Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Mengatur rencana


__ADS_3

Keesokan siangnya aku hendak pergi kerumah Ayu bersama Dira, tapi terlebih dahulu tentunya aku meminta izin pada nenekku agar mereka tidak panik saat aku tidak ada dirumah.


Segera aku pun berjalan menelusuri jalan kemarin yang kulewati, hingga aku pun akhirnya sampai disana. Dan kulihat rumah itu saat siang hari tidak teralu seram karena sudah ada cahaya sehingga aku sudah bisa melihat rumah itu cukup jelas.


Setelah kurasa sekeliling aman, segera aku pun berlari sambil mengendap endap menuju rumah itu dan aku lewat dari arah belakang rumah itu untuk hendak masuk. Tapi sialnya rumah ini malah terkunci.


Hingga akhirnya Dira pun terpaksa menembus dinding dan membukakan aku pintu. Aku pun masuk dan kututup kembali pintu belakang dan segera kami pun berjalan menuju kamar yang dimana ada Ayu disana.


"Kalian... Kalian datang ". Ucap Ayu saat telah melihat kami.


"Tentu aja dong.. Kan gue udah janji, dan janji adalah utang... Dan gue udah cerita semua sama Dara, jadi sekarang lo mau kita gimana biar lo bisa tenang". Tanya Dira pada Ayu.


"jadi kamu udah kasih tau dia". Tanyanya nampak tidak percaya pada Dira dan Dira pun mengangguk padanya.


"Iya Dira udah kasih tau sama aku... Tapi satu yang masih jadi pertannyaan ku... Kalok katamu sih Andre itu dia jadi frustasi terus bawa jasad kamu... Terus cowok kamu yang namanya Herman kemana, kok enggak nyari kamu sih? ". Tanyaku padanya.


"Herman... Dia... Dia dirumahnya semenjak kematianku, dia juga seperti orang yang mati meskipun tubuhnya masih hidup tapi jiwanya seperti enggak ada. Setiap hari kerjanya hanya melamun saja dan bahkan dia juga ngurung diri dikamar". Terang Ayu dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Berati bisa dibilang semenjak kematianmu, dia juga mati tapi hanya jiwanya saja ya, tapi tidak dengan tubuhnya". Ucapku masih bertanya. Dan dia pun mengangguk meniyakannya.


"Karena itu, nanti aku mau minta tolong sama kamu, tolong bilangin sama Dia untuk hidup layaknya hidup dia dahulu, dan lupain aku, aku enggak mau jadi beban hidup dia. Dan bilang sama dia untuk jangan coba buat bunuh diri lagi". Ucapnya yang sudah menangis tersedu sedu.


"Dia pernah coba bunuh diri". Ucap Dira padanya.


"Iya, bahkan hampir setiap hari... Karena itu dia di kurung dikamar, dan bahkan sampai diiket". Ucapnya pada kami.


"Kenapa dia enggak dibawa ke rumah sakit jiwa... Kan penanganannya lebih baik". Ucapku padanya.


"Udah pernah tapi dia malah kabur... Dan hampir aja mati disana, karena itu keluarganya bawa dia pulang dan mutusin buat ngerawat dia dirumah". Jelasnya.aku pun berusaha menenangkannya dengan mengelus elus pundaknya.


"Udah udah jangan nangis ya... Herman pasti bisa kok bangit lagi dari keterpurukannya". Ucapku padanya.


" terus kamu mau gimana, kita musti kemana biar kita bisa nemuin jasad kamu yang katanya di bawa sama sih Andre, dan gimana caranya biar nama baik bapakmu kembali". Tanya Dira padanya.


"Oh itu.... Aku juga enggak tau dia simpen jasad aku dimana,tapi yang pasti ada didalem rumahnya, karena itu aku minta tolong sama kalian, dan kalok untuk membersihkan nama baik bapakku, pasti kalok kalian berhasil nemuin jasadku, pasti kebenarannya bakalan terungkap". Terangnya sambil mengusap air matanya.


"Lo pernah kesana gak". Tanyaku padanya.


