
Dimalam harinya, seperti biasanya setelah aku makan aku pun hanya diam dikamarku, mengecek tugas dari guru, kemudian barulah aku memainkan ponselku. Sampai aku teringat kejadian tadi, sepulang sekolah, segera kuminta no wa Hana dari Haris kemudian aku pun memintanya untuk mesave no ku.
"Dira.... Dira sini dong aku mau ngomong". Ucapku dan kemudian dia pun sudah muncul di hadapanku.
"Widih... Cepet banget, pesawat tempur aja kalah... Dari mana lu". Ucapku sambil terkekeh melihatnya.
"Gak usah kepo dan gak usah basa basi lah.... Mau apa? ". Ucapnya padaku.
"Ini aku cuman mau bilang.... Soal Hana, bener ya emangnya elu sama dia sahabatan gitu... ". Ucapku padanya, dan dia hanyak mengangguk padaku.
"Ha.... Coba aja dia bisa liat aku... Pasti bakalan seneng banget deh... Tapi ya". Ucapnya dengan nada sedih.
"Tapi ngapa? ". Tanyaku padanya.
"Tapi ya karena dia enggak indigo lah... Pakek nanyak lagi". Ucapnya lagi dengan nada ketus.
"Biasa aja ngomongnya enggak usah ketus banget... Udahlah pergilah, aku mau istirahat". Ucapku sambil melempar bantal kearahnya dan seketika ia pun hilang dari hadapanku.
...*****...
Keesokan pagi, aku pergi kesekolah, tapi kali ini aku tidak membawa motorku karena sedang dipinjam oleh tetanggaku sehingga aku harus naik kendaraan umum seperti biasanya. Lalu aku pun menaiki bus, dan didalam bus ini ada beberapa orang didalamnya, aku pun memutuskan untuk duduk dikursi tengah.
"Kenapa sih ra, musti naik bus... Lagian itu motornya ngapain lagi dipinjemin segala. Kan kita jadi susah kalok gini". Gerutu Dira padaku.
"udahlah diem aja... Kayak baru aja naik bus ". Ucapku padanya.
"Aduh dek.. Saya mah udah biasa naik bus, dan lagian maaf atuh kalok saya berisik". Ucap seorang pria parubaya yang ada di kursi depanku.
"Eh itu... Maaf pak, saya bukan nyuruh bapak diem kok, tapi ini saya lagi... Lagi... Ngomong sendiri, heheh". Ucapku sedikit cengengesan.
"Oh, saya kira ngomong sama saya atuh". Ucapnya dan kembali menghadap kedepan.
Lalu aku pun hanya diam dengan sekali kali melihat kearah Dira yang tidak henti hentinya berbicara, meratapi motor yang kupinjamkan kepada tetangga.
bus yang kunaiki ini biasanya akan berhenti dibeberapa halte untuk menjemput penumpang lainnya, sebelum berhenti tepat di sekolahku. Dan saat kami berhenti dibeberapa halte sama sekali tidak ada penumpang, sampai kami berhenti disebuah halte dan masuklah seorang pria dengan menggunakan jaket dan masker serba hitam. Dia berjalan dan duduk tepat dibelakangku.
"Ra... Ni orang siapa ya... Kok pakek item semua, enggak panas kali ya... Mana ketutupan semuanya". Ucap Dira padaku, dan aku hanya menggeleng padanya. Karena tidak mungkinkan aku terang terangan melihat orang itu.
...*****...
lalu tak lama bus kami pun telah sampai di sekolah segera aku turun dari dalam bus itu, dan masuk ke lingkungan sekolah.
"Tumben lu masuk, biasanya sampek gerbang doang". Ucapku pada Dira, karena masih mengikutiku.
__ADS_1
"Adadeh.. Gue cuman mau ikut aja". Ucapnya lagi.
Saat di depan kelas aku bertemu dengan Hana, karena penasaran aku pun menyapanya.
"Hana... Kamu cari siapa? ". Tanyaku padanya.
"Eh... Dara, sini dulu aku mau ngomong sama kamu". Ucapnya yang langsung menarikku kebelakang kelas.
"Mau ngomong apa... Penting ya? ". Tanyaku penasaran padanya.
"Aku... Aku mau tanya... Soal Dira, katamu dia ada kan, cuman aku aja yang enggak bisa liat dia.. ". Ucapnya dengan nada ragu ragu.
