
"Ra... Ini kita musti kemana lagi... Gue udah capek banget nih... Kiri apa kanan.. ". Ucap Akbar seraya menarik napas beberapa kali.
"Em... Bentar ya.. Gue inget - inget dulu". Ucapku sambil melihat kedua jalan yang ada dihadapanku.
Aku pun melihat kedua jalan itu terus menerus, guna untuk mengingat ingat jalan yang tadi siang kami lewati untuk pertama kali.
"Kiri.. Apa kanan ya... Kiri... Enggak engak.. Kanan... Apa kiri.. Akhh". Teriakku frustasi karena mendadak aku jadi lupa jalan.
"Ra.. Yang bener yang mana?..... Lo lupa ya... Terus gimana nih... Ya kali kita balik". Ucap Akbar pada ku.
Dan saat aku masih sibuk dengan menentukan jalan mana yang harus ku pilih, tiba tiba saja sebuah cahaya kecil mirip api tapi dengan warna biru yang entah dari mana munculnya bercahaya dan membentuk arah lurus kearah kiri.
"Nah... Kearah kiri bar". Ucapku seraya menarik Akbar.
"Beneran ra? ". Tanyanya padaku. Dan aku hanyak mengangguk yakin padanya, karena ini merupakan petunjuk dari Dira.
Sepanjang kami berjalan, kami juga diganggu oleh beberapa hantu yang sangat mengertikan dari yang memakai baju kebaya, berbentuk setengah binatang, organ tubuh yang kurang lengkap dan masih banyak lagi yang menatap kami dengan tatapan seperti ingin merasuki kami. Tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dengan terus melangkah tanpa melihat kanan dan kiri dan terus Kulihat dan kuikuti kemana arah api kecil itu menuntunku, hingga kami pun akhirnya berhasil keluar dari hutan, dan api kecil itu pun juga ikut menghilang bersamaan dengan kami yang keluar dari hutan. Dan akhirnya aku pun kemudian mengambil arah kanan, sesuai petunjuk dari ibu Dewi tadi.
...******...
"Ra lo kok tau sih jalan keluar hutannya... Elo udah hapal ya? ". Tanya Akbar saat kami tengah berlari kecil diaspal.
"Engak juga sih... Aku tadi ngikutin petunjuk dari Dira... Kamu enggak liat apa? ". Tanyaku sambil menoleh sekilas padanya.
"Petunjuk?... Petunjuk apaan?.. Dimana? ". Tanyanya padaku dan berhenti berlari.
"Jadi kamu dari tadi enggak liat apa apa... kamu enggak liat api kecil warna biru tadi? ". Ucapku bertanya tanya, dan dia hanya menggelengkan kepalanya, sehingga aku pun terdiam sambil berpikir tentang api itu. Dan saat aku sedang berpikir ia pun membuyarkan lamunanku.
"Dara... Kenapa melamun... Aku Enggak liat apa apa tuh... Tapi, enggak pentinglah... Udah ayo, kasian juga temen temen kita pada ngeracau enggak jelas disana". Ucap Akbar yang menarikku untuk berlari.
"Eh... Iya.. Ayo". Ucapku segera ikut berlari.
Kami pun terus berlari, dan saat aku melihat ada beberapa rumah di dekat sana, kami pun segera berlari kesebuah rumah, dan kuketuk ketuk pintunya sementara Akbar dia yang memanggil manggil pemilik rumah, hingga seorang pria keluar dari sana.
"Pak... Tolong.. Tolongin kita". Ucapku dengan panik.
"Maaf... ada apa ya? ". Tanya bapak itu binggung pada kami.
"Pak... Bapak tau gak rumahnya petugas hutan... Kalok enggak salah namanya pak... Pak siapa bar? ". Tanyaku pada Akbar karena tidak tau siapa nama petugas hutan tadi.
"Enggak tau ra, tanya sih bapak aja". Ucapnya dengan napas yang terengah engah.