"Pernah sih waktu aku hidup, tapi enggak sampek dalem dan saat aku udah mati aku cuman sekali karena disana ada semacam dinding gitu jadi aku enggak bisa masuk juga". Terangnya lagi pada kami.


"kayaknya bakalan susah ni...soalnya didalem rumah sedangkan jalannya aja kita enggak tau dan kita juga bukan siapa siapa, pasti susah... Karena kalok kita masuk tanpa izin sama aja maling kan, tapi kalok kita kasih tau sama aja kita dikira gila". Ucapku seraya berpikir.


"Kalok gitu kita jadi maling aja ra, masuk diem diem terus bawa barang yang kecil aja... Biar enggak dikira gila". Ucap Dira asal ceplos.


"Dira maling yang gue maksud itu, caranya... Cara kita masuk kesitu, tapi bukan berati kita maling beneran". Ucapku sedikit emosi karena masih sempat sempat nya ia ngelawak disaat begini.

__ADS_1


"Jadi siang ini kita cuman awasin aja tu rumah, buat sekiranya nyari jalan... Terus malemnya naru kita nyari... Ekstrim sih karena taruhannya kalok ketahuan bakalan digebukin, tapi inilah caranya". Terangku lagi padanya.


"Betul juga sih meskipun agak ekstrim musti kayak maling, tapi oke lah... Kalok gitu rumahnya sih Andre dimana yu, biar kita bisa ngawasin rumahnya dan cari jalan". Tanya Dira yang setuju dengan saranku.


"aku bisa anter kalian kesana.... Tapi cuman sampai gerbang aja... Karena aku enggak bisa masuk". Ucapnya pada kami.


"Oh yaudah kalok gitu". Ucap Dira santai.


"Dira perlu gak ya... Kita ajak temen temen yang lainnya, soalnya aku kurang yakin deh buat ngelakuin ini sendirian aja". Ucapku padanya.


"Boleh tapi ajak mereka pas malem aja, sekalian kita bagi bagi tugas, dan siang ini kita berdua aja biar enggak teralu curiga". Ucapnya padaku. Dan setelah semuanya setuju kami pun mulai menjalankan rencana.


...*****...


... ...


Setelah cukup lama kami berunding, kami pun menutuskan untuk pergi dari rumah Ayu, dan hendak mencari rumah Andre, dan sesampainnya kami disana aku berpura pura membeli bakso yang ada didepan rumah Andre sambil makan disana dan juga tidak lupa kuamati sekeliling.


Kulihat rumah besar ini nampak sepi dari luar,hanya ada 2penjaga saja didepan, tapi kulihat juga dia dekat pagarnya ada beberapa kamera CCTV yang terpasang disana dan kurasa juga ada didalam rumahnya.


Aku jadi bertambah Khawatir apa yang harus aku lakukan, apa aku baru menolong dengan masuk kerumah orang seperti ini.sambil makan aku terus berpikir cara agar aku bisa masuk kesana, dan setelah makan segera kubayar bakso ku dan pergi dari sana.


"Jadi gimana ra... Udah tau musti gimana". Tanya Dira padaku.


"Entahlah tapi yang aku tau disana ada kamera CCTV, jadi mungkin bakalan sedikit susah waktu didalem". Terangku padanya.


...*****...


Dan kami pun pergi menuju rumah Hana,sementara Ayu ia kembali kerumahnya. sesampainnya aku disana kulihat mereka semua sedang duduk diteras dan nampaknya sedang bersantai. Dan saat mereka melihat kearahku kulihat raut senang pada wajah mereka.


"Eh Dara... Dira ikut gak.. Bentar gue ambil buku ya". Tanya Hana dan setelah aku mengangguk ia pun pergi masuk kedalam kamar hendak mengambil buku Dira.


"Dara... Elo dateng, akhirnya main juga lo kesini... Kangen gue sama lo". Ucap Akbar padaku.


"Sama gue kangen gak? ". Tanya Dira pada Akbar.


