My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 25 | Piranha Kaleng Sarden Dispenser


__ADS_3

Terhitung tiga hari berlalu, sejak pulang dari mansion Spencer, Pierre tampak berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan lebih irit bicara, tidak seperti biasanya yang selalu mencibir Madeline.


Melihat hal itu, tentu membuat Madeline penasaran. Apa segitu dalam sakit yang di rasakan oleh Pierre, hingga membuatnya terlihat seperti tak memiliki gairah saat ini.


Hingga mau tak mau Madeline mengajaknya untuk bicara.


"Pierre," panggil Madeline.


Pierre menoleh sejenak, menatap wajah Madeline yang terlihat segar karena habis mandi. Saat ini, keduanya tengah berada di ruang depan. Beraktivitas seperti biasa, sambil menunggu waktu kerja.


"Ya," jawabnya dengan malas.


"Apa kau masih memikirkan hal yang kemarin?" tanya Madeline sambil memberikan segelas coklat hangat untuk Pierre.


"Seperti yang sudah kau ketahui," balasnya. Lalu pria itu menyesap coklat panas itu dengan perlahan, menikmati sensasi hangatnya coklat panas buatan Madeline.


Madeline sudah bisa memprediksi hal itu, namun ia baru sempat menanyakan pada Pierre.


"Apa begitu sulit untukmu melupakan segalanya, Pierre. Kau tak bisa seperti ini terus," ujar Madeline.


Netra tajam milik Pierre langsung menatap Madeline,"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Kau sudah tahu segalanya, lalu untuk apa kau meratapi semuanya. Itu semua terlalu membuang waktumu."


"Come on, Pierre! Kau harus bisa buktikan pada mereka, kau bisa hidup tanpa bayang-bayang masa lalumu bersama Yara,"


"Apa dengan kau seperti ini bisa merubah keadaan? Tidak, bukan,"


Madeline terus memberikan masukan yang membuat Pierre tersadar. Ini semua tidak benar, jangan hanya karena masalah yang sudah tahu jelas kebenarannya, membuat Pierre terlihat seperti orang yang tak terarah.


"Aku memang tak bisa merasakan menjadi seperti dirimu, hanya saja kau harus tahu. Jangan larut dalam kesedihan," imbuh Madeline.

__ADS_1


Pierre terdiam, ia tak bisa menjawab segala ucapan Madeline yang benar adanya itu. Ia tak bisa seperti ini, banyak hal yang harus Pierre lakukan selain berkubang di dalam kesedihan yang menderanya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Pierre. Otaknya sedang tak bisa berpikir kali ini.


Madeline tampak berpikir, hingga sebuah ide tercetus dari otak cerdasnya.


"Belajarlah buka hati untuk orang baru, hanya itu yang bisa kau lakukan," saran Madeline. Meskipun ia belum pernah Menjalani hubungan percintaan, namun ia tahu akan hal itu.


Madeline belajar dari pengalaman sepupunya, Saviero dan Abella. Abella yang mengalami gangguan kejiwaan karena kekerasan dan tekanan sekitar. Hal itu semua Abella dapatkan dari mantan suami serta keluarganya yang ikut andil, sampai harus meninggalkan kota Los Angeles.


Beruntungnya, Hadirnya Saviero mampu menjadi obat untuk segalanya. Pria itu tak pernah lelah mendampingi sahabatnya, hingga akhirnya kini mereka berdua telah menikah dan akan di karunia seorang anak.


Alis Pierre saling bertautan, menatap Madeline dengan heran,"Kau berbicara seperti itu padaku, sedangkan kau sendiri tak pernah mengalami patah hati karena cinta. Apa kau salah minum obat, Madeline?" tanya Pierre dengan heran.


Madeline yang kesal langsung menoyor kepala Pierre,"Aku memang masih polos dalam hal percintaan, namun bukan berarti aku bodoh," rutuk Madeline.


"Aku tahu, karena kerabat dekatku pernah mengalami hal itu. Kau tahu? Sepupuku bahkan menemani wanita itu di sisi terendah di hidupnya, dia hadir menjadi obat dari segala lukanya karena perlakuan keluarga dan mantan suaminya," jelas Madeline yang pada akhirnya menceritakan tentang masa kelam sahabatnya itu.