"Petugas hutan?... Maksud kalian pak Saman ya... Ada apa? Kenapa mencari pak Saman? ". Ucapnya dengan mengatakan bahwa petugas hutan itu bernama saman.
"Ceritanya panjang pak... Temen kita pada kerasukan... Jadi rumah pak saman dimana pak? ". Tanyaku tergesa gesa.
Ia pun lantas menunjukan rumah Pak saman pada kami sambil mengantar kami kesana, dan saat pak saman keluar rumah kami pun mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya. Dan setelah ia mengerti ia pun bergegas menelpon beberapa orang yang kurasa dapat menolong kami dan setelahnya datang 3 orang dengan 2 orang yang berboncengan, dan satunya hanya sendiri.
Tanpa panjang lebar lagi, kami pun langsung bergegas pergi, dan Akbar pun ikut dengan 3 orang tadi dan dia berboncengan dengan boncengan yang kosong. Sementara pak Saman dia berboncengan dengan seorang bapak yang kami tanyai tadi, sehingga masih tinggal aku yang belum naik.
"Waduh... Motornya udah penuh... Eh, ada yang muat gonceng tiga enggak". Tanya pak saman saat melihat ku belum naik. Dan teman temannya hanya menggeleng geleng saja.
"Man... Lebih baik, dia tinggal aja dirumah mu dulu sama istrimu... Biar kita aja... Nanti kalok sudah beres baru dia kita pulang". Ucap orang yang berboncengan dengan Akbar.
"Nak... Kalok gitu kamu tinggal di rumah bapak dulu ya... Dan didalem ada istri bapak juga.. Tunggu biar bapak panggilkan". Ucap Pak saman padaku. Dan dia pun masuk kedalam rumah seraya memanggil istrinya. Dan setelahnya ia pun keluar bersama istrinya, dan akhirnya mereka pun pergi dan hanya tinggal aku dan istri pak saman saja.
...*****...
"Ayo, masuk dulu dek". Ajak istri pak Sama ramah padaku, aku pun mengangguk seraya tersenyum sekilas sambil masuk kedalam.
"kamu tunggu disini dulu ya... Biar ibu buatin teh hangat". Ucapnya seraya berjalan kedapur.
"Eh.. Maaf ya bu, karena merepotkan". Ucapku sedikit canggung. Dan dia hanya tersenyum. Seraya berjalan kedapur.
Dan tak lama setelahnya istri pak Saman sudah keluar dari dapur sambil memberikan segelas Teh padaku. Aku pun langsung meneguknya secara perlahan karena tehnya masih panas.
"Dek... Itu kenapa dihutan?... Kok kalian kesini". Tanya istri pak saman membuka suara.
"Eh, itu bu... Temen temen kita mendadak kerasukan, jadi saya sama temen saya disuruh kesini buat minta bantuan". Jelasku padanya.
"kerasukan...haduh, kok ibu jadi merinding ya... Pasti kasian banget tu temen mu yang pada kerasukan... Tapi kenapa bisa sampai kerasukan dek? ". Tanya ibu itu padaku.
"Saya juga kurang tau bu... Soalnya tiba tiba aja temen saya udah kerasukan dan malah terus ke yang lainnya, makannya kita panik". Jelasku apa adanya.
"Oh yaudah... kalok gitu kamu istirahat aja dulu ya... Kamu juga pasti capek lari lari kesini dan jaraknya pun bukan deket... itu kamu mau istirahat enggak ayo baring dulu dikamar". Ucapnya ramah padaku, seraya beranjak dari duduknya .
__ADS_1
"Eng.. Enggak bu... Saya disini saja... Ini aja saya udah makasih banget bu karena bisa duduk dan dikasih minum juga". Ucapku tidak enak karena merepotkan.
"Yaudah bentar ibu ambilin bantal". Ucapnya seraya masuk kedalam kamar.
Kemudian diberikannya padaku sebuah bantal untuk beristirahat, aku pun mengambilnya dan kuletakan di atas sofa.
Dan setelahnya ia pun izin untuk masuk kekamar karena anaknya sempat keluar mencari ibunya sehingga ia harus menemani anaknya untuk tidur.
