
Kubaca kalimat kalimat itu, dan isinya hampir sama dengan buku yang sebelumnya sempat aku dapatkan, hanya saja jika dibuku pertama ceritanya muncul seperti hologram, tapi dibuku kedua ini ceritanya hanya sebuah tulisan saja, hingga saat aku sudah memasuki sepertiga buku aku pun menemukan apa yang aku cari cari yaitu..
"Ritual membalikan separuh nyawa, dalam satu bulan".
.......
.......
.......
.......
"Disini tertulis bahwa ritual membalikan separuh nyawa hanya bisa dilakukan setiap tahun kabisat, atau tahun yang dimana memiliki jumlah lebih satu hari dari tahun tahun lainya!! ". Ucapku membaca kalimat selanjutnya.
"Terus? ". Ucap Dira padaku.
"Ritual ini jarang digunakan mengingat bangsa ORC yang Hampir punah, hanya sebagian saja yang melakukan jika mereka berhasil selamat namun separuh nyawa mereka tersegel di gelang bertuah!!..... gelang bertuah adalah sebuah gelang yang dimana terbuat dari beragam benda yang sangat sulit ditemukan dan membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya". Ucapku berhenti sejenak untuk menarik nafas.
"Dan saat waktunya tiba, maka seorang ORC akan mulai menyiapkan ritualnya, ritual selama 1 bulan dimana ia bisa mengambil separuh nyawanya tanpa celaka, tapi cara yang ia gunakan adalah harus membunuh orang yang telah menyegel nyawanya itu atau kata lainnya orang yang memakai gelang itu"....
"Biasanya seorang ORC akan memilih tempat yang paling dianggap bersejahrah dalam hidupnya, seperti tempat dimana separuh nyawanya itu diambil... Namun semua itu tergantung pada diri mereka sendiri...
"Oh, berati bener kata sih Syalen ya... Lanjut lagi Ra, terus gimana buat kita? ". Ucap Dira padaku.
"Saat waktunya tiba mereka hanya perlu memanggil tubuh yang bersangkutan, kemudian saat perisai gelang itu melemah, ia hanya cukup mengambilnya dan tinggal disatukan saja dengan kalung yang ia pakai... Namun cara itu juga dapat membunuhnya jika yang menyatuhkan kedua benda itu adalah orang yang menyegel nyawanya...
"Karena hal demikianlah biasanya dalam menyiapkan ritualnya , bangsa ORC akan melakukannya secara sembunyi, agar tidak diketahui oleh orang lain, dan satu satunya cara agar mereka mau keluar dari persembunyianya adalah dengan......
"Dengan apa Ra? ". Tanya Dira karena aku menggantungkan kalimat terakhirku.
"Dengan cara... bakar satu benda yang sering ia gunakan, dan jangan lupa beri tulisan yang bertuliskan 'keluar dari persembunyianmu'...
Dengan menggunakan darah ayam hitam... Karena dengan darah ayam hitamlah mereka baru dapat terpanggil". Ucapku setelah membaca kalimat terakhir.
...**************...
"Jadi gitu cara mancing dia keluar.... Kapan nih kita nyobanya? ". Tanya Dira padaku.
"Makin cepat makin baik... Tapi untuk itu kita harus nyari ayam hitam dulu kan, kira kira kita bisa dapet ayam hitam dimana coba". Ucapku dengan nada sedikit lesu.
"Yang pasti sih di tempat orang yang jual ayamlah, kalok dibengkel enggak mungkin ada!! ". Ucapnya masih sempat sempatnya melawak di suasana begini.
"Kamu ini-
Ucapku terhenti karena tiba tiba saja Dira menarik tanganku hingga aku pun terduduk dilantai, dan aku juga tidak bisa bicara karena mulutku telah lebih dulu dibekap olehnya.
"Shutt~... Diem kayaknya ada orang yang mendekat deh!! ". Ucap Dira berbisik dengan masih membekap mulutku.
Dan tak lama setelah ia berkata demikian benar agaknya, karena aku melihat satpam yang agaknya sedang patroli keliling sekolah guna mengawasi kalau kalau ada maling masuk.
Dan setelah satpam itu pergi akhirnya aku pun bisa bernafas lega, segera kulepaskan tangan Dira yang sedari tadi membekap mulutku.
"Tangan kamu bau banget, habis pegang apaan sih? , kok amis banget?!! ". Gerutuku kesal padanya.
"Hihihi... Kebetulan tadi sempet pegang ayam mentah!! ". Ucapnya cengengesan sehingga aku pun langsung mual mendengar penunturannya.
"Uwek.. Uwek... S*alan banget kamu Dira... Kenapa pegang ayam mentah sih... Lagian dapet dari mana lagi tuh ayam mentah? ". Gerutuku sambil sesekali hendak muntah mengingat bau tangannya tadi.
