Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 82 (Part 1)


__ADS_3

Mata Charlotte mengerjap-ngerjap menyesuaikan pencahayaan di kamar. Ia melihat sekelilingnya. Tenggorokkannya begitu kering, ia ingin minum sesuatu. Disampingnya ada meja kecil yang berisi buah dan juga segelas air. Ia ingin mengambil air putih itu untuk menghilangkan rasa dahaganya.


“Akh..” suaranya tercekat ketika melihat tangannya terpasang infus. Ia merasakan nyeri dipergelangan tangannya.


Charlotte mencoba duduk dan bersandar ditempat tidur. Ia baru sadar jika sudah berada di kamarnya. Maksudnya kamar yang dulunya milik Xavier. Ia sudah tidak berada di kamar dimana ia berdebat dengan suaminya itu.


Charlotte tertunduk, mengingat kembali kata-kata menyakitkan yang suaminya lontarkan. Jujur saja, ia tidak pernah membayangkan akan mendapat perilaku tidak baik dari suaminya ketika ia baru mengetahui kehamilannya. Charlotte mengangkat tangan yang tidak terpasang infus dan menyentuh perutnya. Diusapnya perlahan perut rata miliknya yang sudah tertanam buah cinta antara dirinya dan Xavier. Tanpa bisa ia bendung, lelehan air mata kembali luruh di kedua pipinya. Rasa senang saat ia mengetahui sedang hamil benar-benar membuatnya bahagia. Diusianya yang masih muda, tidak terpikirkan sekalipun ia akan memiliki seorang anak secapat ini. Walaupun ia belum menyelesaikan kuliahnya, ia akan tetap menjaga buah hatinya itu dengan baik. Kata orang, anak adalah anugerah tak ternilai harganya dari apapun. Ia pasti akan menjaganya dengan nyawanya sendiri.


“Sehat-sehat disana ya sayang. Mommy akan membahagiakanmu dan menjagamu. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat dan tetap bersama Mommy…” lirih Charlotte seraya tersenyum bahagia.


Charlotte membayangkan anaknya, melihat wajah imutnya, memegang tangan mungilnya, mendengar celotehnya yang lucu, ia tak sabar menantikan hati itu. “Mommy menyanyangimu sayang…”


Ceklek!


Charlotte buru-buru menyeka air matanya dan melihat seseorang yang masuk. Ia terkejut melihat Kakek Abraham masuk dengan menepiskan senyum kuyunya. Pria itu menghampirinya. Namun ternyata, Kakek tidak sendirian, dibelakangnya, Xavier ikut masuk mengekorinya. Charlotte yang masih sakit hati sengaja memalingkan wajahnya.


“Cucu Kakek yang cantik sudah bangun ya?” ujar Kakek penuh semangat seperti biasa. Hal itu membuat Charlotte membalasnya. Tersenyum selebar mungkin, seolah tak ada masalah apa-apa. Kakek memeluknya dengan hangat.


“Kakek, kapan kemari?” tanya Charlotte setelah melepaskan pelukan.


“Tidak lama sayang. Bagaimana perasaanmu? Masih ada yang sakit?” tanya Kakek.


Charlotte sejenak melirik Xavier, ia lihat pria itu diam. Namun, ia tertegun ketika melihat pipi suaminya merah. Tepatnya sebelah kiri. Charlotte bertanya-tanya dalam hati, kenapa wajah Xavier bisa seperti itu?


“Sayang, kenapa melamun. Apa masih merasa sakit?” tanya Kakek kembali, wajahnya tampak cemas.


“Emb, tidak Kek. Charlotte tidak apa-apa.” Jawab Charlotte terbata-bata.


“Kamu yakin, jika kondisimu masih lemah, kita ke rumah sakit ya?”

__ADS_1


“A-aku baik Kek. Sungguh.”


Charlotte tak ingin berada di tempat yang semakin membuat dirinya tak nyaman. Apalagi setiap hari harus meminum dan mencium bau obat-obatan. Charlotte tak suka tempat seperti itu.


