
Sementara dikediaman keluarga Baskoro, tanpak Damar sangat panik melihat keadaan istrinya, yang begitu pucat dan lemas karna mual muntah yang dialami Yunisa yang berlebihan. Ia menghubungi dokter pribadi keluarga Baskoro. Tetapi karna keadaan dan kondisi kota yang tergenang banjir membuat dokter Yudistira tidak dapat memeriksa pasiennya. Ia meminta maaf kepada Damar.
" Ya ampun sayang......aku harus gimana, Mas ngak sanggup lihat kondisi kamu yang seperti ini." Ucap Damar sembari memeluk istrinya yang sudah lemas. Bu Iyem dan nyonya Rita pun datang menghampiri Yunisa dan Damar. Nyonya Rita iba melihat kondisi menantunya yang begitu pucat dan lemas. " Gimana nak apa kamu sudah menghubungi dokter Yudistira." Tanya nyonya Rita.
"Sudah mam.....tapi dokter tidak bisa datang karna kejebak banjir." Sahut Damar. Kemudian nyonya Ritapun menganjurkan agar Damar menghubungi dokter Delon.
"Kalau begitu coba kamu hubungi dokter Delon aja deh, siapa tau dokter Delon bisa datang memeriksa menantu mami." Kata nyonya Rita memberikan saran kepada Damar. Karna dirinya juga sangat kwatir melihat kondisi Yunisa
" Tut......Tut......Tut....."kira kira begitulah bunyinya di ponsel milik Damar. Satu kali dua kali dihubungi belum juga ada sahutan dari yang siempunya nomor ponsel. Ketiga kalinya Damar menghubungi dokter Delon belum juga ada jawaban. membuat Damar semakin panik apalagi ia sudah melihat istrinya semakin lemas.
Damar tidak sabar lagi ia berlari ke luar berniat pergi menjemput dokter Delon. Tetapi ia melihat seluruh ruas jalan sudah tergenang air akibat banjir yang melanda kota Jakarta. Selain karna curah hujan yang sangat lebat. Ada beberapa tanggul yang jebol akibat banjir kiriman dari gunung.
Ia semakin panik sambil berdoa didalam hati "Tuhan selamatkanlah istriku, aku takut terjadi sesuatu kepadanya." Doa Damar dalam hati. Ia kembali kedalam rumah Dan langsung menuju kamar Dimana istrinya berada. Ia melihat Yunisa sudah mulai membuka matanya.
"Sayang kamu sudah sadar ?" Tanya Damar sembari langsung memeluk istrinya. "Memangnya aku kenapa Mas?" Tanya Yunisa yang tidak mengetahui apa yang terjadi terhadapnya.
"Kamu tadi pingsan sayang....." Jawab Damar sambil memberikan berkali kali kecupan di kening Yunisa. Lalu Yunisa mengingat ingat apa yang terjadi terhadapnya .
Damar memberikan teh hangat kepada Yunisa. "Sayang.....nih diminum dulu teh hangatnya supaya enakan badannya." ujar Damar
"Trimakasih sayang....." Sahut Yunisa sambil menerima segelas teh hangat yang diberikan Damar dan langsung meminumnya.
"Gimana nak.....apa kamu sudah mendingan" tanya nyonya Rita
__ADS_1
"Ia mam sudah mendingan kok." Sahut Yunisa sembari mengembangkan senyumnya. Tiba tiba bi Iyem datang membawakan SOP buntut dan ikan teri sambal kesukaan Yunisa .
"Non ini dimakan dulu." Kata bi iyem sambil memberikan nampan yang berisi nasi, SOP buntut dan ikan teri sambal buatan bi Iyem.
"Trimakasih bi." ucap Yunisa sembari menerima nampan yang diberikan bi Iyem "Sini sayang Mas suapin." ujar Damar sambil meraih nampan dari tangan Yunisa. Yunisa pasrah menerima perlakuan suaminya yang rada rada lebay. Damar memberi suapan pertama kepada istrinya. Yunisa memakan SOP buntut dan ikan teri sambalnya begitu lahap. Apalagi ketika Damar menyuapinya, makanan itu begitu lezat ia rasa.
Melihat interaksi putranya dengan menantunya nyonya Rita menggelengkan kepala. Ia teringat masa masa saat dirinya hami putranya Damar, persis seperti yang dialami Yunisa sekarang. "Ya sudah lanjutin makannya ya sayang..." Ibu keluar dulu dan kalau ada yang kamu inginkan kasih tau mami jangan sungkan sungkan." Kata nyonya Rita Kepada Yunisa.
"Ia mam....Yunisa minta maaf sudah banyak ngerepotin mami." Sahut Yunisa karena dirinya merasa bersalah membuat seisi rumah begitu panik."hus kamu ngomong apa sih nak....kok kamu bilang ngerepotin, kan kamu itu putri sekaligus menantu mami, jadi sudah sewajarnya mami ikut menjaga kamu sayang....." ucap nyonya Rita menenangkan menantunya.
