My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 69 | Mengetahui


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Pierre berjalan menuju tempat yang akan mereka kunjungi, keduanya seakan tak merasa bersalah pada pasangan mereka masing-masing.


Meskipun Yara saat ini sedang menghadapi sidang perceraian, rasanya tak etis jika masih berhubungan dengan pria. Apalagi pria itu memiliki istri.


Begitupun dengan Pierre, tanpa rasa bersalah dirinya menduakan Madeline dengan dalih tak memiliki rasa pada wanita itu.


"Ini apa, Pierre?" tanya Yara sambil menunjuk ke arah tas bekal miliknya.


Pierre menoleh sejenak,"Ah iya! Itu bekal yang di buatkan Madeline untukku." jawabnya dengan jujur.


Raut wajah Yara langsung berubah saat mendengar nama Madeline, ia merasa Madeline adalah saingan terberatnya dalam urusan percintaan.


"Kita ingin sarapan bersama, lalu kenapa kau membawa bekal?" tanya Yara yang dikuasai dengan rasa cemburu.


Mendengar nada bicara Yara yang terdengar berbeda membuat Pierre mencoba untuk meluruskan.


"Aku hanya menerimanya saja, aku tak ingin Madeline curiga bahwa kita menjalin hubungan." jelas Pierre.


"Bukankah itu adalah hal yang bagus, itu artinya kau dan dia akan segera bercerai dan kita bisa meresmikan hubungan kita, huh?"


Pierre menggelengkan kepala, entah kenapa ia belum siap jika harus bercerai dengan Madeline. Ia masih belum siap dengan semua itu, tapi memilih untuk meninggalkan Yara juga bukanlah sesuatu yang bagus.


"Aku belum memikirkan hal itu."


"Bisa kita bicarakan hal yang lain saja? Aku tak ingin membicarakan hal itu saat kita bersama." pinta Pierre dengan wajah datarnya.


"Baiklah, maafkan aku. Mari kita bahas hal lain." ucapnya.


***


Madeline sejak tadi terus merenungi diri di apartment, ia sampai sulit beristirahat karena terus memikirkan perubahan pada Pierre.


Bohong jika Madeline tidak merasakan kesedihan, ia lebih merasa ada yang beda saja dari Pierre.

__ADS_1


"Apa yang kau sembunyikan dariku, Pierre." gumamnya. Sejak tadi ia mencoba menghubungi ponsel suaminya, namun ponsel pria itu tidak juga aktif.


Berkali-kali Madeline mengatur nafas, menetralkan suasana hatinya yang mulai memburuk.


Tak ingin dirinya di kuasai dengan pikiran buruk, Madeline tampak mengambil sesuatu dari nakas. Mengambil sebuah obat yang akan ia minum ketika sulit untuk tidur.


Madeline mengambil satu butir obat itu beserta air mineral yang selalu ia sediakan di atas nakas, dan menelan obat yang ada di tangannya. Lalu menenggak air mineral miliknya hingga tandas.


Madeline berusaha memejamkan matanya agar bisa mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah. Masih banyak yang Madeline harus selesaikan, tugasnya sebagai Dokter masih harus ia jalankan saat ini.


Detik mulai berganti menjadi menit, begitupun dengan menit yang mulai berganti dengan jam. Terhitung sudah hampir 8 jam Madeline terlelap karena saking lelahnya hingga membuat dirinya tak sadar jika hari sudah mulai berganti jadi sore.


Perlahan namun pasti, Madeline membuka matanya. Dan yang pertama ia lihat adalah ponselnya.


Ia melirik sebentar, memastikan Pierre menghubunginya saat ini. Namun semua itu tak sesuai harapan, Pierre tidak kunjung memberinya kabar dan itu membuatnya sedih karena harus merasakan sakitnya berharap.


