Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Kerumah itu!


__ADS_3

Sesampainnya aku dipekarangan rumah itu, aku sedikit takut saat melihat rumah itu dari jarak yang cukup dekat, karena nampak sekali tidak ada kehidupan dirumah itu. Tapi dengan mengumpulkan segala keberanian ku, aku pun berjalan perlahan lahan mendekati rumah itu, dan kupilih kearah belakang. Karena menurutku akan lebih aman.


Semakin masuk kebelakang, aku semakin tidak bisa melihat karena di belakang rumanya sangatlah gelap, ingin kunyalahkan senter ponselku, tapi takut ketahuan, jadi aku pun memutuskan untuk berjalan sambil memegang dinding rumahnya.


Hingga aku sudah sampai dibagian belakang rumah, tiba tiba saja kulihat sebuah cahaya dari obor dengan seseorang yang juga keluar dari sana. Dan saat kulihat aku teringat bahwa kakek itu adalah kakek yang sama seperti saat aku hendak menutup pintu pada ulang tahun Harun saat itu.


Dan tak lama ia pun menutup pintunya dan kulihat perlahan ia mulai menjauh dari rumah ini, segera aku pun berjalan mendekat kearah pintu dengan sedikit berhati hati, takut kalau saja ia akan tahu.


Segera kumasuki rumah ini, dan kututup kembali pintunya. Saat sudah didalam aku sudah bisa melihat kesekeliling sedikit, karena didalan rumah ini sedikit lebih terang dengan pencahayaan dari obor yang ada.


"Dira". Ucapku pelan sambil menilik kedalam.


Karena tidak ada jawaban.Aku pun melangkah perlahan demi perlahan masuk kedalam sambil kucari keberadaan Dira. Tidak teralu banyak ruangan disini, hanya ada dapur dimana tempat aku masuk tadi dan ada sekat antara dapur dan ruang tamu dan disebelahnya ada dua pintu yang agaknya adalah kamar.


Kumasuki kamar pertama dan hasilnya kosong, aku sama sekali tidak melihat apa apa, dan tiba tiba kudengar suara tertawa 2orang dan salah satunya seperti aku kenali.


"Itukan suaranya Dira". Ucapku yakin.


Dan segera aku pun melangkah menuju pintu yang satunya, dan saat kubuka memang benar tebakanku karena disana ada Dira, tapi dengan seorang hantu wanita.


Kulihat hantu wanita itu dengan menggunakan pakaian layaknya gaun pernikahan, dengan sanggul yang sedikit berantakan, tapi wajahnya sangat pucat dengan luka lebam pada dahi dan bibirnya itu.


"Dara... Kamu kesini... Kenalin dia Ayu". Ucap Dira padaku.


"Kamu kenapa enggak pulang pulang ayo kita pulang". Ajakku padanya, tanpa memerdulikan ucapannya sambil menarik lengannya.


"Dara... Tunggu dulu, aku... Dia mau.. ". Ucapnya berusaha berbicara padaku. Tapi aku sama sekali tidak memerdulikannya.sampai tiba tiba kudengar sebuah suara pintu terbuka aku pun reflek merapat pada pojokan dinding dekatku yang gelap karena tidak ada obor disana.


"Shuutt". Ucapku pelan seraya meletakan jari telunjukku di bibir untuk memberikan kode pada Dira untuk diam.


"kenapa sih ra, dateng dateng kayak maling. Lagiankan gue enggak keliatan buat apa diem". Gerutunya padaku.


Dan kulihat kakek itu nampak sedang berjalan kearah meja dan ia pun duduk disana, karena disini tidak teralu terang aku tidak teralu jelas melihat apa yang sedang ia lakukan, tapi yang kulihat ia seperti sedang membuka sesuatu dan ia nampak sedang berdoa. Sampai tiba tiba aku cukup tersentak saat melihat ia melihat kearahku, dan berkata.


"Nak itu kamu". Ucapnya yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Lari Dira". Teriakku pada Dira.

__ADS_1


Aku pun lantas berlari dan berusaha membuka pintu dan untungnya pintu itu terbuka, dan aku pun berusaha lari sekuat tenagaku untuk menjauhi rumah itu.


...******...


Setelah kurasa aku cukup jauh dari rumah itu dan kurasa ia sudah tidak mengejar ku lagi. Aku pun berhenti sambil berusaha mengumpulkan tenagaku.


Sambil kulihat kesekeliling, ternyata aku sudah sampai di dekat persimpangan jalan dimana ada beberapa toko disana, tapi sudah nampak tutup sekarang.


"Haduh... Untung aku berhasil kabur... Ini Dira kemana lagi, udah disuruh lari juga, apa dia ketinggalan ya". Ucapku sambil masih mencari keberadaan Dira.


"Dira... Dira.. ". Teriakku lemah. Dan tak lama ia pun muncul dihadapanku.


"Kenapa ra, elo capek ya". Tanyanya padaku.


"Capek banget.... Elo enggak capek". Tanyaku padanya.