Lita yang tidak tau apa apa, langsung nyelonong masuk kekamar kakak iparnya
"Hai kakak." sapa Lita dan langsung melompat ketempat tidur yang berukuran kings size milik kakaknya.
"Kamu ini bisa pelan pelan ngak dek."
"Loh jadi kakak sakit Ya?" hardik Lita sembari langsung turun dari tempat tidur milik kakaknya. "Ia dari tadi kamu kemana orang semua sudah panik karna kakak kamu pingsan." Sahut Damar sambil menatap Lita dengan tatapan tajam. Karna ia mengira kalau Lita tidak mau tahu dengan keadaan istrinya.
"Maaf kak .....soalnya aku tidak ada keluar kamar karna PR ku begitu banyak dikasih guru. Jadi aku sibuk ngerjain tugas sekolahku kak." Sahut Lita sambil cemberut karna kakaknya sudah berpikir negatif terhadapnya.
"Sudah sudah tidak apa apa adikku sayang...." Kata Yunisa sambil mengembangkan senyumnya."sini peluk kakak." Pinta Yunisa agar kita memeluknya. Lita pun dengan senang hati menerima pelukan kakak yang paling ia sayangi.
Damar pergi ke balkon meninggalkan Yunisa dan lita. Ia memantau keadaan diluar yang masih tergenang banjir. Ia merogoh ponselnya yang ada disaku celananya.
__ADS_1
"Tut.....Tut....Tut...."
"Hello pak bos .....ada yang bisa saya dibantu bos?"jawab Josua dari seberang.
" Kamu lagi dimana?" Tanya Damar
" Saya kejebak banjir di apartemennya lizah bos." Sahut Josua
"Apa disitu banjir juga?"
"Ia pak bos ketinggian air disini sudah mencapai lebih dari satu meter " sahut Josua
"Kalau begitu kamu atur bantuan kepada penduduk yang terkena dampak, kasihan mereka mereka yang tidak bisa mencari nafkah kepada keluarganya. karna banjir ini. perintah Damar.
" Baik pak bos " sahut Josua. Kemudian Damar langsung menutup sambungan teleponnya. Ia kembali menghampiri Yunisa dan lita, yang lagi asyik bercanda gurau. Mereka bercerita tentang masa lalu mereka sewaktu tinggal di kita Medan pematang Siantar. Lita yang pada dasarnya orangnya periang membuat suasana hati Yunisa menghangat .
"Loh lagi ngomongin apa sih kok sepertinya happy banget." Tanya Damar membuat Lita dan Yunisa menghentikan tawa mereka." Biasalah kak masa masa kami tinggal di kampung."Kami teringat sama seseorang yang begitu sangat mencintai kak Yunisa, tapi ditolak mentah mentah oleh kak Yunisa, padahal kan kak.....orangnya sangat baik, tajir, yang pasti tampan dan masih muda. Ya seumuran lah sama kakak Yunisa" Terang Lita membuat seorang CEO Damar melototkan matanya. Karna dirinya tidak suka adiknya memuji muji pria lain dihadapan Yunisa. Apalagi pria itu memiliki perasaan atau cinta kepada Yunisa
"Sudah kamu keluar Sanah ganggu orang saja." perintah Damar agar Lita segera keluar dari kamarnya supaya tidak mengajak Yunisa mengingat pria yang ada dimasa lalu Yunisa. "Ih kakak.....itu aja marah, kakak jeles yah.....ayo jujur..." timpal Lita membuat Damar sedikit kikuk.
Karna memang benar kalau dirinya jeles mendengar istrinya membicarakan laki laki lain. Apalagi ia sendiri sedikit minder mengingat umur mereka sangat jauh berbeda. Ia takut kalau Yunisa akan berpaling darinya, Dan memilih yang lebih muda daripada Damar.
"Mas kenapa sih, kok mukanya seperti ditekuk gitu?" Tanya Yunisa karna melihat suaminya tiba tiba diam dan menatapnya dengan tatapan penuh arti
__ADS_1
"Tolong jangan pernah meninggalkan mas sayang...." Kata Damar membuat Yunisa mengerutkan keningnya. "Kamu ini kenapa sih Mas.... kok tiba tiba kepikiran kalau Yunisa mau ninggalin mas? sahut Yunisa karna dirinya merasa heran akan kata kata suaminya. "Berjanjilah pada mas kalau hanya mas yang ada di hatimu sayang." Kata Damar
"Tidak pernah sedikitpun ada didalam benak Yunisa akan berpaling dan menduakan kamu sayang.....Sejujurnya hanya Mas yang ada di hati ini." Sahut Yunisa sambil memberi kecupan dibibir ranum Damar.