Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Madam syena?


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian malam itu. Aku sudah sedikit tidak teralu takut lagi karena Dira sudah menjelaskan selama aku tetap memakai gelang ini, aku tidak akan diteror lagi. Tapi satu yang masih menjadi pertanyaanku siapa pelakunya?, dan apakah dia cuman mau gelang yang ada ditanganku ini.


Pada ulangan pertama dihari terakhir, kelas kami diawasi oleh wali kelas kami sendiri yaitu ibu Dewi, dan setelah selesai ibu Dewi pun keluar dari kelas, dan kami mendapatkan beberapa menit untuk isitirahat. Dan setelah istirahat masuklah pak Leon kekelas kami.


Dan Saat ini kami sudah memasuki ulangan mata pelajaran terakhir, dapat kulihat beberapa siswa dan siswi sangat bahagia karena ulangan akan segera berakhir.


Dibagikannya kertas ulangan dan soal oleh nya dan segera kami pun mengerjakan kertas ulangan itu ya meskipun ada beberapa orang yang masih bisa mencontek karena pak leon kurang mengawasi, dan dia tidak akan menegur selama kami tidak bersuara.


Aku sedang duduk sambil mengoreksi beberapa soal yang menurutku sedikit ragu ragu, dan setelah selesai aku mengoreksi pas sekali dengan bel yang berbunyi.


Kringggg~


Suara bel sekolah, dan sontak saja semua siswa dan siswi dikelasku langsung bersorak kegirangan sambil melempar beberapa kertas kesembarang arah.


"Anak anak berhenti teriak teriak dan melempar kertas.... Selesai tidak selesai kumpulkan kertas ulangannya sekarang... ". Ucap pak Leon pada kami.


Segera semua siswa dan siswi termasuk diriku sendiri langsung mengumpulkan kertas ulangannya masing masing di atas meja guru, dan setelahnya kami semua pun berdoa dan akhirnya kami pun boleh pulang, kecuali yang piket kelas belum boleh pulang karena harus membersihkan kelas, karena kelas kami sangatlah kotor dan berantakan.


aku termasuk siswi yang belum boleh pulang karena aku juga harus piket hariini. Saat aku baru ingin mengambil sapu tiba tiba saja pak Leon memanggilku.


"Dara... Tolong kamu bawa kertas ulangan ini keruang guru... Dan letakan di meja guru mata pelajarannya". Ucapnya padaku.


Aku pun langsung menganggukan kepala ku dan memberikan sapu itu pada Akbar, dan segera kubawa kertas kertas itu menuju ruang guru.


...*****...


Sesampainnya aku diruang guru,kuletakan kertas ulangan kelas ku itu diatas meja guru yang bersangkutan. Dan kulihat ruangan ini kosong tanpa seorang guru pun. dan setelah urusan ku selesai aku pun langsung berjalan kembali menuju kelasku.


Sepanjang perjalanan ku menuju kelas aku melewati lorong lorong kelas yang sepi, karena sepertinya mereka semua sudah pulang sejak tadi. Dan saat aku sudah sampai dikelasku kulihat mereka sudah menyapu sampai keluar.


"Dara... Ini tinggal tugas buat lo ya... Lo tinggal buang sampah nya aja kok, gampang kan". Ucap salah satu dari mereka yang bernama Andri.


"Iya Dara... Tugas gue udah beres, jadi gue mau pulang dulu dah dah". Ucap Andin sambil berlari.


"Iya". Singkatku sambil mengambil sapu dan menyekopkan sampah yang ada dilantai masuk kedalam tempat sampah.


"Eh... Kok kalian main tinggal sih, selesain sama sama lah". Ucap Akbar pada mereka.


"Eh gue juga mau pulang ya... Tu sih Andin udah pulang... Lagian kan Dara belum piket jadi kamu kerjain ya ra... Gampang tinggal buang aja tu sampah". Ucap Andri yang sudah berlari.


