
Mendengar ucapan Madeline, membuat Pierre menatap wajah wanita itu.
"Aku seperti ini adanya, tapi hanya pada orang tertentu saja." jawabnya sambil membuka botol minuman miliknya dan menenggaknya.
Orang tertentu? Apa orang tertentu yang di maksud oleh Pierre adalah orang spesial? Berarti, kalau seperti itu Madeline orang yang spesial menurut Pierre. Oh My God! Jantung Madeline berdetak dengan tak karuan.
"Berarti aku orang spesial untukmu, begitu?" tanya Madeline dengan percaya diri. Mengulas senyum indahnya.
Pierre yang sedang menenggak minuman miliknya saat Madeline berbicara langsung menyemburkan ke arah Madeline, hingga membuat wajah Madeline terkena semburan air dari Pierre. Lalu pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Selain polos, kau juga terlalu percaya diri. Nona Marshall," ucap Pierre yang sambil tertawa.
Madeline mendengus sebal, kenapa harus di tertawakan. Sedangkan dirinya berbicara apa adanya, apa ada yang lucu?
"Menyebalkan." gerutu Madeline sambil mengelap wajahnya dengan tissue.
"Hei, aku itu bertanya. Apa salah jika aku bertanya Dokter Pierre Cardin Spencer?" tanya Madeline dengan raut wajah yang terlihat kusut.
Bagaimana tidak? Semburan air dari Pierre membuat riasan wajahnya berantakan. Meski hanya menggunakan Makeup tipis serta lipstik,
"Kenapa kau tertawa?" tanya Madeline dengan heran.
"Apa aku salah bicara?"
Pierre mengangguk dan kemudian berusaha menghentikan tawanya,"Tentu, kau itu terlalu percaya diri. Spesial darimana dirimu." cibirnya.
__ADS_1
Madeline hanya bisa menggerutu kesal.
"Sesuka hatimu saja, aku tak peduli," jawab Madeline dengan merajuk.
Pierre hanya bisa menghela napas, memang dari awal adalah salah dirinya yang tanpa sengaja menyemburkan air ke wajah Madeline. Terlihat Madeline tengah merapikan penampilannya kali ini, mengabaikan Pierre yang sejak tadi menatapnya.
"Kau marah?" tanya Pierre.
"Tanya dirimu sendiri," rajuk Madeline, ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Pierre setenang itu setelah membuat salah kepadanya.
Pierre semakin di buat bingung oleh Madeline. Jika dirinya di suruh bertanya kepada dirinya sendiri, apa bukan orang gila namanya?
"Kau mengajariku menjadi orang gila dengan cara berbicara sendiri," tukas Pierre dengan kesal.
Berhadapan dengan Madeline benar-benar membuat dirinya habis kesabaran. Pierre heran, kenapa orang seperti Madeline bisa di nobatkan sebagai Dokter berkompeten di bidangnya.
Madeline yang merasa belum puas membalas Pierre langsung tersenyum miring,"Berbicara sendiri tidak selalu menandakan bahwa kau tak waras, bisa jadi kau adalah orang yang memiliki IQ tinggi," jawabnya dengan lugas.
"Namun jika kau ingin belajar gila, aku akan membawamu ke rumah sakit jiwa, bagaimana?" usul Madeline.
Kedua mata Pierre membola mendengar ajakan Madeline, benar-benar di luar dugaan.
"Tak perlu ke rumah sakit jiwa, menghadapimu yang seperti ini saja sudah membuatku hampir gila," tolak Pierre.
Madeline hanya tersenyum datar, padahal saat ini dirinya tengah tertawa puas di dalam hati. Ia berhasil membuat Pierre darah tinggi karena tingkah menyebalkan nya.
__ADS_1
Hingga tak lama, pesanan keduanya pun datang. Dua mangkuk ramen dan juga sushi. Semua makanan sudah tersaji di atas meja, begitu menggoda Madeline dan Pierre yang tengah lapar.
"Ayo makan, belajar menjadi gila butuh tenaga," ujar Madeline sambil melahap semangkuk ramen.
Pierre menatap Madeline dengan jengah, pria itu begitu kesal dengan Madeline kali ini. Sepertinya ia menyesali mengajak Madeline untuk beristirahat di kantin bersama, meski tak di pungkiri oleh Pierre, jika Madeline mampu mencairkan suasana.
Padahal, seperti yang sudah ia ketahui. Madeline baru saja bersedih, kini seakan telah melupakan kesedihan itu.
Setelah menghabiskan waktu setengah jam lamanya, Pierre dan Madeline akhirnya kembali ke tugas mereka masing-masing.
Jika Madeline memiliki jadwal biopsi pada pasien. Tidak dengan Pierre, pria itu kini tengah berada di ruangan hematologi onkologi untuk memantau pasien penderita leukimia.
Secara klinis Dokter onkologi seperti Madeline dan Pierre memang memiliki tugas utama. Jika Madeline berada di bidang bedah onkologi, berbeda dengan Pierre. Pria itu memfokuskan diri radiasi onkologi dan hematologi onkologi, meski sesekali dirinya kerap turun tangan di bedah onkologi.
"Pierre," panggil Madeline sebelum memasuki ruangan operasi.
Pierre menoleh,"Ya," jawabnya.
"Nanti kau tak perlu menungguku, karena aku akan mengunjungi mansion dulu. Aku merindukan Daddyku," izin Madeline. Meski keduanya menikah karena terpaksa, namun Madeline tetap menghargai Pierre sebagai suaminya.
"Berapa lama?" tanya Pierre.
"Mungkin esok pagi aku akan kembali ke mansion, Daddyku beberapa hari ini sedang tidak sehat," jelas Madeline.
Pierre hanya mengangguk, lalu meninggalkan Madeline seorang diri.
__ADS_1
"Huft! Serba salah," keluh Madeline yang merasa Pierre seakan tak mendengarkan dirinya.
Baiklah, Madeline takkan mengambil pusing akan hal itu. Ia memilih untuk segera memasuki ruangan operasi, memulai pembedahan pada pasien untuk pengangkatan sel kanker.