Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Waterboom(part3)


__ADS_3

"Dira ". Ucapku sambil menoleh padanya dengan maksud untuknya memberi tahuku suara apa itu.


"Itu suara yang tadi siang mati ra, tanyain deh kenapa mati...tenang aja ada aku ". Ucap Dira lagi padaku.


Dengan mengumpulkan keberanianku, aku pun berjalan mendekat kearahnya sambil bertanya padanya.


"Kamu siapa?".


Seketika sesosok anak laki laki yang duduk di dekat perosotan itu melihat kearahku dan terdengan suara patahan dari lehernya.


Kriekk~


betapa terkejutnya aku karena melihat seorang anak dengan isi kepala yang sudah hampir keluar dan darah yang terus mengalir dari kepala dan badannya, serta kaki dan tangannya terletak diposisi yang tidak sesuai arahnya.


Sangking terkejutnya aku sampai terduduk dilantai dan melihatku ketakutan anak itu malah merangkak kearahku, dengan senyuman menyeringai darinya dan dengan tulangnya yang terus berbunyi itu.


Kriek... Kriek... Kriek....


"He udah nakutinnya, mau gue tarik tu otak". Teriak Dira tiba tiba dan sudah ada didepanku.


Dan anak itu hanya menggeleng mungkin karena takut pada Dira dan dia pun hendak pergi tapi segera aku pun memanggilnya dan ku ambil dompetku yang ada disana.


"He tunggu dulu, kamu siapa, dan kenapa bisa mati? ". Tanyaku padanya.


"Saya Gino, saya mati karena didorong sama kakak, kakak, yang tinggal di rumah itu". Ucapnya sambil menunju kearah tempat sampah dengan jarinya yang pengot itu.


"He itu rumah ya... Itu kan tempat sampah". Ucap Dira padanya.


"Saya ini nunjuknya ke arah rumah kak, tapi karena jari saya yang patah, ya, jadi belok deh.. Hehehe". Ucapnya yang mulai tertawa.


"Enggak lucu tau, terus kenapa lo masih disini". Tanyaku padanya.


"Saya masih disini karena saya enggak bisa pergi kak, soalnya ada sesuatu yang nahan saya". Ucapnya yang mulai menangis seketika darah mulai mengalir dari matanya itu.


"Eh jangan nangis, darah mu itu lo, emang apa yang nahan kamu". Tanyaku lagi padanya.


"Saya enggak tau kak, tapi kayaknya kakak dirumah itu tau, tapi saya takut nanyainnya". Ucap Gino lagi menjelaskan.


"Yaudah Dara ayo kita kesana, dan kamu tunggu disini". Ucap Dira yang mulai berjalan kesana.


"Dira beneran enggak bahayakan ya... Kok aku jadi merinding ya.. ". Ucapku lagi sedikit ketakutan.


"Tenang and santuy ada gue disini, jadi ayo lets go". Ucap Dira, aku pun berjalan dan mulai membuka pintu rumah itu.


Cukup gelap dirumah ini karena tidak ada pencahayaan sama sekali disini jadi aku pun mulai berjalan dengan meraba raba sekeliling untuk mencari saklar. Dan untungnya saja ketemu segera kunyalakan saklarnya dan ruangan yang semula gelap menjadi terang.


Lalu aku pun berjalan kesebuah ruangan dan saat kulihat disana ada seorang wanita parubaya yang sedang dipasung dengan mulutnya yang sudah dilakban. Dan saat melihatku ia pun mulai teriak teriak, lalu segera kubantu dia dengan membuka lakban yang ada dimutnya itu.


"Tolong saya... Dan bebaskan arwah putri saya.. Kasian dia... Dia enggak salah". Ucap wanita itu dengan menangis.


"siapa yang lakuin ini ke ibu, kenapa bisa gini dan putri ibu... arwah Putri ibu dimana". Tanyaku padanya.


