My Innocent Doctor

My Innocent Doctor
MID 8 | Kesepakatan


__ADS_3

Ya, Tuan Spencer serta beberapa orang penting dari rumah sakit lah yang memergoki Madeline dan Pierre yang sedang berada di pojok bilik. Posisinya yang terlihat tanpa jarak, membuat tuan Spencer berpikir jika putranya dan Madelin melakukan hal senonoh.


"Apa maksud semua ini?" tanya Tuan Spencer dengan nada tegas.


Madeline menggelengkan kepala dan melepaskan rengkuhan tangan Pierre yang berada di pinggangnya,"Tidak, ini tidak seperti yang anda pikirkan Direktur Spencer." Madeline menyanggah segala pemikiran buruk tuan Spencer.


Berbeda dengan Pierre, pria itu justru mengatakan hal yang berbeda dengan Madeline.


"Seperti yang anda lihat, Direktur Spencer. Kami sedang ingin memadu kasih di gudang. Apa itu salah? Sedangkan jam kerja kami telah usai," jawabnya dengan santai, tanpa memperdulikan Madeline yang kini menatapnya dengan tajam.


"Tidak! Jangan dengarkan ucapan Pierre. Semua itu tidak benar adanya." ucap Madeline sambil memuk*l bahu Pierre hingga meringis.


Tuan Spencer sebenarnya bingung. Hanya saja disini ia tidak sendiri, tuan Spencer berdiri bersama beberapa petinggi rumah sakit miliknya yang saat ini tengah mencari Pierre untuk membahas tentang operasi pada pasien kanker.


"Kalian menyanggah semua bukti yang terlihat dengan begitu nyatanya. Lalu, bagian mana yang harus kami percaya?" tanya Tuan Spencer.


Hal itu membuat Madeline terdiam. Ini adalah gudang, tempat ini tidak memiliki CCTV yang bisa merekam kejadian sebelum mereka di pergoki dalam posisi yang tidak biasa.


"Dan kau, Pierre. Secara tidak langsung telah mencoreng nama baikmu sebagai Dokter sekaligus pewaris dari rumah sakit ini." ucap Tuan Spencer yang berjalan mendekati kedua insan manusia itu.


Serba salah di posisi saat ini. Madeline menyangkal segala sesuatu tanpa bukti, di dukung dengan pendapat dari Pierre yang sceara tak langsung membenarkan segala asumsi buruk dari petinggi rumah sakit tempat ia bekerja.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, Tuan Spencer? Aku dan Madeline dalam waktu dekat ini akan segera menikah, apa kita salah mempererat hubungan kami?" tanya Pierre.


Memang tak salah, hanya saja kenyataan berkata lain. Madeline dan Pierre tidak memiliki hubungan selain hubungan pekerjaan yang memang satu profesi.


"Kalian harus segera menikah, aku tak ingin na rumah sakit ini tercemar karena rumor dari kalian." putus Tuan Spencer dengan final.


Mendengar hal itu tentu membuat Madeline meradang. Wanita itu berjalan menghampiri Tuan Spencer.


"Itu tetap tidak akan terjadi Tuan Spencer, karena disini aku adalah pihak di rugikan atas rumor yang di ciptakan oleh putramu." ucap Madeline dengan berani.

__ADS_1


Tuan Spencer mengulas segaris senyum menatap calon menantunya.


"Kau berbicara tentang rumor? Namun semua yang kalian tunjukkan saat adalah fakta, bukan rumor lagi,"


"Aku akan berkunjung ke mansion keluargamu untuk berbicara dengan orang tuamu. Ini bukan lagi menyangkut nama baik kalian, namun reputasi rumah sakit serta nama baik keluargamu yang jadi taruhan." ucapnya sambil menepuk bahu Madeline, lalu Tuan Spencer pergi bersama beberapa petinggi lain yang berada di dekatnya.


Madeline menatap nanar kepergian tuan Spencer serta beberapa orang yang memergokinya. Namun netra tajam Madeline menatap Pierre dengan kesal.


"Puas!!" Bentak Madeline yang masih di kuasai emosi.


Pierre hanya menanggapi dengan santai,"Tentu saja puas, semua sesuai dengan yang aku inginkan." jawabnya.


Madeline sampai mengepalkan tangannya karena emosi,"Kau! Benar-benar bedebah s****n."


Namun Pierre tetap saja acuh, tak memperdulikan Madeline yang kesal karena perbuatannya.


