
Madeline langsung terkejut mendengar permintaan Pierre kali ini. Ia benar-benar tak menyangka jika Pierre meminta haknya sebagai seorang suami sebelum menandatangani surat kesepakatan perceraian.
"Kau serius?" tanya Madeline. Memastikan apa yang ia dengar kali ini adalah salah.
Pierre berjalan mendekat ke arah Madeline,"Aku tak pernah bercanda di saat serius, Madeline." ucapnya dengan menyeringai.
"Maafkan aku, aku harus melakukan ini agar kau membatalkan perceraian ini," Pierre membatin. Jujur ia merasa bersalah, tapi Pierre tak bisa memilih salah satu di antara keduanya.
Madeline menatap nyalang ke arah Pierre, aura permusuhan terpancar dari netranya yang terlihat sembab karena menangis. Make up yang di gunakan Madeline luntur bersama dengan air mata yang ia seka tadi.
"Kau benar-benar menghancurkan hidupku, Pierre. Setelah semua luka yang torehkan, dengan percaya dirinya kau meminta hakmu?"
"Tentu, kau istriku. Apa jangan-jangan kau tak mau melakukan hal itu denganku?" tebak Pierre. Ia merasa percaya diri jika Madeline akan menolak mentah-mentah permintaannya. Dan itu artinya, Pierre bisa menahan Madeline untuk tetap melanjutkan pernikahan ini.
"Tentu saja tidak. Karena bagiku kau tak pantas mendapatkan apa yang aku jaga selama hidupku." sergah Madeline.
Pierre tersenyum puas,"Baiklah, itu artinya aku takkan membubuhkan tanda tangan di surat ini. Dan itu artinya tak ada perceraian di antara kita." jawabnya.
Lagi, Madeline yang kesal langsung melayangkan tamparan keras di wajah Pierre.
__ADS_1
Plak!
"Selain tak punya perasaan, ternyata kau tak lebih dari seorang pria bren*sek, s**lan!" Maki Madeline.
Persetan jika orang mengatakan dirinya terlalu frontal dalam berbicara, yang jelas Madeline tak mampu lagi mengontrol emosinya saat ini.
"Kau selalu membuat keputusan yang hanya menguntungkan dirimu sepihak, Pierre! Kau benar-benar keterlaluan!" serunya dengan suara keras.
Pierre hanya mengedikkan bahunya,"Itu terserahmu saja, lagipula aku tak memaksa. Toh, kau yang butuh semua ini, bukan?" tanya Pierre.
Madeline berusaha mengontrol emosinya yang meledak-ledak saat ini, tak ada yang bisa diam saja di perlakukan seperti Madeline saat ini.
Dengan kurang ajarnya, Pierre membalas ucapan Madeline,"Aku tak pernah memintamu untuk mencintaiku, Madeline. Aku tak pernah membebanimu dengan hal itu." ucap Pierre dengan enteng.
Madeline semakin emosi mendengarnya,"Kau tak meminta, itu semua aku lakukan demi janjiku kepada Daddy,"
"Kau benar-benar bedebah, Pierre!"
Pierre berusaha menulikan telinganya, dan lagi, Madeline kembali di sakiti dengan kata-katanya yang tak pantas di dengar.
__ADS_1
"Maki aku sepuasmu, Madeline. Karena sampai kapanpun aku takkan menceraikan mu."
"Kau harus ingat, aku yang memulai semuanya. Itu artinya aku juga yang harus mengakhirinya!" Tekan Pierre sebelum beranjak masuk ke dalam kamar miliknya.
Sebelum Pierre masuk ke dalam, ucapan Madeline mampu membuat langkah Pierre kembali terhenti.
"Jika dengan jalan itu aku bisa terlepas dari pernikahan yang menyesakkan seperti ini. Lakukanlah! Setelah itu kita akhiri apa yang seharusnya tidak terjadi di antara kita." ucapnya dengan lantang.
Pierre yang mendengarnya langsung membeku di tempat. Bukan, bukan ini yang ia harapkan! Ia berharap Madeline akan menolaknya dan tetap menjadi istrinya meski dirinya masih berhubungan dengan Yara. Egois memang, tapi Pierre merasa kehadiran Madeline begitu berarti di hidupnya meski Pierre mengatakan dirinya tertekan dengan adanya Madeline.
"Ka-kau serius?" tanya Pierre yang tak percaya.
Madeline mengangguk, ia melangkahkan kakinya mendekati Pierre yang membeku dan mengalungkan tangannya di leher Pierre.
"Tentu, lakukanlah! Setelah itu lepaskan aku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pierre tersenyum miring, sepertinya Madeline memang benar-benar ingin lepas darinya. Baiklah, Pierre tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Ayo ke dalam, kuharap kau tak menyesali semuanya," ucapnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Pierre membawa Madeline ke dalam kamar miliknya. Madeline memberikan hak Pierre sebagai suaminya untuk terakhir kali sebelum mereka terpisah.