"Oh ayamnya gue dapet dari jalan deket pinggir hutan yang enggak jauh jauh banget sih dari sini... Kayaknya ada orang yang naruh sesajen entah sih buat siapa... jadi dari pada enggak ke makan... ya, gue ambil deh!! ". Ucapnya masih cengengesan.
"Ish kamu nih... Udah ayo kita keluar , aku juga mau sekalian cuci muka nih"ucapku segera berdiri dari dudukku, tidak lupa kuletakan kembali buku itu ditempatnya, dan aku pun berjalan ke arah jendela.
__ADS_1
Setelah kurasa aman, aku pun segera memanjat keluar, untuk kali ini aku tidak teralu kesusahan karena aku berpijakan pada Meja, sehingga aku dengan mudanya untuk keluar dari dalam.
Setelah aku keluar, ku tutup kembali jendela, itu tentu saja dengan Dira yang menguncinya kembali dari dalam, dan setelah semuanya beres kami pun langsung berlari kecil agar segera keluar dari lingkungan sekolah.
...***************...
"Nak ayo dimakan ayamnya... Kok cuman diliatin aja sih? ". Ta ya mamaku saat melihat ku tidak menyentuh makananku.
"Mungkin dia lagi galau mikirin pacarnya kali ma!! ". Ejek papaku sehingga aku pun dengan cepat langsung mengeleng padanya.
"Enggak ada... Dara enggak punya pacar pa, papa nih kalok ngomong kok ngasal!! ". Ucapku tidak terima.
"Lah terus kamu kenapa enggak makan? ". Ucapnya kini bertanya.
"Pa, ma... Kalian tau gak dimana tempat orang yang ada jual ayam hitam.. Gimana tau gak? ". Tanyaku langsung pada mereka.
"Kamu mau buat apaan Dara?.. Jangan bilang sama mama kalok kamu mau buat nyantet orang kayak yang di tv itu ya... Atau ilmu hitam semacamnya, mama enggak suka kalok kamu begituan!! ". Ucap mamaku dengan lantang.
"Iya kamu mau buat apa ayam hitam... Kamu enggak aneh aneh kan? ". Tanya papaku ikut menimpali.
"Emm.. Itu ma, pa... Aku enggai buat yang begituan kok... Lagian buat apa coba, aku nyari ayam hitam itu buat temenku yang minta tolong aku buat nyariin ma". Ucapku beralasan.
"Oh, mama kira kamu mau yang enggak enggak lagi". Ucap mamaku bernapas lega.
"Jadi mama tau dimana jualnya? ". Tanyaku padanya.
"Enggak... Tapi biasanya sih kalok mau nyari ayam yang ditempat orang yang biasa jual ayam... Kan ayamnya ada macem macem!! ". Ucap mamaku kini, sehingga aku hanya bisa tersenyum kecut sambil melihat Dira yang kini sudah tergelak tawa.
"Gue bilang apa!!.. Mama aja sama kayak gue kan!! ". Ucapnya sambil memegangi perutnya.
Dan tanpa bertanya lagi aku pun langsung memakan makananku sampai habis dengan wajah yang kecut, tapi sesekalu tersenyum pada kedua orang tuaku.
...*****************...
"Bang ada jual ayam hitam gak?tapi yang masih hidup!! ". Tanyaku pada penjual ayam.
"Kalok disini adanya ayam potong dek!!.. Coba kamu cari dilorong sebelah sana, mungkin ada yang jual ayam yang masih hidup". Ucapnya memberi tahuku.
"Oh gitu ya bang!.. Makasih ya". Singkatku, kemudian segera aku pergi kearah lorong yang ia maksud.
Sesampainya aku dilorong yang ditunjuk olehnya, aku pun melihat ada beberapa ayam yang masih hidup sehingga aku pun langsung bertanya kepada salah seorang pedagang.
"Permisi bang!!.. Ada ayam yang warnanya full hitam gak?.. ". Tanyaku pada orang itu.
"Oh kalok mau ayam yang hitam coba adek tanya sama pedagang disebelah sana.. Itu kan ada ayamnya satu". Ucapnya sambil menunjuk ke pedagang yang berada didepan lapaknya.
"Oh, yaudah... Makasih bang". Singkatku sambil pergi ke pedagang yang satunya.
"Permisi bang.. Ada jual ayam hitam yang masih hidup gak? ". Tanyaku langsung pada pedagang itu.
"Oh adek beruntung sekali!!.. Ini kebetulan saya ada satu adek mau beli". Ucapnya sambil memperlihatkan ayam itu.
"Nah ini ketemu juga akhirnya!!... Harganya berapa bang? ". Tanyaku kini pada pedagang itu.
