My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 22 | Pembicaraan keluarga Spencer


__ADS_3

Masih teringat segar dalam pikiran Madeline, saat terakhir ibunya harus meregang nyawa karena salah penanganan, ibunya yang menderita kanker serviks harus menjadi korban malpraktek dari Dokter yang selama ini begitu keluarganya percayai.


Namun nyatanya, Dokter itu tak mampu menangani Mommy-nya. Madeline sudah bisa mengikhlaskan kepergian Mommy-nya, namun ia tak bisa memaafkan Dokter yang dengan semena-mena dalam menangani pasien.


Maka dari itu, Madeline sangat marah akan hal itu. Ia berbicara lantang dalam departemen onkologi tadi, sekaligus meluapkan kekecewaannya pada rekan sejawatnya yang hanya mementingkan uang.


"Andai kau tahu rasa sakit akan kehilangan. Takkan mungkin kau sampai hati melakukan itu semua hanya karena uang," Madeline bergumam seorang diri di ruangan miliknya. Ia benar-benar marah akan tindakan Dokter Archie, ini yang di takutkan oleh Madeline. Dokter yang bekerja semena-mena hanya karena uang, bukan berdasarkan nurani untuk menyelamatkan sesama manusia.


Memang, Madeline tak menampik hal itu. Semua butuh uang, hanya saja tak bisa di perlakukan seperti itu juga, bukan?


Wanita itu sibuk bergumam sendiri, bergulat dengan pikirannya sendiri. Hingga ia tak menyadari jika waktu istirahat miliknya telah usai.


"Aku harus bersiap, setelah ini baru aku bisa beristirahat dengan tenang," untungnya hari ini Madeline hanya memiliki satu jadwal operasi, jadi setelah ini ia akan kembali ke apartment, mengistirahatkan dirinya agar tidak drop.


Madeline hanya manusia biasa. Ia bisa merasakan sakit dan lelah jika beraktivitas


melebihi biasanya. Maka dari itu, agar kondisi kembali fit, ia perlu mengistirahatkan dirinya.


Madeline mengganti jas putih yang ia kenakan dengan pakaian bedah yang sering ia kenakan. Wanita itu mengenakan hand gloves steril dan penutup kepala.


Berjalan menuju ruang operasi, ia siap melakukan aktivitas hari ini meski di awali dengan kejadian tak mengenakkan.


...****************...

__ADS_1


Berbeda dengan kondisi di mansion Spencer, atau lebih tepatnya mansion tempat tinggal keluarga Pierre. Saat ini tuan dan nyonya Spencer tengah berbincang mengenai alasan mengapa Pierre tidak kunjung di angkat sebagai direktur rumah sakit swasta miliknya.


"Kenapa kau mengulur semua itu, Dad. Kau tahu? Karena keputusanmu itu membuat putraku tertekan?" cecar Nyonya Spencer yang tak lain ibu Pierre.


"Aku memang sengaja melakukan itu semua, selain untuk membiarkan Pierre terus berjuang. Aku juga ingin putraku melupakan wanita itu," jelas Tuan Spencer.


Nyonya Spencer tentu bingung dengan apa yang di maksud oleh suaminya itu. Bukankah putranya telah memiliki istri?


"Apa maksudmu, Dad?" tanya Nyonya Spencer yang benar-benar tak tahu jalan ceritanya yang sebenarnya.


Tuan Spencer memang tak memberitahukan pada sang istri apa yang terjadi dengan Pierre, termasuk tentang b*nuh diri dan tentang Pierre yang menjebak Madeline.


Dan inilah saatnya, Tuan Spencer akan menjelaskan semuanya pada sang istri.


"Liliana, kau tahu bukan? Sebelum putra kita menikah dengan salah satu putri keluarga Eduardo, ia menjalin hubungan dengan siapa?" Ya, nama istri dari tuan Spencer adalah Liliana Spencer atau kerap di sapa Nyonya Spencer.


"Dengan Nayara Eliza Ludwig?"


Tuan Spencer mengangguk,"Kau tentu tahu bukan, sekarang wanita itu siapa?"


"Istri dari sepupumu," jawab Nyonya Spencer.


"Ralat, lebih tepatnya istri dari sepupu tiriku," Tuan Spencer memperbaiki ucapan sang istri.

__ADS_1


Sungguh, ia tak ingin memiliki seorang sepupu yang berhati iblis seperti Alois. Bagaimana tidak? Pria itu kerap kali membuat kekacauan dengan membawa-bawa dirinya.


Nyonya Spencer mengangguk,"Lebih tepatnya seperti itu, menang ada apa?" tanyanya.


"Apa kau tak tahu? Jika selama ini mantan kekasih Pierre berselingkuh dengan Alois. Dan kini ia tengah mengandung anak Alois," jelas Tuan Spencer yang langsung sakit kepala jika membahas Alois.


Masih teringat dengan jelas, saat keluarga Ludwig mendatangi mansion Spencer dengan tujuan meminta pertanggungjawaban dari Alois karena putri mereka hamil.


Tentu saja hal itu membuat tuan dan nyonya Spencer tercengang. Hingga membuat keluarga Ludwig mengancam akan meminta pertanggungjawaban dari Pierre dengan cara mereka. Dan karena hal itu pula, keluarga Spencer tidak menyetujui hubungan Pierre dan Yara.


Nyonya Spencer yang mendengarnya sampai tercengang, bagaimana bisa? Yara yang ia kenal baik selama ini berselingkuh dengan paman dari kekasihnya sendiri.


"Benarkah seperti itu? Kenapa aku baru tahu?" tanya Nyonya Spencer pada sang suami.


"Aku sengaja tidak memberitahukan padamu akan hal ini, aku mengutamakan kesehatanmu. Aku tak ingin kau shock mendengar berita memalukan ini," cetus Tuan Spencer.


Mendengar ucapan sang suami yang mengandung candaan membuat nyonya Spencer tertawa, suaminya selalu bisa mencairkan suasana saat bersamanya.


"Kau ini, bisa saja," ucap Nyonya Spencer.


"Maka dari itu aku menyetujui pernikahan Pierre dengan putri dari keluarga Eduardo. Dia sangat pintar dalam hal bedah, namun begitu bodoh akan hal percintaan," seloroh Tuan Spencer yang kembali tertawa.


"Apa kalian mempermainkan anak orang, Dad?" tanya Nyonya Spencer.

__ADS_1


Tuan Spencer menggelengkan kepalanya,"Tidak! Itu semua adalah perbuatan putra tersayangmu."


"Jika kau tak percaya dengan apa yang aku ucapkan, kau bisa melihatnya minggu depan. Aku mengundang mereka untuk menghadiri jamuan makan malam di mansion kita," imbuhnya sambil menatap paras wanita yang ada di hadapannya.


__ADS_2