"Hei... Lo berdua k*mpret ya". Teriak Akbar pada mereka yang sudah menjauh.


"Udahlah bar... Kalok lo udah selesai lo pulang aja, biar gue aja, ini kan gue tinggal buang sampah aja, gampang kok". Ucapku pada Akbar.


"Tapi ra... Masa lo gue tinggal sendirian sih, enggak bisa dong gue kan setia kawan ra". Ucap Akbar padaku.


"Enggak pa pa kok bar... Elo pulang aja... Dan nanti abis gue buang sampah kesana, gue juga bakalan pulang... Udah sana cepet pulang, gue mau buang sampah dulu ya... Entar lo ditinggal lagi sama Alex". Ucapku sambil berjalan menjauh dari Akbar.


"Ish... Dara mah... Oke deh.. Gue pulang dulu ya... omongan lo ada benernya juga". Ucapnya sambil berlari menjauh dariku, dan masih sempat sempatnya melambai lambai.


Dan aku hanya mengangkat tangan dan melambai juga padanya. Dan aku pun kembali berbalik menuju tempat pembuangan sampah.


...*****...


Setelah selesai membuang sampah aku pun kembali kekelas untuk meletakan tempat sampah yang ku bawa. Dan kuletakan tempat sampah itu didalam kelas dan aku pun hendak berjalan keluar dari kelas.


Tapi aku sangat terkejut saat melihat seseorang memakai baju serba hitam dengan memakai tudung pada wajahnya ia nampak seperti malaikat pencabut nyawa saja makin kulihat. dan ya dia adalah orang yang ingin membunuhku beberapa hari yang lalu.


"Kamu... Mau apa lagi kamu". Tanyaku sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Mau ku... Hahaha... Mau ku adalah gelang yang ada ditanganmu itu... Jika kau sayang dengan nyawamu berikanlah gelang itu dengan cara baik baik... Atau.. ". Ucapnya yang masih menunduk.


"Atau... Kamu mau mengambil nyawaku..kamu enggak usah bohong, aku tau kamu enggak bakalan bisa ngembunuh aku selama gelang yang ada separuh nyawamu ini masih ditangan ku kan".teriakku padanya, berusaha menyembunyikan suaraku yang mulai gemetaran.


"Oh jadi kamu sudah tau ya... Ya, aku memang enggak bisa nyentuh bahkan ngembunuh kamu... Sayang banget ya.. Padahal aku mau banget bunuh kamu... Tapi karena enggak bisa bagaimana jika kita sedikit mengubah penawarnannya". Ucap orang itu dan kurasa ia sedang tersenyum menyeringai dibalik tudungnya itu.


Saat aku masih mengeryinkan dahiku berusaha untuk mencerna perkataannya itu, tiba tiba saja aku sangat terkejut saat melihat Akbar muncul dan berdiri tepat disampingnya.


"A.. Akbar". Ucapku terkejut saat melihat Akbar disampingnya dengan tatapan mata yang kosong, sambil memegang sebuah pisau ditangannya.


"Kamu... Mau kamu apakan Akbar... Akbar buang pisau itu bar... ". Teriakku pada Akbar dengan panik.


"Percuma... Dia tidak akan mendengarkanmu karena dia ada dalam pengaruhku... Dan jika aku ingin aku bisa saja ". Ucapnya berhenti dan mengerakan tangannya.


Seketika Akbar pun langsung mengikuti gerakan tangan nya dan menaruh pisau itu pada lehernya.


"Berhenti... Dasar licik kamu... Lepasin Akbar..". Ucapku padanya.


"Ngelpasin dia itu gampang... Tapi tentu saja untuk setiap hadiah harus ada pengorbanan bukan!!". Ucap orang itu makin melebarkan seringainya.


"Maksud kamu? ". Tanyaku tidak mengerti.


