
"Ogah... ~
Teriak kami berdua
.......
.......
.......
.......
Lalu kami pun melanjutkan jalan kami setapak demi setapak kami maju, dan ingin melewati 2orang yang pacaran itu.
"Misi 3jomblo mau lewat kak". Ucap Alex dengan menahan tawanya.
"Iya jomblo jomblo surga mau lewat karena pacaran itu dosa dan yang ketiganya biasanya hantu... ". Ucap Adit lagi.
"Eh... lu nyindir kita ". Ucap si perempuan.
"Maaf ya kak ini mulut temen kita enggak pernah disaring, jadi masih banyak ampasnya". Ucapku lagi.
"Eh emang bener tau kalok pacaran apalagi ditempat gelap biasanya yang ke-.
Brakk~
Seketika kami semua terdiam dan kemudian sebuah bola mengelinding kearah kami karena gelap kami pun sedikit menyipitkan mata kami dan saat sudah jelas.
"Akhhh"
Teriak kami ber5.saat melihat bola itu berbentuk sebuah kepala. Seketika kami semua berlari ke arah awal saat kami masuk.
"Gila serem banget.. baru aja masuk... Udah... Udah... Keluar kepala aja ". Ucap Adit yang masih terengah engah.
"Namanya rumah hantu Dit. ya gitu, kalok enggak mau serem, ya main kesana". Ucap ku lagi sambil menunjuk istana balon anak anak.
"Hahaha.... Iya cocok banget buat lu Dit... Sana main kesana lo". Ucap Alex masih tertawa.
"S*al lo berdua, lu berdua kan juga takut.. Udah ayo pulang ". Ucap Adit lagi.
"Eh tapi ini Akbar sama Ellin dimana". Tanya ku lagi.
"Udah wa in aja lah ra". Ucap Alex padaku.
Baru saja aku ingin mengeluarkan hp tapi mereka bertiga sudah keburu datang.
"Kenapa lu pada keringetan perasaan enggak panas ". Ucap Akbar sambil menjilati Es krimnya.
"Elu enggak tau bar... Tadi ada apa didalem mungkin kalok lu masuk... Bisa sampek kencing lu didalem udah ayo makan gue laper". Ucap Alex pada akbar sambil berjalan menjauh.
"Emang ada apa". Tanya Ellin juga penasaran.
"Ad... kepala manusia.... Hiii". Ucapku sambil berjalan cepat menyusul Alex dan mereka pun ikut menyusul.
"Tungguuu"
Ucap mereka serempak.
Kemudian kami pun memutuskan mampir di tempat bakso sambil memesan bakso yang kami mau.
"Eh, cerita dong ada apaan tadi dirumah hantu itu... Kok sampek lari larian sih kalian". Tanya Ellin lagi yang masih menyantap baksonya.
"Lah kan tadi udah dibilang ada kepala". Ucap Adit menimpali.
"Iya tapi masa kepala beneran sih... Pasti palsu kan ". Ucap Ellin lagi.
__ADS_1
"Iyalah, masa asli udah gila dong". Ucap ku.
"Ya kali gue baru mau bilang, lagian kalian sih udah dibilang ngeyel". Ucap Ellin lagi.
"eh liat Akbar deh... perasaan kita yang masuk kok dia yang panas dingin". Ucap Alex sambil menunjuk Akbar.
"Lu kenapa bar? ". Tanya ku. Karena aku sama sekali tidak melihat ada sosok hantu sama sekali jadi dia takut kenapa kan.
"perut... Perut gue mules. Gue mau ke wc dulu ya... Kalian tunggu disini jangan kemana mana. Wc umum dimana dit.. ". Ucapnya sambil berlari menuju toilet yang gelah ditunjuk Adit.
"Ya gue kira dia kenapa lagi dasar guci beras pakek cabe, jadi mules". Ucap Adit sambil tertawa.
Kemudian kami pun melanjutkan makan kami sampai selesai kemudian kami pun membayar bakso yang kami makan tadi. Dan tak lama Akbar datang dengan berlari terbirit birit seperti orang dikejar utang.
"Tolongggg". Teriaknya dari kejauhan.
"Bar lu ngapain sih, lari lari kayak orang s*tres". Ucap Adit yang menahan lari Akbar.
"Iya kenapa?, dikejar sama penagih utang ". Tanya Alex juga padanya sambil sedikit tertawa.
"Ini... Ini lebih serem dari penagih utang dit... Lex... ". Ucapnya lagi.
"Emang ada apa? ". Tanya ku juga menimpali.
"Tadi pas gue di wc.... Pas lagi ngeden ni ya.... Tiba tiba kayak ada orang yang lagi nyanyi dari wc sebelah. jadi gue dengerin dong ya tapi suaranya itu tu kayak suara cewek tau... ". Ucap nya memulai cerita.
"Terus". ucap Ellin mewakili ucapanku.
"Terus... Pas gue lagi dengerin tiba tiba... suaranya ngilang... Jadi karena penasaran gue tanya dong ya... Ada orang enggak di sebelah apa udah pergi... Tapi kalok pergi masa enggak kedengeran suara airnya sih... Itu pikiran gue di dalem hati kan". Ucap Akbar panjang lebar.
"Terus". Tanya Ellin lagi.
"Terus tiba tiba... Dia ketawa... Habis ketawa dianya nangis... Karena gue mulai takut, akhirnya gue pun cepet cepet mau keluar tapi pintunya malah kekunci dan gue mulai merinding terus pas gue liat keatas". Ucapnya lagi.
"Ada hantu ya bar". Tanya Adit menebak.
"Gimana enggak kebuka elu dobrak". Ucap Ellin lagi.
