
Yara sampai menggelengkan kepala,"Bagaimana dia bisa tahu semua ini? Apa Madeline bekerjasama dengan Alois?" ia bertanya-tanya, kenapa Madeline yang orang lain bisa tahu tentang hal itu? Apa selama ini Madeline selalu memperhatikan dirinya, atau lebih tepatnya mencari tahu tentang dirinya? Bisa saja, mengingat betapa ambisiusnya wanita itu.
Lagipula wanita mana yang tidak marah, jika pasangannya di lirik wanita lain. Apalagi sebelumnya pernah berhubungan.
Sedangkan Pierre, pria itu masih setia membisu. Memikirkan Madeline yang terlihat begitu santai menghadapi semuanya, biasanya wanita lain akan mengamuk dan mencaci maki wanita lain.
Hal itu tidak berlaku bagi seorang Madeline Elana Marshall. Wanita itu begitu tenang menghadapi semua, namun ucapannya mampu mematahkan segalanya. Mau heran, tapi itulah Madeline.
"Jangan salahkan Madeline, harusnya kau lebih bisa menjaga tingkah laku mu. Kau harus ingat, sekarang kata adalah istri Alois yang tak lain ada istri dari pamanku."
"Jaga kelakuanmu, aku tak ingin menjadi sebuah masalah karena hal ini,"
Sebelum beranjak pergi Pierre memberi sebuah peringatan pada Yara,"Kau jangan lupa, Madeline adalah putri dari Garry Marshall. Kau tentu tahu orang itu, bukan?" tanyanya.
"Madeline dapat dengan mudah mengakses segala informasi yang tak banyak orang ketahui melalui Daddy-nya. Jadi sebelum kau berasumsi buruk padanya, lebih baik kau buang pikiran burukmu sebelum akhirnya kau menyesal," imbuhnya yang kemudian berlalu meninggalkan Yara yang tengah menatapnya dengan nanar.
__ADS_1
Namun itu semua hanya sementara, mengingat ponsel miliknya kembali berbunyi. Ya, siapa lagi juga Alois. Pria itu begitu intens menghubungi Madeline hingga membuat Yara langsung bergegas meninggalkan cafe.
"Sial! Hidupku terkekang seperti ini semenjak bersama Alois," umpat Yara.
Sementara Pierre, Pria itu terus melangkah mencari Madeline yang ia yakini belum jauh dari dari cafe dan benar saja, Pierre melihat wanita itu tengah menyebrang untuk kembali ke rumah sakit.
Madeline tidak seperti wanita lain menurut, wanita itu terlihat tenang sambil menyesap kopi di genggamannya. Tanpa Pierre ketahui jika saat ini wanita itu terus menggerutu di sepanjang langkahnya.
"Madeline... Tunggu...," teriak Pierre yang berusaha mengejar langkah Madeline.
Hingga langkah kakinya menyusuri lorong dan Ternyata Pierre masih terus mengejarnya, Madeline dengan cepat memasuki ruangan kerjanya dan segera menutup pintunya, menghindari Pierre yang nantinya mencoba memaksa masuk.
Namun gerakan Madeline kalah cepat dengan Pierre, hingga pria itu berhasil menahan pintu agar tidak tertutup sempurna dengan kakinya.
"Madeline... Kita perlu bicara," pinta Pierre sambil berusaha menahan pintu terus di dorong oleh Madeline.
__ADS_1
wanita itu seakan menulikan telinganya, mengabaikan Pierre yang berusaha menerobos masuk ke dalam ruangan kerjanya. Karena Madeline tidak memiliki tenaga sebesar Pierre, membuat wanita itu kalah hingga Pierre berhasil masuk.
Pierre langsung mengunci pintu ruangan kerja Madeline dan menaruhnya di saku jas miliknya. Langkah kakinya terus berjalan mendekati Madeline yang berusaha menjauhinya.
"Madeline... Dengar, ini semua tidak seperti yang kau kira," jelas Pierre.
Madeline menatap nyalang ke arah Pierre,"Kau meminta dan mendesakku untuk memulai hubungan baru denganmu, namun kau juga yang juga merusak semua rencana ini, Pierre." ucap Madeline dengan kesal. Entah kenapa dirinya merasa di kecewakan karena kejadian tadi.
"Harusnya sebelum kau meyakinkan dirimu untuk memulai sebuah hubungan baru, ada baiknya kau memastikan dirimu terlebih dahulu. Apa masa lalumu masih ada di hidupmu atau tidak? Jangan seperti ini! Kau secara tak langsung menyakiti dua orang wanita," ungkap Madeline dengan berapi-api.
Pierre menggelengkan kepala,"Madeline... Aku berani bersumpah akan hal itu, aku sama sekali tak ada niatan bertemu dengan Yara. Memang, aku akui Yara memintaku untuk bertemu dengannya. Namun karena alasan sibuk aku menolaknya, aku tak tahu jika wanita itu mengikutiku hingga ke cafe," jelas Pierre dengan jujur.
"Aku juga tak mengajaknya untuk duduk bersamaku, dia sendiri yang mendekatiku,"
Madeline yang mendengar penjelasan dari Pierre pun langsung bersuara,"Lalu kau tidak mengusirnya, justru kau sibuk bercengkrama berdua, huh? Bagiamana jika tadi aku tidak ada disana? Mungkin kalian merasa dunia milik berdua,", balasnya hingga tak mampu membuat Pierre menjawab.
__ADS_1
"Sepertinya jika seperti ini cara lebih baik kita akhiri hubungan ini, Pierre. Aku tak ingin berada dalam lingkaran rencanamu," putus Madeline yang merasa lelah karena rencana Pierre yang membuat dirinya seakan-akan adalah sebuah boneka yang bisa di permainkan.