"Ra... Kayaknya ini deh arwahnya". Ucap Dira dan saat aku menoleh dia sudah menunjuk kearah arwah disampingnya, yang sudah menangis tersedu sedu.


"Tolong ibu ku... Dia enggak salah... Dia hanya korban bapak yang serakah". Ucap hantu itu yang masih tersedu sedu.


"Maksud kamu? ". Tanyaku lagi padanya.


"Kamu bicara dengan siapa nak.... Apa dengan Desi". Tanya ibu itu dan saat kulihat kehantu itu ia pun mengangguk dan aku pun juga mengganguk pada ibunya.


"Desi maafin ibu nak... Enggak bisa ngelindungin kamu dari bapakmu yang jahat itu... hik.. hik... hik... ". Ucap ibu Desi yang mulai menangis lagi.


"Memangnya bapak Desi itu siapa bu, dan kenapa kalian gini? ". Tanyaku meminta penjelasan nya.


"Sebenarnya".

__ADS_1


"bapak Desi adalah pemilik waterboom ini, tapi dia menggunakan Desi sebagai tumbal karena pengaruh dari wanita penggoda itu, dan saya... Saya gagal melindungi anak saya sendiri, dan dia dengan teganya menjadikan saya tahanan disini agar Desi tetap mencari tumbal atau saya akan mati... Kasian Desi nak dia... Dia gentayangan ". Ucap Ibu Desi drngan sesengukan dan Desi dari arah belakang masih menangis sesengukan mendengar ucapan ibunya itu.


"ibu tau Desi gentayangan". Tanyaku lagi padanya.


"Iya ibu tau karena setiap yang mati disini enggak bakalan bisa keluar karena ada tali yang mengelilingi waterboom ini, karena itu kamu harus memotongnya".


Ucap ibu Desi, dan tiba tiba ada suara seseorang yang sudah ada dibelakang kami.


"Wah... Wah... Wah... Ada orang baru ni.. Siapa kamu ". Ucap seorang pria.


"Si... Siapa kamu? ". Tanyaku padanya.


"Dia bapaknya Desi nak... Lari...cepet kamu lari dari sini". Ucap ibu Desi lagi.


Ku lihat kearah Dira dan Desi mereka berusaha bergerak tapi anehnya mereka berdua sama sekali tidak dapat bergerak.


Sementara, Aku tidak bisa lari karena saat ini bapaknya Desi sedang berdiri di depan pintu sehingga aku hanya bisa diam saja ditempatku, dan saat bapak Desi maju dengan niat ingin memukulku, untungnya aku berhasil mengelak dan berlari keluar.


"Tolong... Adit tolong... ". Teriakku sekuat tenaga dengan terus berlari.


Dan sesekali kulihat kebelakang bapak Desi terus mengejar ku. Aku pun terus berlari tapi tiba tiba aku menabrak sesuatu.


Brukk~


Aku pun terduduk kelantai, Dan saat kulihat keatas ternyata seorang wanita yang kulihat tadi bersama bapaknya Desi sedang tersenyum penuh arti padaku. Aku pun segera berdiri dan saat ingin berlari tapi tangan ku sudah ditahan oleh wanita itu.


"Lepasin gak... Lepas". Teriakku berontak.


"Ha... Untung ada kamu sayang... Anak sialan itu dia udah tau semuanya". Ucap bapak Desi dari belakangku.


"Oh, jadi kamu udah tau ha". Ucap wanita itu padaku, dan ingin memegang pipiku tapi sehera ku tepis dengan kasar tangan nya itu.


" jangan pegang pegang aku, dasar wanita licik... kalok aku udah tau kalian mau apa...Jangan pikir aku takut sama kalian". Ucapku lagi dengan berteriak.


"Mau apa... Hahaha.... Tentu aja kita mau kamu mati". Ucap wanita itu.dan tiba tiba sebuah benda keras menghantam kepalaku.


