
Tak terasa hari sudah menjelang malam, aku pun masuk kedalam rumah, dan masuk kedalam kamarku, sekedar membaringkan tubuhku, dan aku pun teringkat akan suatu hal.
Kemana Dira, itulah yang sekarang ada dalam benakku, karena sudah sejak tadi sore ia pergi tapi tak kunjung kembali. Segera kupanggil dia. Tapi ia sama sekali tak muncul juga hingga panggilan ku yang ke 7.tapi tiba tiba sebuah cahaya kecil muncul dari gelang ku, tapi yang sedikit membinggungkan adalah sebelumnya gelangku selalu bercahaya dengan berwarna biru, tapi aku sedikit heran karena kali ini warna nya sedikit berbeda, dengan warna unggu kemerahan yang makin lama cahayanya makin meredup dan hilang.
"Eh, gelangnya kok bercahaya ya... Tapi kenapa warnanya beda? ". Tanyaku pada Diriku sendiri, sambil menurunkan tanganku yang sedari tadi menutupi kedua mataku.
"Sebelumnya setiap aku panggil Dira kalok aku dalam Bahaya, gelang ini selalu keluar cahaya tapi warnanya biru, sampai Dira dateng tapi, sekarang warnanya unggu kemerahan tandanya apa... ?". Ucapku masih bertanya tanya dan berpikir hingga aku mengambil suatu kesimpulan.
"Apa... Apa jangan jangan dia dalem bahaya ya... Iya, bisa jadi. Dia kan belum balik dari tadi sore, dan dipanggil pun dia enggak dateng". Ucapku sedikit panik.
"Tapi dia dimana... Aku enggak tau... Ha, kemungkinan besar dia ada dideket jembatan, soalnyakan terakhir kali Pisahnya disana". Ucapku yang kemudian melangkah keluar. tapi baru saja aku sampai didepan pintu, kudengar suara teriakan dari tante Andin memanggil namaku.
"Haduh... Gimana nih, tante Andin atau Dira". Tanyaku dalam Hati, ada sedikit tanda tanya hatiku, karena aku ingin menolong Dira takut dia kenapa napa, tapi tante Andin bagaimana, akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi ke tante Andin terlebih dahulu.
"Dara... Dara tolongin tante nak". Teriaknya lagi, dan segera aku pun menghampiri asal suaranya, dan dia sedang ada didalam kamarnya. Dan kulihat ia nampak panik seraya mengompres Dinda.
"Kenapa tante, Dinda, dia kenapa? ". Tanyaku padanya sambil duduk didekat nya.
"Dinda... Dia sakit , kayaknya dia demam, kamu bisa tolongin tante gak, tolong kamu kompresin Dinda, biar tante bisa pergi beli obat untuk Dinda". Ucapnya padaku.
" Nenek mana? dan Kenapa gak dibawa kerumah sakit aja tante". Ucapku memberi saran.
" Nenek kamu udah tidur, kasian kalok dibangunin, dan Lebih baik kita coba obat dulu, kalok enggak sembuh baru kita kedokter... Udah ya kamu jaga Dinda dulu, tante mau pergi". Ucapnya padaku. Aku pun mengangguk dan kulihat ia sudah pergi dari rumah dengan menaiki sepeda motornya.
"Dinda... Dinda, kamu yang kuat ya, jangan sakit dong, kan katamu mau main sama aku". Ucapku lemah lembut padanya, seraya menganti kompresnya.
"Dinda... Dinda enggak sakit kok kak... Uhuk, uhuk... Dinda mau main". Ucap Anak itu setengah sadar.
"Kamu ini... Sakit masih sempet-sempetnya mau main". Ucapku sedikit tersenyum karena ulahnya.
Aku pun hanya melihat anak itu tidur sambil sesekali menganti kompresnya dan kudengar ia mengigau, aku hanya bisa tersenyum sambil kadang sesekali tertawa akibat ngigauannya itu. Sampai kudengar igauanya yang mulai berteriak teriak ketakutan.
"Kak... Jangan kesana kak... Jembatan itu serem.. Dinda enggak mau kesana, disana serem!!... Kak... Kakak kembar, jangan main disana Dinda takut ". Ucapnya yang mulai sedikit berteriak.
" kok dia teriak teriak sih... Dinda... Kamu kenapa... Bangun din, bangun". Ucapku sambil mengoyang goyangkan tubuhnya agar ia bangun, karena kata orang kalok ada orang yang mimpi buruk sebaiknya dibangunkan. Dan kemudian kulihat ia sudah membuka matanya dengan keringat yang sudah mengalir dari sekujur tubuhnya.
"Dinda kamu kenapa, kamu mimpi ya? ". Tanyaku sedikit panik padanya, sambil mengosok keringatnya itu.
"Aku mimpi ya... Huh, untunglah cuman mimpi". Ucapnya sambil melihat kesekeliling.
"Emang kamu mimpi apa, kok sampek teriak teriak sih? ". Tanyaku penasaran padanya.
