
Keesokan paginya saat aku masih setengah tidur samar samar kudengar suara tanteku berbicara dengan hebohnya,dan juga ada suara nenek dan omku. karena penasaran aku pun keluar dari kamar.
"Ada apa sih tante kok pagi pagi tante berisik banget". Ujarku yang sudah duduk dan memakan pisang goreng buatannya.
"Ih ini anak gadis baru bangun... Akhirnya ketinggalan berita kan". Ucapnya padaku.
"Kenapa sih om? ". Tanyaku yang masih penasaran.
"Itu anaknya kakek yang tinggal di deket jembatan sebelumnya anaknya sempet dilaporin hilang sewaktu hendak mau menikah, tapi sudah dinyatakan meninggal karena enggak ketemu dan sekarang jasadnya baru ketemu, dan katanya dibekuin sama anak pak RT lo". Terang omku, yang sontak saja aku pun tersendak karena mendengarnya.
"Huk... Huk... Huk..
"Kenapa pakek kesedek sih, makannya makan itu hati hati... Ini minum dulu? ". Ujar nenekku sambil menyodorkan air padaku.
"Kok kalian bisa tau sih? ". Tanyaku setelah selesai minum, dan tidak menjawab pertanyan nenekku, sambil melihat mereka secara bergantian.
"Ya tau lah... Orang semua tetangga udah rame pada ngomongnya , dan katanya anak pak RT sih Andre juga udah di tangkep, selain tuduhan pembunuhan tapi juga pencemaran nama baik... Dan katanya pemakaman sih Ayu bakalan pagi ini kira kira jam 10 nanti". Ucap tanteku menimpali.
"Jadi tante, nenek, sama om bakakan ngelayat dong". Ucapku pada mereka lagi.
"Iya lah... Sekalian kita juga mau minta maaf... Kan karena fitnah dari sih Andre tu, bapaknya Ayu terpaksa di asingin". Ucap tanteku lagi.
"Ya lagian siapa suruh percaya gosip ya kan buk, ra". Ucap omku, dan sontak saja tanteku pun langsung melotot pada nya.
"Eh saya berangkat kerja dulu ya.. Bu, ra, dan istriku". Ujar omku seraya berlari kecil keluar.
"Su.. a.. miii, takut is... tri... ". Ucapku seraya bernyanyi kecil.
"Apa ra... Tante enggak denger". Ucap tanteku yang sudah mengangkat centong nasi sambil menatap tajam kearahku.
"Eh itu tante, sih Dinda mau susu... Nek aku mandi dulu ya, nanti siang mau pulang". Ucapku yang juga segera masuk kedalam kamar, dan mengambil pakaianku, dan segera mandi.
...*****...
Selesainya aku mandi, tidak lupa kubereskan barang barangku. Sebenarnya kami akan pulang pagi ini, tapi berhubung adanya pemakaman Ayu, jadi kami pun memutuskan untuk menundanya hingga siang nanti selepas pemakamannya.
Dan kulihat nenek dan tanteku sudah bersiap siap hendak pergi kerumah duka. Mereka juga mengajakku untuk kesana jadi kuganti pakaian ku dengan warna hitam.
Kami pun pergi bersama sama dengan berjalan kaki, dan sesampainnya kami disana, kulihat didepan rumah bapak Ayu sudah ada teman temanku dan juga sudah ada para warga, yang sedang meminta maaf pada bapaknya Ayu, dan sebagainya.
Kami pun masuk kesana, dan kudengar para warga sudah membacakan surat Yasin, dan didekat jasad Ayu kulihat seorang pria menangis histeris dan bisa kutebak dia adalah Herman calon suaminya Ayu.
Segera aku pun duduk disamping teman temanku. Dan kulihat didekat pojokan dinding disana ada Ayu yang diraut wajahnya ada sedih dan juga ada rasa bahagia disana, dan disampinya ada Dira. Pantas saja saat aku bangun ia tidak ada karena ternyata dia disini sedari pagi tadi.
"Ra... Kasian ya dia... Pasti sedih banget". Ucap Akbar padaku, dan hanya aku tanggapi dengan anggukan saja.
