Misi Hantu Kita

Misi Hantu Kita
Misteri gelang ditangan Dara


__ADS_3

*Dira pov*


Dimalam harinya, saat aku hendak pergi sekolah malamku, kulihat Dara yang berguling guling di kasur seraya menghapal pelajaran tadi. Aku pun berniat ingin minta izin padanya, tapi mendadak perasaanku menjadi tidak enak. Aku pun mulai ragu untuk pergi sampai kudengar suaranya memanggilku.


"Dira kamu kenapa belum pergi... Katanya mau sekolah? ". Tanyanya padaku, dan aku pun sedikit gelagapan apa yang harus aku jawab padanya.


"Em... Dara...gue enggak usah sekolah deh ya, enggak jadi aja". Ucapku padanya dan kulihat raut heran dari wajahnya.


"Kenapa? Katamu mau sekolah... Pergi sana nanti telat". Ucapnya padaku.


"Firasat gue enggak enak.... Gue mendadak khawatir sama lu". Ucapku seraya menatapnya.


"Khawatir apa males... Udah pergi deh... Biar lo jadi hantu yang pinter". Ucapnya padaku.


"Tapi ra". Ucapku sambil menatap matanya.


"Udah enggak usah khawatir lah... Orang gue udah gede juga... Lagiankan kalok ada apa apa tinggal panggil kan bisa". Ucapnya seraya menunjukan gelang ditangannya itu.


Baru saja aku ingin menjawab tapi dia sudah mendorongku, dan memaksa ku untuk sekolah, jadi aku pun kembali berpikir ucapannya ada benarnya juga, dia kan memakai gelangnya , otomatis aku pasti akan tau jika dia kenapa napa.


...******...


Akhirnya aku pun langsung menghilang dan pergi ke taman, dan sesampainnya aku ditaman, aku sudah disambut oleh Yani, dan dia langsung mengajakku untuk pergi kesekolah baru.


Saat disana kulihat suasana sekolah yang cukup menyeramkan karena disini kan isi ya memang para hantu jadi otomatis pasti seramkan. kami pun kembali berjalan dan tiba tiba saja ia berhenti sehingga aku tidak sengaja menabraknya.


"Aduh... Kenapa lo pakek ngerem sih". Gerutuku padanya.


"Sorry... Lo kenapa ngikutin gue... Masuk kekelas lo lah sana". Ucapnya padaku. Aku pun menilik kesegala arah karena aku tidak tau haru kemana.


"Lah emang kelas kita beda ya... Gue pikir sama, kan umur kita sama". Ucapku padanya.


"Oh iya gue lupa ngomong sama lo, disini kelasnya dibagi sesuai udah berapa tahun lo matinya, dan gue udah kira kira 10tahun yang lalu... Jadi gue masuk kesini... Dan ya, makin tua umur kematian lo makin terhormat lo disini tapi kalok masih baru ya siap siap aja dibully". Jelasnya padaku.


"Ha... Masa disini pun ada bully bullyannya sih... Terus lo disini udah berapa tahun? ". Tanyaku padanya dan dia mengangguk padaku.


"Gua disini udah hampir 3 tahunan.... Jadi lo udah mati berapa tahun? ". Tanyanya padaku. Dan aku pun langsung mengangkat satu jari ku lalu 6 jariku.


"16tahun ya? ". Tanyanya padaku.


"Bukan, tapi 1tahun hampir 6 bulan". Ucapku padanya. Dan kulihat ia seperti hendak tertawa.


"Oh... Itu kalok gitu kamu kesana deh... Soalnya kelas kamu disana". Tunjuknya padaku kesebuah pintu diujung sana.


...*******...


Aku pun langsung menuju kearah pintu itu dan masuk kedalamnya.


Dan saat aku masuk aku terkejut karena didalam kelas ini rata rata hantunya masih anak anak kecil, sama sekali tidak ada hantu yang sudah besar disini, hanya ada satu saja. Apa aku salah kelas ya, tanyaku dalam hati.


"Kamu murid baru ya... Silahkan masuk". Ucap seorang wanita, yang sepertinnya guru dan hanya memiliki satu mata saja.


"Maaf, buk saya kayaknya salah kelas ya... Kok isinya anak kecil semua". Ujarku sembari menunjuk anak anak itu.


"Kamu emang sudah mati berapa tahun? ". Tanyanya padaku.


"1tahun hampir 6 bulan". Ucapku padanya.


"Hahaha... Ya kelas kamu disini... Bahkan malahan lebih besaran usia kematian mereka dari kamu, jadi kamu langsung masuk saja". Ucapnya padaku.


"Tapi mereka masih anak anak! ". Tunjuku pada anak anak itu.


"Iya badannya memang anak anak... Tapi kalok disini lebih tua umur mereka, kamu cuman menang dibadannya aja... Jadi kamu mau belajar atau tidak... ". Ucapnya lagi padaku.

