
Yara yang melihat perubahan Pierre pun langsung mendadak cemberut, tak biasanya Pierre seperti itu. Apa jangan-jangan Pierre mulai tak peduli lagi dengannya? Tidak! Yara tak akan biarkan hal itu terjadi.
"Kenapa? Apa kau sudah mulai bosan denganku?" Yara seolah sedang bersandiwara di hadapan Piere. Memasang raut wajah yang terlihat sedih agar mampu menarik perhatian Pierre yang tak sedikit pun menatap ke arahnya.
Pierre sendiri juga bingung menjabarkan perasaannya saat ini. Kalaupun di bilang ia bosan. Tentu saja tidak, hanya saja saat ini dirinya tengah bimbang.
Madeline menjadi alasan dari semua ini, ia terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan Yara. Hingga tak sadar jika Madeline mengetahui semuanya.
"Bisa tinggalkan aku sendiri?" pinta Pierre.
Yara kembali di kejutkan dengan permintaan Pierre. Biasanya Pierre tak seperti ini dan selalu menerima kehadirannya.
"Apa yang terjadi padamu, Pierre. Kenapa seperti ini?" cecar Yara.
Pierre hanya menggelengkan kepala,"Aku hanya sedang sakit kepala, Mad... Eh maksudku Yara."
Pierre hampir saja salah menyebut nama, bisa-bisanya ia menyebut nama Madeline di hadapan Yara.
"Kau memanggilku apa tadi? Madeline? Aku ini Yara, Pierre. Nayara Eliza Ludwig. Bukan Madeline," serunya dengan menggebu.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang kalut saat ini. Bisa kau tinggalkan aku sendiri? Aku butuh waktu untuk mencerna semua," ulang Pierre dengan suara terendahnya.
"Apa maksudmu? Apa Madeline sudah mengetahui hubungan kita?" Cecar Yara dengan penuh desakan.
Pierre mengangguk, seraya menjawab,"Ya."
Yara mendengar hal itu tentu senang, dirinya tak perlu repot-repot untuk memberitahu madeline. Sebab, wanita itu tahu dengan sendirinya. Dan itu artinya, ia bisa dengan leluasa berhubungan dengan Pierre.
"Bukankah itu bagus, itu artinya kita tak perlu berhubungan dengan sembunyi-sembunyi lagi?" Yara tersenyum senang, ia duduk di samping Pierre sambil bergelayut manja dengan pria itu.
Pierre langsung bangkit dari duduknya hingga membuat Yara terhuyung karena tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Aku sudah memintamu baik-baik, namun nyatanya kau tak mendengarnya. Aku terpaksa melakukan hal ini,"
"Pergilah, berikan aku waktu untuk sendiri." usir Pierre.
Yara hanya menggelengkan kepala sambil menatap Pierre dengan wajah memelas.
"Aku sebentar lagi harus kembali ke apartmentku, Yara. Aku harus menyelesaikan ini semua." Pinta Pierre dengan sedikit memohon.
__ADS_1
Melihat Pierre yang begitu kekeuh dengan keputusan awal, membuat Yara akhirnya pasrah. Ia tak bisa untuk terus mendesak Pierre, karena takut Pierre akan berpaling darinya.
"Baiklah, jangan lupa hubungi aku setelah semuanya selesai," ucap Yara.
Pierre hanya berdeham, lalu meninggalkan cafe setelah membayar semua bill miliknya.
"Aku harus segera ke apartment," putus Pierre.
Pria dengan jas putih itu berjalan masuk ke dalam mobil, ia benar-benar tak bisa fokus dan terus terusik karena Madeline.
***
Madeline saat ini sedang berada di depan kaca yang ada di meja rias miliknya. Ia menatap wajahnya yang terlihat sembab.
Dengan menggunakan sendok yang ia ambil daru dapur, Madeline meletakkan sendok itu di dekat matanya.
Entah teori darimana, Madeline melakukan hal ini.
"Jangan menangisi orang yang sudah terang-terangan menyakitimu, Madeline. Cukup hidup bahagia setelah ini." Madeline selalu mengafirmasi dirinya kata-kata positif dan menyejukkn hati.
__ADS_1
Madeline memoles make up di wajahnya agar terlihat lebih fresh. Ia harus membuktikan bahwa seorang Madeline mampu berdiri setelah di hancurkan tanpa sisa.