"Kau tak perlu khawatir, ini semua berlangsung hanya sebagai status saja. Tidak murni pernikahan seperti orang yang saling mencintai." ucap Pierre sambil mengajak Madeline untuk membuat kesepakatan.


Pria itu sampai menghela napas panjang. Ia harus mempunyai banyak stok sabar untuk menghadapi orang yang buta akan soal percintaan seperti Madeline.


"Apa kau berpikir aku mengajakmu menikah karena mencintaimu?" tanya Pierre.


Madeline menggelengkan kepala,"Entah, aku tak mengerti tentang percintaan. Yang aku tahu hanya alat kedokteran." jawabnya dengan santai.


"Jawabannya adalah tidak. Karena sampai saat ini perasaanku masih ada pada Yara," ucap Pierre.


"Kita menikah hanya untuk membuktikan pada keluarga Yara bahwa aku bisa hidup tanpanya, dan juga membuat Yara cemburu." ungkapnya dengan jelas.


Madeline mendengarnya sampai terkejut,"Jadi pernikahan ini sebagai ajang balas dendam, begitu?"


"Kurang lebih seperti itu. Jika aku sudah mencapai apa yang aku inginkan, yaitu dengan membawa Yara kembali kepadaku. Maka kita harus segera berpisah." ucap Pierre sambil melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Madeline tampak berpikir. Ini adalah pengalaman pertamanya dalam hal hubungan dengan lawan jenis, ia memikirkan segala resiko dan konsekuensi yang akan terjadi kedepannya. Madeline tentu tak ingin salah langkah.


"Bagaimana jika nanti salah satu di antara kita jatuh cinta?" tanya Madeline. Karena tak mungkin, seiring kebersamaan mereka tak ada rasa. Kecuali, jika dari awal terus mendapat perlakuan buruk seperti sahabatnya ketika bersama mantan suaminya.


Pierre tertawa sumbang. Baginya perasaan cinta yang ia punya sudah habis oleh Yara, wanita itu membawa semua cinta yang ada dalam dirinya hingga membuatnya berbuat nekat dan melibatkan orang yang tak ada sangkut pautnya dengan apa yang di alaminya.


"Itu semua takkan mungkin. Kalaupun seandainya itu terjadi, kembali pada kesepakatan pertama. Kita memulai hubungan ini hanya sebuah keterpaksaan dan berakhir akan secara terpaksa juga. Tidak peduli nantinya salah satu harus tersakiti."


"Kesepakatan tetaplah kesepakatan, bagaimana?" usul Pierre.


Madeline kembali bungkam, ia tak bisa memutuskan hal ini dengan cepat. Namun, apa yang terjadi tadi cukup mengusik pikirannya. Ia memang menyandang nama Marshall, tetapi ia besar di lingkungan Eduardo. Yang artinya sebagian orang mengenal dirinya adalah bagian dari keluarga Eduardo.


Ia juga tak ingin merusak nama keluarga Eduardo karena rumor yang beredar, meski ia tahu keluarga Eduardo adalah orang-orang yang berpikiran terbuka. Namun ia merasa seperti orang tak tahu terima kasih karena sudah mencoreng nama baik keluarga itu.


"Baiklah, aku akan berpikir dulu. Nanti kita bisa bicarakan lagi di mansion keluargaku." ucap Madeline yang kemudian berlalu meninggalkan Pierre.


Namun sebelum Madeline melangkah jauh, Pierre menahan langkah kakinya.


"Aku tak butuh penolakan jika sudah di mansion keluargamu." ucapnya.


Madeline berlalu begitu saja, ia sedang malas berbicara panjang setelah perdebatan yang begitu menguras emosi tadi.


"Kenapa hidup harus serumit ini," gerutu Madeline.


Malam pun tiba, mansion Eduardo kini kedatangan keluarga Spencer beserta beberapa orang yang tadi memergoki Madeline dan Pierre yang berada di dalam gudang dengan posisi yang begitu intim.


"Bisa anda jelaskan maksud kedatangan anda, tuan Spencer?" tanya Tuan betrand Eduardo yang tak lain adalah paman Madeline.


Di ruang tengah yang begitu luas. Sudah ada anak dan menantu dari keluarga Eduardo yang ikut bergabung. Dan juga Daddy Garry yang berada di samping Madeline.


Sementara Pierre, pria itu duduk berhadapan dengan Madeline. Netranya terus menatap ke arah wanita yang terus menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Maksud kedatangan kami kesini...," ucapnya dengan menggantung.


__ADS_2