“Ya sudah. Kamu banyak-banyak istirahat ya. Jangan terlalu banyak fikiran. Cicit Kakek harus sehat-sehat disana begitupun dengan ibunya yang cantik ini.” Ujar Kakek dengan tawa khasnya. Tawa bahagia yang tulus.


Mendengar semangat Kakek, membuat Charlotte kembali bertenaga. Ia bahagia saat ada orang yang benar-benar perhatian padanya dan juga calon bayinya. “Iya kek. Terima kasih.” Senyum manis Charlotte mengembang sempurna.


“Xavi…”


“Iya kek.”


Charlotte mendengar Kakek memanggil Xavier. Namun, pria tua itu sama sekali tak memandang suaminya. Justru Charlotte merasa aneh, nada bicara Kakek yang biasanya lembut , kini berubah sangat dingin saat memanggil suaminya.


“Mulai hari ini, Kakek akan tinggal di Mansion. Siapkan kamar untukku!” perintah Kakek seolah tak ingin dibentah.


Sejenak Charlotte melihat raut wajah Xavier. Pria itu menghela nafas kecil. “Baik. Buatlah dirimu nyaman.” Setelah mengatakan itu, Xavier mengalihkan pandangannya pada Charlotte. Charlotte sontak cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah lain.


“Charlotte sayang, apa kamu lapar?” tanya Kakek yang tanpa Charlotte sadar sudah memegang piring berisi buah-buahan dipangkuannya. “ Kakek suapin ya.”


“Emb, tidak perlu kek. Charlotte bisa sendiri.” Charlotte menolak dengan sopan.


“Tidak apa-apa. Ayo buka mulutmu.”


Mau tidak mau, Charlotte menerima makanan dari Kakek. Ia buka mulutnya menerima suapan buah apel kedalam mulutnya.


“Sayang, jika kamu ada masalah, ceritalah pada Kakek. Jangan menghadapinya sendiri. Ingat kamu harus menjaga kesehatanmu dan mengurangi pikiran yang tidak penting.”


“Iya kek. Charlotte mengerti.”

__ADS_1


Kakek tersenyum hangat dan kembali menyuapi Charlotte. Charlotte benar-benar merasa diperhatikan. Ia teringat kembali pada mendiang Kakeknya yang sudah meninggal. Perlakuan Kakek Abraham sama persis dengan Kakeknya yang sangat menyanyanginya.


“Kakek.”


“Ya?” Kakek mendongakkan kepala dengan wajah hangat.


“Kenapa kakek mau tinggal disini? Apa ada urusan disini?” tanya Charlotte.


“Kenapa? Apa kamu tidak senang sayang?” suara Kakek sama sekali tak tersinggung.


“Bukan begitu. Charlotte senang. Sangat senang.”


Kakek tertawa lalu memasukkan kembali potongan apel terakhir kedalam mulut Charlotte. “Syukurlah kamu senang. Kakek sangat khawatir melihat kondisimu sayang. Kamu masih muda tapi harus mengandung seorang anak.”


“…..Kakek terlalu berkeinginan memiliki cicit. Dan ketika melihatmu sakit seperti ini, kakek merasa bersalah. Maafkan Kakek ya.” Kakek menundukkan kepala dengan sorot mata yang layu.


“Jangan menyalahkan diri sendiri Kek. Charlotte juga senang kok. Charlotte janji akan menjaga diri dan anak ini dengan baik.” Ucap Charlotte seraya menepiskan senyum.


“Syukurlah. Kakek senang sayang. Bilang kakek jika kamu perlu sesuatu.”


“Tidak perlu Kek, Charlotte akan minta itu pada Xavi.”


Wajah Kakek yang hangat tiba-tiba berubah masam. “Apa kamu masih menginginkan Xavi disampingmu sayang?”


.


.


.

__ADS_1


Happy reading bestie... ^-^


__ADS_2