"Ya gimana kalok gak gue dobrak bisa mati didalem". Ucapnya lagi.
"Wujudnya gimana bar". Tanyaku padanya.
"Gue enggak tau deh yang gue tau... Dia perempuan, terus ngomong gitu.. Udah ayo kita pulang aja yuk". Ucap Akbar sedikit takut.
Lalu kami pun mulai berjalan untuk pulang dan aku pun teringat lagi akan Dira.
"Tapi bar Diranya kemana tadi kan sama lu". Ucap ku berbisik padanya.
"Tadi pas lagi keliling dia bilang mau jalan jalan sendiri, baru mau gue tanya dia udah ngilang, tapi tadi kalok enggak salah denger ada Dira juga sih di wc". Ucap Akbar yang berbisik juga.
"Eh, kalian duluan aja ya... Gue lagi ada urusan". Ucapku yang sebenarnya ingin mencari Dira.
"Urusan apa ra, elu enggak kenapa napa pulang sendiri". Tanya Alex padaku.
"Iya kalian pulang aja dulu". Ucapku lagi padanya.
Lalu mereka ber4 pun mengangguk dan mulai berjalan pulang sementara aku pergi ke tempat yang tidak teralu ramai untuk memanggil Dira.
"Dira.... Dira... ". Panggil ku padanya.
"Iya kenapa lu manggil gue... ". Tanyanya padaku.
"Muka lu kenapa gitu? ". Tanyaku terkejut saat melihat wajah Dira yang sedikit lebam.
"Ini gara gara nolongin Akbar". Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Nolongin gimana". Tanya ku yang penasaran.
"Jadi tadi itu dia mau diganggu sama hantu penunggu wc yang disana... Terus untungnya gue cepet dateng jadi dia enggak ngapa ngapain Akbar kalok enggak... ". Ucapnya menggantung.
"Kalok enggak kenapa? ". Tanya ku padanya.
"Kalok enggak mungkin Akbar udah jadi penunggu tu wc, nemenin hantu itu". Ucapnya sambil menunjuk kearah wc yang disana sudah berdiri sesosok wanita dengan baju serba putih dengan luka memar di sekujur tubuhnya dan darah yang sudah bercucuran.
"Emangnya Akbar ada salah apa sama dia". Tanyaku yang masih penasaran.
"Enggak salah, dia itu korban pembunuhan di wc itu. Terus dia mau bunuh Akbar karena Akbar bisa liat dia jadi dia pengen punya temen... Udah ayo pulang dia masih liatin tu kayak mau ngajak berantem". Ucap Dira lagi lalu aku pun segera berjalan untuk pulang.
Tapi saat dijalan pulang aku melihat ada sebuah tenda yang sedikit berbeda dari tenda lainnya.
"Itu tempat apa". Tanyaku pada Dira.
"Oh itu kayak tempat ramalan gitu, kesana yuk". ajaknya sambil menarikku.
"Selamat datang di tempat kami ada yang bisa saya bantu". Ucap seorang wanita dengan menggunakan topeng.
"Eh enggak saya enggak tertarik". Ucapku yang baru ingin beranjak dari tempat duduk saat ia membuka suara lagi.
"Mungkin arwah sodaramu itu tertarik". Ucapnya lagi. Sontak saja aku terkejut dan kembali duduk.
"Kamu bisa liat Dia". Ucapku sambil menunjuk Dira.
"Iya, saya bisa melihatnya.... Jadi, apa kamu mau mendengar suatu hal yang menyangkut dirimu dan dia ". Ucapnya lagi padaku sambil menunjuk Dira.
"Apa? ". Tanyaku sedikit penasaran.
"Semua kejadian yang terjadi padamu berhubungan dengan masa lalu mu yang belum terselesaikan, kematian nya(Dira) akan menjadi kunci bagi keselamatanmu kelak, dan itu sudah dimulai karena dia sudah kembali... "Ucapnya lagi.
"Dia apa pembunuh itu, tapi kenapa". Tanyaku yang masih penasaran.
"Karena ketakutannya, takut akan kematian yang membuat dia kembali mengincar dirimu. karena ia sudah melihat sesuatu yang sangat berbahaya baginya dalam dirimu". Ucapnya yang kini menunjukku.
"Berbahaya apa itu". Tanyaku yang masih tak mengerti akan ucapnya.
"Kelak kau pasti akan tau... Tapi sebelum itu pasti ada orang yang sangat dekat dengan mu yang akan celaka, dan baru lah kebenaran tentang masa lalu mu dan siapa pembunuhnya akan segera terungkap". Ucapnya lagi padaku.
"Apa anda bisa memberi tahu lebih terperincinya kenapa harus teka teki begini". Ucapku lagi padanya.
"Saya tidak bisa ikut campur urusan mu karena suatu hal yang melarang saya.... Tapi jika kamu berpikir saya adalah makhluk seperti dia(Dira), kamu salah". Ucapnya lagi seakan membaca pikiranku.
"Ya... Udah saya permisi... Berapa saya harus membayar". Tanyaku lagi padanya.
"Tidak perlu, dan keluar lah". Ucapnya lagi padaku.
Lalu aku pun keluar dari dalam tendanya dan mulai berjalan menjauh tapi saat aku berbalik tenda itu sudah menghilang entah kemana.
"Tendanya kemana Dir". Tanyaku pada Dira.
"Menghilang... Udah ayo pulang udah malam ni hampir jam 9 malam". Ucapnya lagi.
Dan saat aku melihat jam, dengan segera aku berlari untuk pulang karena jika sudah tepat jam 9 bahkan lebih bisa bisa aku dikunci diluar rumah.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
(Bersambung)