
Sesampainnya aku dirumah, ku ketuk pintu rumah ku beberapa kali, hingga akhirnya kulihat mama dan papaku membukakan pintu untukku. Kulihat raut cemas dari wajah mereka saat melihatku, dan mamaku langsung memelukku.
"Kamu kenapa baru sampai nak?... Kata om kamu, kamu sore udah berangkat, tapi kenapa sampeknya jam 10 nak? ". Tanya mamaku sambil membalik balikkan badan ku.
"Iya mama... Maaf Dara tadi nyasar". Seruku padanya. Dan saat masih berbicara denganku, tiba tiba papaku membuka suaranya.
"Maaf bapak berdua ini siapa ya? ". Tanya papaku membuka suara, dan bertanya kepada 2bapak tadi.
"Pak.. Kenalin ini pak Jaka, dan ini pak Udin, mereka yang nolongin Dara, karena tadi Dara kesasar". Jelasku pada Papaku.
"Kesasar, kok bisa? ". Tanya mamaku bertambah panik.
"Salah naik bus tadi ma". Singkatku lagi.
"Makasih ya pak... Karena telah mengantar anak kami". Ucap mamaku ramah pada mereka.
"Iya bapak bapak..... Makasih banyak ya pak... Ini silahkan masuk dulu kedalam... ". Ajak papaku pada 2 orang itu.
"Enggak usah pak". Ucap pak Udin.
"Terima kasih pak... Tapi maaf kita harus pergi karena kita masih harus ngeronda di kampung". Jelas pak Jaka itu ramah.
"Oh gitu... Yaudah makasih ya pak... Dan maaf karena anak kami merepotkan". Seru papaku lagi pada 2 orang itu, dan kulihat mereka hanya mengangguk kan kepala mereka, dan kemudian mereka pun berjalan kearah motornya dan sudah menaiki motor mereka dan pergi.
...********...
Kami pun masuk kedalam rumah, dan aku sempat ditanyai beberapa pertannyaan dan hanya aku jawab seadannya saja sesuai dengan kebenarannya, kecuali tentang bus itu.
Dan setelah kedua orang tuaku menanyai pertannyaan yang ingin mereka tanyakan padaku, kami pun pergi kedapur dan mereka pun mengajakku untuk makan, ternyata mereka pun juga belum makan karena terlalu khawatir menungguku yang belum pulang.
Aku pun melamun karena merasa bersalah selama duduk dimeja makan, bersalah karena hanya karena aku mereka berdua jadi tidak makan, bersalah karena mereka belum tidur karena menungguku. Dan aku juga bersalah karena aku mereka jadi khawatir.
Lamunanku pun berhenti saat tiba tiba saja suara mamaku mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku.
"Dara kamu kenapa enggak makan... Makan nak, nanti kamu sakit". Lirih mamaku menatapku. Dan seketika air mataku pun langsung menetes melihat mereka berdua.
"Kamu kenapa nangis nak?... Enggak baik kalok lagi makan kamunya nangis". Ucap papaku juga menimpali.
"Maafin Dara ma, pa... Karena Dara kalian jadi telat makan... Hik.. Hik... Hik.. ". Ucapku yang sudah menitihkan air mata sambil memeluk mereka.
"Eh... Kok kamu jadi tambah kenceng nangisnya... Udah jangan nangis ya... Entar mamamu jadi nangis". Ucap papaku dengan nada mengejek.
"Ish apaan sih nih papa kamu.... Udah jangan nangis lagi ya nak... ". Ucap mamaku juga menenangkanku.
"Dara terharu aja ma... Karena kalian udah rela belum makan nungguin Dara". Ucapku sesengukan.
__ADS_1
"Mama dan papa kan sayang sama kamu... Sayang juga sama Dira, meskipun dia udah enggak ada... Karena itu mama sama papa mau memperbaiki kesalahan kita dulu sama kalian". Lirih mamaku dengan mata yang berkaca kaca.
"Tuh kan... Mama kamu jadi nangis... Cup.. Cup.. Cup, nanti jeleknya nambah". Ejek papaku lagi.
"Ish... Aku enggak nangis". Ucap mamaku mengelap air matanya.
Dan aku hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuaku yang seperti anak kecil. Setelah puas mendengar mereka saling mengejek, kami pun mulai melanjutkan makan kami lagi, dan setelah makan, ku bereskan meja makan sendiri karena aku kasian jika mamaku juga harus membantuku.
Ku cuci piring dan sendok bekas makan kami tadi, dan kemudian ku lap meja makan, kemudian setelah selesai, aku pun naik keatas menuju kamarku.
...**********...
Sesampainya aku diatas kulihat Dira yang nampak sedang terduduk lesu di lantai sambil menundukan wajahnya ke bawah. Sehingga aku pun menjadi penasaran apa yang sedang terjadi padanya.
"Dira... Kamu kenapa?.. Kok lesu gitu? ". Tanyaku sambil menghampirinya.
"Enggak pa pa... Aku sedih aja denger kalian ngomong tadi! ". Jelasnya padaku.
"Jadi karena itu? ... Kamu udah tau kan sebenernya mama dan papa itu sayang sama kita... Mereka juga sayang sama kamu". Ucapku sambil memegang pundaknya. Dan ia pun hanya mengangguk padaku.