Brukk~


Seketika aku pun jatuh tersungkur ketanah, aku berusaha untuk melawan dengan sisa tenagaku. tapi karena pukulan itu,sehingga kepala ku sangat sakit akibat dipukul barusan dan aku hanya bisa pasrah saat tubuku diseret oleh mereka. Tapi tiba tiba ditengah tengah kesadaran ku yang mulai menghilang, samar samar kudengar sebuah suara yang aku kenali.


"Hei... mau lu bawa kemana temen gue". Teriak orang itu yang tak lain adalah Adit. Dan seketika aku pun pingsan.


Saat aku terbangun kulihat kesekeliling, ternyata aku sudah berada didalam ambulan dan kudengar dari arah luar suara ribut ribut.


"anda sudah bangun". Tanya seorang pria dengan pakaian seperti perawat.


"Saya kenapa bisa ada disini? ". Tanyaku padanya.


"kamu tadi pingsan, karena itu ada disini". Ucapnya lagi seketika aku pun teringat kejadian tadi.


"Terus mereka apa mereka sudah ditangkep". Ucapku lagi yang segera beranjak keluar dari ambulan.


"Kamu jangan keluar tenang aja mereka udah ditangkap dan untungnya temen kamu tadi nelpon polisi". Ucapnya lagi dan tanpa memperdulikannya aku pun segera pergi keluar untuk mencari Adit.


Dan saat aku diluar kulihat bapak Desi dan juga wanita itu sudah diringkus dan dimasukan kedalam mobil, mereka melihat ku dengan tatapan yang tajam sambil beberapa kali menyumpahiku, tapi yang sekarang aku pikirkan adalah untuk menemui kepala polisi. Dan tiba tiba orang tua ku dan adit sudah datang.


"Dara kamu enggak kenapa napa". Tanya Adit padaku.


"Aku enggak kenapa napa kok, tapi mana kepala kepolisian ada hal penting yang harus aku kasih tau". Ucapku lagi, lalu adit pun menunjukannya padaku segera aku menemui kepala kepolisian.


"Pak... Masih ada orang didalam didekat rumah kosong... Dia adalah istri pemilik waterboom ini, dan dia dikurung disana... Dan tolong potong tali yang mengelilingi waterboom ini pak karena itu adalah tali pesugihan". Ucapku langsung. Lalu kepala kepolisian itupun memintah anak buahnya untuk segera menolong ibu Desi dan ibu Desi pun akhirnya keluar dari pasungan itu. Dan dia pun segera dibawa kerumah sakit.


Lalu setelah semua kejadiannya selesai aku pun pulang bersama kedua orangtuaku begitupun dengan Adit yang membawa motorku. Saat didalam mobil aku tidak henti hentinya di ceramahi oleh kedua orang tuaku akibat dari kejadian itu. Tapi apa boleh buat ini semua memanglah kesalahan ku.


Sesampainnya dirumah aku pun diminta oleh kedua orang tuaku untuk beristirahat didalam kamarku, lalu aku pun kembali kekamarku dan berbaring dikasurku.

__ADS_1


"Dara kamu enggak kenapa napa kan? ". Tanya Dira yang sudah muncul di tempat biasa.


"Iya aku baik baik saja... Tapi apa yang terjadi setelah aku pingsan? ". Tanya ku padanya.


"Kejadiannya".


Flasback


Kejadian saat Dira dan Desi tidak bisa bergerak.


"Aduh gimana ni kok aku enggak bisa gerak ya". Ucap Dira didalam hati.


Dan tak lama saat bapak Desi baru ingin memukul Dara, untungnya Dara berhasil menghindar dari bapaknya Desi. Dan mereka pun berlari keluar. tak lama setelah itu Dira dan Desi pun bisa bergerak lagi.


"Tadi kenapa kita enggak bisa gerak ya? ". Tanya Dira pada Desi.


