
Kududukan tubuhku diatas kursi kayu yang terdapat dibelakang rumahku sambil berbincang bincang dengan mamaku, baik soal pekerjaannya, sekolahku dan hal hal lainnya. Sementara Dira ia duduk diatas pohon karena aku tidak mau jika ia duduk diayunan maka ayunan itu akan bergerak.
Kulihat langit siang yang menyilaukan sekilas, dan tak lama kudengar sebuah suara telpon, tapi itu bukanlah suara dari ponselku dan kulihat kearah mamaku, ia lah yang mengangkat telpon masuk dari ponselnya sehingga dapat kuketahui itu adalah suara dari ponselnya.
Cukup lama mereka berbicara dan akhirnya saat mereka sudah selesai, karena penasaran aku pun berniat untuk menanyai siapa yang menelpon mamaku barusan.
"Siapa ma? ". Tanyaku padanya.
"Ini.... Wali kelas kamu,dia nanya kabar kamu!... Terus dia juga bilang karena ada yang kerasukan kemarin jadi ngambil raport kalian dipercepat jadi hari senin". Jelas mamaku.
"Dipercepat?.. Berati liburnya nambah dong?". Ucapku malas, dan mamaku hanya mengangguk seraya tersenyum sekilas padaku.
"Kasian banget ya, korban yang waktu itu aja belum diketahuin siapa yang ngembunuh... Sekarang ada lagi yang meninggal karena kerasukan... Pasti orang tua mereka sedih banget kayak mama dulu...... mama tau banget rasanya kehilangan anak , dan kita sama sekali enggak tau siapa pelakunya pasti bakalan sakit banget dan mereka juga pasti hancur". Lirih mamaku yang sudah mengeluarkan air mata, dan aku pun hanya bisa mengelus punggungnya sekiranya itu bisa menenangkannya.
"Coba aja dulu mama nurutin keinginan Dira buat ngerayain ulangtahun kalian kecil kecilan dirumah, pasti waktu itu kalian bakalan langsung pulang dan enggak bakalan lama lama disekolah sampai Dira meninggal!!... Meskipun polisi bilang itu cuman kecelakaan tapi mama yakin banget ada orang dibalik kecelakaan kalian itu". Tangisannya semakin menjadi jadi. Aku pun ikut menitihkan sedikit air mataku saat mendengar penunturuan mamaku itu, dan kulihat keatas dimana ada Dira yang menatap mamaku dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Mama... Mama jangan sedih ya.. Dira pasti bahagia kalok liat mama bahagia.. Dan kalok mama sedih pasti dia bakalan sedih... Dan aku yakin banget kalok Dira ada disini dia pasti bakalan bilang 'ma.. Jangan sedih ya.. Dira enggak pernah nyalahin mama kok.. Mama harus sehat sehat selalu ya'... Dira pasti pengennya mama sehat dan selalu hidup bahagia". Lirih ku sambil mengusap air mata sambil sesekali melihat Dira yang kini tersenyum padaku.
"Kamu ada benernya juga... Dira pasti sudah bahagia disana...dan mama harap segala hal yang dia enggak dapet dari mama... Mama harap dia bisa dapet disana". Ucap mamaku yang juga mengusap air matanya seraya memelukku, aku pun langsung mengulurkan tanganku pada Dira dan dia pun turun ikut berpelukan.
...********...
Dan setelah suasana sedih kami, kami pun melepas pelukan, dan saling tertawa mengingat kenangan masa kecil aku dan Dira.
Sementara Dira kulihat raut cemberut dari wajahnya karena mendengar rata rata yang kami bicarakan adalah tentang masa kecilnya yang membuat malu dirinya.
Setelah puas mengingat Dira sewaktu kecil, kami pun masuk kedalam rumah karena mamaku ingin menonton acara kesukaan nya sementara aku langsung masuk kedalam kamarku karena aku tidak suka acara sinetron.
...********...
__ADS_1
Ku baringkan tubuhku dikasur seperti biasanya, melepas lelah yang ada didalam tubuhku. Sementara Dira dia memilih duduk diatas lemari seperti biasanya.
Kuambil ponselku dan benar adanya kulihat pesan digrup kami yang berasal dari ibu Dewi bahwa pada hari senin raport kami akan dibagikan dan yang mengambilnya adalah orang tua. Dan kulihat beberapa pesan lainnya dari teman temanku yang menanyakan kabarku, aku pun menjawab mereka satu persatu bahwa aku sudah baik baik saja sehingga mereka tidak perlu untuk mengkhawatirkanku.
