My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 72 | Mengintai


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Madeline memergoki Pierre yang sedang menghabiskan waktu bersama Yara, dan selama satu minggu itu pula dirinya semakin posesif kepada Pierre.


Sering menghubungi pria itu saat bekerja, terkadang mengantar bekal saat kerja jika sedang tidak satu shift dan juga sering banyak bertanya tentang kegiatan Pierre.


Karena hal itu juga membuat Madeline dan Pierre sering bertengkar dan berakhir dengan saling diam-diaman seperti ini.


Meskipun seperti itu, Madeline tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan segala keperluan Pierre serta bekal sarapan pria itu.


"Bekal untukmu." Madeline menyerahkan tas bekal berisi makanan kepada Pierre.


Pria itu menerima tanpa mengucap sepatah katapun dan hal itu membuat Madeline penasaran.


"Kenapa? Apa kau sakit gigi?" tanya Madeline.


Pierre menggelengkan kepala, ia bukan sakit gigi. Hanya saja dirinya tak nyaman dengan Madeline yang secara tak langsung menekan dirinya dan membuatnya selalu was-was saat sedang bersama Yara.


Tapi Pierre juga sadar jika apa yang dilakukan oleh Madeline adalah hal wajar, mana ada seorang istri yang tak curiga dengan perubahan suaminya itu.


"Aku sedang malas berdebat denganmu, Madeline." ucap Pierre.


Pria itu langsung bangkit dari kursi yang ia duduki dan segera bersiap untuk bekerja.


"Nanti malam tak perlu buatkan makanan untukku," pinta Pierre.

__ADS_1


Madeline hanya mengangguk, ia berjalan mendekati Pierre yang saat ini berjalan menuju ke arah pintu.


"Tunggu aku Pierre," Madeline melangkahkan kakinya mendekati Pierre.


Hal itu membuat Pierre menghela napas panjang,"Apalagi, huh?" tanyanya yang tanpa sadar mengeluarkan suara dengan sedikit membentak.


Mendengar hal itu membuat Madeline tersentak, ucapan Pierre mampu membuatnya yang saat ini suasana hatinya sedang buruk semakin buruk.


"Dasimu berantakan, Pierre." Madeline berjalan mendekati Pierre sambil merapikan dasi yang di kenakan oleh suaminya.


Pierre kembali terdiam, perlakuan Madeline padanya mampu menghadirkan desiran halus di hatinya. Ia begitu tersentuh akan hal itu.


"Sudah, kau bisa berangkat! Hati-hati, jaga dirimu baik-baik!" pesan Madeline sambil melambaikan tangan ke arah Pierre.


"Ya, aku berangkat dulu." pamit Pierre yang berjalan dengan langkah cepat.


Madeline hanya bisa menatap kepergian Pierre. Pikirannya terus melayang pada kejadian tadi malam. Yang mana dirinya memergoki Pierre yang sedang bertukar pesan dengan Yara.


Dan tak hanya itu, mereka juga sering kali menghabiskan waktu bersama di belakang Madeline.


"Ternyata dugaanku benar adanya." jawabnya dengan lirih saat melihat ponsel milik Pierre.


Panggilan sayang serta berbagai perhatian Pierre tercurahkan pada Yara meski dalam bentuk pesan. Sedangkan Madeline yang merupakan istrinya tak pernah mendapat perlakuan seperti itu.

__ADS_1


"Apa untuk hari ini aku harus mengikuti Pierre?" pikir Madeline demi menuntaskan rasa penasarannya.


Setelah lama bergulat dengan pikirannya, Madeline memutuskan yang untuk mengikuti Pierre.


"Baikah, Pierre. Aku akan mencari tahu dengan caraku." putus Madeline yang seakan siap menerima segala kenyataan pahit.


Madeline menghubungi rumah sakit untuk meminta izin bahwa dirinya hari ini tidak bisa masuk bekerja dengan alasan sakit. Ia akan habiskan waktu satu hari ini untuk memantau Pierre dan memastikan semuanya.


Setelah mendapat persetujuan dari atas tempatnya bekerja, Madeline pun langsung bergegas untuk bersiap. Untungnya Madeline tahu tempat yang akan Pierre kunjungi hari ini hingga membuatnya tak perlu susah-susah untuk mencari informasi keberadaan Pierre.


"Mari kita buktikan itu semua, aku akan menyaksikan semua itu dengan mata kepalaku sendiri." gumam Madeline dengan siap.


Madeline melangkahkan keluar dari apartement menuju parkiran, untuk kali ini dirinya akan membawa mobil miliknya ke mansion Eduardo terlebih dahulu dan menukarnya dengan mobil yang lain agar Pierre tidak mengetahui jika pria itu sedang di ikuti.


Setelah Madeline menukar mobil dari mansion Eduardo, ia langsung mengendarai mobil menuju sebuah tempat yang tak jauh dari pusat kota.


Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya hingga sampai di tempat yang Madeline tuju. Madeline terus melangkahkan kakinya dengan lebar untuk masuk ke dalam restoran ternama.


Netranya terus mencari keberadaan seseorang yang ia curigai, hingga akhirnya ia pun mendapat objek yang ia inginkan.


"Benar ternyata, mereka akan mengunjungi tempat ini." Raut wajah kecewa tercetak jelas di wajah Madeline.


Ia menatap Pierre yang tertawa lepas bersama Yara, sebuah tawa yang tak pernah hadir saat bersama dirinya.

__ADS_1


__ADS_2