedalam dan menutup pintu. “ARggghhhhh! Xavi sialann!! Seenaknya ambil kamar orang! Awas saja nanti, aku ak-“ teriakan Charlotte terhenti ketika melihat isi kamar pria itu.
Kamar Xavier sudah disulap menjadi kamar pengantin yang penuh dengan taburan bunga dan lilin. Charlotte tak berkedip barang sejenak melihat indahnya dekorasi malam pengantin mereka. Kamar yang awalnya berwarna serba hitam dan menakutkan itu kini lebih enak dilihat. Kesan romantis lebih dominan. Taburan kelopak bunga mawar merah menghiasi setiap lantai dan tempat tidur king size itu. Kamar itu telah berubah 180 derajat sejak terakhir dirinya disana. Charlotte tidak tahu harus melakukan apa. Malam pertamanya sebagai pengantin atau malam keduanya bersama dengan Xavier? Dia tidak bisa membedakan hal itu.
“Apa dia yang menyiapkan semua ini? Ckck, bagus juga seleranya.” Puji Charlotte tanpa sadar. Charlotte menyibak tirai utama. Ia bisa melihat pemandangan langit malam dari sana. Bintang dan bulan sabit menyapa indah. Charlotte tak menyangka jika suasana indah malam ini seolah merestui pernikahannya dengan Xavier. Hal itu membuat Charlotte menunduk lesu.
Tanpa sengaja, sorot matanya menangkap seseorang dibawah sana. Dimana acara masih berlangsung. Seorang pria yang tengah bercengkrama dengan beberapa orang melontarkan senyum menawannya yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Sejenak Charlotte tertegun dibuatnya.
“Dia bisa tersenyum seperti itu,? Apa ini nyata?” gumam Charlotte pada dirinya sendiri.
“Siapa itu? Bagaimana dia bisa membuatnya seperti itu?” Charlotte penasaran pada sosok wanita didepan Xavier. Wanita itu begitu santai dan friendly. Xavier terlihat nyaman bersamanya. Kadangkala mereka melontarkan candaan satu sama lain.
Charlotte tanpa sadar mencengkram kuat tirai disampingnya. Perasaannya kian memburuk melihat interaksi keduanya.
“Gaun ini kenapa panas sih? Oh, kamar ini juga. Apa tidak ada AC!!” Charlotte berteriak tak jelas. Tangannya digunakan untuk mengipasi lehernya.
Hal itu tidak membuat wanita itu berpindah dari tempatnya. Kedua matanya diam-diam kembali melirik kebawah sana. Memperhatikan sosok yang sangat membuatnya penasaran.
Mata hitam setajam elang itu tiba-tiba saja mendongak keatas. Menatap tajam padanya. Charlotte memekik keras dan menutup mulutnya rapat-rapat. Pandangan mereka saling beradu.
Xavier memergoki Charlotte mengintipnya dari atas sana. Charlotte berusaha mengalihkan pandangannya dan buru-buru menutup rapat tirai kamar.
“Fiuhh… Dia tidak lihat aku kan tadi?” Charlotte menyakinkan diri sendiri.
“Tenang Charlotte, jangan berlebihan oke.” Masih menyakinkan diri. Charlotte mengambil nafas dan membuangnya secara teratur. Pandangan tajam Xavier yang tiba-tiba mengarah padanya, hampir membuat Charlotte kena serangan jantung mendadak. Bisa-bisanya pria itu tersenyum tulus pada orang lain lalu tiba tiba berubah dingin padanya.
Tak ingin ambil pusing Charlotte memilih melepas beberapa akseksoris yang mengganggu di tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit berlalu, Charlotte keluar dari dalam sana dengan memakai bathrobe dan handuk kecil diikat diatas kepalanya. Mandi malam memang segar, tapi tidak terlalu baik bagi tubuhnya. Charlotte masuk kedalam walk in closet mencari baju tidurnya.
“Apa ini?”
Charlotte menemukan banyak sekali lingerie menggantung dilemari pakaiannya. Dari berbagai model dan warna yang mencolok. “Siapa yang membawa baju laknat ini kesini??”
Charlotte kembali mencari baju tidurnya di lemari yang lain. Ada 3 lemari pakaian disana namun ia hanya menemukan pakaian yang sama.
Drttttt Drttttt
Suara panggilan masuk diponselnya. Charlotte langsung melihat siapa orang yang tiba-tiba mengganggunya disituasi seperti ini.
__ADS_1
“Ada apa Mon?” Mona, sahabatnya menelpon.
“Uluh uluh, pengantin baru kenapa suaranya lesu gitu sih?” suara Lexy terdengar diujung sana.
“Heh! Kalo kalian mau bikin rusuh, jangan sekarang! Gue baru cari baju waras gue nih.” Gerutu Charlotte, ngedumel.
“Lho emang kenapa baju lu.” Timpal Mona.
“Semua ilang, yang ada malah baju kek begini!” Kini Charlotte melakukan Video Call dan menunjukkan semua isi lemari pakaiannya pada mereka.
“Pfffffttt.. Hahahahahhahaha!” Suara tawa keras mereka hampir meledakkan gendang telinga Charlotte.
“Apa-apaa sih kalian! Malah ketawa!” gerutu Charlotte.
“Gimana nggak ketawa, itu lemari pakaian apa lemari lingerie? Kok penuh semua. Motifnya bagus-bagus lagi.” Timpak Lexy semakin menggoda Charlotte.
“Gue juga heran! Siapa orang iseng yang nglakuin ini.” Ucap Charlotte sambil berdecak kesal.
“Kenapa gak lu coba aja sih Char. Kali aja cocok dibadan lu.” Saran Mona seraya menyembunyikan senyumnya.
“Ogah! Gue gak mau pake kalo ada dikamar ini.”
“Emang kenapa? Kan udah halal.” Ejek Lexy tertawa jahat.
“Gue lakban mulut lo ntar!” kesal Charlotte.
“Bagaimanapun kado pernikahan dari kita harus tetep dipake lho Char. Susah lho carinya.” Ucap Mona.
“Ja-jadi ini semua??”
“Dari kita dong!!” teriak kedua sahabatnya bersamaan.
“Lexy! Mona!!!!”
Tut tut tutttt….“
.
.
.
Jgn lupa Vote ya.. Insyaallah besok Nana balik lg..
Jgn lupa Follow Ig @nanayu_95 , utk dpt informasi terbaru.. See youu ^-^
__ADS_1