__ADS_1


Aku pun masuk dan mulai mendengar pelajaran dari guru itu.


"Memang jarang disini ada hantu seukuran kamu... Karena rata rata kalok yang udah besar mereka males untuk sekolah dan ada beberapa sih tapi karena temennya anak kecil jadi mereka juga berhenti... Khik.. Khik... Khik... ". Ucap hantu kecil disampingku.


"Haduh... Tau begini mendingan enggak usah ikut deh... Mana isinya hampir anak kecil semua".ucapku lesu.


Dan saat guru itu masih sibuk mengajar, tiba tiba firasatku menjadi tidak enak lagi. Aku menjadi khawatir akan Dara, tapi kenapa gelangnya sama sekali tidak bereaksi, gelangnya sama sekali tidak memanggilku.


Dan karena rasa khawatir ku tidak kunjung hilang aku pun memutuskan untuk meninggalkan kelas dan kembali menuju rumah, dan saat disana aku terkejut saat melihat Dara yang terkapar dilantai.


Aku pun berjalan menghampirinya seraya menepuk nepuk pipinya.


"Dara... Dara... Kamu kenapa". Ucapku dan tak lama dia pun akhirnya membuka matanya.


*Dira pov and*


.......


.......


.......


.......


Saat aku membuka mata kulihat ada Dira dihadapanku dengan raut panik diwajahnya itu.


"Dira... dia tadi dateng... Dia mau bunuh aku". Lirih ku meminta tolong padanya.


"Dia mau bunuh kamu... Siapa?... Apa jangan jangan pembunuh itu ya.. ORC... S*al pantasan saja perasaan ku enggak enak... Dan kenapa gelang kamu enggak ada? ". Tanyanya panik padaku, dan mencari gelang itu dan setelah ketemu dipakaikannya lagi padaku.


"Haduh... Tulang ku kayak mau patah". Ucapku ku lirih seraya menaikan badanku dikasur.


"Kamu kenapa bisa baring di lantai sih... Dia ngapain kamu.. Tadi katamu dia dateng... Terus ini kenapa gelangnya kamu lepas, pantesan aja kan aku enggak tau ". Tanyanya panik padaku.


"Terus". Tanyanya penasaran padaku.


"Terus....


Flasback


Selepas Dira berangkat aku pun kembali berbaring dikasur seraya mengingat ingat materi untuk besok, tapi tiba tiba tanganku sedikit gatal. Tapi makin ku garuk tanganku makin gatal sehingga aku pun melepaskan gelangku tapi gelang ini sedikut susah untuk dibuka dan saaat terbuka tiba tiba gelang itu tidak sengaja jatuh dan masuk kebawah kasur, saat aku hendak mengambilnya tiba tiba saja dibelakangku mendadak mendingin dan aku sangat menggigil karenanya, oleh karena itu pun aku berbalik.


Dan saat kulihat seorang pria serba hitam dengan wajah yang tertutupi jubah, mirip dengan mimpi ku beberapa minggu yang lalu dan dia jugalah yang telah membunuh siswi itu. sehingga aku pun terbelalak sambil gelagapan karena ia datang tepat dihadapanku.


"Di... Dira... To-


"Hahah...percuma kamu minta tolong sama hantu itu, dia enggak akan berguna, bahkan dia juga takut padaku.... Jadi jika kau mau nyawamu aman, berhentilah menolong hantu tidak berguna itu dan kembalikan barang yang menjadi milikku....mana benda itu, berikan padaku!! ". Ujarnya padaku, seraya menarik lenganku.


"Kamu... O... Orc... Mau apa kamu, be... Benda apa yang kamu mau.. Aku enggak tau". Tanyaku ketakutan padanya seraya merangkak menjauh, tapi percuma saja tiba tiba aku langsung tertarik dan terpental arah lemari.


Brukk~


"Kamu... Kemana benda itu kenapa hilang...cepat katakan kemana, dimana kamu menyembunyikannya". Ujarnya lagi yang sudah mengangkat tubuhku keatas dan membuat leherku tercekik.


"Le... Lepas... A... Aku bisa mati". Teriakku dengan sisa tenagaku.


"Kamu akan mati jika tidak memberikan barang milik ku itu". Ucapnya yang kini mengeraskan cekikannya itu. Dan tiba tiba saja saat nyawaku seperti diujung tanduk aku pun langsung jatuh terhempas kelantai, dan samar samar kulihat tubuhnya seperti remang remang dan mulai tembus pandang, seperti hendak menghilang.


"S*al... Sudah batasnya... Ingat aku akan kembali ". Teriak orang itu yang masih terdengar ditelingaku, dan perlahan lahan kulihat tubuhnya menghilang dari hadapanku.


Aku pun memejamkan mataku sangking lemasnya, dan tak lama setelah ORC itu hilang kudengar suara Dira.


.......

__ADS_1


.......


.......


Flasback off


.......


.......


.......