"Lumayan lah apalagi kalok lo baik sama gue tapi ya.. Gimana ya... ". Ucap Akbar pada Dira.


"Gimana apa". Ucap Dira ketus.


"Iya bar bosen juga disana enggak ada temen... Kalian kenapa enggak main kerumah nenekku". Tanyaku pada mereka, sambil duduk.


"Sebenernya kita mau kesana.. Tapi kata Haris nenek lo galak, jadi enggak jadi deh". Ucap Akbar padaku.


"Eh kapan aku bilang gitu... Enggak ada lo kak". Ucap Haris nampak gelagapan. Dan aku hanya tertawa sekilas karena ulah mereka. Dan aku pun teringat akan tujuan mengapa aku kesini.

__ADS_1


"Elu ada masalah ra... Kenapa lu diem aja? ". Tanya Hana padaku, yang sudah sampai diteras.


"Iya cerita lah kalok ada masalah". Ucap Alex seraya memakan kuaci.


"Gue... Sebenernya". Ucapku sedikit canggung harus mulai dari mana.


"sajiku itu sih Dara kenapa?.... Kok dia sedih.. Elu aja yang cerita kalok lo tau". Ucap Akbar pada Dira. Dan setelah mendengar Akbar berbicara pada Dira semua yang ada disini juga memegang buku Dira secara bersama sama.


"Jadi gini... Dara kalok lo enggak sanggup biar gue aja yang ngomong". Ucap Dira padaku.


Dan Dira pun mulai menceritakan semua kejadian tentang Ayu dan permintaan tolong dari Ayu pada ku. Dan juga kenapa aku gelisah tentang harus masuk kedalam rumah pak RT, untuk mencari jasad Ayu yang disimpan oleh Andre.


"Tapi beneran jasadnya ada dirumah itu? ". Tanya Alex padaku, dan aku pun mengangguk pada ya.


"Oh jadi gitu... Tapi kok cowoknya sadis banget sih habis dia ngembunuh eh jasad tu cewek malah dia sembunyiin lagi". Ucap Adit geram.


"Iya, kurang ajar banget... Pantesan aja tu cewek gentayangan, dan mana bapaknya juga di fitnah lagi masa ngembunuh anaknya sendiri". Ucap Ellin menimpali.


"Itulah kenapa aku kasian sama Ayu dan mau nolong dia... Tapi Gimana harus masuk kerumahnya itu yang masih jadi tanda tanya buat aku". Ucapku sambil menceritakan keluh kesa ku.


"Tenang aja ra... Kita bakalan nolongin lo semampu kita semua... Karena tujuan lo itu buat kebaikan... ". Ucap Alex padaku dan disusul anggukan yang lainnya.


"Tapi gimana? ". Tanyaku padanya.


"Oh ya... Kebetulan tadi kata bunda pak RT sama Bu RT enggak ada dirumah sejak kemaren, karena mereka ada tugas di kampung sebelah jadi dirumah itu cuman ada anaknya aja, tapi masalahnya kalok malem ada penjaga karena kalian tau sendiri rumahnya gimana". Terang Hana pada kami.


"ia juga ya". Ucap Dira pada nya.


"Tapi lo tau gak penjaganya ada berapa". Tanya ku pada Hana.


"Enggak, tapi filing ku sih, mungkin sekitar 6 orang ada disana". Singkatnya sambil berpikir.


"jadi gitu... Nah gue tau... gue punya rencana... Hehehe... ". Ucap Akbar seraya tersenyum penuh arti.


"Apaan bar". Tanya Adit padanya.


"Ada aja... Oke, nanti malem gue kasih tau rencananya gimana... jadi kumpul jam berapa". Ucap Akbar bersemangat.


"Emmm.. Jam 8 mau enggak, kumpulnya dideket persimpangan jalan sana oke". Tanyaku pada mereka, setelah semuanya setuju , aku pun pulang dan hanya tinggal menunggu malam, menunggu bagaimana rencana dari Akbar.


.... ...


.... ...


.... ...

__ADS_1


.... ...


(Bersambung)


__ADS_2