"Udah kamu jangan sedih ya... Aku mau mandi dulu... Habis itu aku mau tidur... Udah malem banget nih". Jelasku padanya dan segera aku pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diriku.
...********...
Setelah selesai mandi, ku kenakan baju tidurku, kemudian segera kukeringkan rambutku dengan hair dryer dan barulah aku keluar dari dalam kamar mandi dan saat aku sudah keluar kulihat Dira sudah berpindah posisi dari sebelumnya duduk dilantai kini ia malah naik keatas tempat tidur dengan memainkan ponselku.
Aku pun langsung berjalan menghampirinya dan duduk tepat disampingnya. Sambil melihat apa yang sedang ia lakukan dengan ponselku itu.
"Kamu ngapain sama hp aku". Tanyaku berbasa basi padanya.
"Ini aku lagi... Em.. Kamu enggak boleh tau". Ucapnya lagi malah menutup layar ponselku. Sehingga aku pun menjadi semakin penasaran karenanya.
"Siniin hpnya.... Coba aku liat". Ucapku sambil menarik ponselku, dan ia malah ikut menariknya, sehingga terjadilah lomba tarik menarik ponsel antara kami.
Aku terus menariknya sambil kadang sesekali kulihat ia juga nampak kesusahan saat ingin menarik ponselku dari cengraman tanganku.
"Dara... Enggak usah, nanti aja aku masih butuh nih hp". Teriaknya disela sela tarikannya.
"Enggak mau... Aku mau liat kamu lagi apa? ". Tanyaku tak mau kalah.
"Nanti aja.. Saat waktunya tepat". Ucapnya lagi.
"Enggak ada , enggak ada , waktu tepat.... Pokonya sekarang!! ". Ucapku lagi sedikit berteriak.
Dan saat aku masih kesusahan menarik ponsel yang ada di tangan Dira, tiba tiba saja aku langsung melepaskan tarikanku padanya,dan beranjak dari dudukku karena ada sesuatu hal yang lebih penting dari ponselku itu. Dan karena aku melepaskan tarikanku dari nya, alhasil ia pun langsung terjengkang ke belakang.
__ADS_1
Brukk~
"Aduh... Kepalaku... Kenapa kamu ngelepas duluan sih?... Kepalaku sakit tau kepentok dinding". Gerutu Dira pada ku sambil mengelus ngelus kepalanya.
"Maaf Dira!!... Tuh kan aku bocor". Seruku saat melihat bagian belakang ku sudah sedikit berdarah.
"Dira... itu apa namanya... Pembalut... Pembalutku mana ya?.... Aku kayaknya udah dapet nih". Ucapku sambil memegangi bagian belakangku sambil berjalan kearah lemariku mencari benda yang saat ini aku butuhkan.
"Aduh... Kemana sih?... Dira pembalutku yang dilemari mana?.. Kok enggak ada, kamu mainin ya? ". Tanyaku tak henti hentinya padanya.
"Enggak ada!! ... Bukannya kemarin yang terkahir kamu taruh ditas yang untuk camping itu ya... Mungkin ada disitu". Ucapnya padaku.
Dan tanpa membalas ucapannya lagi aku pun langsung berjalan kearah tempat gantungan dan ku ambil tas yang kubawa saat camping waktu itu.
Ku keluarkan segala isi tas ku sampai akhirnya aku pun menemukan apa yang aku cari, dan tanpa membereskan tas ku itu lagi, aku langsung berlari kedalam kamar mandi, sambil membawa satu pembalut dan bergegas menggantinya.
"Tch!! .... Kenapa tadi enggak kena pas aku lagi mandi sih... Kalok gini kan nambahin kerjaan aja". Gerutuku sambil menganti pembalutku.
Dan setelah selesai, kuletakan celanaku yang sudah terlanjur terkena tadi kedalam ember dan kurendam terlebih dahulu, dan kuganti dengan yang baru, kemudian setelahnya aku pun langsung keluar dari kamar mandi.
tanpa banyak bicara aku pun langsung berbaring diatas kasurku. Karena tiba tiba saja perutku menjadi kram karena aku sedang menstuarsi.
"Kenapa ra? ". Tanya Dira padaku.
"Perutku sakit... Jadi kamu jangan berisik dulu ya". Singkatku memegangi perutku.
"Iya gue tau sakit... Tapi ngomong ngomong itu tas nya jangan lupa diberesin ya... Enggak usah kebiasaan habis ngemberantakin elonya malah tiduran". Gerutunya padaku, sehingga aku pun sedikit kesal karena saat perutku masih sakit, ia masih sempat sempatnya menyuruhku.
"Besok aja... Perutku sakit nih!! ... Udah kamu pergi sana aku mau tidur... ". Gerutuku padanya sambil melempar satu bantal dan kembali berbaring dengan bantal yang satunya.
"Terserah elo deh... Yaudah gue pergi dulu... Bayy!! ". Serunya yang masih kudengar dan tak lama setelahnya sepertinya ia sudah pergi dari kamarku karena suaranya sudah tidak ada lagi. Sehingga aku pun hanya memejamkan mataku menahan rasa sakit.
Hingga akhirnya aku pun bisa tidur juga.
.......
.......
.......
.......
.......
(Bersambung)
__ADS_1