
Madeline baru saja selesai mengemasi barang-barang miliknya ke dalam koper. Setelah puas menangisi dirinya di dalam kamar mandi, Madeline memutuskan untuk bersiap.
Sebelum keluar dari kamar yang ia tinggali beberapa bulan ini, Madeline memeriksa terlebih dahulu. Khawatir akan ada yang terlupa nantinya.
Setelah memastikan semua barang miliknya ada di dalam koper, Madeline langsung menarik koper miliknya keluar dari kamar.
Madeline sendiri tak perlu berpamitan, mengingat Pierre meminta untuk tidak bertemu dengan dirinya.
"Selamat tinggal tempat penuh kenangan," jika di pikir-pikir, tak sedikit juga kenangan Madeline dan Pierre tercipta di apartment ini. Hanya saja saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengenang. Madeline harus segera pergi dari apartement Pierre.
Tak lupa juga dengan dokumen yang nantinya akan ia serahkan kepada pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Pierre.
Sambil menarik koper miliknya, Madeline terus melangkahkan kakinya hingga ke depan ruang depan. Netranya terus menatap ke arah pintu kamar Pierre yang terlihat tertutup itu.
"Mungkin dia kembali melanjutkan tidurnya," pikir Madeline. Ia membuka tuas pintu apartment dan membawa kopernya keluar lebih dulu dari sana.
Madeline terus menatap suasana di apartment milik Pierre, hingga tak sadar jika Pierre sedang menatapnya di depan pintu sambil berdiri.
"Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Pierre berjalan mendekati Madeline yang terlihat terkejut.
"Apa?"
Pierre langsung memberikan sebuah cek yang memang ia tujukan untuk Madeline. Sebagai bentuk kompensasi karena telah merugikan wanita itu karena rencananya.
"Ambillah, itu untukmu sebagai kompensasi dariku," ucapnya sambil terus menatap ke arah Madeline.
Entah kenapa, rasa bersalah semakin menyeruak kembali. Melibatkan dokter polos demi menyelamatkan harga dirinya.
Madeline melihat Pierre menyerahkan selembar cek untuk dirinya langsung menolak mentah-mentah itu semua. Jika Pierre pikir dengan uang bisa menyelesaikan itu semua, hal itu tak berlaku bagi Madeline yang sudah di lukai sedalam itu.
"Terima kasih, tapi aku tak bisa menerima itu. Aku masih memiliki banyak uang," tolak Madeline.
Pierre sendirinya mendengarnya langsung menganga, ia tak menyangka jika Madeline menolak cek yang jika di cairkan bernilai milyaran itu di tolak begitu saja.
"Kau serius?" tanya Pierre tak percaya.
__ADS_1
Madeline mengangguk,"Ya,"
Pierre langsung memasang wajah masam,"Baguslah! Jadi aku tak perlu mengeluarkan banyak uang karena membayar kompensasi."
"Tapi kau tak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan harta gono-gini untukkmu." Imbuhnya dengan tajam.
Madeline tersenyum miris, harusnya dia marah dan kecewa karena dalam hal ini ialah juga dirugikan. Tapi Madeline tak mampu, perasaan itu masih mendominasi dirinya.
"Aku tak butuh hartamu, Pierre. Aku terlahir dari keluarga pesohor, lebih baik kau simpan uang itu untuk acara pesta pernikahanmu nanti dengan Yara," ucap Madeline.
"Aku pamit! Masih banyak hal yang perlu aku selesai setelah ini." Madeline memilih menyudahi pembicaraan saat melihat Pierre terus mencecar dan mencibir dirinya.
Pierre menatap kepergian Madeline, hingga tubuh wanita itu tak terlihat, Pierre pun langsung menjambak rambutnya karena frustasi dengan masalah yang ia buat.
"Argh! Kenapa harus seperti ini," ucap Pierre dengan nada gusar.
Bahkan sejak kejadian semalam, Pierre pun sama sekali tidak menghubungi yara. Pria itu begitu kalut dengan keputusan Madeline.
Madeline saat ini mengendarai mobilnya menuju rumah sakit untuk segera menemui tuan Spencer. Ada hal yang perlu ia selesaikan dengan pria itu.
Ya, Madeline akan menemui tuan Spencer bukan sebagai menantu saja. Tapi sebagai Dokter onkologi yang saat ini sedang mengundurkan diri dari rumah sakit yang menjadi saksi bisu karirnya semakin berkembang.
