
*Dira pov*
Kulihat kearah lapangan yang dimana menampakan beberapa orang yang sangat aku kenali sehingga aku pun sedikit tersenyum melihat mereka, setelah puas melihat mereka aku pun berbaring seperti biasanya, dengan tangan yang aku gunakan untuk sekedar menjadi alas bagi kepalaku.
Kalian pasti bertanya tanya bukan selama ini aku dimana saja jika Dara sedang berada di sekolah.
Ya, setiap Dara sedang disekolah, sebenarnya aku sama sekali tidak berada jauh darinya,dan lebih tepatnya lagi aku selalu berada diatas genteng sekolah untuk menunggunya, sambil sesekali aku juga perpikir dan tentu saja itu aku lakukan dengan bersembunyi sambil menunggunya. Untuk apa... ya tujuan sebenarnya hanyalah sebagai kode baginya bahwa sebenarnya pelaku yang selama ini ia cari cari ada didekatnya, tapi memang dasarnya saja ia tidak peka dengan apa yang telah aku lakukan.
Sebenarnya aku ingin langsung mengatakan padanya, tapi itu sedikit mustahil bagiku,karena ada beberapa alasan yang sedikit mengganjal didalam lubuk hatiku.
Yang pertama jika aku cepat memberitahunya, maka akan semakin cepat pula aku berpisah darinya, dan itu sedikit berat bagiku, tapi disisi lain percuma saja jika aku masih didunia ini karena aku hanya akan menjadi arwah penasaran saja dan mana mungkin aku bisa selalu bersama Dara.
Sementara disisi lain aku juga marah, marah karena dibunuh oleh iblis yang sebelumnya telah membunuh Dara, marah karena ia sekarang malah kembali dengan niat ingin membunuh saudariku satu kali lagi, dan sebenarnya niatan ORC itulah yang membuatku tetap tinggal di dunia manusia menjadi arwah penasaran karena aku sebenarnya ingin melindungi Dara.
Dan selain itu ada tujuan lain selain melindungi Dara, yaitu membasmi ORC itu dengan tanganku sendiri. Tapi untuk bisa melakukannya tentu saja aku harus sedikit melibatkan Dara agar aku bisa menemukan cara agar dapat melenyapkannya.
Itulah yang kadang kadang aku pikirkan beberapa bulan ini, dan sementara itu karenanya kadang kadang juga aku selalu meratapi nasibku yang tidak jelas ini.
"Akhh... Hidup Gue kok gini gini aja ya... Waktu hidup jadi kayak badut... kerjanya ngehibur orang aja... Dan sekarang waktu mati malah jadi bodyguardnya manusia". Lirihku berbicara sendiri.
"Tapi enggak pa pa deh... Dari pada gak ada kerjaan... seenggaknya kan aku enggak terlalu sia sia didunia manusia, enggak kayak hantu hantu lain tuh... Hihihi". Ucapku yang kadang tertawa sendiri.
Ya , beginilah kerjaanku sebagai hantu, aku hanya akan berbaring atau bahkan tidur , jika tidak pun aku akan berjalan jalan sebentar bertemu beberapa hantu untuk menghilangkan rasa bosanku karena jujur saja, menunggu Dara pulang lalu barulah aku bisa makan dirumah itu sangatlah membosankan, kenapa aku tidak mencari makan sendiri, karena sebelumnya ia sudah melarang ku dengan sangat keras untuk tidak mencomot atau mengambil makanan orang lain, alhasil aku pun harus kelaparan.
"Berapa lama lagi sih dia pulang?...kenapa gue rasa makin hari dia pulang makin lama ya? ". Tanyaku pada diriku sendiri sambil menatap langit yang sangat cerah hari ini.
...**********...
Setelah lama aku menunggu, akhirnya bel sekolah pun berbunyi yang menandakan bahwa Dara akan segera keluar sebentar lagi, sehingga aku pun langsung beranjak dari posisi berbaringku kemudian tanpa aba-aba aku pun langsung menghilang dan seperti biasanya aku muncul di tempat dimana Aku akan menunggu motor Dara untuk lewat.
Dan tak lama berselang setelah aku tiba kulihat motor Dara sudah muncul tidak jauh dari posisiku sehingga aku pun mulai mengambil ancang ancang untuk naik ke motornya.
*Dira pov and*
.......
.......
.......