"Karena itu aku enggak bisa ngelawan karena setiap dia datang setiap hantu pasti akan jadi patung enggak bisa gerak dari tempatnya". Jelas Desi.


"Gawat kita musti nolongin Dara ni... Adit... Adit dia ada diluar ayo kita keluar". Ajak Dira yang sudah menghilang dan disusul oleh Desi.


Sesampainya mereka diluar dilihatnya Adit sedang berbicara dengan satpam itu. Segera Dira memikirkan sebuah cara untuk memberi tahu Adit.


Dijatuhkannya sebuah cangkir yang ada dipos satpam itu tapi adit dan pak satpam itu hanya berpikir bahwa itu adalah karena angin saja. Jadi Dira pun memutuskan untuk mengambil pulpen dan menulis sesuatu disebuah kertas didekat mereka.


"Ke... Kenapa pulpennya gerak". Ucap Adit gelagapan, dan pak satpam itu hanya diam ketakutan karena saat mereka ingin lari kaki mereka sangat sulit untuk bergerak yang sebenarnya sedang ditahan oleh Desi.


Dan tak lama pulpen yang digunakan oleh Dira pun berhenti dan Adit yang merasa penasaran akan isi dari kertas itu pun memberanikan Diri untuk melihat isi kertas itu.


...####...


...Tolong Dara , dia dalam bahaya...


...####...


Seketika kaki Adit dan pak satpam itu pun menjadi ringgan dan Mereka pun masuk kedalam karena Adit yakin bahwa Dara dalam bahaya.


"Hei... mau lu bawa kemana temen gue". teriak Adit.


dan kemudian saat bapaknya Desi mulai menyerang Adit , untungnya saja dibantu oleh pak satpam mereka berhasil mengalahkan bapaknya Desi, dan juga meringkus wanita itu.


"Pak cepet telpon polisi". Teriak Adit pada satpam itu. Dan saat satpam itu baru ingin pergi ke posnya.


"Andi... Andi... Kalok kamu mau berpihak pada saya maka saya akan menambah gajimu 5×lipat kalok kamu berpihak padaku". Ucap bapanya Desi yakin pada satpam yang bernama Andi.


"5×lipat... Bapak serius". Ucap pak Andi.


"Iya tentu saja". Ucap nya lagi.


"Pak bapak enggak mihak penjahat kan, inget tuhan pak". Ucap Adit pada pak Andi.


"Untuk apa kamu inget tuhan Andi... Kalok suami saya bisa mencukupi keungan mu, cepat tangkap anak itu dan bebaskan kami". ucap wanita itu menimpali.


"Maaf pak... Bu... Saya memang orang miskin tapi saya masih punya tuhan dan agama saya mengajarkan saya untuk memihan pada kebenaran". Ucap pak Andi dan segera ia pun pergi ke pos untuk menelpon.


Awalnya mereka mencoba untuk mempengaruhi satpam itu.tapi untungnya saja satpam itu tidak terpengaruh dan tetap pada jalan kebenaran. Dan tak lama polisi pun datang begitupun dengan ambulan yang sudah ditelpon oleh pak satpam itu.


Flasback off


"Oh jadi gitu, tapi Adit sama satpam itu enggak kenapa napa kan". Ucapku lagi padanya.


"Mereka enggak kenapa napa kok, cuman lecet dikit doang". Ucap Dira lagi.


"Sukurlah kalok gitu... Dan untung nya kamu tepat waktu... Terus Desi nya gimana". Ucapku lagi padanya.


"Oh Dia... Dia udah pergi ke alamnya dan anak kecil yang namanya Gino juga udah kok, terus ibunya Desi dia udah dirawat dirumah sakit, jadi kamu tidur ya udah malam". Ucap Dira lagi.

__ADS_1


Lalu aku pun hanya mengangguk dan kembali berbaring dan tak lama aku pun tertidur.


(Bersambung)


__ADS_2