"Iya, emang kenapa". Tanyaku yang masih tidak mengerti dengan perkataanya.
"Tapi kenapa ya.. Semalem pas aku lagi berdiri di depan kaca tiba tiba ada dia? ". Ucapnya dengan nada sedikit ketakutan. Aku pun sedikit tersentak dengan ucapannya barusan.
"Apa dia liat aku... Berati betul dong semalem dia lari karena liat aku? ". Ucap Dira pada dirinya sendiri.
"Elu kerumah dia Dira? ". Tanyaku padanya, dan dia pun mengganguk.
"Ada Dira ya". Tanya Hana padaku dan aku pun mengangguk padanya.
"Kamu indigo ya... Gak mungkin kan kamu bisa liat dia, kalok enggak indigo".tanyaku lagi pada Hana kini.
"Masa sih... Coba kamu liat hantu yang duduk di pohon itu... Sama disana dideket kelas X, terus disana... Sama yang disini kamu liat gak? ". Tanyaku dengan menunjukan beberapa hantu padanya, dan akhirnya menunjuk Dira.
"Enggak ada apa apa". Singkatnya sambil menggeleng.
"Masa sih... Ini ada Dira disini masa elo enggak ngeliat... Tapi kenapa dirumah lo bisa ya? ". Tanyaku padanya.
"Apa kebetulan aja kali ya". Ucapku lagi padanya.
"Aku enggak tau sih... Ha , gini aja... Gimana nanti kalok lo sempet lo merumah gue aja... Sekalian ngenjenguk Alex dan kita liat apa gue bisa liat Dira lagi". Ucapnya memberi saran.
"Boleh sih... Emang Alex udah boleh pulang ya? ". Tanyaku padanya.
"Iya, mungkin besok". Ucapnya pada ku.
"Oke deh nanti gue bilang sama yang lain... Dan gue mau piket dulu ya... Gue lupa lagi nanti didenda sama Sarah". Ucapku lagi dan dia pun pergi dan segera ku ambil sapu untuk menyapu.
"Dira tolongin lah... Ini sih Akbar belum dateng lagi". Ucapku pada Dira.
"Eh sorry, gue ada urusan mendadak ". Ucapnya dan segera menghilang.
__ADS_1
"Hem... Dasar hantu gak bisa diandelin... Mentang mentang orang susah eh dia lari". Ucapku dengan terus mencetut.
...****...
Saat pulang sekolah, kulihat Adit sendirian, lalu , karena malas menunggu bus atau Angkot, aku pun menebeng pada Adit karena dia sendirian.
"Eh dit, gue nebeng ya... Kan searah". Ucapku padanya.
"Bayar ". Singkatnya padaku.
"Udahlah Dit sama temen aja peritungan... Udah naik aja ra.. Naik". Ucap Akbar padaku. Lalu segera aku pun naik kemotor Adit.
"Eh... Main naik aja.. Udah lah kalok gitu". Ucapnya lagi dan baru ingin menjalankan motornya, tapi tiba tiba aku teringat ucapan Hana tadi pagi.
"Eh tunggu dulu Dit... ". Ucapku menepuk nepuk pundaknya.
"Kenapa lagi sih". Tanyanya.
"Oh ya.. Lin, bar entar besok atau lusa kita kerumah Alex ya... Kata Hana dia udah pulang nanti". Ucapku padanya.
"Hana... Siapa ra". Tanya Akbar padaku.
"Sodaranya sih Akbar lah... Oke ra kita bakalan dateng". Ucap Ellin padaku dan pada Akbar.
Lalu setelah kami berbicara, kami pun segera pulang. Sesampainya aku dirumah segera aku pun berjalan masuk kedalam rumah.
"Eh... Makasih ya... Udah nebeng". Teriak Adit padaku, dengan nada mengejek.
"Iya sama sama Dit... Nanti gue nebeng lagi". Ucapku seraya tersenyum padanya.
"Ih.. Dasar manusian enggak makan sindiran". Ucapnya lagi padaku.
"Gue makan nasi dit... Kalok sindiran enggak kemakan, jadi dah". Ucapku seraya masuk kerumah.
Aku pun menganti pakaian ku, lalu makan dan setelahnya aku akan mengerjakan pr dari guru mata pelajaran hari ini. Barulah aku bisa bersantai.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
(Bersambung)