My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 55 | Pusat perhatian


__ADS_3

Pierre langsung menelan salivanya saat mendengar pertanyaan dari Madeline, terlihat dari wajahnya begitu karena bekal yang di siapkan wanita itu untuknya telah habis, tanpa ia ketahui jika bekal makanannya telah ia buang.


Ada rasa bersalah dalam diri Pierre, membayangkan bagaimana reaksi Madeline jika bekalnya harus berakhir di tempat sampah.


"Sudah! Kebetulan tadi aku sangat lapar." jawabnya tanpa menatap Madeline.


Madeline hanya mengangguk,"Apa kau sudah selesai bertugas?" tanyanya lagi.


"Sudah, setelah ini kita akan segera berangkat." Nada suara Pierre kali ini terdengar lebih santai dari sebelumnya, karena ucapan kali ini benar adanya. Berbeda dengan sebelumnya yang harus berbohong terlebih dahulu.


Pierre menggandeng tangan Madeline, membawanya untuk keluar dari ruangan menuju parkiran tempat mobilnya berada.


Sepanjang perjalanan, Madeline dan Pierre menjadi pusat perhatian di sana. Bahkan menjadi perbincangan hangat rekan kerjanya.


Melihat hal itu membuat Madeline melepas genggaman tangan Pierre. Tapi Pria itu justru menggenggam tangannya sangat erat, hingga membuatnya kesulitan untuk melepaskan.


"Tak usah di lepas, biarkan saja. Lagipula kita juga sepasang suami-istri." ucap Pierre.


Madeline hanya bisa pasrah, berdebat di ruang umum juga bukan hal yang bagus. Mengingat reputasinya sebagai Dokter teladan, tentu ia tak ingin merusak citra yang sudah ia bangun sejak lama itu.


Pasangan itu terus berjalan, hingga keduanya tak sadar jika ada seorang wanita yang duduk di kursi roda menatapnya dengan berkaca-kaca.


Ya, wanita itu adalah Yara. Niat hati ingin bertemu dengan Pierre, mengatakan bahwa hubungannya dengan Alois akan berakhir. Justru dirinya di pukul mundur oleh sebuah kenyataan bahwa Pierre tengah menggandeng mesra wanita yang tak lain adalah istrinya yaitu Madeline.


Hatinya begitu nyeri melihat hal itu, Pierre sepertinya mulai memudarkan perasaannya dan membuka hati untuk wanita lain.

__ADS_1


Sementara di belakang Yara, Nyonya Ludwig menatap Pierre dengan seringai licik yang tercetak jelas di wajahnya. Wanita ular dengan sejuta rencana itu sepertinya tengah merancang siasat bagaimana putrinya bisa kembali berhubungan dengan Pierre, kapan lagi dirinya bisa memiliki menantu multitalenta serta terpandang.


"Kau cemburu melihatnya?" tanya Nyonya Ludwig pada Yara yang tengah menghapus air mata.


Yara menganggukan kepala, berbohong di depan Nyonya Ludwig juga percuma, karena wanita itu pasti mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan hingga membuat dirinya terdesak.


"Ya, aku masih mencintainya hingga saat ini." jawabnya dengan suara serak karena menahan tangis.


Wanita paruh baya itu tersenyum miring, ia sudah bisa menebak hal ini.


"Aku mengizinkanmu untuk mengejarnya kembali jika kau ingin, nak." ucapnya sambil menepuk bahu putrinya.


Mendengar ucapan Mommy-nya membuat Yara menoleh, menatap wajah wanita itu dan memastikan bahwa semua yang ia dengar bukanlah omong kosong belaka.


"Apa maksudmu, Mom? Apa kau memintaku untuk berselingkuh dari Alois?" tanya Yara dengan heran. Bukankah ibunya tidak pernah menyetujui dirinya berhubungan dengan Pierre dengan alasan tak cocok.


Yara tentu terkejut, wanita itu seperti melihat sisi lain dari ibu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Bukankah kau yang memintaku untuk menikah dengan Alois dan merestui hubunganku dengan Pierre? Lantas kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanyanya dengan penasaran.


Dengan wajah tenang, Nyonya Ludwig menjelaskan semuanya pada Yara.


"Aku baru menyadari, jika selama ini kau hidup tertekan dengan suamimu itu, nak. Yang kau harapkan adalah Pierre, bukan pria yang menjadi pilihanku."


"Maafkan aku telah egois mengatur jalan hidupmu." ucapnya dengan penuh sesal.

__ADS_1


Mendengar ucapan Mommy-nya membuat Yara seakan mendapatkan angin segar, wanita itu seperti mendapatkan kebahagiaannya kembali.


"Serius, Mom?" tanyanya memastikan semua bukanlah bualan semata.


"Mom tak pernah bercanda dengan kata-kata sendiri, Yara. Kau putriku! Tentu kau mengenalku seperti apa."


Yara mengangguk dengan antusias, wanita itu akan kembali mengejar apa yang seharusnya ia miliki. Ya, Pierre akan menjadi miliknya lagi terlepas pria itu telah memiliki seorang istri.


****


Di sebuah restoran yang berada di jantung kota Los Angeles. Pierre dan Madeline tengah Dinner bersama, keduanya sejak tadi sibuk berbincang untuk membangun suasana agar lebih hangat.


"Apa kau pernah ke sini, Madeline?" tanya Pierre.


Madeline mengangguk, berbagai restoran di jantung kota itu telah ia kunjungi bersama sepupu dan juga sahabatnya.


"Sering"


"Sendiri? Atau bersama kerabat terdekatmu?" tanya Pierre.


"Bersama sepupu dan juga sahabatku." jawab Madeline dengan jujur.


Baik Madeline dan Pierre sengaja memilih ruangan outdoor, mengingat pemandangan malam hari di Los Angeles yang tak bisa di lewatkan.


Keduanya sibuk berbincang sambil menunggu hidangan mereka tiba, hingga datang seorang pria yang begitu Madeline kenali mendekati meja keduanya.

__ADS_1


"Maddy." panggil pria itu dengan membingkai senyum di paras tampannya.


__ADS_2