"Dara!! ". Seru Dira tiba tiba dari arah belakang ku sehingga karena terkejut aku hampir jatuh, beruntung tanganku kuat memegang stangnya.
"ish... Kebiasaan banget deh kamu... Kalok jatoh gimana?!! ". Gerutuku kesal karena ia selalu saja mengejutkanku.
"Ish selow... Kalok jatoh, dua kemungkinannya kalok enggak mati, yang lu luka luka". Ucapnya dengan nada santai mengatakan itu.
__ADS_1
"Eh!! Dasar setan gak ada akhlak!... Lo ngomongnya gampang banget, kan gue yang rasain bukan lu.. ". Ucapku lagi sedikit berteriak, sehingga tak heran ada beberapa orang yang menatap aneh kearahku.
"Ish... Biasa aja dong!! , liat tuh orang orang tadi ngeliat lu... Lagiankan karena emang elu yang ngerasain jadi gue santai, kecuali emang gue juga ngerasain baru gue ikut khawatir". Ucapnya tak mau kalah.
"Yaudah terserah lo aja... ". Singkatku tak ingin berdebat lagi dengannya.
"Dara... Nanti begitu sampek gorengin ayam ya buat makan... Gue laper banget nih". Serunya tiba tiba padaku.
"Iya iya... Makannya baek baek kamu sama aku, kalok mau aku gorengin". Ucapku lagi padanya. Dan kulihat dari arah spion ia nampak senyum senyum sendiri sambil menoleh kekanan dan kekiri.
"heh!!.. Orang lagi ngomong juga bukannya di iyain... Ini malah senyum senyum liat kanan kiri lagi... Mau nyebrang lo". Ejekku padanya.
"Ish... Apaan sih... Emang enggak boleh apa kalok gue senyum... Kan gue cantik kalok senyum... Iya kan". Ucapnya semakin melebarkan senyumnya padaku.
"Iya iya... Terserah kamu aja deh". Singkatku padanya dan kembali fokus pada jalanan.
...**********...
Sesampainya aku dirumah kulihat ia masuk dan duduk dikursi sambil menatapku terus menerus.
"Ngapain kamu ngeliat aku terus? ". Tanyaku bingung sambil mengeluarkan ayam dari kulkas.
"Enggak kenapa napa... Cuman liat aja ayamnya mau kamu apain, eh ternyata cuman dicemplungin di air".ucapnya dengan lesu.
"Ya namanya ayamnya masih beku, jadi musti direndam dulu dong... Udah kalok lo enggak ada kerjaan lo jagain aja tu ayam... Dan aku mau ganti baju dulu oke". Seruku sambil berjalan kearah kamarku.
...*********...
Setelah selesai mengoreng ayam untuk Dira, ku tuangkan juga sedikit nasi untuknya lalu aku pun juga menuangkan nasi kedalam piringku , tapi saat aku baru selesai menuangkan nasi itu kepiring ku, kulihat ia dengan lahapnya menyantap nasi dan ayam goreng itu bahkan hampir tidak bersisa.
"Woi!.. Woi!... Laper atau gimana?.. Kok cepet banget .... aku aja belum mulai, kamu udah mau habis aja sih". Gerutuku sambil melihatnya.
"Yaudah tinggal makan aja lagi... Lagian ya, gue itu makan cepet karena ada 2 alasan". Ucapnya sambil masih mengunyah ayam.
"Alasan?... Alasan apa? ". Tanyaku bingung padanya.
"Pertama gue laper... Kedua kalok gue habis duluankan pasti elo yang cuci piring, soalnya bosen juga gue dari kemaren gue mulu yang cuci, jadi hari ini elu aja... Oke, gue udah selesai makannya... Dan ini piringnya ". Jelasnya lagi sambil menjilati jari jari tangannya yang masih ada sedikit saos, sementara yang satunya digunakan untuk memegang piring.
"Ish ada akal bulusnya ternyata!!... Yaudah deh.. taroh disitu aja piringnya nanti aku beresin, dan kamu sana cuci tangan jangan dijilatin terus kayak gitu, jijik tau". Ucapku sedikit risih melihat perilakunya itu.
"Oke". Singkatnya sambil melayang kearah wastafel dan langsung mencuci tangannya.
"Dira... Kamu tau gak?... Kalok pak Ali , dia engggak ada disekolah selama 1 bulan kedepan? ". Tanyaku penasaran dengan perkataaan Ellin tadi.