Dan kulihat Ayu perlahan melayang mendekat kearahku, seraya berbisik sesuatu padaku dan ternyata itu adalah keinginan terakhirnya. akhirnya aku pun mengerti keinginan terakhir darinya dan sebisa mungkin akan aku sampaikan.
dan akhirnya jasad Ayu pun dimandikan oleh para ibu ibu, dan kemudian di kafani, setelah itu kulihat barulah jasad Ayu akan dibawa ke pemakaman terdekat.
...********...
Setelah jasad ayu di kebumikan, para warga mulai pergi dari tempat pemakaman, hanya tersisa aku dan teman temanku, juga Herman dan bapaknya Ayu disini.
Kulihat kearah Ayu yang sedang menatapku, dengan nanar yang sedih. Segera aku pun berjalan mendekat kearah Herman dan bapaknya Ayu.
"Kamu pasti Herman ya.. Calon suaminya Ayu". Ucapku berhati hati. Dan kulihat ia melihat ku sekilas dan kemudian melihat bapak Ayu yang mengangguk padanya.
"Kamu siapa". Tanyanya sedikit gelagapan.
"Aku Dara... Aku... Aku disini mau nyampein pesan terakhir dari Ayu buat kamu". Ujarku ingin menyampaikan pesan Ayu.
"Kamu kenal Ayu... Dia... Dia kasih pesan terakhir apa sama kamu ". Tanyanya padaku.
"Ayu bilang gini".
...---------------------...
Ra tolong kamu bilang sama Herman ya... Untuk lupain Aku, tolong bilang sama dia untuk lanjutin hidupnya kayak dulu, tanpa ada aku disisinya. Bilang sama dia jangan kayak gini karena aku sedih liat dia nyiksa dirinya sendiri kayak gini... Kalok misalnya kita berjodoh pasti bakalan ketemu lagi kok.
...--------------------...
"Dia... Mau kamu lupain dia dan hidup normal layaknya kehidupan kamu yang dulu... Dan kalok kalian jodoh pasti bakalan ketemu lagi". Ucapku pada Herman.
"Ayu... Ayu bilang gitu... Kalok memang itu maunya aku bakalan lakuin yu... Biar kamu senang disana". Ujarnya yang masih menangis sambil memeluk papan nisan Ayu.
"Sabar ya nak... Ayu lakuin itu buat kamu.. Biar kamu bisa hidup kayak biasanya". Ucap bapanya Ayu menenangkan Herman.
"Dan untuk bapak Ayu juga nitip pesan, dan pesannya... ".
...----------------...
Bapak maafin Ayu ya... Karena Ayu belum bisa banggain bapak... Ayu harap bapak bisa hidup bahagia dan selalu sehat ya pak. bapak udah bebas dari fitnahnya Andre... Bapak baik baik ya disini... Nanti kalok udah waktunya kita bakalan ketemu lagi.
...----------------...
"Ayu Harap bapak bisa hidup bahagia... Tanpa fitnah dari Andre lagi... Dan bapak juga harus sehat sehat ya". Ucapku mengulang perkataan Ayu.
"Ayu... Anak bapak... Iya pasti... Pasti bapak bakalan bahagia... Kita nanti ketemu disana ya nak kalok udah waktunya". Ucap bapak Ayu yang sudah tak kuasa menahan tangis, dan menutup matanya.
Dan tak lama setelahnya, saat bapak Ayu dan Herman masih menagis terisak, tiba tiba dari arah belakang Ayu sudah muncul sebuah cahaya terang dan kulihat ia pun akan pergi dan tidak lupa ia masih sempat sempatnya berpamitan dengan Dira seraya kemudian melambai pada kami semua.
__ADS_1
Setelah Ayu masuk kesana Ia pun menghilang dari hadapan kami semua, ada raut bahagia dalam hatiku karena berhasil menolongnya, tapi juga ada sedih karena Harus berpisah.
...******...
Lalu setelah cukup lama kami disini, aku dan teman teman ku pun memutuskan untuk pulang, dan kami pun izin pada mereka, dan kemudian pulang.
"Aku sedih banget ra... Liat Ayu pergi.. Huaa". Ucap Akbar yang sudah mengeluarkan air mata.
"Cup... Cup... Cup". Ujar Haris padanya.
"Udahlah bar pakek nangis.... Kayak cewek aja". Ucap Adit pada Akbar.
"Gue kan sedih dit... Dan masa kalok ada yang meninggal masa enggak boleh nangis sih". Ucapnya lagi.
