
Akhir pekan adalah waktu yang di nantikan oleh Pierre, bukan tanpa sebab. Karena Pierre berencana akan ke mansion Spencer, untuk makan malam disana sekaligus melihat mantan kekasihnya yang akan ikut hadir.
Hari ini, baik Pierre maupun Madeline mengambil cuti libur. Madeline yang masih beristirahat di kamarnya, dan juga Pierre yang sedang memilih pakaian yang cocok untuk ke mansion keluarganya.
Biasanya Pierre begitu acuh dengan pakaian yang akan ia kenakan. Toh, menurutnya sama saja, ia masih terlihat rapi dan tampan.
"Aku harus pakai yang mana ya," pikir Pierre sambil menatap setiap warna baju yang ada di lemari miliknya.
Pierre mengambil beberapa helai baju dengan warna berbeda.
"Abu-abu? Sudah biasa! Merah? Apalagi," Pierre sampai pusing sendiri mencari pakaian yang akan ia kenakan.
Hingga pilihannya tertuju pada pakaian yang berwarna biru langit. Ya, sepertinya ini cocok. Sekaligus menggambarkan suasana hati Pierre yang saat ini secerah langit biru.
"Sepertinya warna biru bagus untuk menggambarkan suasana hatiku yang sedang gembira," gumam Pierre.
Pria itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyugarkan diri. Pierre tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang sampai saat ini memenuhi hati dan hidupnya itu.
Berbeda dengan Madeline, wanita itu masih bergelung di bawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Wanita itu tidur dengan lelap, jika sedang libur seperti ini, Madeline menghabiskan waktu dengan mengistirahatkan diri.
Jika dulu ia akan menghabiskan waktu dengan Abella, tidak untuk kali ini. Semenjak Abella tinggal di Milan bersama sepupunya, ia seperti orang tak memiliki teman. Hanya menghabiskan waktu dengan bekerja, bekerja dan tidur.
Hingga suara dering dari ponsel miliknya mengganggu tidur nyenyak wanita itu.
"Siapa lagi," gerutu Madeline dengan mata yang masih terpejam.
Dengan malas, wanita itu mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas.
"Ya, ada apa menghubungiku? Ganggu orang tidur saja, masih pagi tau gak," Madeline terus menggerutu hingga tak sadar jika hari sudah sore. Ralat, atau lebih tepatnya sudah menjelang malam.
Orang yang menghubungi Madeline langsung tercengang. Pagi? Yang benar saja, ini sudah mulai berganti gelap.
"Pagi kau bilang? Ini sudah malam, Madeline Elana Marshall!" seru Raiden.
Mendengar suara orang yang sangat Madeline kenali, membuat wanita itu langsung mengucek matanya. Melihat ke layar ponsel miliknya.
Raiden is Calling
__ADS_1
"****! Aku kira Piero," umpat Madeline.
"Ya, Raiden," sahut Madeline.
"Jam berapa ini, Madeline Elana Marshall! Enak sekali kau rupanya terlelap hingga lupa waktu, apa ingin saingan dengan burung hantu, huh?"
Madeline meringis,"Tidak! Kebetulan hari ini aku sedang libur bekerja. Jadi aku habiskan waktu dengan tidur, kau tahu sendiri, bukan? Sejak Abella tidak di sini, aku seperti anak ayam yang hilang induknya," gurau Madeline.
Terdengar suara tawa dari Raiden, Madeline yang suka bicara dan mampu mencairkan suasana membuat pria itu betah untuk menghubungi sepupunya yang kini telah menikah.
"Masih ada aku, kau bisa menghabiskan waktu bersamaku," jawab Raiden.
Bagaimana ingin menghabiskan waktu dengan Raiden, sedangkan pria itu saja sibuk dengan perusahaan milik Uncle Betrand.
"Kau tak bisa di ajak main, kau terlalu sibuk!" ucap Madeline.
"Sesama orang sibuk jangan saling menyindir," cetus Raiden hingga keduanya tertawa.
Di saat Madeline tengah sibuk berbicara melalui sambungan telepon dengan Raiden, suara ketukan pintu dari luar menganggu kesenangannya.
"Madeline, ini aku Pierre! Segera bersiap, sebentar lagi kita akan bergegas ke mansion keluargaku," ucap Pierre dari arah luar dengan suara keras.