"Murah kok dek enggak mahal, cuman 200rb aja". Singkatnya sehingga aku pun sedikit memblak blakan mataku.
"Buset!! ayam item ternyata mahal juga ya". Ucap Dira yang sama terkejutnya denganku.
"Itu harganya seriusan bang!!.. Enggak bisa dikurang apa... Dikit aja!! ". Ucapku menawar.
"Ya adek!!.. Itu aja udah murah tau... Ada lo ayam hitam yang harganya hampir puluhan juta... Jadi ini mah masih murah banget lah". Ucapnya malah membandingkan dengan ayam yang semakin mahal.
__ADS_1
"Yaudah deh!!.. Saya ambil satu ya bang... 200rb kan". Ucapku sambil merogoh kantong celanaku.
" oke!!.. Oh ya, Ngomong ngomong ini ayamnya mau diapain dek?... ". Ucapnya malah bertanya padaku.
"Oh itu buat tugas sekolah bang". Singkatku tanpa panjang lebar, sambil menyodorkan uang ditanganku.
"Oke makasih ya... Ini ayamnya... Dan keranjang ini saya kasih bonus ya buat adek ". Ucapnya yang juga menyodorkan ayam yang sudah dimasukan kedalam keranjang belanjaan tradisional.
"Oke makasih bang bonusnya... Saya pulang dulu ya". Singkatku sambil melangkah pergi.
...***************...
Keesokan harinya aku sudah berada dibelakang rumahku bersama Dira sambil memandangi ayam dihadapan kami.
"Ra ini jadi ayamnya mau diapain dong kalok udah dapet? ". Tanya Dira padaku.
"Ya tinggal kita sembelih, tapi pertanyaannya adalah sekarang kita harus dapet barang yang sering dipakek sama pak Ali... Tapi barangnya itu apa? ". Tanyaku kini kebingungan.
"Iya ya... Emmm.. Gimana kalok baju aja.. Dia kan sering pakai baju tuh!! ". Ucap Dira yang memberi usul padaku.
" semua orang juga pakek baju kali!!..tapi ide kamu Boleh juga sih!!.. Tapi pertanyaannya gimana cara dapet bajunya? ". Tanyaku padanya.
"Itu mah gampang, kita tinggal kerumahnya aja... Terus gue masuk dan ambil deh". Ucapnya drngan santai.
"Kamu emang berani apa masuk kerumahnya?". Tanyaku dengan tidak yakin.
"Berani lah orang tuannya enggak ada... Gimana ayo sekarang". Ucapnya mengajakku.
"Yaudah ayo... Tapi mendingan sekali ini ayamnya kita sembelih dulu , jadi kalok bajunya udah dapet tinggal kita tulis terus bakar dijalan deh". Ucapku memberi ide padanya.
"Yaudah sembelih sana". Perintahnya padaku.
...***************...
Setelah selesai menyembelih ayam tadi, kami pun langsung bergegas menuju rumah pak Ali, aku mendapatkan alamatnya dari Alex karena ia merupakan ketua osis di SMA kami sehingga tidak akan sulit baginya untuk tau.
Sebelumnya karena aku tidak berani menyembelih ayam itu, alhasil aku pun meminta tolong kepada ibu Adit karena katanya ia bisa menyembelih ayam sehingga aku pun tidak perlu ambil pusing lagi.
Sesampainya aku didepan rumah pak Ali, tanpa ku perintah Dira sudah melayang masuk kedalam rumah pak Ali dan sekitar 10 menit kemudian ia sudah keluar dengan membawa sebuah baju yang lebih tepatnya itu merupakan seragam yang biasanya dipakai oleh guru guru lainnya juga, pada hari senin atau saat ada hari penting.
"Eh ngapain kamu malah ambil baju ini... Emang enggak ada baju lain apa? ". Tanyaku binggung melihatnya, sambil menerima baju yang ia sodorkan padaku.
"Udah yang itu aja... Lagiankan kalok baju hari harinya kita mana tau dia sering makek yang mana... Jadi yang itu aja, kan sering dipakek kalok hari senin dan lain lain... Udah ayo kita lanjut". Ucapnya kembali duduk di belakang .
Dan karena tidak mau ambil pusing, aku pun langsung menjalankan motorku ketempat yang lumayan sepi, dan setelah menemukan tempat yang pas aku pun turun dan langsung melakukan apa yang tertulis didalam buku itu.
"Oke beres... Terus sekarang kita musti gimana? ". Tanyaku setelah selesai membakar baju itu.
"Ya kita lihat besok lah, kalok dia balik kesekolah berati berhasil... Kalok enggak... Berati gagal!! ". Singkatnya padaku.
Aku pun langsung naik kemotorku dan menjalankannya kearah rumah.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Tiga eps terakhir.......
(Bersambung)