Madeline mencoba menghubungi Pierre, ia ingin berbicara dengan suaminya yang saat ini sedang sibuk. Namun apa? Pierre justru menolak panggilan teleponnya dan hal itu membuat kecurigaan Madeline semakin bertambah.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Pierre." gumam Madeline.


Padahal, pria itu sangat jarang sekali memegang ponsel dan hanya saat sedang darurat saja ia memegang ponsel. Tapi kini, bahkan saat terlelap sekalipun ponsel tak lepas dari genggaman.


Madeline harus mulai mencari tahu. Ia pun langsung bangkit dan bergegas untuk bersiap, mengingat sebentar lagi waktu akan berubah menjadi malam.


****


Jika pagi tadi Pierre dan Yara sarapan bersama, untuk makan malam pun Yara bersama dengan Pierre.


Seperti yang di janjikan, keduanya memilih cafe yang ada di sebrang rumah sakit tempat Pierre bekerja. Keduanya seakan tak puas menghabiskan waktu pagi tadi, hingga malam pun keduanya tetap bertemu untuk makan malam sebelum Pierre kembali ke apartment miliknya.


"Kau membawa bekal itu lagi?" tanya Yara saat melihat Pierre membawa tas bekal.


Pierre mengangguk,"Ya, aku lupa memakannya." jawabnya.

__ADS_1


"Buang saja! Lagipula makan itu sudah dari pagi dan tak sedap untuk di hidangkan lagi."


Pierre tentu menolak akan hal itu,"Tidak perlu, aku masih bisa memakannya."


"Tapi aku sudah memesankan sesuatu untuk makan malam kita, Pierre." jawab Yara.


Pierre kembali di landa rasa bersalah, berdosa sekali dirinya pada Madeline yang telah susah payah membuatkan makanan untuknya. Justru dirinya memilih makan bersama dengan Yara.


Makanan yang di pesan oleh Yara pun akhirnya sudah datang, makanan itu di hidangkan di hadapan keduanya.


"Ayo makan," ajak Yara dengan penuh antusias. Ia tak pernah sebebas ini saat menjalin hubungan dengan Alois, ia terkesan di atur dan di paksa.


Dengan berat hati, Pierre pun menyantap hidangan yang ada di depan matanya. Ia memakan dengan lahap, rasa bersalah pada Madeline seakan menguap bersama dengan hidangan di hadapannya yang sudah mulai tandas.


Begitupun dengan Yara, wanita itu seakan puas karena Pierre begitu menghargainya dan memprioritaskan dirinya.


***


Membutuhkan waktu satu jam lamanya untuk Madeline bersiap, wanita itu sudah rapi dengan pakaian kerja miliknya dan tak lupa dengan sepatu yang ia kenakan saat ini.


Dengan sling bag miliknya, Madeline mulai meninggalkan kamar miliknya dan bergegas untuk bekerja sekaligus memastikan sesuatu yang akhir-akhir ini ia curigai.


Madeline saat ini tidak menggunakan kendaraan pribadi miliknya, ia memilih untuk menaiki kendaraan umum untuk sampai ke rumah sakit tempat dirinya bekerja.


Hingga mobil yang membawa dirinya pun sampai di tujuan, Madeline langsung turun dan menatap sekeliling yang sudah mulai gelap.


"Lebih baik aku beli kopi dulu untuk menemani malamku yang penuh dengan kecurigaan." Madeline langsung bergegas menuju cafe yang ada di sebrang rumah sakit.


Langkah kakinya berjalan memasuki cafe, matanya terus menatap ke segala arah. Hingga atensinya tersita pada sebuah objek yang begitu ia kenali.


Sungguh, apa yang saat ini ia lihat adalah sebuah kebetulan atau hanya salah lihat.


"Bukankah itu Pierre? Lalu yang ada bersamanya siapa?" tebak Madeline.

__ADS_1


Madeline tidak menghampirinya, namun wanita itu mengamati dengan seksama wajah wanita yang bersama Pierre.


"Bukankah itu Yara? Kenapa mereka bisa bersama?"


__ADS_2