
Pierre saat ini tengah berada di ruangan hematologi untuk memantau perkembangan pasien yang saat ini tengah menjalani kemoterapi. Tak banyak yang pria itu lakukan selain memantau serta berdiskusi dengan rekan sejawatnya.
Hingga membuatnya dirinya tak sadar jika waktu pulang akan segera tiba, dirinya melewatkan jam makan dan beristirahat demi menepati janjinya Madeline.
"Damn! Aku terlalu sibuk hingga melupakan bekal yang Madeline bawakan untukku." gerutunya yang saat ini tengah bingung.
Ya, bingung. Pierre takkan mungkin memakan itu semua mengingat setelah ini ia akan dinner dengan Madeline. Pria itu tak ingin berakhir dengan kekenyangan setelah ini, yang berimbas pada acaranya nanti.
Pierre bingung, pria itu terus mondar-mandir hingga sebuah ide melintas di otaknya yang cerdas itu.
"Bagaimana jika aku berikan pada yang yang lain saja," pikirnya. Tapi apakah ada yang mau? Pierre yakin pasti akan banyak yang menolak pemberiannya itu, mengingat beberapa rekan du departemen onkologi memiliki selera makan yang tak terduga.
Hingga sebuah ide terlintas dalam pikiran Pierre. Ya, ia memutuskan untuk membuang makanan itu. Memang terbilang mubazir, mengingat di luar sana banyak yang membutuhkan makanan.
Tapi Pierre tak punya pilihan lain selain itu, kakinya jenjangnya terus berjalan mendekati tempat sampah yang berada tak jauh darinya, membuka tutup kotak makan dan membuangnya.
__ADS_1
Ada rasa bersalah dalam diri Pierre sebenarnya, namun ia harus melakukan itu meski caranya salah. Dengan cepat, Pierre pun menutup kembali kotak makan dan menaruhnya seperti biasa.
"Aku harus segera bersiap, Madeline pasti akan terus menggerutu jika aku terlalu lama." gumam Pierre yang kini meninggalkan tempat sampah dan segera bersiap untuk pulang.
Pierre berjalan dengan langkah lebar, hingga tidak melihat jika dirinya kini tengah di tatap dengan penuh penasaran oleh Nyonya Ludwig.
Ya, wanita paruh baya itu ingin meminta maaf pada mantan kekasih dari putrinya itu. Ia telah mencari tahu tentang Pierre yang sebenarnya. Alangkah terkejutnya saat ia mengetahui jika mantan kekasih putrinya adalah penerus dari rumah sakit ini.
Keluarga Ludwig telah habis-habisan di perdaya oleh Alois yang tak lebih dari seorang pembual selama ini. Ia berjalan menyusul Pierre yang terlihat terburu-buru, mencoba meminta maaf pada calon direktur rumah sakit tempat Yara berada saat ini.
Pierre kenal suara itu, hingga membuatnya menoleh. Menatap wajah paruh baya yang sering mencibir dan merendahkan dirinya itu.
"Apa kau perlu sesuatu? Kau bisa tanyakan pada Dokter terkait." Pierre tanpa basa-basi langsung mengatakan hal itu.
Pierre masih kesal jika terus di hubungkan dengan kejadian kemarin, di tambah wanita itu berani melayangkan tamparan di wajahnya. Hal yang tak pernah dilakukan oleh orang tuanya, justru dilakukan oleh wanita itu.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Pierre membuat Nyonya Ludwig tersadar, jika kesalahan kemarin benar-benar fatal.
"Ah, tidak! Aku hanya ingin berbicara sebentar saja bersamamu, nak." jawabnya sambil memasang senyum lebar.
Pierre menatapnya dengan jengah, kenapa juga Yara harus terlahir dari wanita seperti ini. Wanita yang hanya menilai seseorang dari harta dan jabatan.
"Aku tak memiliki waktu, aku ada janji dengan istriku hari ini." Pierre langsung menolak hal itu. Pria itu memilih beranjak dari hadapan Nyonya Ludwig dan terus berjalan ke arah ruangannya berada.
Namun langkahnya kembali terhenti saat Nyonya Ludwig bersuara.
"Aku akan merestui hubunganmu dengan Yara setelah ini jika kau ingin berbicara denganku, tuan muda Spencer."
"Cepat atau lambat aku akan membuat putriku bercerai dengan Alois dan kembali padamu,"
"Aku tahu saat ini kau masih memiliki perasaan dengan putriku." Nyonya Ludwig mengatakan hal itu karena ia sudah menyelidiki semuanya dari orang suruhannya itu,
__ADS_1