"Ya... Hadiahnya adalah nyawanya akan terselamatkan... Dan untuk pengorbananya tentu saja berikan apa yang ku mau... Berikan gelang yang berisikan separuh nyawaku itu". Ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


"Ta.. Tapi.. ". Ucapku ragu ragu, dan aku sedang berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Tapi... Jika kau terlambat sedikit saja... Maka nyawanya tidak akan terselamatkan". Ucapnya lagi, dan sekali lagi ia mengerakan tangannya, dan kali ini sedikit menggores leher Akbar.


"Hentikan... Jangan lukain Akbar dia enggak tau apa apa". Ucapku sedikit berteriak dan sudah sedikit mengeluarkan air mata.


"Kalau kamu tidak ingin dia terluka... Maka berikan apa yang ku mau". Ucap nya lagi kembali mengulurkan tangannya.


Dan ditengah kebimbanganku, aku pun memutuskan untuk memberikan gelang yang ada ditanganku. Dengan ragu ragu aku hendak melepaskan gelang ini tapi tiba tiba saja, saat aku baru ingin membuka kaitan gelang ini, tubuh Akbar langsung menghilang karena tertarik mundur dan menjauh dari Orc itu.


...*****...


Saat aku diluar aku pun melihat kesekeliling mencari keberadaan mereka, dan ternyata mereka ada dilapangan. Aku pun langsung berlari menuju lapangan itu, dan saat kulihat disana ORC itu sedang berdiri sambil mengepalkan jarinya. Sementara disisi lain tepat dihadapannya, ada Akbar yang sedang pingsan dengan masih ditopang oleh seorang wanita yang juga berpakaian serba hitam, tapi wajahnya tidak tertutup oleh apa pun sehingga aku bisa melihat wajahnya.dan aku sedikit terkejut saat melihat siapa wanita itu aku pun langsung berlari kearahnya seraya berkata.


"Kamu kan, pemilik toko serba ada kan". Ucapku menebak.


"Ini jaga temanmu dulu... Dia masih dalam keadaan pingsan... Sementara dia biar saya yang hadapi". Ucap wanita itu ta pa menjawab pertannyaanku dan ia sudah menghilang dari hadapanku menghampiri ORC itu.


Saat aku baru memegang Akbar tanpa sengaja aku langsung terduduk ditanah karena tidak kuat untuk menopang tubuh Akbar itu. Dengan kesusahan kutarik tubuh Akbar ketepi lapangan dan kubaringkan Akbar ditanah, lalu kulihat kearah tengah lapangan dimana wanita itu sedang berhadapan dengan nya.


Kulihat mereka bertarung sambil sesekali menghilang dan tiba tiba muncul ditempat lain, dan begitulah seterusnya, sambil saling terus memukul.


"Semoga aja wanita itu menang... Kalok enggak aku juga bisa mati nih... Haduh aku harus gimana ya buat nolongin dia". Ucapku panik sambil berpikir dan memejamkan mataku untuk berdoa.


Baru saja aku memejamkan mataku,tapi segera kubuka kembali mataku karena mendengar sebuah suarah seperti sesuatu sedang terhempas.


Brukk~


Dan kulihat wanita itu sudah jatuh tersungkur tepat dihadapanku.


" Kamu enggak pa pa kan... haduh gimana nih...kamu, kamu jangan pingsan... Gawat.... Dia... dia kesini". Ucapku panik sambil memeganginya karena melihatnya tersungkur, sementara ORC itu berjalan mendekat.


"Aku.... Maafkan aku putri... Karena gagal melindungi Anda". Lirih wanita itu.


"Hahaha... Kamu sudah kalah Syena... Berikan gadis itu, jika mau mati dengan tenang". Ucap nya sambil mengarahkan sebuah pedang yang entah muncul dari mana kearah kami.

__ADS_1


"langkahi dulu mayatku jika kau ingin mengambil nya dariku Alycord... ". Ucap wanita itu disela sela nafasnya.


"Hem... Baiklah jika kau mau Ajalmu datang lebih awal". Ucapnya seraya mengangkat pedang itu.