"Aku tadi itu, mimpiin kak kembar ngajak Dinda main... Tapi ngajak mainnya ke arah jembatan, tapi Dinda takut, Dinda enggak mau. Terus kak kembar nya bilang gini... 'Ya udah kalok enggak mau, kamu bilangin kak kembar satunya ya kalok dia nyarik kakak, kakak ada disini'. Gitu kak, kakaknya ngomong gitu terus dia ilang di jembatan". Ucapnya padaku.
"Kak kembar ngomong gitu, maksud kamu kakak ya". Ucapku sambil menunjuk Diriku. Tapi ia megelengkan kepalanya dan berkata.
"Bukan kakak, tapi yang satunya dia bilang kalok kakak nyarik dia, dia ada disana". Terangnya lagi.
" Terus jembatan... Maksud kamu jembatan yang tadi kita sempet puter balik itu ya? ". Tanyaku yang masih penasaran, dan Dinda pun menggangguk yang menandakan iya.
Berati bener dugaanku, ada yang enggak beres disana, dan pasti Dira ilang disana,~batinku.
"Yaudah, kamu baring lagi ya, kamu kan masih sakit". Ucapku seraya membaringkan tubuh Dinda dan kukompresi kepalanya lagi, dan tak lama ibunya pun kembali sambil membawa obat.
"Tante dari mana aja, kok lama? ". Tanyaku padanya.
__ADS_1
"Tante masih harus ngantri ra, tadi juga banyak orang ". Ucapnya seraya duduk di tepi ranjang, dan memintaku untuk mengambilkan air, segera kuambilkan air dan diberikannya pada Dinda yang masih berbaring.
"Mudah mudahan Dinda cepet sembuh ya habis minum obat, oh ya kalok kamu mau istirahat istirahat aja". Ucap tante Andin, segera aku pun keluar dari kamar, dan saat aku keluar aku berpaspasan dengan om Hendri, ayahnya Dinda.
"Eh, kamu kan Dara, kapan sampainya... Terus kenapa kamu masuk kesini". Tanyanya padaku.
"Tapi sore om, itu sih Dindanya sakit jadi tadi tante Andin minta tolong jagain Dinda". Terangku.
" Dinda sakit, Yaudah kalok gitu kamu masuk kamar sana, om mau liat Dinda ". Ucapnya lagi, aku pun melangkah masuk kedalam kamar ku dan kembali membaringkan tubuhku.
Saat didalam kamar kulihat kearah jam dinding yang ada dikamar sudah menujukan pukul 19:45,dan ternyata cukup lama aku menjaga Dinda.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk keluar dari rumah, dengan tujuan untuk mencari Dira. Aku berniat keluar secara diam diam lewat jendela kamarku, karena tidak mau om dan tante ku tau, karena kasian mereka jika harus ikut memikirkanku.
segera kukunci kamarku terlebih dahulu, agar sekirannya mereka pikir aku sudah tidur. Lalu segera kulompati jendela kamar dan tidak lupa kututup kembali jendelanya.
"Ok, beres... Sekarang waktunya berangkat". Ucapku pelan dan berjalan secara mengendap endap keluar dari pekarangan rumah nenekku.
...******...
Saat aku berjalan, kulihat kesekeliling jalanan nampak tidak teralu sepi, karena masih ada beberapa tokoh di pinggir jalan yang buka, dan masih ada beberapa pemuda dan pemudi yang berkumpul. Lalu aku pun terus berjalan menuju jembatan, agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dira.
Sesampainya aku disana, aku berjongkok didekat semak semak, karena kulihat kearah jembatan, disana ada beberapa arwah. baik yang berbentuk hancur, yang dimana ada yang tangannya hilang, bola matanya hampir copot, tulangnya patah patah dan lain sebagainya, karena sangat menyeramkan.
"Haduh, aku harus gimana ya...Gimana caranya nyari Dira disana.... Ya kali gue musti nanyak sama mereka". Ucapku pelan seraya menggigit jari telunjukku.
Saat aku masih berpikir, tiba tiba kudengar ponselku berbunyi dan kulihat nama yang tertera disana, yaitu mamaku. karena penasaran segera kuangkat panggilan dari mamaku.
[Hallo, kenapa ma]. Tanyaku padanya.
[Oh ini, aku lagi... Hallo... Hallo ma, hallo.. Ini sinyalnya enggak ada.. Hallo]. Ucapku seolah olah kehilangan sinyal dengan menjauhkan ponselku itu dari arahku, dan kemudian segera kumatikan.
"Maaf ya ma, aku belum bisa jawab takutnya nanti mama tau aku lagi panik... Haduh musti gimana nih". Ucapku yang masih memikirkan apa yang harus aku lakukan, sampai kudengar suara seseorang dari belakangku.