"Astaga! Mengapa aku bisa lupa," umpat Madeline.
Madeline yang masih tersambung dengan Raiden pun langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia harus bergegas sebelum pria itu mengomeli dirinya.
"Rai, kita lanjut nanti ya. Aku ada undangan ke mansion Spencer," pamit Madeline yang langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Suara keras dan ketukan pintu masih terus terdengar dari luar, hingga akhirnya Madeline menyahuti.
"Ya, aku sedang bersiap. Tunggulah sebentar," jawab Madeline dengan suara yang tak kalah keras.
Mendengar jawaban dari Madeline, Pierre langsung meninggalkan pintu kamar Madeline.
"Aku sudah prediksi hal ini akan terjadi, dasar wanita! Selalu saja membuat para pria kehabisan stok sabar karena lama menunggu," Kehadiran Madeline dalam hidupnya, tak mampu menghilangkan sifat alami pria itu. Pria yang suka menggerutu tentang Madeline.
Sambil menunggu Madeline, Pierre memilih untuk membaca jurnal kedokteran miliknya. Ya, seperti itulah putaran waktu Pierre semenjak Yara memutuskan dirinya, hanya Rumah sakit, apartment, jurnal dan Madeline.
__ADS_1
Membosankan memang, namun ia harus melakukan itu semua agar tidak terlalu meratapi kesedihan yang ia alami pasca di tinggal menikah.
"Hidupku seperti pria menyedihkan saja," gerutu Pierre yang kini membuka satu persatu lembaran yang berisi tentang ilmu kedokteran miliknya.
Hingga satu jam lamanya, Madeline pun datang. Wanita itu berpakaian senada dengan dirinya. What? Senada! Yang benar saja. Sudah seperti pasangan sedang jatuh cinta saja.
"Kenapa kau berpakaian dengan warna sama sepertiku?" gerutu Pierre yang tiba-tiba merasa kesal.
Alis Madeline saling bertautan, menatap ke arah Pierre dengan tidak percaya.
"Apa maksudmu?" tanya Madeline dengan heran. Pasalnya kali ini ia memakai pakaian yang menurutnya terbilang sopan, Dress berwarna biru laut dengan lengan panjang dan tinggi sebawah lutut, di lengkapi motif bunga yang terlihat lebih girly.
"Kenapa kau berpakaian sama sepertiku, huh?"
Oh! Madeline mengerti, ternyata masalah warna pakaian baju yang jadi masalah oleh Pierre.
"Oh kau mempermasalahkan warna baju. Baiklah, aku akan ganti. Tunggu sebentar!" seru Madeline yang bergegas kembali ke kamar.
Namun, langkahnya tertahan karena Pierre menahan tangan Madeline.
"Tak perlu! Terlalu buang-buang waktu. Ayo berangkat," ucap Pierre yang langsung menarik tangan Madeline.
Madeline hanya pasrah, ia mengikuti langkah kaki Pierre keluar unit apartment menuju blok parkiran.
"Pelan-pelan, aku bisa jalan sendiri." ucap Madeline yang langsung menghempaskan tangan Pierre.
Madeline berjalan mengikuti langkah kaki Pierre, memasuki mobil dan Pierre duduk di kursi kemudi.
Mobil yang dikendarai oleh Pierre berjalan membelah jalan Los Angeles menuju mansion Spencer.
sepanjang jalan, baik Madeline maupun Pierre hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya deru mesin mobil saja yang terdengar.
Membutuhkan waktu perjalanan 30 menit untuk sampai ke mansion Spencer, Pierre dengan segera turun dari mobil. Diikuti oleh Madeline yang berjalan mengekor di belakang, mansion yang sama besarnya dengan yang ia tinggali. Namun, tentu saja mansion Eduardo tetaplah tempat ternyaman bagi Madeline.
"itu mobil Alois, aku harus segera masuk! Pasti di sana ada Yara," pikir Pierre yang terus melangkah tanpa memperdulikan Madeline di belakangnya.
Entah mengapa, di perlakukan oleh Pierre seperti ini membuat Madeline sedikit sedih. Namun ia segera menepis rasa itu, ia melangkah kakinya hingga berada tepat di depan pintu mansion Spencer.
__ADS_1
"Aku datang," sapa Pierre. Namun netranya justru tertuju pada seorang wanita yang kini menatap dirinya.
Yaitu Yara.