"pantesan aja dia mau ngembunuh lu... S*al, ternyata dia udah tau... kenapa gelangnya elo lepas, coba aja dia masih punya waktu... mungkin sekarang lo bakalan kayak gue deh... dan kita enggak bakalan bisa apa apa kalok dia sampek dapet benda itu? ". Ucapnya ketus padaku.


"Emangnya, kenapa kalok aku ngelepas gelangnya dan benda apa yang dia cari? ". Tanyaku padanya bingung.


"Sebenernya gue enggak teralu mau ngelibatin ini sama lo, tapi cuman lo yang bisa ngelakuin ini, dan bukan orang lain,karna itu gue cuman mau lo buat nyelesain ini, dan sisanya gue yang urus. tapi sepertinya lo juga harus ikut campur lebih dalam. dan sepertinya udah saatnya elo tau ". Ucapnya sambil menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"Sebenernya gue sengaja minta lo untuk makek gelang itu, karena cuman gelang itu yang bisa ngelindungin lo dari dia... Sekaligus gelang itulah yang bisa kita gunakan untuk membunuhnya". Jelasnya padaku.


"Maksud kamu? ". Tanyaku masih mengeryinkan dahiku.


"Ya, digelang itu ada sebagian nyawanya sehingga dia enggak bisa ngelukain lo saat lo makek gelang itu, karena sama aja dia bakalan ngelukain dirinya sendiri...dan dia cuman bisa membunuh lo, kalok lo lepas gelangnya..tapi kalok lo makek gelang itu gelang itu sama aja bakalan jadi boomerang buat dia jika dia mau ngelukain lo.karena itu aku bilang sama kamu untuk jangan ngelepas gelang itu... dan contohnya kamu udah liat kan apa yang terjadi". Ucapnya lagi.


"Oh, jadi gitu... Terus kenapa dia enggak langsung bunuh aku". Tanyaku padanya.


"Kalok untuk itu aku juga enggak tau". Ucapnya padaku.


"Terus kata mu, gelang ini bisa kita gunain buat ngembunuh dia... Terus kita tunggu apa lagi... Kenapa kita enggak ngembunuh dia aja dari awal kamu dateng". Ucapku langsung padanya.


"Enggak semudah itu Dara... Asal lo tau untuk membunuh dia kita butuh seluruh nyawanya, sementara kita hanya punya setengah nyawanya saja, jika kita mau mencoba dengan separuh nyawanya, sangat kecil kemungkinan kita untuk menang... Dan lagi gue juga enggak tau cara ngembunuh dia". Jelasnya padaku dengan nada lesu.


"Terus kalok kamu enggak tau kita musti gimana untuk bunuh dia". Ucapku mengaruk garuk kepalaku.


"Ada sebuah buku rahasia... Tepatnya 2buku rahasia yang berisi penjelasan tentang cara membunuhnya... tapi permasalahannya buku itu dipegang oleh masing masing penjaga dan salah satunya yang aku tau adalah madam syena... Dia adalah penjaga buku itu dan dia hanya memberikan buku itu pada orang yang dia mau aja... Dan orang yang tepat nerimanya... Tapi susah banget ketemu sama dia... Aku aja selama ini cuman sekali ketemu sama dia... Dan yang satu lagi aku enggak tau dia dimana, yang pasti dia bersembunyi bersama buku yang satunya". Terangnya padaku.


"Jadi di dua buku itu ya caranya... Dan salah satu penjaganya pernah ketemu kamu yaitu Madam.. Syena...kalok gitu kita enggak bisa apa apa dong... Selama bukunya enggak ada... Berati kita cuman bisa nyari tau ORC itu siapa... Dan apa tujuannya tanpa bisa membunuhnya sampai dapet petunjuk". Ucapku lagi padanya, dan dia pun mengangguk padaku.


"Tapi saat waktunya tiba pasti kita bakalan ketemu kok sama bukunya". Ucapnya yakin.


Akhirnya setelah puas berunding dengan masalah kami itu, kami pun menarik kesimpulan untuk melawan saat kami sudah tau cara untuk membinasakannya, dan sementara kami belum tau kami hanya bisa melawannya sesuai kemampuan kami, Dan hanya harus menjaga diri kami sampai waktunya tiba.


Karena hari sudah cukup larut aku pun memutuskan untuk tidur, karena berhubung besok aku harus ulangan sehingga aku tidak boleh mengantuk di kelas. dan kali ini Dira pun ikut tidur bersama ku.


.......


.......


.......


.......


.......


***Hai.. Hai.. Hai...kakak kakak Semuanya🤗...


Aku cuman mau sekedar bilang aja ni aku udah buat satu cerita lagi...


Judulnya:"the mystery behind the door"***".


Silahkan dibaca ya, dan aku harap kalian yang baca bakalan suka...


Dan untuk lebih jelasnya Langsung baca aja deh... Jangan lupa dilike juga ya...

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2