Wanita itu tentu tak terima di bilang seperti itu,"Tak masalah! Dari pada kau, pria tapi lembek soal percintaan," balas Madeline sambil menjulurkan lidah, mengejek Pierre.


Pierre merasa terdistraksi akan ucapan Madeline, hingga ia memikirkan cara untuk membalas ucapan Madeline. Ia merasa harga dirinya kembali tercoreng karena Madeline, di bilang sebagai pria yang lembek karena cinta, tentu membuatnya begitu geli mendengarkan kata itu.


"Aku mempertimbangkan ucapanmu tadi, bagaimana jika aku membuka hati denganmu saja. Bukankah memulai sesuatu ada baiknya dari orang terdekat?" tukas Pierre sambil menatap wajah Madeline yang tengah melongo menatapnya.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


Segaris senyum datar tercetak di wajah Pierre,"Kau memintaku untuk membuka hati dengan orang lain untuk melupakan Yara, bukan? Kurasa ide-mu bagus juga. Tapi, dari pada aku membuka hati untuk orang lain. Kenapa aku tidak buka hati untuk istriku saja, bukan?" Pierre mengucapkan itu tentu hanya sebagai spontanitas saja, tidak benar-benar serius.


Madeline tentu menolak. Jatuh cinta, dengan orang yang sering kali mencibir dirinya. Madeline rasa itu adalah sebuah ide buruk yang harus ia tolak begitu saja.


"Tidak, aku tak ingin masuk dalam rencanamu ini. Cukup kau cari wanita seperti yang kau mau, jangan aku." tolak Madeline dengan mentah-mentah.

__ADS_1


Sudut bibir Pierre tersungging,"Kau tahu aku, bukan? Aku tidak menerima penolakan, karena segala ucapanku adalah perintah," jawabnya dengan puas.


Madeline sampai menggeram kesal,"Piranha kaleng sarden dispenser, kau benar-benar membuatku marah," ucap Madeline dengan kesal.


Pierre melongo mendengar ucapan Madeline. What? Apa maksudnya? Apa Madeline sengaja mengganti namanya.


"Apa maksudmu?" tanya Pierre untuk memastikan dugaannya.


Kini giliran Madeline yang merasa puas melihat raut wajah Pierre.


"Ya, anggap saja itu panggilan keren dariku, untukmu."


"Pierre Cardin Spencer berganti jadi Piranha kaleng sarden dispenser, bagaimana? Bagus bukan," tanya Madeline dengan menahan tawa.


Pierre langsung merengut kesal. Bisa-bisanya nama indah yang di berikan kedua orangtuanya di ganti oleh orang yang kini menyandang status istrinya. Ini tidak bisa Pierre biarkan.


"Sangat buruk!" jawab Pierre


"Sayangnya aku tak butuh persetujuan darimu."


"Kau harus ingat Pierre! Jika kau tak memperbolehkan aku menolak segala ucapanmu. Begitupun denganku, kau harus menerima segala ucapan dan masukan dariku. Bukankah dengan begitu kita sama-sama di untungkan?" ujar Madeline dengan panjang lebar.


Oh god! Ternyata Madeline tidak se-polos yang ia kira. Wanita itu kini pintar untuk bersilat lidah dengannya.


"Pierre berganti jadi Piranha. Cardin menjadi kaleng sarden. Begitupun dengan Spencer yang menjadi dispenser," imbuh Madeline dengan puas.


Pierre sampai menepuk jidat,"Sekali tidak tetap tidak!" putus Pierre yang merasa kesabaran miliknya kini hanya tinggal sehelai tissue.


"Sayangnya, aku tak dengar," balas Madeline sambil menjulurkan lidah.


"Aku tak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu ikan piranha, aku harus segera bersiap. Oh iya, jangan lupa. Hari ini tugasmu untuk mengontrol pasien Alcie," ucap Madeline sebelum berlalu meninggalkan Pierre seorang diri.

__ADS_1


"Bye Piranha," Madeline berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Pierre. Wajahnya terlihat mengejek menatap Pierre.


__ADS_2