
Keesokan harinya setelah jam pelajaran selesai,berhubung sudah jam istirahat. aku pun langsung berjalan menuju kelas Satria, dengan ditemani oleh Akbar dan Ellin, karena dari kelas kami langsung menuju kesana, sehingga kami tidak bertemu dengan yang lainnya terlebih dahulu. Dan sebelumnya kami juga belum membuat janji. aku pun langsung masuk kedalam kelasnya dan disana kulihat ia sedang duduk bersama teman temannya tanpa raut penyesalan sedikit pun diwajahnya.
Dan saat ia menoleh padaku, kulihat senyum yang merekah dari bibirnya itu saat melihatku yang jujur saja aku sedang kesal karena ulahnya itu.
"Oh... Ada tamu jauh ni... Ayo masuk, duduk dulu lah". Ucapnya seraya tertawa disusul oleh teman temannya itu.
"Enggak usah basa basi deh lu... Maksud lo apaan yang kemaren... ". Ucapku seraya mengebrak meja dihadapanku.
"Ra... Elu jangan marah marah dulu dong... Emangnya lo yakin dia yang ngerusakin".tanya Ellin terkejut padaku.
Iya... Dia yang ngerusakin". Ucapku seraya menunjuknya.
"Eh.. Eh... Tunggu dulu... ". Ucapnya mengantung dan memerintahkan yang lainnya untuk pergi dari kelas... "lu punya bukti enggak kalok gue pelakunya... Karena kalok enggak ada sama aja... FITNAH.. ". Ucapnya dengan menekankan perkataannya pada bagian terakhir seraya tersenyum menyeringai, dan masih tertawa.
"Asal lo tau... Gue.. Enggak pernah nuduh orang tanpa bukti, jadii... Lo pasti ngertikan maksud gue apaan". Ucapku padanya dan duduk santai dikursi, dan seketika wajahnya jadi pucat pasih.
"Lo punya bukti ra... Wah buktinya apaan ra". Ucap Akbar dengan nada takjub padaku.
"Kasih tau enggak ya... Atau mendingan kita ngomongnya di ruang kepala sekolah aja... Biar langsung selesai". Ucapku dengan menatap tajam padanya.
"Eh... Bukti apaan, lo sama sekali enggak punya buktikan kalok gue pelaku yang udah ngerusakin motorlu". Ucapnya santai padaku.
"Kalok memang bukan elo pelakunya... Elo tau dari mana kalok yang rusak motor gue... Padahalkan gue sama sekali enggak pernah ngomong kalok yang rusak itu motor gue". Ucapku lebih santai, seraya menatap tajam kearahnya.dan kulihat wajahnya yang santai berubah jadi lebih pucat.
"Gue... Gue... Nebak aja... Soalnya elo kan miskin, enggak punya apa apa disekolah ini selain motor butut lo itu". Ucapnya sambil gelagapan, dan dengan nada marah marah.
"Kalok enggak salah, ya enggak usah marah-marah lah, sampek gagap pulak...yaudah kayaknya gue salah orang deh...oh ya... gue baru inget gue kan pernah narok kamera dimotor Dan pasti pelakunya keliatan". Ucapku yang baru beranjak dari kursi dan hendak berjalan, tiba tiba Satria berlari keluar mendahului kami.
"Mau kemana tu dia". Ucap Akbar membuka suara.
"Kena kau.. Ayo ikut gue". Ucapku yang juga berlari menyusulnya.
...*****...
Sesampainya aku dibelakang sekolah kulihat ia sedang mengotak ngatik bagian bagian motorku yang sudah rusak itu.
"Dimana.... Dimana kamerannya". Ucapnya bergumam, dan dapat kudengar dari belakangnya.
"Kamu nyari apa Sat?... Nyari kamera.... Emang lo perlu apa sama rekamannya... Kan rekamannya ada digue". Ucapku sambil mengeluarkan kamera dan menunjukannya santai padanya.
Tiba tiba saja ia langsung menarik tanganku, dan kulihat ia langsung melemparkannya ketanah dan menginjak injaknya, berusaha menghancurkannya. Karena terkejut aku pun hanya diam melihat apa yang dia lakukan.
"Kamu kenapa ngancurin kamerannya ". Tanyaku sambil mendorongnya.
"Sekarang elo enggak punya bukti lagi kalok gue pelakunya". Ucapnya seraya tertawa menyeringai padaku.
"Maksud kamu apa". Ucapku padanya.
"Iya... Karena buktinya enggak ada lagi... Gue bakalan jujur, asal lo tau.. Gue yang udah ngerusakin motor lo... Jadi kita IMPAS... Dan ambil aja tu kameranya ". Ucapnya seraya menunjuk kamera yang sudah hancur sambil berjalan menjauh dari kami,dan masih sempat sempatnya mendorongku.
__ADS_1
"Jadi buktinya ada dikamera itu ra". Ucap Akbar lirih.
"Ra... Gimana nih... Buktinya udah hancur, kita enggak bisa ngapa ngapain lagi dong". Ucap Ellin padaku.
"Tenang aja.. Ayo ikut aku... Kita keruangan kepala sekolah". Ucapku sambil berdiri, dan berjalan ketempat tujuanku.
"Tenang gimana sih ra... Orang tu buktinya udah hancur elu malah nyantai".gerutu Akbar padaku, sambil menyusulku.
...****...
