
Madeline baru saja keluar dari ruang operasi setelah melakukan bedah biopsi pada pasien-nya, wanita itu duduk di kursi yang tersedia, merentangkan kedua tangannya yang terasa kebas, sesekali mengatur napasnya agar lebih rileks.
Setelah dua jam lamanya berada di ruang operasi, di tambah dirinya yang belum makan membuat tenaga wanita itu semakin terkuras dan membutuhkan asupan nutrisi untuk mengisi kembali energinya.
Pikirannya terus melayang pada kejadian tadi. Dimana dirinya berdebat dengan Pierre, pria itu benar-benar menunjukkan gelagat yang beda setelah dari kamarnya, pria itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Bukankah dari awal sudah menyepakati untuk memulai hubungan baru? Hubungan yang baru akan berjalan dengan baik jika di awali dengan sebuah kejujuran, jika seperti ini jadinya. Untuk apa memulai hubungan baru.
"Kenapa harus serumit ini." keluh Madeline sambil memijat kepalanya yang terasa pening.
Untungnya, saat tengah menangani pasien dirinya masih bisa memfokuskan diri. Sehingga membuat operasi berjalan dengan semestinya.
Sesekali wanita itu menguap karena kantuk yang menyerang.
"Sepertinya aku membutuhkan kopi," gumam Madeline sambil melirik jam di ponsel miliknya.
"Aku akan mengajak Pierre untuk minum kopi di cafe sebrang." putus Madeline yang bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ruangan Pierre.
Kaki jenjangnya terus melangkah menuju ruangan Pierre. Tak jarang beberapa rekan kerjanya yang menyapa dengan begitu ramah. Madeline yang terkenal pribadi ramah pun tersenyum setiap rekan kerjanya menyapa.
Hingga kini dirinya sampai di depan ruangan Pierre. Di sana, hanya ada suster yang biasa membantu Pierre saja disana.
"Suster Esme, apa Pierre ada di dalam?" tanya Madeline pada wanita dengan seragam khas perawat itu.
Suster Esme yang tengah melakukan tugas pun menoleh, menatap istri dari atasannya datang.
"Dokter Madeline,"
Madeline mengulas senyum,"Apa pierre ada di dalam?" tanyanya.
Suster Esme menggelengkan kepala,"Sejak tadi Dokter Pierre tidak ada di ruangan," jawabnya.
Mendengar jawaban dari wanita itu membuat Madeline di landa rasa penasaran. Bukankah rapat dengan para petinggi departemen telah selesai sejak setengah jam lalu, lantas kemana perginya Pierre saat ini?
"Lalu kau tahu Pierre dimana?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Hanya gelengan kepala yang Madeline dapatkan sebagai jawabnya dari pertanyaan yang ia lontarkan. Hal itu membuat Madeline menghela napas dengan gusar.
"Baiklah, terima kasih informasinya." Setelah mengucapkan hal itu Madeline langsung bergegas meninggalkan ruangan Pierre.
Wanita itu memutuskan untuk menghampiri cafe di sebrang rumah sakit, mencari Pierre yang tak di ketahui keberadaannya pasti akan memakan waktu lama. Maka dari itu, ia memilih untuk ke cafe terlebih dahulu sebelum kembali mencari Pierre.
"Sudah tahu jam kerja, malah keluyuran," gerutu Madeline di sepanjang jalan menuju cafe.
Ia terus berjalan berteman gerutuan yang terlontar dari bibirnya, mengungkapkan kekesalannya pada Pierre yang tidak ia ketahui keberadaannya.
Hingga Madeline pun sampai di cafe, wanita itu membuka pintu masuk dan berjalan menuju kasir untuk memesan sesuatu. Netranya terus menoleh ke kanan dan kiri, siapa tahu saja di sini ia dapat menemukan Pierre. Mengingat Pierre juga sering mengunjungi cafe ini.
Dan benar saja, saat menoleh ke arah kiri. Madeline melihat ada Pierre yang tengah berbicara dengan seorang wanita. Jika Madeline bisa tebak, sepertinya Pierre tengah berbicara serius dengan wanita itu.
"Sepertinya aku mengenal wanita itu," tebak Madeline. Tentu ia penasaran, untuk memastikan dugaannya Madeline pun berjalan menghampiri tempat Pierre berada.
Hal itu semakin di perparah dengan keduanya terlihat sangat dekat atau bahkan terkesan intim, yang membuat Madeline semakin berani untuk menghampirinya.
"Seperti ada yang sedang mengulang masa lalu," celetuk Madeline dengan wajah santai.
