
Saat dirumah sakit, Alex pun langsung dilarikan ke ruang IGD, dan disana sudah ada beberapa dokter yang menanganinya.
Lalu kami pun duduk di kursi tunggu yang ada disana, dan tak lama berselang orang tua Alex sudah datang disana.
Dan mereka meminta penjelasan kepada pak Ali dan juga bu Dewi. Sedangkan kami masih duduk dan cukup lama kami menunggu, yang aku dengar sekarang hanyalah isak tangis dari ibu Alex dan juga dari Ellin bahkan Akbar pun juga menangis karena Alex adalah sahabatnya dari kecilnya. seketika aku pun teringat kejadian tadi lagi tentang pesan itu.
"Apa pesan itu memang benar... Jadi dia enggak boong... Berati Alex kecelakaan karena jadi korban... Terus Dira dimana kenapa dia enggak dateng buat nolongin aku.... ". Batinku~.
Tak terasa bulir bening dimataku pun mulai mengalir tapi berusaha ku tahan agar setidak ya aku bisa menenagkan yang lainnya.
"Dan kenapa Alex... Apa salah Alex... Siapa pelakunya". Batinku terus bertanya~.
Dan tak lama berselang saat aku masih berpikir keras tentang kejadian tadi, tiba tiba seorang dokter keluar dengan wajah yang tergesa gesa... Karena penasaran aku pun berjalan cepat kearahnya begitupun yang lainnya.
"dokter anak saya baik baik saja kan". Tanya ibu Alex cepat.
"Anak ibu sedang kritis saat ini, dan ia membutuhkan transfusi darah golongan B+, tapi golongan darah itu sangat langkah dan bank darah disini tidak memiliki stoknya, apa ada dari kalian yang memiliki darah itu ". Ucapnya lagi.
Seketika kami yang ada disitu hanya terdiam sampai ibu Alex kembali membuka suara.
"saya... Saya... B+ biar saya saja yang mendonorkannya dok". Ucap ibu Alex.
"Kamu tidak bisa mendonor untuk Alex... Kamu lupa kamu punya sakit diabetes". Ucap ayah Alex lagi dengan nada sedikit lemas.
"Selain ibunya apa tidak ada lagi yang bergolongan darah sama dengan anak itu... Saudara, kerabat atau siapapun ". Ucap dokter dan melihat kearah kami.
"Golongan darah saya O". Ucap Adit.
"Saya A". Ucap Ellin. Begitu pun dengan Akbar yang juga sama bergolongan darah A.
Sementara pak Ali dan ibu Dewi bergolongan Darah AB dan juga O.
"Saya... Saya enggak tau golongan darah saya apa". Ucapku langsung.
"Kalok begitu mari kita tes golongan darah mu". Ucap dokter itu dan mengajakku untuk keruang tes.
__ADS_1
Dan tak lama hasil darah ku pun keluar dan ternyata golongan darah ku adalah O-, dan kata dokter aku bisa melakukan transfusi untuk Alex, sehingga kami pun mulai melakukan transfusi darah.
Aku berbaring di ajas tempat tidur sementara suster mulai mengambil darahku. Setelahnya alex pun mulai ditranfusi dan aku pun keluar dari ruangan itu.
Saat aku keluar Ellin datang memberikanku makanan awalnya aku menolak tapi ia memaksaku untuk makan dengan alasan aku habis mendonorkan darahku sehingga harus makan.
"Pak... Apa jangan jangan Alex ini sengaja di celakai seseorang ya". Tanyaku pada Pak Ali disela sela makanku.
"Bisa jadi karena itu pihak kepolisian sedang menyelidiki, kamu makan lah dulu kamu pasti masih lemas kan". Ucapnya lagi.
Lalu aku pun melanjutkan makan ku samlai datang ibu Alex menghampiriku.
"Makasih ya nak.... Karena kamu udah mau donorin darah buat Alex... Kalok kamu enggak donorin tante enggak tau musti gimana lagi". Ucap mama Alex yang sudah menangis dihadapanku.
"tante... Tante jangan nangis lagi ya... Alex kan udah dapet darahnya pasti dia bakalan baik baik aja". Ucapku lagi sambil menenangkannya. Dan tak lama ayah Alex pun berjalan kearahku.
"om dengar kamu juga yang udah ngusir ular itu dari Alex, om ucapin banyak makasih buat kamu ya nak karena udah nolongin Alex". Ucap ayahnya yang sudah berdiri disamping ibu Alex.
"om enggak perlu ngucapin makasih sama saya... Sebagai sesama manusia memang tugas saya untuk saling membantu kan om". Ucapku lagi padanya.
