My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 39 | Kecurigaan Madeline


__ADS_3

Kedua netra Pierre sampai membola melihat Yara yang mengirim pesan padanya. Apakah ini mimpi? Tidak! Ini Sungguh, Pierre bahkan sampai berulang kali mengucek matanya. Memastikan ia tak salah lihat.


Namun, isi pesan dari Yara sungguh membuatnya heran. Pasalnya, wanita yang kini menjadi aunty-nya mengajak dirinya bertemu. Untuk apa? Apa untuk pamer kemesraan di hadapan dirinya? Tidak, Pierre tidak ingin. Pria itu kini sedang mencoba membuka hati untuk Madeline, jika Pierre seperti ini sama saja ia merobohkan benteng yang sudah ia bangun.


Pierre menaruh kembali ponsel miliknya. Pria itu kembali ke walk in closet untuk memakai pakaian untuk bekerja, sebenarnya bisa saja dirinya meminta Madeline untuk menyiapkan ini semua. Namun karena kejadian tadi, membuat Pierre tidak terpikirkan akan hal itu.


"Semua karena Madeline," gerutu Pierre. Madeline terus di salahkan oleh Pierre karena hal ini. Lihatlah, Pierre sendiri bahkan sampai bingung mengancingkan pakaian yang ia kenakan karena memikirkan Madeline.


"Enyahlah dari pikiranku, Madeline. Jangan menghantui pikiranku," ucap Pierre. Entah apa yang membuat Pierre terus memikirkan Madeline, yang jelas Madeline sangat meresahkan baginya.


Saking kesalnya, Pierre pun sampai keluar dari kamar. Mencari Madeline untuk membantu dirinya memasang kancing pakaian miliknya.


"Madeline...," panggil Pierre sambil mencari keberadaan Madeline.


Namun Pierre tidak juga menemukan keberadaan Madeline di dapur atau meja makan, hingga membuat dirinya menyusul ke kamar wanita itu.


Tak mengetuk pintu, pria itu langsung memasuki kamar Madeline. Hari sial memang tak ada di kalender, Pierre melihat Madeline yang tengah melepas pakaian rumah yang di kenakan oleh Madeline belum lama ini.


Hingga Pierre dapat melihat jelas kulit putih mulus miliknya istri. Hal itu tentu membuat pria itu keringat panas dingin.


"Oh ****! Bisa-bisanya kau mengganti pakaianmu tanpa mengunci kamar terlebih dahulu," ujar Pierre dengan kesal. Berusaha menahan gejolak yang mendera dirinya.


Mendengar suara Pierre membuat Madeline menegang, wanita itu langsung memakai handuk kimono miliknya.


"Ada apa kau ke kamarku, tidak seperti biasanya?" tanya Madeline dengan nada kesal. Pasalnya, Pierre masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga membuatnya tak tahu jika Pierre memasuki kamarnya.


"Harusnya ketuk pintu terlebih dahulu, jangan seenak mu saja memasuki kamarku," Madeline yang kesal langsung memberi peringatan kepada Pierre.


Mendengar suara Madeline yang terdengar dengan penuh kekesalan membuat lamunan Pierre buyar,"Harusnya kalau kau sedang bersiap, kau kunci pintu kamarmu. Jangan salahkan aku! Salahkan dirimu yang ceroboh itu," seloroh Pierre. Pria itu tentu selalu menutupi kesalahannya dengan kesalahan Madeline, berbuat seolah-olah dirinya tak salah.


Madeline sampai mengepal kuat tangannya,"Kau benar-benar manipulatif, Pierre." geram Madeline.


Pria itu bersikap biasa saja, seakan tak menyadari kesalahannya. Lalu dengan santainya pria itu mendekati Madeline.


"Bantu aku mengancingkan pakaianku," ujar Pierre yang meminta tolong pada Madeline. Jika bukan karena pikirannya yang tengah rumit hari ini, mungkin Pierre juga enggan untuk meminta tolong pada Madeline.

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Pierre seperti ini, sebelumnya tidak pernah sama sekali.


Madeline yang tak ingin banyak berdebat dengan Pierre langsung membantu pria itu mengancingkan kemeja yang membalut tubuh pria itu.


"Sudah." ucap Madeline sambil menepuk-nepuk kemeja Pierre agar terlihat rapi.


