
"Kau serius?" tanya Pierre. Ia sangat terkejut kali ini, ajakan Yara benar-benar membuatnya berdecak heran.
Namun wanita itu hanya menyunggingkan senyum miring,"Apa aku pernah membual?" tanyanya lagi.
Pierre hanya menggelengkan kepala, wanita ifu memang tidak pernah bercanda jika sesang berbicara tentang apa yang ia inginkan.
"Tidak, hanya saja aku terkejut." jawabnya dengan jujur.
"Tak perlu terkejut, kau hanya perlu menjawab YA atau TIDAK." Kali ini Yara sedikit mendesak Pierre. Rasa tak rela mulai merasuki hatinya, tak rela melihat Pierre bahagia bersama wanita lain.
Pierre merasa di lema, tapi hatinya juga gak bisa di paksakan. Yara masih terlalu mendominasi di sana, tapi dengan cara menyelingkuhi Madeline bukanlah pilihan yang bagus.
"Aku tak bisa memutuskan, Yara. Tolong jangan mendesakku dengan segala keinginanmu." pinta Pierre dengan frustasi.
Yara hanya menggelengkan kepala,"Sayangnya aku tak bisa, Pierre. Aku tahu kau masih mencintaiku, begitupun sebaliknya. Jadi apa salahnya kita menjalin hubungan kembali?"
"Tentu saja salah, karena secara tak langsung kita menyakiti pasangan kita masing-masing."
__ADS_1
"Tolong kesampingkan perasaan kita, Yara. Semua sudah seharusnya berakhir, aku dan kau sudah sama-sama memiliki pasangan." jelas Pierre.
"Sudah berapa berapa kali aku katakan padamu, Pierre. Aku akan segera menjadi janda, dan aku segera bercerai dengan Alois." ujar Yara dengan berapi-api. Sama halnya seperti Pierre, Yara sendiri juga tak mampu berpikir jernih.
Ia iri dengan Madeline, harusnya ia yang berada di samping Pierre, menjadi pasangan dari pria itu. Namun karena keserakahan dan sifat tamak yang di miliki keluarganya, membuat dirinya harus terikat pernikahan dengan Alois.
"Tak masalah bagiku menjadi yang kedua, Pierre. Tapi kita tetap berhubungan." desak Yara.
Tak ada jawaban dari Pierre, pria itu masih bungkam hingga Yara kembali bersuara.
"Ayo kita kembali menjalin hubungan Pierre, bukankah kita saling mencintai? Tak masalah bagiku jadi yang kedua, asalkan kau tetap memprioritaskan aku. Kita bisa mengulang masa-masa indah kita bersama. Kita akan berbahagia bersama." bujuk Yara.
Yara mendengus sebal saat Pierre memberikan pertanyaan tentang madeline.
"Kenapa kau memikirkan madeline, huh? Apa kau sudah mulai mencintai istrimu itu?" cecar Yara dengan wajah tak bersahabat.
Sungguh, ia sampai rela menjatuhkan harga dirinya di depan Pierre. Tapi pria itu justru memikirkan wanita.
__ADS_1
"Tidak, hanya saat ini dia adalah istriku." balas Pierre.
Yara menyunggingkan bibirnya,"Selagi tak ada yang memberitahukan padanya, kurasa hubungan kita masih akan aman, Pierre. Lagipula bukankah jika Madeline bagus ada baiknya juga, dengan begitu kita tak perlu bermain di belakangnya lagi?" enteng sekali mulutnya ketika bercakap. Hingga membuat netra Pierre langsung membola.
"Ini benar-benar gila, bagaimana jika para sepupunya tahu jika aku menyelingkuhinya?" ujar Pierre dengan frustasi.
"Gampang saja, bukankah kau menikah dengannya untuk melampiaskan segala sakit hatimu karena aku tinggal menikah? Aku yakin kau memiliki kesepakatan sebelum melakukan pernikahan ini dengannya."
Apa yang di ucapkan Yara benar adanya, ia memang memiliki kesepakatan. Tapi kenapa harus di saat diri tengah belajar membuka hati dan belajar mencintai istrinya itu.
"Aku benar-benar tak tahu harus menjawab apa Yara, sungguh! ini adalah pilihan sulit untukku."
"Tak perlu kau pusingkan hal itu, Pierre. Cukup ikuti apa kata hatimu. Kau harus ingat, sebuah hubungan yang di jalani tanpa cinta akan terasa hambar dan tak bahagia." Yara mulai menghasut Pierre dengan perkataan manisnya, Pierre juga sudah memberi tanda bahwa ia masih ada di hati pria itu. Tentu bukan hal yang sulit.
Pierre dengan penuh keraguan terpaksa mengambil keputusan, keputusan yang menjadi langkah awal kehancuran hubungan serta dirinya.
"Baiklah, Mari kita lakukan itu." putusnya dengan suara berat.
__ADS_1
Yara tentu senang hingga wanita itu bersorak gembira,"Okey, Deal! Kita selingkuh."