Kemudian mereka berdua pun duduk dan kulihat mereka sudah mulai tenang disana, sampai dokter yang tadi keluar dengan senyuman diwajahnya. Ia mengatakan pada kami bahwa kami tidak perlu khawatir karena Alex sudah baikan hanya saja mungkin ia akan sulit bicara akibat luka dileher nya dan Alex hanya perlu istirahat total beberapa hari.
Dan tak lama setelah kondisinya yang sudah tidak kritis lagi Alex pun dipindahkan keruang inap karena ia perlu tinggal dirumah sakit beberapa hari sampai keadaanya baikan.
alex pun dipindahkan keruang inap VVIP, karena memang orang tua Alex adalah orang yang mampu. Setelah ia dipindahkan kami pun menyusul kesana karena Alex sedang beristirahat kami tidak bisa langsung masuk bersamaan sehingga kami masuk 2orang 2orang.
Setelah aku masuk untuk melihat Alex akupun diminta oleh dokter untuk pulang beristirahat sementara teman teman yang lainnya diminta untuk kembali ke sekolah.
Lalu kami pun pergi dan mereka ber3 terlebih dahulu mengantar ku pulang kerumah.
"Dara kamu enggak kenapa napa dirumah sendirian, orang tua lu kan belum pulang". Ucap Ellin padaku.
"Iya ra, kenapa enggak kerumah gue dulu aja kan dirumah gue ada ibu yang bakalan jagain lu sampai lu sehat dari pada sendiri takut kenapa napa kan". Ucap Adit padaku.
"Enggak papa kok, aku udah biasa sendiri... Lagian kan gue bukan cewek lemah jadi aman lah kalian enggak usah khawatir... Iya enggak bar". Ucapku pada mereka lagi khususnya Akbar yang diam sejak tadi.
__ADS_1
"Dara elu jaga diri baik baik ya... Gue enggak mau lu kenapa napa kayak Alex... gue sedih tau". Ucapnya yang kembali menangis.
"Iya... Iya... Tenang aja, lagian cengeng banget sih jadi orang... Udah kalian sekolah sana gue mau tidur". Ucapku pada mereka.
Lalu mereka pun menyalakan motor mereka dan pergi meninggalkan ku sendiri,aku pun masuk kedalam rumah dan seperti biasanya rumahku akan sepi karena kedua orang tua ku sedang berkerja.
Aku pun melangkah masuk kedalam rumah dan mengunci pintu kembali kemudian berjalan naik ke lantai atas tepatnya dikamarku. Dan saat kubuka pintu tiba tiba kulihat didepan ku sudah ada seorang yang aku kenali sedang duduk dengan posisi tangan memeluk kaki dengan kepala yang ia tundukan.
"Dira ngapain lu gitu". Tanyaku padanya sambil menutup pintu dan berbaring di kasurku.
"Alex dia Baik Baik aja kan... Dia enggak kenapa napa kan ra". Ucapnya dengan suara yang terdengar serak seperti habis menangis.
"Kamu tau dari mana Alex kecelakaan aku kan belum kasih tau kamu". Ucapku heran padanya.
"Aku udah tau ra... Dia udah mulai dateng lagi... Dia... Dia jahat... Dan dia mau bunuh Alex". Ucap Dira yang sudah mencondongkan wajahnya yang menangis dengan raut wajahnya yang kini memerah.
"Maksud kamu apa Dira.... Jangan bilang orang yang udah ngencelakain Alex adalah.... Orang yang udah ngembunuh kamu juga". Ucapku dengan ragu.
Tapi sayangnya Dira hanya membalas ucapanku dengan anggukan yang menandakan semuanya adalah kebenaran.
"Memangnya dia ada urusan apa sama Alex". Ucapku lagi padanya.
"Dia enggak punya urusan sama Alex... Tapi sama kita". Ucapnya dengan mengelap air matanya.
"Memangnya dia mau apa... Apa hubungannya sama Alex, alex kan enggak tau apa apa? ". Tanyaku sedikit marah.
"itu karena Alex punya sesuatu.. Yang penting buat kamu". Ucapnya lagi padaku.
"Penting apa itu.... ". Ucapku lagi.
"Pokok nya sesuatu yang penting menyangkut siapa pembunuh itu". Ucapnya padaku.
"Oh ya kamu kan masih lemas tidur aja dulu... Dan pulihkan tenaga lu, gue mau nyari makan gue dulu". Ucapnya lagi padaku.
Lalu aku pun kembali membaringkan badanku dan tak terasa aku sudah tidur dikamarku.
__ADS_1
(Bersambung)