"Ka-kau, kenapa ada disini?" tanya Pierre dengan terbata-bata. Ia seperti orang yang tengah di pergoki berselingkuh dengan sang istri.
Yara pun juga sama, ia terkejut dengan kedatangan Madeline yang seakan mengganggu dirinya untuk membujuk Pierre.
Sudut bibir Madeline terangkat, menyunggingkan senyum miring ke arah Pierre keduanya.
"Kenapa? Terkejut?" cibir Madeline saat melihat raut wajah keduanya terkejut.
Pierre menggelengkan kepalanya dengan lemah,"Bukan begitu, Madeline. Aku bisa menjelaskan semuanya," jelas Pierre.
Madeline berusaha mengabaikan ucapan Pierre dan mengalihkan-nya dengan sebuah pertanyaan.
"Tak perlu di jelaskan, silahkan bernostalgia sampai Alois mengetahui jika kalian bertemu dengan diam-diam."
"Sepertinya akan seru, apalagi jika di tambah dengan bumbu pertikaian," seloroh Madeline dengan wajah yang terlihat puas, karena berhasil membuat Pierre dan Yara pias seketika.
__ADS_1
"Oh iya! Dan pastinya aku akan merekam semua ini, dan akan menjadi sebuah berita yang menggemparkan di rumah sakit."
Madeline menatap Pierre dengan lirikan mautnya,"Tentu kau akan tahu jika semua hal itu terjadi, bukan? Tuan muda Spencer," cecar Madeline hingga mampu membuat Pierre bungkam.
Berbeda dengan Yara, wanita itu langsung meradang ketika mendengar ucapan Madeline yang begitu memprovokasi dirinya. Netranya menatap nyalang ke arah istri Pierre.
"Jika sampai Alois tahu hal ini, kau adalah tersangka utamanya. Karena kau, semua ini terjadi," pekik Yara.
Madeline memasang senyum smirk,"Aku? Yang benar saja Nyonya Jordan yang terhormat," kemudian wanita itu melambaikan tangan ke arah Yara,"Kau lihat orang di ujung sana." tunjuk Madeline ke arah luar cafe. Terlihat dari sekat kaca, seorang pria dengan wajah di tutupi masker dan topi di kepalanya melirik ke arah meja Pierre dan Yara.
"Itu adalah orang suruhan Alois, dia adalah orang yang akan memantau segala kegiatanmu," jelas Madeline.
Yara tentu merasa heran, bagaimana bisa Madeline tahu semua ini? Apa ini hanya akal-akalan Madeline saja.
"Apa kau sengaja menipuku, Madeline?" tanya Yara yang terlihat begitu kesal.
Madeline hanya menjawab dengan gelengan kepala,"Apa yang aku dapat dari menipu dirimu, Nyonya Jordan? Harusnya kau waspada bukan menghardik diriku,"
"Jika kau tak percaya, coba kalau peluk Pierre dan lihat setelah itu," tantang Madeline.
Pierre yang mendengarnya sampai membelalakkan matanya, namun bagi Yara ini adalah sebuah keberuntungan. Karena dia bisa melepas rindu dengan mantan kekasihnya. Tanpa berpikir jika hal itu akan menambah masalah untuk dirinya.
Yara yang begitu antusias langsung menyetujui tantangan dari Madeline,"Boleh! Akan aku lakukan." Balasnya dengan mantap.
Yara langsung memeluk tubuh tinggi Pierre. Sementara pria yang di peluk hanya membeku, tidak membalas pelukan wanita itu. Namun netranya menatap ke arah Madeline, meminta wanita itu menghentikan semuanya.
Madeline yang sudah kelewatan kesal langsung membuang muka, dan berjalan menghindari Pierre dan Yara. Dirinya seperti di kasih percikkan bensin dan bara api, sehingga membuatnya terasa panas karena terbakar emosi.
Madeline butuh sesuatu untuk mendinginkan hati dan pikirannya. Madeline memilih untuk berjalan ke arah meja kasir, memesan kopi dingin untuknya.
Tak butuh waktu lama. Ponsel Yara pun berbunyi. Dan hal itu tentu membuat Yara terkejut.
"Ja-jadi ucapan Madeline benar adanya?" tubuh wanita itu langsung lemas, ia pikir semua itu hanyalah bualan semata yang bertujuan agar dirinya menjauh dari Pierre.
Ternyata, semua itu adalah akibat dari perbuatannya. Dengan tangan gemetar, Yara pun mengangkat panggilan telepon dari Alois yang tak lain adalah suaminya. Berharap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Enak sekali, ku biarkan keluar seorang diri. Nyatanya kau justru bermesraan dengan pria lain di luar sana," desis pria itu dengan penuh penekanan.