"Tau.... Memangnya kenapa? ". Tanyanya balik kepadaku.
__ADS_1
"Jadi kamu tau... Kenapa enggak bilang?... Tapi, pak Ali kenapa pergi bahkan sampek 1 bulan? ". Tanyaku yang masih bingung.
"Gue pikir elo udah tau... Kan waktu hari pertama itu elo liat sendiri dia pergi...dan kenapa dia pergi sampek 1 bulan?... Karena... Dia mau nyiapin segalanya ". Ucapnya sambil duduk kembali dikursi, dan mulai berbicara serius denganku.
"Nyiapin apa sampek 1 bulan?.... Apa ada hal yang enggak aku tau dan kamu berusaha nyembunyiin semua ini dari aku? ". Tanyaku sedikit penasaran dengannya.
"Oke, kali ini gue enggak bakalan bo'ong sama lo..gue bakalan jujur, jadi ... Dia mau nyiapin semacam ritual untuk menyatukan kedua nyawanya yang terpisah itu... Karena ini udah hampir waktunya, dan sebenernya disaat itulah kita juga bisa melenyapkan dia... Tapi masalahnya gue enggak tau hari itu bakalan dateng kapan dan dimana, karena cuman dia yang tau". Jelasnya padaku, dan kulihat tidak ada kebohongan dimatanya itu.
"Tapi bukanya separuh nyawanya ada di aku ya, kan ada didalem gelang ini... Jadi, gimana caranya dia buat ngambil gelang ini, kan waktu itu enggak bisa". Tanyaku sedikit tidak mengerti.
"Justru itu disaat waktunya tiba... Pelindung gelang itu enggak bakalan berfungsi sehingga dia bisa ngambil gelang itu dari elo". Lirihnya.
"Jadi apa yang musti kita lakuin biar kita bisa tau... Dan caranya juga". Tanyaku padanya.
"Kita enggak ada cara lain selain nemuin Syalen dan dapetin caranya dari dia... Atau kita musti tau sendiri tapi itu bakalan sangat susah karena cuman ORC itu yang tau, dan enggak mungkin kan kita nanya sama dia... Ya kali, bisa di gorok kita sama dia". Ucapnya juga yang mulai berpikir.
"Iya juga sih.... Jadi ini sih Syalennya dimana kok dia sama sekali enggak ada sih di perpustakaan-perpustakaan yang udah kita datengin... Katanya diperpustakaan tapi enggak ada satupun". Gerutuku mulai kesal dibuatnya.
"Iya juga sih... Habis itu kenapa lagi dia ngumpetnya ditempat yang susah... Kenapa enggak ngumpet di tempat yang enak aja... Restoran gitu, atau enggak hotel". Ucapnya yang mulai bercanda.
"Apaan sih Dira... Lagian kalok dia ngumpet di hotel atau restoran bukan sembunyi namanya". Gerutuku kesal padanya
"Yaudah jadi gimana dong? ". Tanyanya padaku.
"Kalok dia enggak ada diperpustakaan yang kemaren kita kunjungin.... Berati besar kemungkinan dia juga bisa ada di... Perpustakaan lain,... Perpustakaan sekolah misalnya". Ucapku setelah menemukan sedikit tebakan.
"Bisa jadi, tapi sekolah apa... SD.. SMP... SMA.. Atau perpustakaan yang ada dikampus-kampus... Kan banyak jadi dimana?". Tanyanya, sehingga aku pun mulai berpikir lagi.
"Iya juga ya... Yaudah kalok gitu... Nanti malem bakalan gue cari sekolah sekolah sekitaran tempat kita... Terus pulang sekolah kita berangkat.. Oke". Ucapku setelah menemukan sedikit jalan.
"Oke... Oh ya, ngomong-ngomong itu ayamnya masih mau gak... Kalok enggak gue makan". Ucapnya sedikit cengengesan padaku.
"Yaudah makan nih... Tapi jangan lupa piringnya dicuci.. Kan kamu yang terakhir". Ucapku padanya, dan segera beranjak kearah kamarku.
"Yaudah deh... Lagi lagi musti gue yang nyuci... Tapi enggak pa pa deh.. Lumayan ayamnya masih utuh". Ucapnya yang masih kudengar sambil langsung melahap ayam itu.
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
(Bersambung)