"Udahlah bar... Entar Ayu balik lagi loh kalok kamu nangis karena dia enggak tenang... Mau kamu dia pulang lagi disini". Ucapku padanya dengan sedikit menakut nakuti.
"Enggak mau a ra... Takut... ". Ucapnya lagi dan kami pun tertawa melihat raut wajahnya.
"Oh ya ra... Nanti suatu saat Dira bakalan pergi kayak gitu juga ya". Tanya Hana yang sejak tadi diam dan membuka suara.
Sontak saja kami semua pun berhenti berjalan, dan aku juga terdiam karena pertanyyannya itu. Sampai Dira membuka suaranya.
"Hana... Cepat atau lambat semua manusia akan meninggal... Dan aku juga udah meninggal, cuman aku belum balik karena aku masih ada urusan yang belum terselesaikan aja... Nanti kalok udah beres aku juga harus pergi karena sebenernya dunia manusia udah bukan dunia ku lagi". Ucap Dira dengan raut senyum. Tapi bisa kulihat juga ada sedih disana.
"Tapi Dira... Aku enggak mau pisah sama kamu... Huaa". Ucap Hana yang sudah menangis sambil memeluk Dira.
"Cup... Cup... Cup.. Kalok gitu mati aja mau.. Biar kita sama sama... ". Ucap Dira santai padanya. Dan Hana pun langsung melepaskan pelukannya.
"Emang harus gitu ya ra... Kok aku agak ngeri ya kalok caranya gitu". Ucap Hana sedikit cengengesan.
"Hahaha... Ya enggak lah... Itu tau takut mati... Tapi pakek sedih karena pisah... Enggak usah sedih... Selama aku masih disini kita isi waktu kita dengan happy happy". Ucap Dira bersemangat.
"Iya betul tu katanya Dira.... Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, hanya kitanya aja yang harus pandai mengisi waktu itu aja sebelum perpisahan... Udahlah sedih sedihnya, ayo kita pulang, sebelum tengah Hari". Ucap Alex yang juga dengan raut cerianya.
Kami pun berjalan kerumah nenekku terlebih dahulu, untuk mengambil tas ku, dan aku pun berpamitan pada mereka untuk pulang. Lalu kami pun kembali berjalan kerumah Hana.
...*****...
Lalu kami pun masuk kedalam mobil dan, mobil kami pun berjalan, meninggalkan pekarangan rumah Hana, setelah berpamitan dengan orang tua Hana dan Haris.
Diperjalanan kami sesekali berbicara sambil tertawa akibat ulah Dira dan Akbar yang tidak habis habisnya berebut tempat duduk.
Dan kami juga berhenti disebuah masjid dekat jalan yang kami lalui karena sudah masuk waktu solat. Lalu Akbar, Adit, Hana Dan Haris pun turun dari mobil untuk solat, ya meskipun kami berbeda Agama kami semua sama sekali tidak membeda bedakan agama masing masing, selama kami bisa saling menghargai satu sama lain.
Selepasnya mereka solat, kami pun berjalan kesebuah warung makan dekat masjid untuk makan. Kami pun makan dan setelahnya melanjutkan perjalanan dan dengan supirnya diganti oleh Alex yang awalnya Oleh Adit.
Saat diperjalanan tiba tiba, kami dihadang oleh sekumpulan penjahat, yang sudah ada didepan kami. Yang sontak saja membuat Alex mengerem mendadak karena ada salah seorang yang melompat kedepan mobil.
"Hei... Turun kalian dari mobil". Teriak seseorang yang sudah mengetuk ngetuk jendela.
"Dara suruh Alex gas aja... Mereka punya niatan jahat sama kita". Ujar Dira padaku.
belum sempat aku berbicara , Akbar sudah lebih dulu menyuruh Alex untuk menjalankan mobilnya, Alex pun langsung menggas mobilnya tapi baru berjalan beberapa meter tiba tiba mobil kami berhenti karena ban nya kempes.
"S*al, kayaknya mereka udah nebarin paku dijalan". Ucap Alex pada kami, sontak saja kami semua pun langsung panik karenanya.
"Apa... ternyata mereka udah punya rencana serep". Ucapku kesal.
"Haduh gimana nih". Ucap Ellin yang juga panik.
"Hei.. Turun kalian atau kaca mobil ini bakalan pecah". Ucap salah satu penjahat itu, kami semua pun langsung turun dan mengangkat tangan kami.
