
Jawaban yang diberikan oleh Madeline mampu menyita perhatian keluarga Eduardo. Terutama Reiden dan Saviero, kedua putra dari keluarga Eduardo begitu mengenal sepupunya.
"Kau sedang tidak berada dibawah tekanan, bukan?" tanya Raiden dengan tatapan menyelidik.
Madeline hanya menjawab dengan gelengan kepala. Berbeda dengan Saviero, pria dengan wajah dingin nan tegas itu menatap nyalang ke arah Pierre yang kini tengah memalingkan wajah.
Lagipula siapa yang tak terintimidasi oleh tatapan seorang yang memiliki kharisma tersendiri itu.
"Katakan jujur pada kami, Maddy. Jangan sampai kami mencari tahu semua ini, dan membuat masalah ini semakin runyam," tekan Saviero.
Mendengar ucapan kedua putra Eduardo itu membuat keluarga Spencer menelan salivanya. Ucapannya yang begitu datar dan tegas, membuat mereka menjadi bungkam.
Madeline langsung berjalan mendekati para sepupunya.
"Tidak, ini sudah kuputuskan sejak awal, Piero, Rai," jawab Madeline.
Madeline kembali mengucap sebuah kepalsuan di hadapan para sepupunya. Sudah cukup ia selama ini selalu merepotkan keduanya, biarlah untuk kali ini Madeline menghadapinya sendiri.
"Lagipula, aku tak bisa berbuat apapun saat ini. Ada saksi dari kejadian ini semua," sambung Madeline.
Raiden dan Saviero menghela napas dengan panjang.
"Jika pria itu menyakitimu, aku sendiri yang akan menghabisinya." tekan Saviero. Pria itu memang sulit untuk mengontrol emosi, wajahnya yang datar membuat siapapun takut bersitatap dengannya.
Namun berbeda dengan orang tersayang. Wajahnya yang selalu menampilkan senyuman sehangat mentari di balik wajah dingin-nya.
"Kapan pernikahan itu akan di selenggarakan?" tanya Daddy Garry.
"Secepatnya," sela Tuan Spencer. ia tak ingin keluarga Eduardo mengulur waktu hingga menyebabkan kegagalan dan membuat putranya semakin frustasi.
Tuan betrand dan Daddy Garry menatap kearah Madeline yang sekarang berada di antara sepupunya.
__ADS_1
"Bagaimana, Madeline?" tanya tuan Betrand. Sebenarnya ia begitu berat melepas putrinya untuk menikah dengan cara seperti ini, namun mereka tak punya pilihan. Hanya jalan itu yang harus mereka tempuh.
"Aku ikut keputusan dari keluarga Spencer, Dad," putus Madeline dengan suara rendahnya.
Daddy Garry menatap tuan Spencer,"Bagaimana?"
"tujuh hari dari sekarang, bagaimana?" usul Tuan Spencer. Ide gila yang putranya rencanakan mampu membuat Tuan Spencer mengambil keputusan tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi kedepannya.
"Apa itu tidak terlalu cepat, mengingat harus banyak yang kita persiapkan?" tanya Daddy Garry.
Sebelum tuan Spencer menjawab, Madeline langsung menyela pembicaraan,"Tak ada yang perlu di persiapkan, Dad. Lagipula aku hanya ingin menikah di catatan sipil saja."tukas Madeline.
Mendengar hal itu membuat semua anggota keluarga tercengang. Sebenarnya apa yang dalam pikiran Madeline, hingga membuat keputusan seperti ini. Bahkan, Abella yang merupakan ipar dan sahabat Madeline pun merasa curiga.
"Apa kau yakin, Maddy?" tanya Abella yang sejak tadi terdiam akhirnya buka suara.
Madeline mengangguk,"Sebelumnya aku udah membuat kesepakatan dengan Pierre. Toh, lagipula setidaknya yang dibutuhkan adalah status yang jelas." jelasnya.
Baiklah, jika Madeline sudah berbicara seperti itu semua keluarga takkan memaksa. Madeline berhak akan hidupnya, berhak memutuskan jalan hidup seperti apa yang diambil olehnya.