...*****...
Saat aku masih duduk disofa, aku pun sedikit khawatir akan apa yang terjadi disana, dan aku pun berharap semoga semuanya bisa kembali ke keadaan semula. ku edarkan pandanganku kesekeliling dan kulihat kearah jam yang dimana disana sudah pukul 20:15.
Sehingga aku pun memutuskan untuk merebahkan tubuhku sejenak di atas sofa.
Tapi saat aku sudah berbaring tiba tiba saja Dira muncul mengagetkanku.
"Dara... Kamu enggak pa pa? ". Tanyanya langsung yang entah muncul dari mana.
"Eh kamu... Kebiasaan banget sih ngagetin orang... Bisa enggak enggak usah gitu munculnya". Ucapku berbisik sebal karena ulahnya.
"Sorry... Aku kesini buat nyusul kamu... Eh tu teh enggak diminum lagi kan.. Gue abisin ya". Ucapnya seraya meneguk sisa tehku.
"Ish... Kebiasaan lu... Ciri ciri kayak lu ini, nih yang gampang diracunin karena asal makan aja bekas orang". Ucapku melihat ulahnya itu.
"Diracunin juga enggak bakalan mempan... Gue kan udah mati". Balasnya datar padaku.
"Udah... Elo kenapa kesini... Gimana keadaan temen temen yang lain, mereka enggak pa pa kan? ". Tanyaku serius padanya.
"Iya mereka enggak pa pa... Mereka aman, justru karena bala bantuan dateng makannya aku pergi deh... Dan mungkin sekarang mereka lagi di apa apain biar setan setan dalam diri mereka pada keluar". Ucapnya santai padaku.
"Terus kamu kenapa pergi..... Kenapa enggak nolongin? ". Tanyaku lagi padanya.
"Eh pe'ak... Lo kira gue juga ustad apa... Elo lupa gue ini juga setan... Ya bakalan panas lah gue kalok disitu makannya gue kesini". Gerutunya sambil berteriak.
"Enggak usah ngegas dong... Namanya orang bertanya". Ucapku padanya.
"Ya nanya kira kira... Masa gitu aja pakek ditanya". Ucapnya masih mengerutu padaku.
"Kalok gitu kita udah bisa balik belum kesana... Ayo kita kesana... Gue mau liat keadaan yang lain... Elo enggak takut kan". Ucapku kembali sambil tersenyum mengejek padanya.
"Gue takut... Sorry lah yah... Palingan nanti sampek sana gue cukup jauh jauh dikit aja... Malahan Elo tuh enggak takut apa lewat hutan malem malem". Tanya sambil tersenyum balik padaku.
...****...
Setelah aku izin kepada istri pak Saman, awalnya ia tidak mengizinkanku karena aku adalah perempuan dan perempuan tidak baik kehutan malam malam, tapi aku bersikeras mengatakan bahwa aku harus kembali untuk melihat teman temanku. Sehingga akhirnya ia pun pasrah dan mengizinkan ku untuk pergi ke hutan.
Akhirnya aku pun segera berjalan memasuki hutan bersama dengan Dira sambil sesekali kami berbicara, mengenai apa yang terjadi disana.
Saat kami masih berjalan dengan penerangan dari cahaya senter. aku pun berhenti sejenak sambil fokus melihat kesebuah tempat yang tidak sengaja tersorot oleh senterku, dan menurutku sedikit aneh.
"Kenap berhenti? ". Tanya Dira padaku.
"Ini... Perasaan tadi enggak ada batu batu besar deh disana... Apa aku nya aja ya yang enggak ngeliat". Ucapku sambil menunjuk arah yang kulihat.
"Mungkin kamunya aja yang enggak merhatiin sekitar". Ucapnya padaku.
"Tapi... Kenapa batu batunya kayak sengaja disusun ya". Ucapku sedikit binggung sambil berjalan pelan untuk mendekat.