Kuletakan kembali ponselku diatas meja sambil kutolehkan kepala ku kepada Dira yang nampak sedang santai santai saja mengoyang goyangkan kakinya sambil sedang menyenandungkan lagu yang tak kuketahui.
Aku pun mengangkat tubuhku dan mengubah posisi berbaringku menjadi posisi duduk.
"Dira kamu nyanyi atau nangis sih?... Kok dari tadi cuman emm... Emmm". Tanyaku padanya.
"Aku bukan nyanyi aku itu lagi bersenandung!.. Masa enggak tau sih". Gerutunya dengan raut datar padaku. Dan hanya ku o kan saja perkataannya itu.
"Dira...jadi Orc itu udah ngambil tumbalnya ya... Dan bener kata kamu dia ngembunuh dan kita enggak bakalan sadar akan hal itu... Dan semalem itu... Kata mama aku kesurupan 100 jin.. Maksudnya mereka yang dateng rame rame kemarin itu semuanya masuk kedalam badan aku ya? ". lirih ku bertanya padanya soal kemarin.
"Iya... Dia udah berhasil ngambil tumbalnya...". Ucapnya padaku.
"Dikendalikan!! ... Sama siapa?... Apa ORC itu!!". Ucapku meminta jawabannya dan ia mengangguk padaku, sehingga aku pun mengusap wajahku dengan kasar karena sangking kesalnya.
"Terus selama aku kesurupan aku ngapain?... Aku enggak aneh anehkan? ". Tanyaku khawatir kalau kalau saja aku melukai seseorang.
"Ya lumayanlah... Kamu cuman enggak sengaja nampar ibu Sri,ngomong kotor sama pak Adnan, dan nendang bu Dewi". Jelasnya lagi padaku dan seketika kubelalakan mataku lebar lebar karena tidak percaya apa yang telah kuperbuat, meskipun itu saat aku sedang kesurupan.
"Hah... Kamu bercanda kan... Masa iya aku gitu sih... gawat!! gimana cara minta maaf nya". Seruku sambil berpikir.
"Buat apa... Lagian kan itu bukan kamu... Itu kan para hantu yang ngendaliin kamu". Ucap Dira santai padaku.
"Ya tetep aja... Masa aku gitu sama orang yang lebih tua... Nanti kalok masuk aku harus minta maaf nih.. ". Gerutuku pada Diriku sendiri.
"Terserahlah". Singkatnya, dan kutolehkan pandanganku sekilas kearahnya dan aku pun teringat sesuatu.
__ADS_1
" kayaknya filing aku enggak salah deh memang dia pelakunya... Pelakunya adalah pak Leon!"ucapku dengan yakin.
"Pak leon... Yakin,lo tau dari mana? ". Tanyanya padaku.
"Emangnya kenapa, bukan pak leon ya? ". Tanyaku balik padanya.
"Enggak tau". Singkatnya sambil membuang muka.
"Aku mikirnya pak leon , karena... kamu bilang pelakunya makek kalung dan entah kenapa aku langsung teringat sama kalungnya pak Leon dan kalungnya itu aneh banget bentuknya.... Dan kemarin saat aku baru mau nyari pak Leon tiba tiba aja ada yang meninggal lagi.. Kan itu aneh". Jelasku sambil berpikir.
"Dan tadi... Saat aku bilang apa pelakunya pak Leon kamu jadi diam kan... Aku jadi makin curiga... Apa bener pelakunya pak leon". Ucapku lagi berusaha memancing Dira berbicara sambio menatapnya terus.
"Aku... Aku enggak tau... Kamu cari tau aja sendiri siapa". Ucapnya datar menghadap kearah lain.
"Oke... Kalok gitu karena berhubung kita udah libur... Aku bakalan gunaiin waktu libur ini sebaik baiknya buat nyari tau apa pak Leon itu Orc?... atau bukan!!... ". Ucapku bersemangat dan berniat menjalankan penyelidikanku.
"Dan kamu... Kamu akan ikut aku besok!!". Perintahku dengan semangkat sambil menunjuknya seraya tersenyum kearahnya yang sudah menatapku dengan malas.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
....... ......
(Bersambung)
__ADS_1