Dan kulihat, disana ada 4orang penjahat yang sedang menodong kami dengan pisau, dan balok kayu.
"Dira gimana nih". Ucapku panik pada Dira disampingku.
"Kita tunggu dulu ra... Mereka mau apa... Tenang aja aku bakalan lindungin kalian". Ucap Dira santai padaku.
"Om... Abang.. Lepasin kita ya... Kalian mau tu mobil kan tu ambil aja, tapi jangan kita ya". Ucap Akbar pada mereka.
"Awalnya sih iya... Tapi ni cewek cewek lumayan juga ya". Ujar penjahat satunya lagi dengan seringai diwajahnya.
"Hei... Maksud kalian apa... Kalok mau mobilnya ya mobilnya aja.. Enggak usah kurang ajar ya". Ucap Adit yang sudah teriak sangking kesalnya.
"He.. Lo diem anak ingusan, mau gue tusuk lo..". Ujarnya lagi pada Adit, dan dengan kode kodenya pada temannya tiba tiba mereka semua langsung berjalan dan memegang tangan kami semua.
"Lepasin... Lepasin... ". Ucap kami semua ya sambil berteriak.
"Dira gimana nih". Ucap Akbar dan Hana bersamaaan yang juga panik dan memberontak.
Saat aku masih memberontak untuk melepaskan diri dari cengraman mereka. Tiba tiba saja aku terkejut saat merasa suatu hal masuk kedalam diriku, karena seperti sebuah setruman beberapa vol saja. Dan aku pun tidak bisa mengerakan tubuhku, yang hanya bisa kudengar hanya panggilan dari teman temanku. dan yang hanya aku lihat pandanganku menatap kebawah, sampai tiba tiba kuangkatkan kepalaku, tapi anehnya bukan aku yang melakukannya dan saat aku lihat seseorang mengendalikan ku, dan dia adalah Dira, sampai kesadaranku pun perlahan menghilang.
.......
.......
.......
*Adit pov*
Saat aku masih memberontak untuk melepaskan tubuhku dari cengraman seorang pria yang jelas lebih besar dariku, aku terkejut saat melihat tiba tiba Dara seperti tersentak, dan tiba tiba ia menunduk. Sontak saja karena khwatir, aku dan yang lain memanggil manggil namanya. Tapi ia hanya menunduk sampai kulihat ia mengangkat kepalanya, tapi Anehnya tatapan matanya kosong seperti tidak ada jiwanya saja.
__ADS_1
Dan yang lebih mengejutkan lagi saat ia tiba tiba, tersenyum dan melepaskan cengraman dari pria itu, dengan mendorongnya hingga tersungkur ketanah. sambil tertawa cekikikan yang aku yakini dia bukanlah Dara, apakah dia Dira sih hantu itu.
"Hai... Kalian ini kasar sekali ya... Gue dari tadi diam padahal, tapi kalian... Ha... Bikin gue capek tau... Khikk... Khik... Khik... Hei guci selow lah enggak usah tegang kali... Biar gue yang nanganin mereka". Ucap Dara yang masih dengan tawanya, yang entah mengapa aku merinding dibuatnya.
" eh dia Dira". Singkat Akbar , dan ternyata memang benar dugaanku tadi.
"Hei kenapa kamu diam tangkap cewek itu". Perintah dari pria yang memegangku.
Sontak saja seorang yang jatuh tadi berdiri lagi dan hendak menangkap Dara tapi dia malah terpetal dibuatnya.
"Dasar enggak berguna... Serang". Ucap pria yang memegangku dan sudah melepaskan ku tapi kini mereka mulai menyerang Dara.aku dan teman temanku pun berkumpul, sambil melihatnya.
"Hati hati ra". Teriakku pada Dara.
"Dia Dira lo Dit". Ucap Akbar padaku.
"Eh iya Hati hati Dira". Ulangku.
Kulihat mereka dengan bengisnya menyerang seorang wanita dengan pisau, dan balok kayu, tapi untungnya saja Dara dikendalikan oleh Dira sehingga ia bisa menanganinya. Saat Dara sudah menang, tanpa kami sangka seorang penjahat sudah berdiri di belakang kami dengan menodongkan sebuah pisau pada Hana. Yang sontak saja Dara langsung terdiam melihatnya.
