
"Apa aku harus ikut?" tanya Pierre dengan polos.
"Tak perlu! Nanti semua makanan yang ada di mansionku habis karenamu," larang Madeline. Tentu apa yang ia ucapkan tidak benar adanya, hanya candaan di kala penatnya jadwal operasi yang membeludak.
Pierre memutar bola matanya, menatap Madeline dengan jengah. Pria itu ingin sekali memarahi Madeline, namun mengingat perangai Madeline yang suka berbicara seenaknya, membuat pria itu mengerti.
"Aku akan membawa makanan sendiri ke mansionmu, bila perlu aku bawakan koki terkenal untuk memasak di mansion keluargamu," jawab Pierre dengan sombongnya.
Tentu saja Madeline menolak usulan Pierre. Meski di mansion Eduardo memiliki seorang koki sekalipun, tetap saja para wanita penghuni mansion itu tetap terjun sendiri untuk memasak. Apalagi dengan hadirnya Abella yang kini menjadi menantu dari keluarga Eduardo.
Abella yang memiliki kemampuan tata boga, membuatnya begitu piawai dalam membuat berbagai macam hidangan.
"Terima kasih atas kebaikanmu, tetapi sorry to say. Keluargaku tak perlu seorang koki, karena menantu dari keluargaku adalah koki hebat dan kau tahu? Dia adalah lulusan dari Perancis." Seloroh Madeline sambil menyuapkan semangkuk ramen yang ia pesan di kantin rumah sakit.
"Hebat," puji Pierre.
"Harusnya kau ikut belajar dengannya, bukan malah berkutat dengan pisau bedah atau darah," celetuk Pierre.
__ADS_1
Madeline langsung menghentikan kegiatan makan-nya, matanya menatap ke arah Pierre.
"Aku punya alasan tersendiri untuk itu, Pierre." jawabnya dengan singkat. Kemudian Madeline Kembali melanjutkan makannya.
Melihat wajah Madeline yang terlihat di tekuk, membuat pria itu merasa bersalah. Pierre tahu, pasti ada sesuatu yang mendasari Madeline untuk menjadi seorang Dokter bedah onkologi.
"Apa ada yang salah dengan yang aku ucapkan, Madeline?" tanya Pierre. Pria itu tidak pernah melihat raut wajah Madeline yang seperti ini. Pierre seperti melihat sisi lain yang ada pada diri Madeline.
Madeline menggelengkan kepala, ini bukan hal yang tepat untuk menceritakan segala hal yang membuat dirinya memutuskan menjadi Dokter onkologi.
"Benarkah?" tanya Pierre.
Madeline perlahan menganggukan kepala,"Ya," jawabnya, lalu Madeline kembali menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
"Jika kau butuh teman cerita, aku bisa kok jadi tempat untukmu melakukan itu semua," tawar Pierre yang mencoba membujuk Madeline untuk bercerita.
Tetapi bagi Madeline, teman bercerita yang paling ia percayai adalah Abella, Piero dan Raiden. Hanya 3 orang itulah tempat ia untuk mencurahkan segalanya.
__ADS_1
"Akan aku usahakan, biarkan aku makan terlebih dahulu," ucap Madeline yang mengandung permohonan. Sejak tadi Pierre terus mengajaknya berbicara hingga membuat kegiatan makannya tertunda.
Tidak tahukah Pierre saat ini, jika Madeline tubuhnya sedang gemetar karena lapar?
"Baiklah selamat makan, maaf telah mengganggu waktu makanmu. Setelah kau selesai makan, kita akan pulang ke apartement setelah ini," ucap Pierre.
Madeline kembali menggelengkan kepalanya di sela suapan terakhirnya.
"Aku tak bisa pulang ke apartement untuk beberapa hari terakhir," ujar Madeline tanpa menatap ke arah Pierre.
Alis Pierre terangkat, hingga tercipta kerutan di dahinya.
"Kau ingin kemana?" tanya Pierre dengan penuh selidik.
"Aku masih memiliki jadwal operasi setelah ini, kau bisa pulang terlebih dahulu tanpa menungguku. Atau jika kau ingin, kau bisa melihat mantan kekasihmu dengan cara mengikutinya," ucap Madeline dengan jelas.
Pierre sampai membelalakkan matanya,"Kau tahu hal itu, Madeline?" tanyanya.
__ADS_1