Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Sandi ponsel


__ADS_3

Dimalam harinya, saat mama dan papaku telah pulang dari bekerja, segera ku sajikan nasi goreng yang telah kubeli tadi, tidak lupa dengan ayam dan juga es teh yang telah kubuat juga.


Untuk Dira, ia sudah makan sebelum kami lebih tepatnya setelah ayamnya masak dia langsung memakannya. Dan akhirnya ia hanya melihat kami makan sambil duduk di dekat tangga.


"Ra... Pasti nasi goreng kamu udah dingin ya?... Udah kurang enak itu!... Tadi aku makannya panas panas baru mantep". Ucapnya seraya mengacungkan 2buah jempolnya padaku.


"Ma... nasi goreng nya gimana?enak apa enggak ". Tanyaku pada mamaku, yang hanya ditanggapi dengan senyuman.


"Lumayanlah nak, cuman karena dingin jadi kurang dikit, soalnya kan makan nasi goreng enaknya waktu masih anget. Iya kan pa? ". Ucap mamaku dan diangguki olehnya. Aku pun kemudian menoleh pada Dira bermaksud mengatakan bahwa itulah jawabanku dan dia hanya membuka mulutnya berbentuk o saja yang berati ia mengerti.


Setelah ia tidak bertanya lagi, aku pun melanjutkan makanku, sekali kali aku juga berbincang bincang dengan kedua orang tua ku, dan saat aku sudah selesai makan seperti biasanya aku akan mencuci piring sementara papa dan mamaku akan beristirahat.


...*******...


Selepas mencuci piring, aku pun langsung berjalan masuk kearah kamarku, dan aku duduk sementara diatas kursi, sambil mengambil ponselku.


Kulihat lagi lagi dari grup kelas kami ada pesan masuk, tapi kali ini berasal dari wali kelas kami yaitu ibu Dewi, yang mengatakan bahwa besok kami akan tetap bersekolah seperti biasanya, dan saat ada yang bertanya mengenai kejadian tadi, ibu Dewi juga hanya mengatakan bahwa kejadian tadi tidak akan terjadi lagi, sehingga kami tidak perlu takut.


Aku pun mulai berpikir apakah benar tidak akan ada yang kerasukan lagi, tapi kenapa itu bertolak belakang dengan firasatku, karena firasatku mengatakan bahwa besok akan ada kejadian yang lebih, apa omongan ibu Dewi bisa dipercaya, begitulah yang sedang ada dipikiranku sampai Dira membuka suaranya.


"Besok akan lebih parah!!.. Mereka akan lebih marah dari yang tadi!... Bahkan dia akan mengambil tumbal tanpa kalian sadari!!! ". Seru Dira sehingga aku pun tersentak dan membelalakan mataku lebar lebar karena mendengar ucapannya barusan.


"Ma... Maksud kamu apa Dira?... Tumbal, kenapa?, dan siapa... Gawat aku harus bagaimana mencegahnya". Tanyaku gelagapan karena binggung harus apa.


"Kamu tidak akan bisa berbuat apa apa Dara... Bahkan kamu juga enggak taukan siapa yang dia incar? ...karena mereka para hantu disekolah akan mengamuk lagi dengan memasuki semua tubuh!! Sementara iblis ORC itu dialah yang akan diuntungkan karena mendapatkan tumbalnya!!". Ucap Dira tanpa menatapku.


"Maksud kamu... Orc itu akan mengambil tumbal... Tapi kenapa?... Kenapa dia mengambil tumbal, kemarin kemarin ia tidak mengambil tumbal! ". Tanyaku pada Dira.


"Karena dia ingin mempermainkanmu Dara... Dia sengaja memanfaatkan kejadian ini agar kalian semua jauh terpukul, setelah dia membunuh siswi dikolam renang waktu itu". Jelas Dira padaku.


"Jadi siswi itu... Dia juga yang membunuhnya, tapi kenapa?.. Apa aku memang tidak bisa menolongnya". Pertanyaan yang terus terlontar dari bibirku.


Ku tangkupkan kepalaku pada kedua tanganku dan saat kulihat ke atas meja ada ponsel yang masih ku cas dari maghrib tadi, segera kuambil ponsel itu seraya kembali berpikir tentang ponsel itu.


"Sebenarnya madam Syena ngasih hp ini untuk apa?.. Apa isinya? ". Tanyaku membolak balikan pinsel itu.


"Jika kamu beruntung... Kamu akan langsung tau siapa pelakunya dari hp itu Dara". Jelas Dira lagi.

__ADS_1


Karena penasaran aku pun langsung menyalakan ponsel itu, tapi aku sedikit heran karena harus menggunakan sandi sementara ini bukanlah ponselku.


"Waduh... Kok tukang konternya enggak dimatiin sih sandinya... Lagian ini sandinya apaan sih?.. Mana gue tau ini kan bukan hp gue". Gerutuku kesal sambil menekan kata kata yang ada dipikiranku.


"Oh.. Sandinya namamu... ". Ucap Dira sehingga aku pun menoleh kearahnya.


"Dari mana kamu tau? ". Tanyaku sambil mengeryinkan dahiku.