Daddy Garry menatap ke arah putrinya,"Apa kau yakin ingin seperti ini saja, tak perlu pesta atau resepsi yang lain?" tanyanya. Meski dirinya tak memiliki uang sebanyak keluarga Eduardo, namun jika untuk membuat pesta mewah untuk putrinya ia memiliki uang itu.
"Tidak, Dad." jawabnya dengan suara bergetar.
Daddy Garry mengangguk,"Baiklah, berarti pernikahan akan dilaksanakan Minggu depan." putusnya.
"Berarti aku dan istriku menunda kepulangan kita ke Milan, sampai acara Madeline selesai." celetuk Saviero sambil menatap sang istri, Abella hanya membalas dengan sebuah anggukan.
...****************...
Hari yang ditunggu telah tiba. Kini keluarga besar Eduardo akan berangkat menuju kantor catatan sipil untuk menikahkan putrinya dengan putra dari keluarga Spencer.
__ADS_1
Madeline terlihat seperti orang bingung saat ini, sejak tadi wanita itu memegang ujung dress yang ia kenakan.
Seorang wanita cantik berjalan mendekati Madeline.
"Apa kau sedang gugup, Maddy?" tanya Abella sambil menatap sahabatnya.
Madeline menjawab dengan sebuah anggukan. Memang benar adanya, ia begitu gugup saat ini. Lebih gugup dari saat pertama kali ia melakukan pembedahan pada pasien pertamanya.
"Aku saat menikah bulan lalu juga seperti itu, bisa kau bayangkan saat itu. Aku menjadi pusat perhatian semua orang, dan aku harus berjalan ke altar untuk menghampiri suamiku. Bisa kau bayangkan, bukan? Se-gugup apa aku saat itu?" Abella sengaja mengatakan hal itu. Untuk membuat Madeline menghalau rasa gugupnya, begitu terlihat jelas dari raut wajah Madeline. Ditambah wanita itu kini menggigit bibir bawahnya.
Mobil yang membawa seluruh keluarga Eduardo berjalan menuju kantor catatan sipil yang berada di jantung kota itu. Madeline ada bersama sepupu dan juga iparnya dalam satu mobil saat perjalanan menuju ke tempat tujuan.
Sedangkan keluarga Spencer, sejak tadi pagi mereka sudah menunggu di kantor catatan sipil dengan membawa serta keluarga inti Spencer. Ya, perlu di ketahui. Keluarga Spencer hanya memiliki satu orang putra yaitu Pierre Cardin Spencer, dia adalah putra satu-satunya dan juga anak tunggal dari keluarga Spencer.
Maka dari itu, keluarga Spencer banyak menaruh harapan pada putra semata wayang mereka.
"Apa jangan-jangan Madeline tidak datang,Dad?" tanya Pierre yang mulai was-was. Ia takut Madeline kabur untuk menghindari pernikahan keduanya.
Pierre juga tak ingin, hanya saja untuk saat ini biarlah dirinya begitu egois demi menjaga nama baiknya.
"Jangan berbicara sembarang, keluarga mereka takkan mungkin melakukan hal itu. Mereka lebih baik menolak dari awal daripada harus membuat masalah seperti itu," jelas Tuan Spencer yang begitu mengenal dekat keluarga Spencer.
"Ta-tapi Dad, kau tahu sendiri gimana wanita itu secara terang-terangan menolak aku Dad?" tanya Pierre.
Belum tuan Spencer menjawab, mereka langsung di kejutkan dengan kedatang keluarga Eduardo yang datang menghampiri mereka.
"Ayo, masuk." ajak Pierre sambil menggandeng tangan Madeline memasuki ruangan yang sudah di beritahukan sebelumnya.
Madeline hanya pasrah, menyamakan langkah kakinya dengan Pierre. Hingga keduanya masuk ke dalam badan catatan sipil untuk mencatat pernikahan mereka.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya resmi menyandang sebagai suami-istri.
__ADS_1
Terlihat dari raut wajah Pierre yang begitu puas. Bukan bahagia karena bisa menikahi orang yang ia cintai, namun ia begitu puas karena rencananya berjalan lancar.
"Apa kau puas? Tuan muda Spencer?" tanya Madeline yang melangkahkan kaki keluar ruangan.