Dan karena terkejut aku pun sontak memeluk tubuh wanita itu, dan sekejab saja dapat kurasakan sebuah pedang tajam mengores punggungku, tapi seketika sebuah cahaya lagi lagi keluar dari gelangku. Dan aku dapat merasakan sebuah angin yang menerpa disekelilingku dan wush, dia langsung terpental dariku.


Dan kulihat ia jatuh tersungkur di hadapanku. Dengan sekujur tubuhnya yang bersimbak darah.


"S*al... Dasar wanita tidak berguna". Ucapnya berusaha berdiri dari posisinya, tapi ia tetap saja tidak dapat berdiri.


"Apa... Apa yang terjadi? ". Ucapku kaget karena melihatnya tidak dapat berdiri.


"Gelang ini berfungsi.. Dia melindungimu". Ucap wanita itu seraya tersenyum padaku.


"Kau... Tunggu pembalasanku". Ucap ORC itu dengan jeri payahnya dan dia pun menghilang dari hadapanku.


...*******...


"Kamu, kamu enggak pa pa kan? ". Tanyaku pada wanita itu lagi.


"aku... Aku rasa ajalku sudah dekat putri... Maafkan aku". Lirih wanita itu.


"Kamu... Kamu siapa kenapa kau melindungi ku? ". Tanyaku masih penasaran.


"Aku syena.. Aku adalah salah satu penjaga buku rahasia yang sedang kau cari".Ucap wanita yang bernama syena itu.


"Jadi, kau adalah madam syena! ". Ucapku terkejut dan ia pun mengangguk padaku.


"Ambilah kembali buku yang pernah kau beli padaku.... Karena dari buku itulah kau akan mendapatkan jawabanya... Dan untuk buku yang satunya lagi dia ada pada syalen, adikku dia bersembunyi di sebuah perpustakaan... Dan ini bawalah barangkali akan berguna". Ucapnya padaku sembari memberikan ponsel padaku.


"Hp... Hp ini buat apa? ". Tanyaku padanya.


Tapi belum sempat ia menjawabku lagi,tiba tiba saja tubuhnya sudah berubah menjadi sebuah debu dan terbang meninggalkan ku.


"Hei... Kemana dia akan pergi". Seruku sambil melihat debu yang berterbangan itu, dan kulihati kembali ponsel yang ada dalam genggamanku itu.


"Hp... Buat apa? ... Tapi kenapa hpnya mati? ". Tanyaku pada diriku sendiri, tapi tiba tiba saja aku teringat sesuatu.


"Akbar.. ". Aku pun langsung berbalik ketempat Akbar dan berusaha membangunkannya.


...****...


"Ini dimana... Aduh.. Leher gue kok sakit.. Ha berdarah". Ucapnya terkejut karena melihat darah pada tangannya. Aku pun langsung teringat sesuatu. Dan segera kupegangi punggungku, tapi anehnya aku sama sekali tidak merasakan apa apa pada punggungku.


"Bar... Punggung gue berdarah enggak? ". Tanyaku langsung padanya.


"Enggak tu.. Dara... Ini kenapa leher gue bisa keluar darah sih". Ucap Akbar kembali sibuk dengan lehernya.


"Bentar... Biar gue ambilin kotak p3k dulu ya di uks... Lo tunggu disini". Ucapku seraya berlari ke UKS.


Dan setelah ku obati lukanya, aku dan Akbar pun langsung pulang, keluar dari sekolah dan berjalan keparkiran untuk pulang.


Karena sepertinya Alex sudah pergi meninggalkan Akbar mau tak mau aku pun mengantarkannya pulang. Disepanjang perjalanan Akbar tak henti hentinya bertanya kenapa lehernya bisa sampai terluka, tapi aku hanya menjawab bahwa aku sama sekali tidak tau, dan aku sudah menemukannya tergeletak disana saat aku kembali dari membuang sampah.


.... ...


.... ...


.... ...

__ADS_1


.... ...


.... ...


__ADS_2