"Enggak lagian ngapain gue musti lari, gue tinggal ngilang aja kan bisa". Ucapnya santai padaku.


"Ngapain lo tadi kesana, mau ngapain? ". Tanyanya padaku.


"Ya nyariin lo lah, elo enggak pulang-pulang gue sampek mikir lo kenapa napa tau, mana pas gue manggil lo nya enggak dateng lagi, dan gelangnya keluar cahaya yang beda warnanya ungu kemerahan. ditambah lagi Dinda mimpi lo minta gue kesana ya jadi gue kesana jemput lo". Ucapku panjang lebar menjelaskan padanya, sambil berjalan hendak pulang.


"Udah udah... Ayo pulang gue capek mau tidur". Ucapku seraya berjalan sedikit cepat.


"Oh ya ra... Sebenernya cahaya yang warna ungu kemerahan itu, memang tandanya aku lagi minta tolong dan berusaha manggil kamu". Ucapnya padaku sambil melayang menyusulku.


"Emang nya lo mau minta tolong apa". Tanyaku padanya.


Belum sempat ia kembali berbicara, tiba tiba kulihat dari arah kejauhan ada sebuah cahaya dari motor, dan perlahan mulai mendekat kearahku dan berhenti. Dan saat kulihat ia adalah om Hendri, yang nampak panik saat melihatku.


"Dara... Kamu dari mana aja nak, nak... Om udah nyari kamu keliling tau, kalok kamu ilang om mau jawab apa sama orang tua mu". Ucapnya dengan raut yang sudah berubah dengan nada sedikit marah.


"Itu maafin Dara om, tadi Dara keluar mau nyari sesuatu, dan enggak bilang karena tante sama om masih jagain Dinda, Dara cuman enggak mau nambahin masalah aja kalok kalian sampek tau". Ucapku sambil menundukan kepalaku, karena merasa bersalah.


"Enggak mau nambah masalah, kalok kamu kayak gini justru nambah masalah Dara... Udah ayo kita pulang, nenekmu tadi bangun terus nyari kamu, jadi ayo pulang". Ajaknya padaku. Segera aku pun naik keatas motor dan motor kami pun berjalan menuju kearah rumah.


...****...

__ADS_1


Sesampainnya kami dirumah aku langsung ditegur oleh nenek, dan juga tante ku karena aku keluar malam-malam, aku pun hanya diam sambil mendengarkan ucapan mereka karena memang aku lah yang salah disini, dan ucapan mereka itu memang ada benarnya juga.


Sehingga cukup lama aku ditegur bagaikan sidang saja, akhirnya sidang ku pun selesai dan aku diminta untuk makan terlebih dahulu sebelum tidur karena memang aku sama sekali belum makan dari tadi sore.


Selesainnya aku makan, segera kusikat gigiku,dan tidak lupa ku cuci muka, kaki, dan tangan ku. dan aku pun kembali masuk kedalam kamarku. Seraya kubaringkan tubuhku diatas kasur.


"Ha, akhirnya bisa baring juga". Ucapku seraya berguling guling diatas kasur.


"Dara... Wih lama juga ya lo disidang, gue aja ampek ngantuk ". Ucapnya yang muncul di sampingku.


"Lu baru tau sih, dan gara gara siapa, ya gara gara elu". Ucapku seraya menunjuknya.


"Ya maaf ra, kan elu juga yang nyuruh gue kesana". Ucapnya manyun padaku.


"Yaudah, terus lu dapet info apaan disana? ". Tanyaku padanya.


"oh ya ra.. Lu inget kan kata kata Harun soal kakek yang tingggal dideket jembatan itu, ternyata semua yang kita pikir tentang dia itu hoax, dia itu enggak jahat kok, cuman keliatannya aja". Ucap Dira padaku.


"Lu yakin Dira... Tapi kata hantu yang katanya pernah ketemu lo,sama kayak yang dikataain sama Harun, kakek itu kayaknya jahat, dan rumahnya juga aneh karena kayak enggak ada orang lain yang kesana, jadi kemungkinan kakek itu memang aneh". Ucapku padanya.


"Dara, terkadang apa yang kita lihat belum tentu kebenarannya, karena yang kelihatannya jahat belum tentu jahat dan sebaliknya". Ucap Dira dengan kata kata bijaknya. Aku pun mulai sedikit berpikir apa yang dikatakan oleh Dira belum tentu salah, dan apa yang ku tahu belum tentu benar bukan.


"Terus kebenarannya apa dong kan elu udah tau". Tanyaku padanya.


"Jadi pas gue kesana, awalnya iya gue juga takut tapi setelah gue kesana terus ketemu hantu juga yang namanya Ayu, itu loh yang pakek gaun pengantin. Gue akhirnya tahu kenapa keangkeran jembatan itu di kaitkan sama kakek, karena dia itu difitnah sama orang". Ucap Dira padaku.


"Difitnah gimana". Tanyaku penasaran.


"Jadi"


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


(Bersambung)


__ADS_2