"Mau aku bantu". Ucap suara yang asing ditelingaku, karena penasaran kutolehkan kepalaku kebelakang dan saat kulihat seorang pria dengan wajah pucat, sedang tersenyum padaku. Dan saat kulihat benar agaknya dia adalah Hantu karena kakinya sama sekali tidak menapak.
"Ya... Ka.. Kamu hantu... Pergi sana pliss.. ". Ucapku pelan seraya menutup mataku, aku sama sekali tidak berteriak karena takut teman temannya datang juga.
"Kamu jangan takut, aku iwan.... aku hantu baik tau... Muka aku juga enggak serem serem amat kan, coba buka mata kamu". Ucapnya lagi. Dan kubuka mataku memang benar sih dia tidak teralu seram, hanya wajahnya sedikit pucat dengan satu tangganya yang sudah hilang.
"I.. Iya, maaf ya, aku.. Aku Dara". Ucapku canggung.
"Jadi kamu mau minta tolong apa... Kenapa kamu duduk disini". Ucapnya bertanya padaku.
"Aku... Aku mau nyari sodaraku, dia hantu juga sama kayak kamu, dan wajahnya mirip sama aku. Gimana kamu kenal enggak". Tanyaku yang sudah tidak teralu takut padanya.
"Hantu... Mirip sama kamu... Oh Sih Dira ya kalok enggak salah, iya dia tadi sore ada kesini". Ucap nya sedikit antusias.
"Kamu kenal Dira, terus sekarang dia ada dimana? ". Tanyaku padanya.
"Tadi pas dia main disini, aku sempet ngobrol sama dia tentang kenapa jembatan ini angker,terus aku bilang kayaknya ada hubunganya sama rumah itu. tapi dia ngeyel, aku udah bilang sama dia jangan masuk ke sana tapi dia ngeyel". Ucap iwan menjelaskan, sambil menunjuk sebuah rumah dekat jembatan.
"Memang ada apa disana? ". Tanyaku sambil melihat rumah itu, memang rumah itu sedikit berbeda karena sangat gelap dan seperti tidak ada orang sama sekali.
"Disana... Ada kakek kakek tua yang tinggal disana, dan biasanya dipanggil pakle dan anehnya rumahnya enggak pernah sama sekali tu kulihat ada yang main kesana,palingan hantu hantu aja karena itu kemungkinan menurut ku dia sendiri disana, eh sih Dira nya ngeyel dia malah kesana, terus belum balik sampek sekarang". Terang Iwan lagi.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kakek kakek kamu bilang... Pakle.. ".
Ucapku dan aku pun mengingat sesuatu.
...------------------...
"Harun sejak kapan bisa lihat Hantu? ". Tanyaku padanya.
"Sejak pindah kerumah ini kak... Apa lagi dirumah pakle yang diujung deket jembatan Disana bahkan banyak banget". Ucapnya sambil merentangkan tangannya.
"Kamu kok tau sih, dijembatan ada juga? ". Tanya Ellin langsung padanya.
"Aku kan pernah kesana...kalok enggak percaya kalian kesana aja ". Ucapnya pada kami.
...######...
"Tadi itu diluar emang enggak ada hantu kak... Tapi ada pakle diluar, aku takut sama dia". Ucap nya sambil berbisik.
"Pakle... Pakle yang kata kamu di deket jembatan ya". Tanya Ellin padanya dan dia pun mengangguk padanya.
"Emangnya dia kenapa run". Tanya Hana padanya.
"Dia itu jahat... Kasian hantu disana, mereka dijadin pembantu... Pencuri... Dan yang lainnya, kata mereka waktu aku kesana". Ucap Harun lagi dengan nada kesal.
"Yaudah... Kamu jangan kesana.... Katamu kan dia jahat, jadi jangan kesana ya". Ucapku padanya.
...-------------------...
"oh iya, Harun kan pernah bilang soal Pakle yang rumahnya deket jembatan jadi ini, terus berati ada hantu juga ya yang dijadiin pencuri, pembantu dan lain lainnya ya wan". Tanyaku pada Iwan.
"Enggak tau juga sih, tapi pernah juga kulihat beberapa hantu masuk kesana, tapi Harun itu siapa? ". Tanyanya padaku.
"Ada adeknya temenku". Ucapku padanya.
" oh ya, Dira dia kesana... Emang sedikit aneh sih... Kalok gitu ayo kita kesana susul Dira karena pasti ada suatu hal disana". Ucapku lagi pada Iwan. Tapi kulihat raut wajahnya yang ketakutan.
"Enggak mau Dara, aku takut, dan kata hantu lain kalok bisa jangan kesana". Ucap Iwan menjelaskan.
"Memang kenapa sih". Tanyaku padanya.
"Aku enggak tahu... Tapi lebih baik jangan deh ra". Ucap Iwan lagi.
"Yaudah kamu tunggu disini ya, biar aku aja yang kesana". Ucapku seraya berjalan mengendap endap kearah rumah itu.
.......
.......
.......
.......
.......
(Bersambung)
__ADS_1