Sedangkan Tuan Spencer, pria itu saat ini sedang menatap langit abu-abu dari jendela ruangan miliknya. Akhir-akhir ini dirinya selalu memikirkan nasib putranya yang tak lama lagi akan menjadi seorang duda.
Sebagai orang tua. Tentu saja Tuan Spencer tak bisa membenarkan perilaku putranya, tapi ia juga tak ada daya untuk menahan Madeline agar tetap bersama putranya.
Wanita itu terlalu banyak dirugikan dalam segitu apapun. Ia bisa memastikan, setelah ini akan mendengar kabar perceraian putranya.
Di tengah lamunannya, tuan Spencer di kejutkan dengan suara ketukan pintu hingga membuyarkan lamunannya kali ini.
"Masuk," Pintanya dengan suara keras.
Pintu perlahan terbuka, hingga ia melihat Madeline yang mulai memasuki ruangan kerjanya.
"Apa yang membawamu kesini, nak." Melihat Madeline yang mengenakan pakaian biasa membuat Tuan Spencer memperlakukan layaknya seorang anak. Berbeda hal jika Madeline memasuki ruangan kerjanya dengan menggunakan jas putih kebanggaan.
__ADS_1
Madeline saat ini memasuki ruangan tuan Spencer dengan mengenakan kacamata untuk menyamarkan matanya yang terlihat sembab karena kebanyakan menangis akhir-akhir ini.
Wanita itu mengulas senyum tipis seraya menyerahkan dokumen di dalam map coklat di dekapan.
"Mulai hari ini saya mengundurkan diri sebagai dokter di rumah sakit ini, Direktur Spencer," ucapnya.
Tuan Spencer langsung terkejut mendengarnya. Perasaan beberapa hari lalu baru saja keduanya berbicara tentang perceraian.
"Kenapa Madeline? Apa Putraku terlalu menyakitimu hingga kau memutuskan untuk ini semua?" Tuan Spencer berusaha mencari cara agar Madeline tetap berada di rumah sakit ini.
Jika di tanya seperti itu sudah pasti jawabannya adalah YA, Pierre sudah menghancurkan segala dan kepergian Madeline juga atas kemauan sendiri. Di tambah Pierre yang memintanya untuk pergi menjauh, sudah cukup jadi alasan kuat baginya untuk memutuskan semua ini meski terkesan mendadak.
"Aku dan Pierre sudah sepakat untuk bercerai, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya serta melepas karirku," jawab Madeline.
Tuan Spencer menggelengkan kepala,"Apa ini semua adalah kemauan putraku? Jika memang iya, aku akan memindahkan anak itu ke Miami," Bisa-bisanya Pierre menyuruh pergi Dokter terbaik di rumah sakit ini. Tidak, Tuan Spencer takkan melepaskannya.
Tapi Madeline tetaplah pada keputusan awal,"Aku harap kau menghargai segala keputusan yang telah ku buat, direktur Spencer. Aku hanya meminta kau tak menahan kepergianku." pintanya.
"Bagaimana jika aku tetap mempertahankan dirimu sebagai Dokter disini?"
Madeline tersenyum simpul,"Aku akan meminta bantuan keluargaku dalam hal ini, karena kau telah mempersulit semuanya."
Tuan Spencer langsung bungkam, ia melupakan jika Madeline masih ada hubungan kekeluargaan dengan pesohor di negeri ini.
Mau tak mau, Tuan Spencer harus melepas Dokter terbaik di rumah sakit miliknya karena kebodohan putranya. Ia tak memiliki banyak nyali untuk berurusan dengan keluarga Eduardo.
"Baiklah, semoga keputusan yang kau ambil adalah yang terbaik." Putusnya dengan berat hati.
Madeline mengangguk,"Terima kasih direktur Spencer."
"Sebelum aku pergi, boleh aku menagih janjiku?" tanya Madeline.
Tuan Spencer mengangguk, apapun akan ia berikan kepada wanita yang sebentar lagi menyandang status mantan istri dari putranya itu.
"Apapun kau minta aku akan berikan nak,"
__ADS_1
"Segera percepat pengangkatan Pierre sebagai direktur di rumah sakit. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama." setelah mengatakan hal itu Madeline pun langsung berlalu meninggalkan tuan Spencer.
Ia harus segera kembali ke mansion Eduardo sekarang juga. Keluarga besar, termasuk Daddy-nya sudah menunggu saat ini.