Sesampainya aku diruang kepala sekolah akupun mengatakan pada kepala sekolah bahwa aku sudah tau siapa pelakunya dan kuminta dia untuk memanggil Satria, dan tak lama setelahnya Satria sudah datang dengan rombongannya, dan ia pun duduk didepanku untuk ditanyai.
"Kali ini masalahnya apa pak.. Perasaan saya enggak buat ulah". Ucapnya pada kepala sekolah.
"Kamu dipanggil kemari... Karena kata Dara, kamu sudah merusak motornya kemarin sore, dan mengantungnya di atas pohon".jelas kepala sekolah padanya.
"Buktinya apa pak... Kalok enggak punya bukti jangan main fitnah... Dan elo,elo enggak usah nuduh-nuduh gue ya... ". Ucapnya marah marah.
"Gue enggak nuduh kok, gue punya buktinya elo tadi ngaku sendiri kan". Ucapku padanya.
"Eh itu enggak bisa dijadiin bukti... Kalok begituan bisa mah... Semua orang juga bisa ngomong gitu pak, kalok ada masalah tinggal nuduh aja... Pak , bapak enggak bisa dong ma-". Ucapnya masih dengan nada marah marah, tapi berhenti saat mendengar suara rekaman yang kuputar.
...##########...
"**Kamu kenapa ngancurin kamerannya ".
"Sekarang elo enggak punya bukti lagi kalok gue pelakunya".
"Maksud kamu apa".
...############...
"I.. Itu". Ucapnya gelagapan.
"Yup... Itu adalah buktinya... Kamu tadi bilangkan kalok aku enggak bisa nuduh tanpa bukti... Nah ini aku udah bawa bukti jadi kamu mau ngembela diri gimana". Ucapku sambil menyelis padanya.
"I... Itu.. Pak sa.. Saya bisa jelasin ". Ucapnya masih gelagapan.
"Kamu udah enggak bisa ngelak Satria...jadi pelakunya kamu Satria. Bapak kecewa sama kamu... Jadi kamu harus dihukum karena kenakalan kamu, dan juga orang tua kamu harus dipanggil karena kamu harus ganti motornya Dara yang sengaja kamu rusak itu". Ucap kepala sekolahku tegas.
"Tapi pak... Dia yang mulai duluan... Dia yang udah ngembanting saya.. Karena itu saya bales". Ucapnya berusaha membela diri.
"Ih... Gue gaplok juga tu bibir... Eh yang meluk meluk duluan itu siapa elu kan... Karena itu Dara ngembanting lo". Ucap Akbar membelaku.
"Apa itu betul Dara". Tanya kepala sekolah padaku. Dan aku pun mengangguk padanya.
Setelah meminta keterangan kami, kami pun diminta untuk keluar karena urusan kami sudah selesai dan kembali kekelas untuk melanjutkan pelajaran. dan hanya tinggal Satria saja disana sambil menunggu kedatangan orang tuanya.
...*****...
__ADS_1
"Kena juga tu dia... Kasian banget deh". Ucap Ellin sembari tertawa.
"Ra... Elo kan bilangnya buktinya ada di kamera, tapi kenapa bisa ada di hp lo? ". Tanya Akbar padaku.
"Itulah yang enggak lo tau bar... Dan rencana gue dan Dira sukses besar.... Karena dia yang mudah banget kemakan umpannya". Ucapku seraya tersenyum.
...-------------------...
Flasback
Ya, pakek dendam lagi...baperan banget dia... Udah bales dendamnya para banget lagi... Terus aku musti ngumpulin bukti gimana ya biar dia ngaku". Ucapku padanya.
"Gampang sini aku bisikin". Ucap Dira seraya berbisik padaku.
...*******...
"Jadi elo nanti jebak dia aja... Dengan cara datengin dia kekelasnya dan lo bilang bahwa dia pelakunya... otomatis dia pastinya enggak bakalan ngaku kan, jadi masuk rencana kedua elu bilang bahwa lo punya buktinya yaitu rekaman yang lo pasang dimotor lo... dan pasti dia bakalan kesana kan, dan lo langsung rekam aja karena pastinya dia bakalan ngaku". Bisik Dira panjang lebar padaku.
...*******...
"Oke... Oke... Oh ya, kamu kok bisa tau sih dia yang ngerusakin? ". Tanyaku padanya.
Tau dong... Soalnya segala hal yang berhubungan dengan kamu aku tau". Ucapnya padaku.
...---------------------...
"Oh jadi Dira yang kasih tau... "Ucap Akbar dan Ellin bersamaan. Dan aku oun mengangguk padanya.
"Iya, kalok dia enggak kasih tau.. Aku juga enggak bakalan tau". Ucapku santai padanya.
"Oh ya ra... Nanti lo harus neraktir kita ya... Soalnya kita kan enggak makan karena nemenin lo... Haduh gue laper banget belom makan soalnya ". Ucap Akbar dengan muka masam.
"Jadi elo enggak ikhlas bar". Ucap Ellin padanya.
"Bukan enggak ikhlas lin, cuman kan ya minta gratis lah sekali kali... Hehehe". Ucapnya sembari tertawa.
"Oke... Oke... Nanti kalok motor gue udah diganti gue bakalan traktirin lo ya". Ucapku padanya.
Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju kelas karena, jam istirahat sudah habis.
.... ...
.... ...
.......
.... ...
.... ...
__ADS_1
(Bersambung)