Pria itu mengulas senyum tipis, lalu memberikan dasi yang berada di genggamannya.


"Tolong sekalian dengan dasi nya, aku hari ini ada rapat dengan para kepala departemen." imbuhnya sambil menyerahkan dasi yang berwarna kontras dengan kemeja yang dikenakan olehnya.


Madeline hanya mengelus dada, butuh banyak stok kesabaran yang harus ia miliki untuk menghadapi Pierre. Jika bukan karena pesan Daddy-nya, mungkin Madeline memilih mengabaikan pria itu.


Madeline mengalungkan tali dasi di leher jenjang Pierre, membuat tali simpul hingga dasi yang di pasangkan Madeline terlihat rapi dan tentunya Pierre terlihat lebih berwibawa.


"Sudah," jawabnya sambil merapikan dasi.


Pierre mengulas senyum tipis, ia tak menyangka jika Madeline mampu melakukan hal ini untuknya.


"Terima kasih." jawabnya, lalu pria itu berjalan keluar dari kamar Madeline.


Wanita itu kembali dengan kegiatan sebelumnya, yaitu bersiap untuk berangkat kerja.


"Bagaimana bisa aku ceroboh seperti ini, bagaimana jika Pierre berpikir aku menggodanya nanti," Madeline terus merutuki kesalahannya, meski sebenarnya ia tahu bahwa hal itu bukanlah salah Madeline sepenuhnya.


Madeline menggelengkan kepala,"Ah! Aku terlalu memikirkan pria itu, aku harus segera bersiap! Pasien sudah menungguku." ujar Madeline yang kemudian bersiap.


Setelah siap, Madeline langsung membawa sling bag miliknya dan tak lupa dengan jas putih yang selalu ada bersamanya.


Benar saja, Pierre sudah menunggu lebih dulu di meja makan.


"Kenapa kau tak makan?" tanya Madeline saat melihat masakannya belum tersentuh.


Pierre mendongak, menatap Madeline yang terlihat sangat cantik hari ini. Rambut ikalnya yang tergerai, dan tak lupa dengan jepitan yang berada di dekat telinga.


"Aku menunggumu," jawabnya dengan singkat, tanpa mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Madeline hanya mengangguk, lalu wanita itu duduk berhadapan dengan Pierre yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Kau ingin makan terlebih dahulu?" tanyanya.


Pierre mengangguk.


"Biar aku siapkan," Madeline menyiapkan makanan untuk Pierre. Madeline tahu, semalam Pierre memang tidak makan. Karena pria itu tidak beranjak dari kamar, dan hal itu membuat Madeline berpikir jika Pierre sudah terlelap.


Hingga membuat dirinya menghabiskan makanan yang sudah ia siapkan malam itu.


"Makanlah dulu, bermain ponselnya bisa kau lanjutkan setelah mengisi perutmu," ucapnya.


Pierre menurut, pria itu langsung menaruh ponsel di sampingnya dan mengambil piring yang berisi makanan di tangan Madeline.


"Thank's," ucapnya.


Madeline hanya tersenyum tipis, tak menjawab atau memberi reaksi lain. Atensinya terus menatap ponsel Pierre yang masih menyala. Entah kenapa, Madeline merasa ada di sembunyikan oleh Pierre darinya.


Meski Madeline sendiri tak bisa memungkiri jika dirinya menaruh curiga pada pria itu. Namun sebisa mungkin Madeline terus berpikir positif agar tidak merusak apa yang sudah ia bangun.


"Ponselmu terus berbunyi, Pierre," ucap Madeline saat melihat ponsel Pierre yang sedang menerima pesan.


Pierre menoleh, lalu dengan segera ia mengunci ponselnya.


"Hanya panggilan dari kepala departemen," jawabnya.


"Tak usah berpikiran yang tidak-tidak," imbuhnya.


Mendengar jawaban Pierre, membuat Madeline menautkan alis, menatap dengan heran.


"Aku hanya memberitahu padamu, bukan berpikiran yang tidak-tidak," balasnya hingga mampu membungkam Pierre.


"Apa kau berpikir aku sedang mencurigaimu tengah berhubungan dengan wanita lain, begitu maksudmu?" tanyanya.


Ternyata ucapan Madeline mampu membuat Pierre semakin membeku, lidahnya terasa kelu hingga tak mampu menjelaskan kepada Madeline.

__ADS_1


__ADS_2