
Memang tak ada yang salah dengan ucapan Pierre. Namun dengan cara Pierre mengatakan hal itu akan menambah deret panjang masalah yang Madeline tengah hadapi kali ini.
Baru saja Daddy-nya meminta dirinya untuk membuka hati dan melupakan masa lalu menyakitkan yang ia alami, justru harus ternodai dengan aduan Pierre. Padahal semua itu hanyalah candaan.
"Memang benar, dan sangat benar. Hanya saja ucapanmu itu akan menambah masalah bagiku, puas!" seru Madeline dengan kesal.
Alis Pierre bertautan menatap heran ke arah Madeline.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Tak usah banyak tanya! Berbicara padamu hanya membuatku hipertensi," jawab Madeline yang berlalu meninggalkan Pierre yang sejak tadi berdiri di hadapannya.
Pierre menghela napas,"Kenapa wanita sulit untuk di pahami. Berkata jujur pun aku masih salah, bagaimana jika aku berbohong? Semakin salah saja aku di mata mahluk tuhan bernama wanita," gumam Pierre seorang diri.
Pria itu juga melepas jas putih yang membalut tubuhnya, merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk Madeline.
Pikirannya terus berkelana akan kejadian dua bulan terakhir. Kejadian yang merubah jalan dan tujuan hidupnya, menikahi Madeline adalah sesuatu hal yang tidak ia sangka selama ini. Pria itu tak pernah berpikir akan menjalani pernikahan seperti ini.
Andai saja Nyonya Ludwig tidak merendahkan dirinya saat itu, bisa di pastikan saat ini dirinya terlalu sibuk meratapi mantan kekasihnya yang telah berkhianat itu.
Pierre juga tak bisa menampik. Di balik rasa sakit akan pengkhianatan yang dilakukan Yara kepadanya, perasaan pria itu pada Yara masih sepenuhnya ada. Bahkan, sampai saat ini masih tertulis dengan jelas di hatinya.
"Harusnya aku membencimu, Yara. Karena telah mengkhianati ku dengan diam-diam, nyatanya aku tak mampu melakukan itu padamu," Pierre begitu gamang kali ini, perasaannya terombang-ambing layaknya kapal di terkam ombak.
Hingga dirinya tak sadar, kini Madeline tengah menatapnya dengan tajam.
"Kenapa?" tanya Pierre yang begitu heran dengan tatapan Madeline.
Madeline hanya menggelengkan kepala,"Tidak, apa kau yakin ingin menginap di mansion keluargaku?" tanya Madeline. Sebenarnya Madeline tak menduga jika Pierre akan datang ke mansion Eduardo, hanya saja saat ini dirinya bingung.
__ADS_1
Jika Pierre menginap di mansion Eduardo, itu artinya dirinya dan Pierre harus tidur satu ranjang. Mengingat kamar Madeline tidak memiliki sofa panjang, jadi bisa di pastikan keduanya akan tidur di ranjang yang sama.
Pierre mengangguk,"Tentu, kau pikir aku bercanda?"
Pierre terlihat serius kali ini, tidak seperti biasanya atau tadi yang membuatnya naik darah.
"Tidak,"
"Lalu kau akan tidur dimana?" tanya Madeline.
Dengan entengnya Pierre menjawab,"Ya di kamarmu, bukankah kita adalah suami-istri?"
Tentu saja Madeline menolak usul Pierre, di mansion Eduardo memiliki banyak kamar dan Pierre bisa menggunakan kamar tamu.
"Tidak, aku tidak ingin tidur seranjang denganmu," tolak Madeline dengan cepat.
"Karena aku tak ingin berbagi ranjang denganmu, kau tahu? Tidurku berantakan," seloroh Madeline. Berharap Pierre akan mempertimbangkan hal itu.
Bukan Pierre Cardin Spencer namanya jika tak mampu membuat Madeline tak berkutik dengan segala rencananya.
"Begitu? Baiklah, aku akan tidur di ruang tamu. Dan jika keluargamu bertanya, maka aku akan menjawab bahwa istriku tidak ingin seranjang denganku," jawabnya dengan santai namun dalam hati ia begitu puas.
Mendengar jawaban dari Pierre membuat Madeline mengubah keputusan yang ia buat.
"Baiklah, kau tidur disini," ucap Madeline dengan pasrah. Entah mimpi apa yang menghampiri tidur lelapnya, hingga harus terikat dengan Pierre yang selalu membuat masalah padanya.
Pierre menjentikkan jari ke arah Madeline,"Good job! Harusnya dari awal seperti itu," tukas Pierre.
Madeline menatap jengah ke arah Pierre,"As you wish! Aku selalu kalah jika berhadapan denganmu," jawabnya dengan pasrah.
__ADS_1
Madeline langsung menaiki ranjang, tubuhnya begitu lelah hingga membuatnya harus beristirahat. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut, berusaha memejamkan mata. Berharap hari ini segera berlalu dan berganti hari esok.
Namun bukan terlelap, Madeline justru kembali di kejutkan dengan tingkah Pierre yang tengah menepuk bahunya. Hingga membuat Madeline kembali membuka matanya.
"Kenapa, Pierre?" tanya Madeline dengan malas.
Ada hal yang ingin Pierre katakan pada Madeline, terkait dengan kesepakatan yang ia buat beberapa hari lalu.
"Bagaimana dengan tawaran yang kuberikan padamu, tentang membuka hati? Apa kau telah memikirkan semuanya?" tanya Pierre.
Madeline tentu tak lupa akan hal itu, ia pikir Pierre hanya sekedar bergurau. Maka dari itu, ia mengabaikan semuanya dan menganggap angin lalu.
"Kau serius? Bagaimana perasaanmu dengan Yara?" tanya Madeline. Ia sebenarnya ingin, hanya saja Yara terus menjadi bayang-bayang dalam diri Pierre. Madeline tak ingin menjadi bayang-bayang, itu sangat menyakitkan bagi dirinya yang mulai mengenal cinta.
"Aku selalu serius dengan perkataanku, bagaimana?"
"Hubunganku dan Yara sudah berakhir, tak ada yang bisa menyatukan kami. Maka dari itu aku ingin belajar membuka hati denganmu, bagaimana?" tanya Pierre sambil memilin tangannya menutupi gugup yang mendera dirinya.
"Jika kau ingin, aku akan memperlakukanmu layaknya seperti wanitaku dan penuh kasih sayang." ujar Pierre dengan segala janjinya.
Madeline masih bungkam, wanita itu tak mampu menjawab.
"Apa aku harus menjawab sekarang?" tanya Madeline.
Pierre mengangguk,"Tentu! Aku tak bisa menunggu lama."
Madeline tampak ragu, ia harus menjawab apa kali ini.
"Aku tak bisa menjawab sekarang, aku butuh waktu untuk menjawab itu semua," ucap Madeline yang kini kembali memejamkan matanya.
__ADS_1