Dan tiba tiba saja muncul beberapa cahaya dari balik batu batu itu, cahaya yang berwarna biru dan merah bergerak terbang kesana kemari dan tiba tiba saja turun kembali ke tanah membentuk sebuah bentuk seperti 2 orang manusia dengan warna masing masing. dan aku tak kalah terkejutnya saat cahaya yang berbentuk manusia itu seperti hidup karena mereka bergerak dan bersuara.
"Alita!! ". Seru sebuah cahaya berwarna biru.
"Siapa kau? ". Tanya Cahaya berwarna merah.
"Aku Alexa... Aku datang kesini untuk menolongmu dari cengraman Orc itu... Akhinya setelah sekian lama kita akan terbebas karena benda untuk mengurungnya sudah berhasil dibuat". Ucap Cahaya biru itu mendekat.
"Hahah... Alita... Maksudmu tubuh yang sedang aku gunakan sekarang hah". Ucap cahaya merah itu garang.
"Kamu... Cepat kamu keluar dari tubuh saudariku, sebelum kubinasakan kau dari dunia ini". Ucap cahaya biru tak kalah garang.
"Ouh... Aku takut!!..kau pikir akan semudah itu untuk memusnahkanku.... Akhirnya kau datang juga... Setelah sekian lama aku menunggumu... Aku menunggumu datang untuk memberikan nyawamu". Ucap Cahaya berwarna merah itu yang sudah berubah menjadi sedikit hitam dan bergerak menyerang cahaya biru.
Ku lihat 2 cahaya berbeda itu berkelahi, mereka tampak sedang saling memukul satu sama lain sampai mereka berdua terpental menjauh.
"S*al... Hei... Aku bilang sekali lagi keluar dari tubuh saudariku". Ucap Cahaya biru itu berusaha berdiri.
__ADS_1
"Hahah... Jika kau ingin aku keluar... Serahkan tubuhmu, maka aku akan melakukan hal yang semestinya sudah terjadi 18tahun yang lalu..". Ucap cahata berwarna merah itu.
Dan setelahnya kulihat mereka berdua saling berlari mendekat dan tiba tiba saja mereka saling diam yang dimana cahaya berwarna merah tampak masuk kedalam diri cahaya yang berwarna biru, tapi pada pergelangan tangah cahaya berwarna merah tampak terikat dengan cahaya berwarna biru. Dan tiba tiba saja
Wush~
Semuanya hilang dari pandangan mataku, aku yang masih terdiam tertegun melihatnya pun hanya bisa mematung hingga akhirnya aku pun sadar dan melihat kesekeliling.
"Dira... Itu barusan apa? ". Tanyaku pada Dira yang memasang raut datar.
"Itu adalah... Hal yang memang harus kamu ketahui... Alasan kenapa kamu ingin membunuh Orc itu.... Alasan kenapa kamu sedang dalam suatu hal yang tidak masuk akal seperti saat ini... Dan setiap Alasan itu kelak akan kamu ketahui jika waktunya udah tiba". Ucapnya tanpa menatapku.
Aku pun langsung berbalik kearah tempat dimana cahaya itu berada dan aku pun berjalan mendekat kesana, dan tepat diatas sebuah batu terdapat sebuah buku yang tampaknya aku kenali.
"Ini... Ini kan buku yang aku kasih ke Alex!! ". Seruku tidak percaya seraya mengambil buku itu.
"Kenapa bisa disini... Apa-".
Ucapku hendak membuka buku itu, tapi tiba tiba saja kudengar sebuah teriakan dari arah tempat camping kami.
"Akhhh~"
"Itukan". Suaraku berhenti dan tanpa pikir panjang aku langsung berlari kearah sumber suara. Dan saat aku sampai disana.
Ku lihat Hana nampak menggelepar dan tiba tiba saja ia pun diam ditempat seperti nya dia sedang pingsan.
"Sudah selesai...dia yang terakhir, bawa dia ketenda untuk beristirahat... Dan Mereka semua sudah tidak ada lagi ditubuh semua yang kerasukan, jadi kalian tidak perlu teralu Khawatir lagi". Ucap Pak saman berdiri dari duduknya.