"Tau lah itu kan hp gue... Lupa ya??... Udah buka aja sandinya namamu". Ulangnya lagi.


Tanpa pikir panjang aku pun mulai mengetik namaku disana, tapi lagi lagi tetap tidak terbuka, meskipun sudah kutulis nama panggilan maupun nama panjangku, sehingga aku pun kembali binggung.


"Dira.. Ini kok enggak bisa sih?.. Udah aku ketik namaku juga tapi tetep aja enggak bisa... Sebenernya sandinya apa". Tanyaku yang mulai tidak sabar.


"Kan udah aku bilang sandinya namamu... N-a-m-a-m-u... Namamu, masa salah sih??.. Ouh, atau kamu bukan nulis namamu , tapi... pasti tulis Dara.. Atau enggak Dara kusuma ya... Hahaha, kemakan juga sama sandi gue". Tawa Dira menertawakanku, aku pun hanya bisa tersenyum kikuk karena aku juga malu.


"Ish.. Mana aku tau sih... Udah diem lo". Gertakku agar ia diam, karena aku juga malu untung saja ini bukan dihadapan orang ramai, karena aku pasti dikira pd sekali sampai namaku dijadikan sandi.


Segera kuketik sandi yang membuatku malu, dan setelah terbuka ku tekan galeri dan kulihat disana ada banyak sekali vidio, sehingga aku pun menekannya satu persatu.


"Ini yang mana sih? ... Banyak banget!!.. Dira yang mana vidio yang harus aku liat". Seruku padanya.


...#########...


(Isi rekaman)


"iya tentu aja, tapi kenapa aku sama sekali enggak melihat benda itu pada mereka tapi aku bisa merasakannya". Ucap seseorang yang sepertinya hendak membuka topengnya, tapi kamera ponsel nya sedikit bergerak gerak sehingga susah untuk melihat wajah pelaku.


"Terus langkah kita selanjutnya apa". Tanya yang satunya.


"Langkah kita se-


Ucap orang itu terputus saat mendengar suara dari luar.


"Kamu ngapain ", ucap Dara dengan suara yang cukup nyaring dan tidak jauh dari tempat itu. Karena terkejut ponsel itu pun jatuh dan selebihnya hanya gelap karena kamera ponselnya mengarah kearah tanah bakar yang hitam, dan hanya merekam suara saja.


"Siapa disana", ucap salah satu dari dua orang itu.

__ADS_1


"Gawat, lari... Dara, Lari.... "Ucap Dira terdengar tergesa-gesa.


"Hei.. Berenti kalian... ", tegas salah satu orang itu.


"Cepet, Dira jangan berenti", teriak Dara ikut tergesa gesa.


Dan seketika hening, tidak ada lagi yang terekam, sampai ponsel itu pun perlahan terangkat dan diambil oleh madam syena.


...##########...


"Ini rekaman apa Dira?... Wajah pelakunya sama sekali enggak keliatan... Enggak berbakat kamu kalok jadi tukang ngumpulin bukti". Gerutuku karena hanya mendengae suara saja.


"Ya gimana lagi... Namanya gue ngerekam sembunyi sembunyi... Masa gue musti ngerekam mereka langsung... Bisa ketahuan lah... Coba aja kamu enggak dateng pasti dapet". Gerutunya padaku.


"Terus ini gimana... Rekamannya pun cuman disitu... Enggak keliatan pelakunya". Ucapku lagi padanya. Dan dia pun hanya mengangkat bahunya.


"Em.. Tunggu dulu.. Waktu itu kamu pernah bilang kalok pelakunya pakek kalung kan?kalung yang kamu maksud itu kalung yang gimana sih". Tanyaku menanyai nya soal pertanyaan beberapa minggu yang lalu.


"Emm... Gimana ya...ya udah aku bakalan kasih tau, karena cepat atau lambat kamu juga bakalan tau.... Pelakunya itu pakek kalung, dan dikalungnya itu ada bandul kayak digelang kamu, tapi bentunya kayak gembok mini,tapi bentuknya itu lebih mirip kayak lampion lonjong". Jelas Dira padaku.


"Kalung... Bandulnya kayak lampion??... Talinya rantai agak besar ya? ". Tanyaku menanyainyai.


"Kamu tau... Kamu pernah liat ya? ". Tanyanya lagi padaku.


"Kayaknya sih iya.. Tapi aku belum yakin... Oke, besok aku bakalan nyelidikin tersangkanya... dan kalok memang dia pelakunya awas aja!! ". Ucapku sambil mencengkram tanganku kuat kuat.


"Terus permasalahnya ini... yang bakalan jadi tumbal gimana Dira... Masa kamu enggak bisa nolongin sih? ". Tanyaku mengingat masalah tumbal.


"Ya aku musti gimana? Aku aja enggak tau!!.. Tapi yang bisa aku bilang sekarang... pokoknya salah satu yang pernah kesurupan tadi pagi antara merekalah yang akan jadi tumbalnya". Jelasnya lagi padaku tanpa berkedip.


Aku pun berbaring sambil mengingat ingat siapa saja yang kesurupan tadi, sampai aku pun tertidur karena sangking lelahnya berpikir.


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


(Bersambung)


__ADS_2