My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 97 | Penyesalan dan tamat.


__ADS_3

Dua bulan berlalu, begitupun dengan kepergian Madeline dari hidup Pierre. Pierre seperti orang tak tahu arah saat ini, selepas pulang kerja ia habiskan dengan cara ke club malam. Meluapkan kesedihan serta kekecewaan mendalam yang ia rasakan saat ini.


"Madeline, hidupku hampa selepas kepergianmu," di bawah alam sadarnya, Pierre terus meracaukan nama Madeline.


Hingga seorang pria yang berada di samping Pierre hanya bisa menghela nafas dengan berat. Ya, pria itu adalah Arsen. Rekan dokter yang merangkap sebagai asisten Pierre saat ini.


Pierre memang belum resmi di nyatakan sebagai pengganti tuan Spencer sebagai direktur. Hanya saja, tuan Spencer sendiri meminta kepadanya untuk menjadi asisten putranya.


"Mau sampai kapan kau seperti ini, Pierre. Ayo pulang! Jangan lupa besok adalah sidang putusan," seru Arsen yang merasa jengah dengan kelakuan Pierre yang semakin tak terarah itu.


Pierre terus menenggak minuman beralkohol yang ia masukan di dalam seloki miliknya.


"Aku masih mau disini saja, aku masih ingin mencari Madeline." tolaknya.


Arsen yang kesabarannya hanya seperti selembar tissue pun langsung menarik Pierre untuk segera meninggalkan club malam itu.


"Cepat pulang, atau aku akan mengadukan semua kelakuanmu kepada tuan Spencer," ancem Arsen yang sudah mulai kehabisan cara menghadapi Pierre.


Pierre yang mendengarnya pun langsung menghela nafas dengan panjang,"Kau ini tukang adu, gak jauh beda dengan Madeline." gerutunya.


"Mungkin aku dan Madeline berjodoh," gurau Arsen.


Pierre yang mendengarnya pun langsung melayangkan tatapan setajam pedang ke arah Arsen. Arsen melihat hal itu langsung bergidik ngeri.


"Sekali lagi kau katakan Madeline milikmu, akan aku patahkan lehermu," ancamnya.


"Madeline hanya milikku, dengar itu!"

__ADS_1


Arsen mengangguk saja. Toh, berdebat dengan orang mabuk juga takkan ada habisnya. Salah satu jalan hanyalah mengalah.


"Jika sudah pergi orang, baru deh nyesel." gumam Arsen dengan sangat pelan. Pria itu membukakan pintu mobil agar Pierre segera masuk ke dalam sana, lalu dirinya masuk dan duduk di kursi kemudi.


***


Suasana persidangan kali ini tidak begitu ramai, Pierre dengan mengenakan pakaian yang ia biasa kenakan masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat sidang perceraian.


Pierre menanti dengan perasaan tak bisa di jabarkan, hingga suara yang tak ingin ia dengar pun mulai melantunkan bunyinya.


Suara ketukan palu menjadi tanda berakhirnya pernikahan Madeline Elana Marshall dengan Pierre Cardin Spencer.


Harusnya Pierre senang karena kali ini dirinya terbebas dari pernikahan yang selama ini tak sama sekali ia inginkan. Bahkan, tak lama lagi Pierre akan menjabat sebagai direktur utama di rumah sakit milik orang tuanya.


Tapi entah kenapa, secara tiba-tiba Pierre merasa tak rela jika kenyataan menyadarkan dirinya jika saat ini Madeline bukan lagi istrinya.


Terlihat pengacara yang di tunjuk Madeline berjalan menghampiri Pierre yang berusaha bangkit dari duduknya.


"Selamat siang, Tuan muda Spencer."


"Ada apa?" tanya Pierre dengan ketus. Entah kenapa putusan sidang membuat suasana hatinya memburuk.


Pengacara Madeline memberikan beberapa dokumen yang di titipkan oleh pengacara Pierre.


"Saya hanya ingin memberikan ini, tuan," ucap Madeline pengacara itu.


Pierre langsung menerimanya. Siapa tau di dalam sana ada surat untuk dirinya dari Madeline. Namun harapan hanya tinggal harapan, hanya ada surat-surat miliknya yang di berikan olehnya untuk Madeline.

__ADS_1


"Kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Pierre.


"Klien kami tak bisa menerimanya, tuan. Ia tak ingin menerima apapun dari anda," jawabnya dengan jujur.


Pierre yang mendengarnya pun langsung tak bersemangat, apa Madeline ambil serius perkataannya saat itu. Sungguh, ini sangat menyakitkan bagi dirinya yang baru saja menyadari perasaannya setelah kepergian Madeline.


"Apa alasannya?"


"Untuk hal itu saya tak bisa menjelaskan tuan, anda bisa menanyakan langsung kepada nona Madeline." jawabnya seperti yang sudah di perintahkan oleh Madeline.


Pierre menyugarkan rambutnya dengan frustasi, bagaimana ia bisa menghubungi Madeline. Sedangkan nomor ponsel wanita itu saja sudah tak bisa di hubungi saat ini.


"Lalu, kau tahu di mana keberadaan Madeline saat ini?" tanya Pierre.


Pengacara itu hanya menggelengkan kepala, ia memang tak mengetahui di mana keberadaan kliennya. Pasalnya, semua ini di urus oleh Daddy Garry.


"Untuk itu saya sama sekali tak tahu, tuan."


Pierre yang mendengarnya hanya mendengus sebal,"Baiklah, terima kasih." Pierre langsung berlalu meninggalkan ruangan sambil membawa surat-surat yang berisi harta miliknya. Ia berniat memberikan itu semua kepada Madeline. Namun wanita itu menolaknya, dan itu membuatnya sakit sekaligus kecewa.


Dari kepergian Madeline, Pierre sudah bisa menarik kesimpulan bahwa dirinya memerlukan Madeline di dalam hidupnya atau lebih tepatnya Pierre baru menyadari perasaannya kepada wanita yang menjadi mantan istrinya itu.


Ya, Pierre mulai mencintai Madeline. Ia menyesali semuanya. Menyesali segala keputusan yang ia buat, kesepakatan serta ucapan tajamnya itu.


Penyesalan hanya tinggal penyesalan, dan itu semua sudah tak ada gunanya lagi. Di tambah, keberadaan Madeline yang ia cari selama ini. Madeline tak di ketahui di mana keberadaannya, dan tentunya itu semua adalah perbuatan mantan ayah mertuanya.


"Aku pantas mendapatkan itu semua, Madeline. Maafkan aku. Semoga kita kembali di pertemukan di masa mendatang."

__ADS_1


Kini, Pierre hidup dengan mengarungi penyesalan dan merutuki kebodohan yang tak berkesudahan.


__ADS_2