"Jangan bergerak... Atau temen kalian bakalan mati". Ucapnya sambil mengancam dengan pisau yang ada pada leher Hana.
"Eh... Br*ngsek, kalok berani maju sini jangan berani pakek tawanan". Ucap Dara santai.
"Kamu mau teman mu mati ha". Teriak penjahat itu lagi.
"Lepasin temen kita enggak". Ucap Alex menimpali.
"Kalian cepet menyerah atau, temen-.
Belum sempat ia berbicara Dara sudah kembali berbicara.
"Atau temen kalian bakalan mati... Udah basi tau enggak... dari tadi ngancem nya gitu gitu aja... Tapi mana enggak mati mati kan ya, lagian kalok temen gue mati, lu juga bakalan nyusul". Ucap Dira sambil mengambil sebuah balok kayu dan menaruhnya dipundaknya dengan santai. Dan kulihat kearah penjahat itu yang menelan salivanya dengan kesusahan.
Dan saat pria itu ingin kembali berucap tiba tiba datang seorang pria serba hitam, dari belakangnya dan sudah menghajar pria jahat itu sampai pingsan.
Setelah selesai menolong kami pria itu pun melihat sekilas kearah Dara dan tiba tiba ia berlari saat Hana dan Ellin hendak mengejarnya.
"Tunggu... Tunggu... Gak usah dikejar". Ucap Dara pada kami.
"Tapi ra... Dia kan yang waktu itu... Kok sekarang dia nolongin kita, berati dia enggak jahat dong". Ucap Ellin pada Dara.
"Gue bukan Dara... gue Dira... Dan yang paling penting... Kalian cepet ganti ban mobil nya, terus telpon polisi, dan kita pulang deh, aku juga mau keluar dari tubuhnya Dara kasian dia... Kalian tangkep ya... ". Ucapnya dan tiba tiba saja kulihat Dara langsung oleng dan hendak jatuh tapi segera kami pun menangkapnya.
...******...
Dan kami pun segera meletakan Dara dekat sebuah pohon untuk berteduk disana, dengan Hana dan Akbar yang menemaninya, sementara Alex dan Ellin mengganti ban mobilnya, aku dan Haris mengikat para penjahat itu.
Setelah ban kami terpasang, tak lama setelahnya polisi juga sudah datang dan segera meringkus para penjahat yang sudah babak belur itu. Setelah urusan kami selesai dengan para polisi kami pun masuk kembali kedalam mobil untuk pergi. Karena memang kata polisi bahwa jalanan yang kami lalui ini adalah jalanan yang rawan begal. Sehingga 2orang petugal kepolisian diminta untuk mengawal kami hingga keluar dari jalanan ini.
*Adit pov and*
.......
.......
.......
Aku pun terbangun dan segera membetulkan posisi berbaring ku keposisi duduk, karena sebelumnya aku dipangku oleh Hana.
Kupengangi kepala ku yang masih sakit, karena aku juga tidak mengingat apa yang terjadi, tapi yang terakhir kali kuingat hanya lah Dira yang masuk ketubuhku saja.
"Kamu enggak pa pa ra". Tanya Hana padaku.
"iya... Cuman badan ku aja yang agak sakit... Ini kita udah sampai mana". Ucapku pelan.
"Udah hampir sampai kok ra... Tadi itu untung ada Dira tau gak yang masuk kebadanmu, kalok enggak enggak tau deh kita bakalan diapain sama mereka". Ucap Hana lagi padaku.
"Dira". Singakku.
"Iya ra... Akhirnya untuk pertama kalinya gue baru tau ternyata Dira itu berguna juga ya". Ucap Akbar kini.
"Gigimu itu yang enggak berguna". Ucap Dira pada Akbar. Dan seperti biasanya mereka pun mulai berdebat lagi.
"Oh ya ra... Cowok yang baju item itu juga nolongin kita lo". Ucap Ellin padaku.
"Cowok... Baju item". Ucapku sambil mengeryinkan dahiku.
"Iya yang waktu itu di pasar". Ucapnya lagi.
"Terus dia kemana... Apa lari lagi". Tanyaku dan dia pun mengangguk.
Aku pun kembali menyenderkan kepalaku, karena badan dan kepalaku masih sedikit sakit karena tadi.sehingga aku masih malas untuk berpikir.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
(Bersambung)