Dan kulihat Ellin sudah menggotong Hana bersama dengan beberapa siswi yang menolongnya untuk membawa Hana ketenda.
Dan saat aku mengalihkan pandanganku dari Hana aku melihat pak saman sedang melihat kearahku.
"Kamu Kenapa menyusul kemari... Pasti sih bandel itu yang mengajakmu kemarikan". Ucap pak saman padaku.
"Sih bandel? "Ucapku sambil mengeryinkan dahiku, dan pak saman pun mengarahkan padangan matanya kearah belakangku, sehingga aku pun berbalik dan kulihat disana ada Dira yang bersembunyi dibalik pohon sambil sesekali membuang mukanya kesembarang arah, guna mengalihkan matanya dari kami.
"Bapak bisa? ". Ucapku menggantung dan pak saman pun mengangguk padaku.
"Dia yang menjagamu kan... Dia baik.. Hanya saja dia itu sulit diajak kerja sama". Ucap Pak saman seraya tersenyum padaku dan tiba tiba saja ada seorang guru yang menghampiri kami.
"Pak... Ini kenapa ya beberapa siswi kami bisa kerasukan?apa penunggu hutan ini tidak senang dengan kedatangan kami ". Tanya pak Indra pada pak Saman.
"Mereka datang... Karena maaf sebelumnya, sepertinya keadaan beberapa siswi kalian sedang dalam keadaan kotor atau sedang haid, sehingga mereka mudah masuk dan menganggu... Jadi sebaiknya murid murid anda yang sedang haid jangan dibiarkan sendirian karena takut kejadian tadi terulang". Jelas pak Saman, dan seketika aku pun teringat dengan Hana yang sedang haid.
"Iya pak... Hana kan dia juga haid tadi dan katanya kena pas dia ditoilet... Dan kan mulainya dari Hana". Ucapku menimpali.
"Bisa jadi... Mungkin saat darah haidnya keluar ditoilet, para hantu penunggu disini sudah mencium bau dia karena bagi bangsa mereka itu akan wangi sekali dan mereka pun mengincar dia... Tapi atas izin dari Allah mereka sudah saya usir dan dia sudah tidak apa apa... Tapi sebaiknya saya sarankan besok kalian segera pergi karena takutnya mereka akan kembali berulah". Jelas pak saman lagi.
Dan setelah mendengar penjelasan pak Saman. Seluruh siswa dan siswi pun diminta untuk masuk kedalam tendanya masing masing, setelah bapak Indra mengumumkan bahwa besok kami akan langsung pulang, sehingga semua orang harus beristirahat.
Aku pun segera berbaring sambil membelakangi Hana dan Ellin, seraya melihat buku yang kupegangi sedari tadi, dan sibuk dengan tanda tanya yang ada dalam benakku hingga aku sedikit tersentak dengan panggilan dari Ellin.
"Dara... Kamu udah tidur? ". Suara Ellin mengagetkanku.
"Eh apa Lin, belum kok.... kenapa? ". Tanyaku sambil menyembunyikan buku itu.
"Oh aku kira kamu udah tidur... Kamu dari tadi kemana kok aku enggak liat kamu? ". Tanya padaku.
"Aku tadi disuruh kerumah pak saman buat minta tolong... Terus aku nyusul kesini jalan kaki karena itu lama".jelasku padanya.
"Oh... Kamu pasti takut ya sendiri kesana". Ucapnya lagi padaku dan aku pun menggeleng padanya.
"Aku sama Akbar tadi lin... Karena cuman dia yang enggak ngapa ngapain jadi kuajak dia". Ucapku lagi padanya.
Dan setelah puas berbicara kami pun kembali tidur.
...*****...
Dan dipagi harinya, saat bus kami sudah sampai segera kami masukan barang barang kami kedalam bus, kemudian kami masuk, dan setelahnya bus kami pun pergi meninggalkan hutan itu.
.... ...
.... ...
.... ...
__ADS_1
.... ...
(Bersambung)